Sunday, October 8, 2023

Kutipan Buku "Agribisnis Kreatif" karya Pak Dr. Iwan Setiawan - Pertanian dalam Gelombang Ekonomi Indonesia

 

Berikut ini beberapa kutipan yang menarik perhatian saya dari buku "Agribisnis Kreatif: Pilar Wirausaha Masa Depan, Kekuatan Dunia Baru Menuju Kemakmuran Hijau" karya Pak Dr. Iwan Setiawan di bab Pertanian dalam Gelombang Ekonomi Indonesia. Selamat menyimak!

- Gelombang Pertama: Ekonomi Pertanian (1967-1986)

Melalui program revolusi hijau (green revolutions) yang dimotori lembaga donor dan perusahaan agribisnis raksasa internasional (multinational corporations/MNCs), berbagai inovasi (panca dan sapta usaha tani), baik tekonologi budidaya modern, alat mesin pertanian modern, sarana irigasi, input kimia (pupuk dan pestisida), benih unggul, kelembagaan baru maupun kredit, diintroduksikan secara massal dan linear (social engineering) kepada para petani melalui tangan-tangan aparat, petugas dinas teknis, dan penyuluh peryanian lapangan (PPL). Tidak tanggung-tanggung, tiga pendekatan pengembangan pertanian (intensifikasi, ekstensifikas, dan diversifikasi) diadopsi dan ditempuh secara sekaligus dan maraton. Hasilnya, berbagai kebijakan dan alternatif pemecahan masalah yang diimplementasikan mampu mendorong petani dalam iklim modernisasi produksi. Menurut Craig dan Mayo (1995), hal itu terjadi karena program-program tersebut didesain untuk meningkatkan produksi melalui perbaikan teknologi dan pembentukan kelompok. Hasil kajian Goldensohn (1994:33) di India, Indonesia, Filipina, Srilanka, Pakistan, dan Bangladesh menyimpulkan bahwa teknologi telah mengakibatkan semakin bagusnya usaha tani petani.

Sektor pertanian, terutama subsektor pangan (padi, jagung, kedelai) dan perkebunan (tebu, teh, karet, sawit) bagai disulap. Hanya dalam tempo singkat, mengalami pertumbuhan spektakuler, hampir mencapai 6 %. Bersamaan dengan itu, institusi sosial-ekonomi pertanian dan pedesaan baru (produk rekayasa), seperti badan usaha unit desa (BUUD), koperasi unit desa (KUD), kelompok tani (Poktan), unit penggilingan padi (UPP), jaringan informasi dan distribusi sarana produksi pertanian, tumbuh kembang. Sayang pemihakan  pemerintah bersifat semu, pemihakan yang tinggi tidak terjadi pada petaninya, tetapi lebih kepada teknologi dan institusinya (bias teknologi dan politis). Akibatnya, petani kecil tetap lemah atau tidak berdaya. Bahkan, dengan revolusi hijau, kondisi petani yang sudah dilemahkan sejak masa feodalisme, kian memuncak.

- Gelombang Kedua: Ekonomi Industri (1986-1997)

Ironisnya, industri yang dibangun bukan terkait dengan sektor pertanian (agroindustri), tetapi lebih condong pada industri yang tidak terkait dengan sektor pertanian, yakni industri manufaktur (footlose industry). Selain itu, industri yang dibangun lebih terfokus pada industri sedang dan besar. Industri skala rumah tangga dan skala kecil yang jumlahnya sangat banyak dan sebagian besar berbasis pertanian tidak banyak mendapatkan ruang dan pemihakan. Sektor pertanian bukan saja ditinggal secara politik, tetapi juga dipinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Gelombang ekonomi industri runtuh dengan tragis oleh krisis ekonomi dan krisis keuangan global yang berkepanjangan pada ujung abad-20, sekaligus mengakhiri kekuasaan rezim orde baru. Krisis bukan hanya karena utang, tetapi oleh tidak adanya kemandirian dan kedaulatan dalam pangan, baik beras, daging, kedelai, jagung, dan sebagainya. Ironisnya lagi, ketergantungan terhadap kekuatan luar (impor) terjadi di dalam tubuh industri itu sendiri, baik dalam bahan baku, bahan bakar, alat mesin, dan tenaga-tenaga ahli. Akibatnya ketika ekonomi negara didera krisis, industri-industri yang semula begitu digdaya runtuh dan tidak berdaya, seperti bubarnya Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) dan runtuhnya IPTN atau PT Dirgantara Indonesia.

Paradoks dengan itu, para petani kakao, karet, sawit, lada, cengkeh, teh dan sebagainya justru meraup untung yang sangat tinggi. Pertanian justru tampil menjadi penyelamat ekonomi masyarakat yang banyak terkena pemutusan hubungan kerja. Bahkan, meski bersifat sementara, sebagian besar korban PHK waktu itu beralih ke usaha pertanian, termasuk agroindustri.

- Gelombang Ketiga: Ekonomi Informasi (1998-2008)

Faktanya Indonesia tidak banyak berkutik ketika berhadapan dengan perubahan iklim (climate change) dan perdagangan bebas (WTO, AFTA, ACFTA). Ekonomi informasi tidak banyak membantu, minimal dalam sosialisasi informasi menghadapi dampak perubahan iklim dan keterbukaan pasar, seperti penataan instrumen kebijakan pasar, pengetatan, serta pemberlakuan standardisasi proses dan produk yang baru oleh negara-negara importir, perbaikan praktik pertanian (good agricultural practices), sertifikasi produk, perbaikan lingkungan, perampingan sistem rantai pasokan (supply chain), dan efisiensi dalam pelayanan.

Bagaimana dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan menciptakan lapangan kerja kalau industrinya belum memihak pada sektor pertanian, belum berbasis pertanian, dan belum mampu meningkatkan nilai tambah pertanian?

- Gelombang Keempat: Ekonomi Kreatif (2009-2015/Sekarang)

Gelombang ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge economy) yang juga sering disebut k-economy merupakan ekonomi yang menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Seperti halnya gelombang ekonomi kedua dan ketiga, pertanian juga tidak memilki ruang dalam gelombang keempat. Alih-alih tertautkan, terwarnai, dan terkuatkan; gelombang ekonomi pertama malah semakin ditinggalkan (terfragmentasi, tereliminasi, dan teraleniasi) dari gelombang keempat. Seperti terperangkap dalam penjara besi dan mati kutu, pertanian seakan tercipta -jika tidak dikatakan dikutuk- hanya menjadi bantalan pijak dan korbanan (trade-off) untuk gelombang ekonomi kedua, ketiga, dan keempat.  Pertanian seolah-olah dicitrakan tidak prospektif dan tidak populer bagi mode ekonomi kreatif. Pertanian seperti pecundang, terdiskriminasi dalam ruang gelap (black box) bangunan ekonomi-politik yang tidak bereferensi dan terkendali hegemoni.

- Gelombang Kelima: Ekonomi Hijau (2015-2030)

Para futurolog memprediksi bahwa negara-negara dengan sumber daya pertanian atau agribisnis yang melimpah dan mampu mengelolanya menjadi berbagai produk kreatif dan inovatiflah yang akan mendapatkan keuntungan berlimpah dari gelombang ekonomi dan industri hijau. Betapa tidak, berbagai kebutuhan hidup akan diproduksi dengan menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan pertanian. Sekarang saja plastik sudah dibuat dari rumput laut, listrik dari biomassa, bahan bakar dari kedelai, sawit, ubi kayu, bunga matahari, dan jagung. Begitu juga pewarna makanan diekstrak dari berbagai tanaman, pestisida dibuat dari ekstrak tanaman atau kerang, pupuk kembali pada bahan baku organik, obat-obatan kembali pada tanaman (biofarmaka), dan sebagainya. Artinya, bagi negara dengan keragaman hayati berlimpah seperti Indonesia, gelombang ekonomi dipastikan dapat memberi banyak keuntunghan. Syaratnya: pertama, teknologi dan pengelolaannya harus dikreasi hingga dihasilkan aneka produk turunan yang dinilai dan bernilai tinggi. Kedua, kita harus mandiri dalam produksi, tetapi berjaringan dalam berbisnis. Indonesia jangan mengekor lagi kepada negara lain agar memaksimalkan peluang dan tidak kembali terjajah.

Jangan Ulang Kegagalan: Sebuah Argumentasi.

Bagi Indonesia, jika pertanian dan/atau agribisnis kreatif dikembangkan, penulis yakin bahwa: pertama, akan mampu berkontribusi lebih nyata terhadap ekonomi nasional, baik terhadap PDB, terhadap penciptaan lapangan pekerjaan, dan lapangan wirausaha (terutama di pedesaan), mupun terhadap nilai ekspor nasional. Kedua, akan mampu menciptakan dan mendorong iklim bisnis yang kondusif dan produktif, baik dalam penciptaan lapangan berusaha, bagi tumbuh kembang usaha lain maupun bagi pemasaran. Ketiga, akan berdampak nyata terhadap sosial bangsa, baik meningkatkan kualitas hidup, toleransi sosial, maupun keseimbangan pembangunan perkotaan dan pedesaan. Keempat, akan mampu merangsang ide-ide atau gagasan-gagasan dan penciptaan nilai positif-produktif. Kelima, akan memperkuat citra dan identitas bangsa (sebagai negara agraris dan maritim), baik melalui tourisme (khususnya agrowisata), ikon nasional, maupun membangun budaya, heritage, dan nilai lokal. Keenam, identik dengan mengembangkan sumber daya terbarukan berbasis pengetahuan dan kreativitas, serta memberdayakan komunitas yang ramah terhadap lingkungan (green community).

Saturday, October 7, 2023

Kutipan Buku "Agribisnis Kreatif" karya Pak Dr. Iwan Setiawan - Prakata dan Pendahuluan

 

 

Berikut ini beberapa kutipan yang menarik perhatian saya dari buku "Agribisnis Kreatif: Pilar Wirausaha Masa Depan, Kekuatan Dunia Baru Menuju Kemakmuran Hijau" karya Pak Dr. Iwan Setiawan di bab Prakata dan Pendahuluan. Selamat menyimak!

"Ada kecenderungan, pengembangan agribisnis di Indonesia belum banyak terintegrasi dan diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi non-pertanian, termasuk dengan seni rupa, desain, seni musik, seni pertunjukan, olah raga, arsitektur, teknologi komunikasi dan informasi, nanoteknologi, kedokteran, tata kota, dan lainnya. Akibatnya, kegiatan agribisnis menjadi benar-benar sektoral. Keadaan demikian telah mempersulit terjadinya kolaborasi dengan sektor lain yang juga dikonstruksi asing atau terpisah dengan sektor pertanian. Hambatan kolaborasi dengan sektor lain juga terjadi karena "sesat pikir" pengembangan agribisnis yang dilakukan saat ini yang cenderung polar pada produk-produk primer, sementara produk turunan berbagai komoditas belum banyak dilakukan. Sebagai catatan, pengembangan sawit baru sebatas buahnya, itu pun baru sebatas CPO, sedangkan daun, lidi, pelepah, dan batang pohonnya yang sangat besar volumenya belum termanfaatkan. Pisang yang begitu berlimpah di seluruh Indonesia juga baru dimanfaatkan buahnya; sementara daun, pelepah, dan batangnya yang jauh lebih berlimpah belum diproduktifkan. Begitu juga bambu, kelapa, aren, palem, rami, pandan, dan sebagainya yang tersedia secara berlimpah di seluruh kepulauan Indonesia dan sangat memungkinkan untuk dapat diperbarui (renewable)."

"Agar terlahir generasi-generasi agribisnis yang kreatif produktif, yang berjejaring, yang melek (literate), yang ramah terhadap lingkungan, yang terbebas dari virus "isme" kolonial dan kapital , yang mampu membuat dunia menjadi sangat dekat dan mampu berlaga dalam berbagai arena sosial, organisasi bisnis, lapangan pekerjaan, dunia wirausaha, dan ketatnya persaingan, generasi agribisnis kreatif tidak ada salahnya menguasai tujuh kemampuan berikut (Thomas L. Friedman, 2005).

(1) Kemampuan berkolaborasi dan mengorkestrasi (the great collaborators and orchestrators), 

(2) Kemampuan mensintesakan segala sesuatu (the great synthesizers), 

(3) Kemampuan menjabarkan suatu konteks (the great explainers), 

(4) Kemampuan menciptakan nilai tambah (the great leveragers), 

(5) Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru (the great adapters), 

(6) Kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian alam (the green people), dan 

(7) Kemampuan handal dalam menciptakan kandungan lokal (the great localizers) atau kemampuan mencipta keunikan."

Saturday, September 30, 2023

Kutipan Buku "Pengantar Ekonomi Pertanian" karya Ir. Moehar Daniel, M.S. - Pentingnya Prakarsa Bottom-up Petani dalam Kelembagaan Pertanian

 

 

Saya ingin mengutip salah satu bagian dari buku "Pengantar Ekonomi Pertanian" karya Ir. Moehar Daniel, M.S., sebuah buku pengantar yang terbit di awal 2000-an, tetapi memiiiki daya kritis dan gambaran yang masih relevan hingga saat ini, tentang Koperasi atau kesepakatan usaha bersama di bidang Pertanian, yang lebih menitikberatkan pada kebijakan bottom-up daripada top-down. Berikut kutipannya:

"Koperasi atau kesepakatan usaha bersama merupakan hal yang dibutuhkan dalam proses pengembangan pertanian dan pertumbuhan ekonomi terutama di pedesaan. Walaupun sudah trauma dengan KUD (Koperasi Unit Desa) yang banyak meninggalkan duka bagi masyarakat desa, sebagian petani masih mempunyai semangat dan harapan dengan bekerja sama yang sekarang lebih banyak, dan lebih sering disebut usaha bersama. Contohnya adalah KUBA (Kelompok Usaha Bersama Agrobisnis). Lembaga ini juga pada mulanya didirikan oleh pemerintah, tetapi umumnya tidak berkembang karena tidak berjalan sesuai teorinya kemudian ditinggalkan. Tetapi anehnya lembaga seperti ini banyak muncul sendiri atas prakarsa masyarakat tanpa campur tangan aparat. Mereka menyadari bahwa mereka harus bersatu dan bersama supaya kuat. Terutama dalam memperoleh sarana produksi lebih murah atau menjual produk supaya lebih tinggi. Disadari kalau mereka terpecah dan jalan sendiri-sendiri mereka tidak akan berdaya dan akan dipermainkan oleh pedagang atau pemilik modal. Saat ini telah banyak muncul koperasi seperti ini, katakanlah seperti KUBA puyuh di Simalungun, KUBA kentang di Tana Karo, dan lain sebagainya.

Keberadaan KUBA sebagian besar juga diprakarsai oleh pemilik modal atau "mitra petani". Sebagian pemilik modal ada yang menyadari bahwa mereka perlu membina kerja sama dengan petani bila ingin usahanya langgeng dan berkesinambungan, walaupun keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar. Yang berpikiran seperti inilah yang banyak jadi mitra petani, mereka membantu mengadakan input produksi dan mereka membeli atau menampung produk prtani sesuai dengan harga yang berlaku. Walaupun belum mengatasi
gejolak harga, tampaknya kerja sama ini perlu diperhatikan. Tidak seperti yang berlaku selama ini, dimana bapak angkat yang diskenariokan membina anak angkat yang lebih kecil dan lemah, malah pada prakteknya mengeksploitasi mereka untuk memperoleh keuntungan yang banyak, sementara si anak angkat semakin buntung.

Praktek lembaga seperti ini sudah banyak dialami petani, sehingga mereka merasa jenuh dan risih dengan segala macam upaya pemerintah yang mengemukakan lembaga. Walaupun sebenarnya tujuan pemerintah adalah demi kebaikan mereka. Mereka menyadari hal itu, akan tetapi kesadarannya semakin jauh di bawah rasa curiganya pada kebenaran dan kedisiplinan kerja aparat yang menanganinya. Keadaan ini merupakan gambaran keadaan yang perlu jadi bahan pertimbangan bagi calon dan bagi ahli-ahli ekonomi petanian dalam upaya memacu pertumbuhan dan pembangunan pertanian."

Buku "Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian" karya Prof. Bungaran Saragih - Bagian III - Strategi untuk Agribisnis Skala Kecil - Habis

 

Pernyataan yang menarik, dalam, tapi juga menohok dari Prof. Tomy Perdana pada saat kelas mata kuliah Sistem Agribisnis Madya adalah jangan sampai gelar "S.P." pada sarjana-sarjana pertanian berubah menjadi "Sastrawan Pertanian" dimana yang dilakukan sarjana pertanian berakhir di medium artikel-artikel saja dan "Sarjana Per-excelan" yang berakhir di olah data saja, tanpa pengalaman praktek di lapangan, penguasaan teknis, serta karya, bisnis dan usaha nyata pertanian di lapangan. Hal ini menjadi tantangan tentu bagi saya yang belum menguasai ketiga hal terakhir tersebut. Meskipun demikian, Prof. Tomy berpesan bahwa pengalaman lapangan saja tidak cukup, tapi seorang lulusan pertanian harus dilengkapi dengan substansi teoritis dan kajian ilmiah, sehingga kedua nya akan seimbang.

Kali ini saya ingin membagikan tiga strategi yang diajukan oleh Prof. Bungaran Saragih untuk meningkatkan pengembangan sistem agribisnis, khususnya Agribisnis Skala Kecil, yang pokok nya ada di tiga hal di bawah ini yaitu:

(1) Farming Reorganization
(2) Small-scale Industrial Modernization
(3) Services Rasionalization

 

Berikut uraian tiga poin di atas:


(1) Farming Reorganization

Kebijakan ini bertujuan untuk mengembangkan subsistem budidaya pada usahatani-usahatani kecil. Secara khusus, perlu memperhatikan pentingnya usaha untuk mengatasi masalah keterbatasan (smallness) usahatani. Sulit untuk dibayangkan usahatani yang luasnya hanya 0,1 hektare dapat berperan secara aktif dalam keterkaitan sistem agribisnis yang kompleks, dan lebih sulit lagi dibayangkan usahatani sebesar itu dapat memberikan pendapatan per kapita hingga US$ 2.000 pada akhir PJP II. Dengan demikian, perlu kiranya kebijakan reorganisasi usahatani terutama dalam hal reorganisasi jenis kegiatan usaha yang dilakukan sehingga dapat tercapai diversifikasi usaha yang menyertakan usaha komoditas-komoditas yang bernilai tinggi dan dengan sifat elastisitas pendapatan yang tinggi pula. Disamping itu, perlu pula dilakukan reorganisasi manajemen sedemikian sehingga dapat diperoleh skala manajemen yang lebih besar, walaupun skala pemilikan usahanya tidak harus berada pada skala yang sama.



(2) Small-scale Industrial Modernization

Pengembangan agroindustri kecil merupakan inti dari pengembangan agribisnis. Dalam hal ini, kebijakan modernisasi kegiatan industri perlu menjadi fokus perhatian utama. Modernisasi yang perlu dilakukan menyangkut modernisasi teknologi berikut seluruh perangkat penunjangnya, modernisasi sistem, organisasi, manajemen, serta modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.



(3) Services Rasionalization

Pengembangan layanan agribisnis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan agribisnis secara keseluruhan. Rasionalisasi lembaga-lembaga penunjang kegiatan agribisnis harus dilakukan sehubungan dengan peningkatan efisiensi dan daya saing lembaga-lembaga tersebut baik di dalam negeri maupun pasar internasional, serta dengan mengembangkan kepercayaan dunia usaha terhadap kemampuan dan kehandalan lembaga-lembaga pemberi jasa tersebut dalam memberikan tunjangan terhadap kegiatan yang dilakukan. Secara khusus, lembaga penunjang yang perlu mendapat perhatian khusus adalah lembaga keuangan (financial institution) khususnya di pedesaan, dan lembaga peneliian dan pendidikan, khususnya penyuluhan.

Wednesday, September 27, 2023

Buku "Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian" karya Prof. Bungaran Saragih - Bagian II - Koperasi Agribisnis

 


Berikut ini uraian Prof Bungaran Saragih mengenai "Koperasi Agribisnis" yang menitikberatkan pada fungsi Koperasi Unit Desa (KUD) di tingkat kecamatan, Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) di tingkat kabupaten dan provinsi, serta Induk Koperasi Unit Desa (INKUD) di tingkat nasional untuk membentuk kekuatan usaha agrbisnis skala kecil. KUD merupakan salah satu term atau istilah dan kelembagaan Orde Baru yang ternyata sudah menurun fungsinya di era saat ini, sehingga membutuhknan rekayasa ulang (re-engineering) untuk dapat bertahan dan berdampak pada perekonomian pedesaan. Sehingga di akhir setelah uraian Prof. Bungaran, saya melampirkan artikel dari Kompas.com mengenai rekayasa ulang (re-engineering) Koperasi Unit Desa. Meskipun secara prinsip, pandangan Prof. Bungaran Saragih untuk melakukan penjenjangan Koperasi Primer Petani dan Agribisnis skala kecil menjadi Koperasi Sekunder di tingkat Kabupaten, Provinsi, dan Nasional untuk membentuk suatu ekosistem Agroindustri masih relevan dan patut untuk diterapkan hingga saat ini.

Pandangan Prof Bungaran adalah sebagai berikut:

"Sebenarnya pelaku dunia usaha terdiri dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan koperasi. Swasta bisa terdiri dari koperasi dan non-koperasi. Sedangkan koperasi terdiri dari koperasi besar dan kecil. Dan non koperasi biasanya merupakan  mayoritas yang terdiri dari para pengusaha kecil, baik di subsektor agribisnis usahatani maupun subsektor agribisnis non usahatani (hulu dan hilir). Namun keduanya sangat menunjang  untuk mengembangkan agribisnis.

Untuk mengembangkan usaha agribisnis skala kecil perlu dibentuk koperasi. Tanpa koperasi tidak mungkin agribisnis kecil dapat berkembang, Koperasi inilah yang nantinya akan berhubungan dengan pengusaha besar.

Faktor yang sering ditemui dan memperlemah posisi-tawar usaha kecil adalah lemahnya kerja sama di antara mereka untuk menghimpun energi bersama dalam membangun kekuatannya. Di satu pihak, apabila kita hendak mengembangkan usaha agribisnis skala kecil maka itu jelas berbasis pertanian dan perdesaan. Selama ini satu-satunya wadah organisasi  formal yang menggalang dan menghimpun energi untuk kekuatan di bidang ekonomi (dan sosial) di pedesaan adalah Koperasi Unit Desa (KUD). Secara administratif, paling tinggi wilayah kerja dan lingkup bisnis KUD adalah kecamatan.

Umumnya koperasi pertanian di dalam negeri sudah lama dibina. Namun lebih banyak koperasi primernya dan biasanya hanya ada di tingkat kecamatan. Oleh karena itu, koperasi tidak mungkin berkembang pada tingkat kecamatan saja. Makanya perlu dikembangkan koperasi sekunder pada setiap tingkatan mulai dari kabupaten, provinsi, sampai nasional.

Koperasi pertanian sekunder inilah yang menjadi alat KUD-KUD yang ada untuk menangkap nilai tambah di agribisnis hulu dan hilir (agroindustri dan perdagangan). Karena nilai tambah yang paling besar dari agribisnis adalah di subsektor agribisnis ini yang dapat mencakup kegiatan di luar kecamatan yaitu tingkat provinsi dan nasional.

Selama ini koperasi sekunder yaitu Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) hanya terdapat di provinsi dan Induk Koperasi Unit Desa (INKUD) di tingkat nasional. Jadi seolah-olah hanya ada satu Puskud di provinsi dan hanya satu Inkud di tingkat nasional. Sedangkan cakupan agribisnis ini sangat besar terutama agribisnis hulu dan hilir terlalu besar unutuk dilayani. Diharapkan nanti akan ada beberapa Puskud di satu wilayah dan beberapa Inkud di tingkat nasional. Namun tentunya harus ada asosiasi dari mereka sebagai pendukungnya. Sebernarnya benih-benih pembentukan ke arah ini sudah ada, misalnya di Jawa Barat ada Puskud seperti GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia), Pimkopti, Puskopti, KUD Mina, dan Puskud Mina (bidang perikanan). Diharapkan, Puskud hortikultura dapat segera dibentuk karena cakupannya sangat besar,  meliputi buah-buahan, sayur-sayuran, dan bunga. Untuk masa yang akan datang diharapkan KUD-KUD yang ada dapat menjadi anggota beberapa Puskud. Bisa juga sebuah KUD dapat menjadi Puskud perkebunan, hortikultura, pangan, ternak, ikan, atau kehutanan tergantung jenis bisnis KUD. Misalnya KUD di Cipanas, mempunyai anggota yang bisnisnya hortikultura, peternakan, dan pangan, maka mereka dapat menjadi anggota dalam tiga Puskud. Perkebunan karet di Sumatera Selatan mungkin hanya mempunyai KUD Karet sehingga hanya tertarik kepada Puskud karet, begitu juga kopi, cengkeh, dan lain-lain. Puskud ini dapat dibentuk berdasarkan komoditas yang diusahakan namun juga dari gabungan beberapa komoditas yang hampir sejenis, misalnya cengkeh dengan pala, karet dengan kelapa sawit, atau berdasarkan lokasi.

Kesalahan selama ini seolah-olah Puskud hanya cukup satu untuk mengurus semua komoditas, namun ternyata cakupannya sangat luas. Diharapkan nanti akan ada beberapa koperasi sekunder dalam suatu wilayah. Seringkali lokasi Puskud terlalu jauh dari kegiatan pertanian, misalnya di Jawa Barat terdapat Puskud sayur yang mencakup daerah Cipanas dan Lembang. Padahal lebih efisien apabila dibentuk dua Puskud untuk masing-masing wilayah. Inilah salah satu visi dari pertanian dan agribisnis."

 

Berikut artikel dari Kompas.com:

 

Merekayasa Ulang Koperasi Unit Desa

 

Masyarakat mengenal koperasi biasanya dari dua model, yakni koperasi simpan pinjam (KSP) dan koperasi unit desa (KUD).

Model koperasi pertama berkembang massif, di mana hampir 80 persen koperasi di Indonesia adalah KSP atau menyelenggarakan unit simpan pinjam (USP). Yang kedua, KUD, massif sejak 1978 sebagai instrumen swasembada pangan era Orde Baru.

Yang pertama berkembang massif selaras dengan liberalisasi pasar dan yang kedua mulai rontok saat deregulasi pasar diberlakukan.

Ibnoe Soedjono, Dirjen Koperasi era Orde Baru, mencatat, "Selama 20 tahun terakhir, KUD telah dikembangkan dan dibiarkan berkembang sebagai organisasi yang salah. Karena itu, investasi negara yang jumlahnya triliunan rupiah menjadi pemborosan, tidak meningkatkan kesejahteraan petani dan tidak memperkuat KUD. Justru sebaliknya, hanya dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang ada dan dalam posisi ikut ambil keputusan-keputusan."

Sebagai mantan dirjen, Ibnoe Soedjono menginsyafi ternyata pola pengembangan KUD yang top down keliru. Over sympathy negara dengan gerojokan berbagai fasilitas sampai triliunan rupiah justru membuat KUD tak memiliki daya berdikari.

Mental ketergantungan telah merusak daya prakarsa dan kewirakoperasian para pengurusnya. Meski demikian, sampai saat ini paling tidak ada 9.437 KUD masih beroperasi di seluruh pelosok Tanah Air. Lantas, apa yang perlu dilakukan agar mereka adaptif terhadap perubahan zaman?

Core business KUD

Dalam beberapa serial Lokakarya Koperasi Perubahan yang diselenggarakan Kopkun Institute, ditemukan bahwa dari 80-an peserta, hanya tiga hingga lima KUD yang masih menyelenggarakan usaha penggilingan padi, distribusi pupuk atau sarana produksi padi atau pertanian (saprodi/saprotan).

Di beberapa tempat, rice milling unit (RMU) itu bahkan tak lagi mereka operasikan sendiri, tetapi disewakan ke beberapa pengepul.

Di sisi lain, core business atau usaha inti mereka sebagian besar berupa simpan pinjam, waserda atau toserba, sentra kulakan, peternakan, dan perdagangan umum lainnya.

Selain usaha inti, sebagian besar KUD memiliki usaha penunjang seperti layanan pembayaran rekening listrik, konter pulsa, layanan payment point online bank (PPOB), dan sebagainya.

Secara umum, core business KUD telah meninggalkan sektor pertanian. Tentu saja kondisi hari ini berbeda dari tahun 1970 hingga 1980-an di awal KUD berkembang.

Core business yang berubah itu erat kaitannya dengan basis keanggotaan yang berubah. Setelah kegagalan kredit usaha tani (KUT), yang secara nasional mencapai 8 triliun rupiah, banyak KUD yang basis anggotanya petani luluh lantak. Selain karena masalah gagal angsur (non-performing loan), sebagian juga telah meninggal dunia atau menua dan tak lagi produktif.

Di atas kertas, banyak KUD mempunyai anggota sampai ribuan orang. Namun, dari ribuan itu hanya ratusan yang masih aktif lakukan partisipasi ekonomi dalam bentuk modal dan transaksi.

Beberapa KUD skala menengah juga sebagian telah meninggalkan sektor pangan. Bisnis inti mereka seperti unit simpan pinjam (USP) yang melayani anggota dan juga masyarakat umum. Sebagian yang lain menyelenggarakan usaha ritel dalam bentuk toserba dan bahkan swalayan modern.

Ada juga KUD yang telah melakukan pemekaran (spin off) dengan memecah unit sektor riilnya dengan simpan pinjamnya menjadi sebuah KSP yang otonom. Dalam kasus spin off, KSP hasil pemecahan berkembang lebih cepat jauh meninggalkan capaian sektor riilnya.

Rekayasa ulang bukan revitalisasi

Saat ini pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak tengah mengembangkan program revitalisasi KUD. Tujuannya mengembalikan kejayaan KUD seperti dulu.

Berbagai program dibuat seperti penanaman singkong untuk produksi mocaf, badan usaha milik rakyat (BUMR), berbagai kegiatan bimbingan teknis (bimtek) serta kegiatan atau program lainnya.

Masalahnya, berbagai program itu mengandaikan KUD hari ini masih sama dengan KUD tempo dulu yang padahal sudah berbeda. Hal itu bisa dilihat dari tematik kegiatan yang berpusat pada isu pangan atau pertanian.

Tentu saja, sebagian KUD yang masih berbasis petani bisa menerima program itu dengan baik. Namun, bagi sebagian besar yang lain justru menjebaknya dalam irama poco-poco.

Alih-alih mengembalikan KUD ke cetak birunya seperti masa lalu, lebih realistis untuk membuat KUD adaptif di hari ini dan masa depan.

Artinya, suatu agenda yang mendorong maju KUD meski dengan konsekuensi KUD berubah bentuk sehingga pilihan yang lebih masuk akal adalah melakukan rekayasa ulang (reengineering) daripada revitalisasi.

Charles Darwin pernah bilang, "Bukan yang terkuat, terbesar, atau terpandai, melainkan yang adaptif terhadap perubahan yang dapat bertahan."

Rekayasa ulang KUD bertujuan membuatnya adaptif dengan konteks kontemporer. Tak lagi terjebak pada nostalgia masa lampau: sebagai anak emas Orde Baru, tetapi si akil balik yang harus bertanggung jawab atas nasibnya (self responsibility).

Koperasi Usaha Daerah

Ada satu kisah menarik yang muncul di Lokakarya Koperasi Perubahan Angkatan Kedua, Juli 2017. Satu KUD di Kabupaten Tegal mengatakan telah melakukan perubahan anggaran dasar (PAD) sebanyak sembilan kali. Yang terkini adalah melakukan perubahan nama dari koperasi unit desa menjadi koperasi usaha daerah dengan singkatan sama, KUD.

Ini contoh bagus bagaimana pengurus mencoba mengembangkan kapasitas kelembagaan agar area kerjanya lebih luas. Menariknya, KUD Kab. Tegal itulah satu-satunya peserta lokakarya yang telah memiliki rencana strategis (renstra) di antara puluhan peserta lainnya.

KUD sebagai koperasi unit desa dimaklumatkan beroperasi di dua area kecamatan. Dengan mengubahnya menjadi koperasi usaha daerah, KUD dapat beroperasi di seluruh wilayah kabupaten.

Perubahan seperti itu tentu saja membuat KUD beroperasi dalam sistem pasar yang lebih luas. Konsekuensinya, keanggotaannya bisa tersebar dimana saja seturut dengan perluasan unit layanan usahanya. Artinya koperasi usaha daerah itu memiliki skala sosio-ekonomi lebih luas daripada sebelumnya.

Rekayasa ulang suatu KUD bisa berangkat dari core business unggulannya. Sehingga, bisa saja KUD berubah sama sekali menjadi sebuah koperasi serba usaha (KSU) dengan menghilangkan nama "KUD" atau bahkan berubah menjadi koperasi simpan pinjam (KSP). Hal itu sah dilakukan selama anggota bersetuju dalam forum rapat anggota.

Pada mereka yang terbebani citra minor "KUD", rebranding bisa dilakukan untuk memperoleh daya ungkit. Misalnya saja KUD Daya Mandiri bisa berubah nama menjadi "Koperasi Daya Mandiri" dengan konsentrasi pada sektor ritel, kerajinan atau produksi non-pangan dan jenis lainnya. Upaya itu bisa mendorong masuknya anggota-anggota baru sebagai basis anggota yang bermasa depan.

Rekayasa ulang itu perlu dikerangkakan dalam perencanaan strategis (renstra) sehingga berbagai perubahan berjalan padu. Misalnya saja, banyak KUD yang mengalami degenerasi dengan anggota tua lebih banyak daripada yang muda. Alhasil, regenerasi kepengurusan tersendat.

Lewat rekayasa ulang itu, KUD didorong terbuka bagi semua orang dan semua lapisan umur. Dengan cara begitu masalah degenerasi dapat diselesaikan.

Nothing to lose

Bagi KUD-KUD yang tak lagi bergerak di sektor pertanian atau pangan, rekayasa ulang seharusnya dapat dilakukan tanpa beban (nothing to lose). Apa sebab? Karena sejatinya KUD sekadar bentuk, sedang apa yang esensial adalah spirit koperasinya.

KUD bisa berubah bentuk menjadi apa pun selama masih berwujud koperasi dengan visi menyejahterakan anggota dan memberi dampak sosial bagi masyarakat.

Sebaliknya dengan rekayasa ulang, koperasi akan peroleh vitalitas baru dengan daya ungkit lebih besar. Itulah koperasi perubahan yang memiliki kapabilitas dinamis (dynamic capability) sehingga selalu adaptif dengan zaman.

Di sisi lain, pemerintah dan pihak lain tak perlu lagi menyeret-nyeret KUD ke sektor pertanian atau pangan. Masih ada model lain seperti koperasi tani (koptan) yang jelas-jelas berbasis kelompok tani (poktan/gapoktan) yang lebih tepat untuk digandeng tangan.

Sularso, Dirjen Koperasi era Orde Baru, yang sampai sekarang masih aktif di gerakan koperasi dengan gemas menegaskan, "Koperasi bisa besar tanpa harus merepotkan pihak lain. Kebijakan pemerintah hanya menjadi variabel eksternal, namun berhasil-gagalnya kembali pada daya internal (inner power) koperasinya masing-masing. Dan koperasi yang baik tidak mengemis-emis bantuan negara."

Jadi, rekayasa ulang KUD bukan kebutuhan pemerintah sebagai variabel eksternal. Namun, kebutuhan KUD itu sendiri yang masih ingin hidup minimal 20 tahun yang akan datang.


Sumber:

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Merekayasa Ulang Koperasi Unit Desa", https://ekonomi.kompas.com/read/2017/07/25/080400126/merekayasa-ulang-koperasi-unit-desa?page=4. 25 Juli 2017

Foto: (FIRDAUS PUTRA)

Penulis: Firdaus Putra, HC (Direktur Kopkun Institut, Peneliti LSP2I)

Editor: Laksono Hari Wiwoho


Buku "Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian" karya Prof. Bungaran Saragih - Bagian I

 


Hari ini saya baru saja meminjam tiga buku dari Perpustakaan Faperta UNPAD @perpustakaanfapertaunpad, yaitu buku "Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian" karya Prof. Bungaran Saragih, "Agribisnis Kreatif: Pilar Wirausaha Masa Depan, Kekuatan Dunia Baru Menuju Kemakmuran Hijau" karya Pak Dr. Iwan Setiawan @i.setiawan73, juga buku "Pengantar Ekonomi Pertanian" karya Ir. Moehar Daniel, M.S. Semoga saya bisa menyelami sedikit demi sedikit tiga buku ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai agribisnis, ekonomi pertanian, dan sosiologi pertanian sehingga bisa mempertajam analisis saya terhadap permasalahan pertanian di Indonesia.

Buku yang pertama, "Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian" karya Prof. Bungaran Saragih, sudah saya baca pada bagian pengantar, mukadimah, dan bagian satu. Saya memilih meminjam buku ini karena buku ini menjelaskan mengenai paradigma sistem dan usaha agribisnis yang terus berkembang mulai dari PJP I tahun 1969-1994 lalu bertahan dan menjadi jangkar dalam menghadapi krisis di tahun 1997-1998, masa recovery krisis tahun 2000-an, dan krisis global di tahun 2009, sehingga bisa memberikan background perkembangan pertanian di Indonesia dari masa ke masa, yang saya perlukan sebagai landasan awal untuk acuan teori.

Prof Bungaran Saragih menjelaskan bahwa salah satu penyebab krisis di Indonesia pada tahun 1997-1998 adalah lompatan pembangunan yang keliru, yakni melompat dari pembangunan pertanian ke sektor industri yang tidak berbasis pada pertanian, sebagaimana diajukan oleh mazhab strategi industrialisasi berspektrum luas (broad-based industry strategy) maupun mazhab industri canggih (hi-tech industry) yang menjadi pilihan rezim Orde Baru khususnya sejak tahun 1985.

Pemikiran dan pendapat Prof. Bungaran Saragih adalah bahwa industri yang seharusnya dikembangkan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian adalah industri-industri yang mengolah hasil-hasil pertanian primer menjadi produk olahan, yakni agroindustri. Dan menurut beliau Agroindustri akan menyokong pembangunan ekonomi dan menjadi fondasi bagi sektor-sektor industri lain untuk berkembang. Hal serupa pun dipaparkan oleh Pak Dr. Ronnie di mata kuliah Masalah Riset di negara maju.

Menurut Prof. Bungaran, Agroindustri akan menjadi leading sector pada PJP II tahun 1994-2018 lalu membangun sistem dan usaha agribisnis yang pro-domestik.

Nantikan kutipan dan ringkasan selanjutnya ya!

Sunday, September 24, 2023

Refleksi Hari Tani Nasional 2023

Selama kurang lebih dua bulan ini, dari pertengahan Agustus sampai akhir September, saya menjalani kuliah magister di Prodi Magister Ekonomi Pertanian Faperta UNPAD. Salah satu mata kuliah yang saya ikuti adalah matkul Masalah Riset Sosial Ekonomi dan Agribisnis. Pengampunya sampai akhir September ini dan mungkin sampai UTS adalah Bapak Dr. Ronnie S. Natawidjaja.

Pak Ronnie merupakan salah satu dosen senior dan Ekonom Pertanian di Faperta UNPAD. Beliau mengingatkan saya mengenai pentingnya menggali masalah riset sebagai panduan dan dasar awal dalam melakukan suatu penelitian dan pengkajian, yang harus memenuhi tiga hal, yaitu: (1) Novelty (Kebaruan), (2) Relevansi, dan (3) Urgensi.

Sebagai refleksi Hari Tani Nasional hari ini, 24 September 2023, saya ingin mengutip salah satu paparan dari Pak Ronnie yang menurut saya menjadi inti masalah dari tata niaga pertanian dan agribisnis di Indonesia yaitu bahwa petani, tidak seperti yang banyak digaungkan, yaitu bukannya tidak memiliki daya tawar, tetapi tidak berkutik karena memiliki banyak hutang. Hutang petani disebabkan karena tata niaga pertanian di Indonesia yang tidak dilakukan melalui mekanisme pasar dan instrumen pasar, tetapi melalui jejaring informal di luar mekanisme pasar yang seharusnya terbentuk. 

Jejaring informal yang dimaksud adalah jejaring bandar dan tengkulak mulai dari pasar induk, antar kota/kabupaten, antar kecamatan, sampai ke tengkulak kecil dimana petani memanen hasil panen nya. Jejaring informal ini bekerja dengan sistem kepercayaan dimana bandar lebih besar akan memberikan modal atau pinjaman di awal kepada bandar yang lebih kecil yang pada akhirnya sampai ke tengkulak kecil yang berhubungan langsung dengan petani. Sistem kepada petani biasanya dilakukan dengan sistem tebas, dimana harga panen ditaksir diawal dengan perkiraan, petani diberikan sejumlah uang sesuai dengan taksiran itu, dan semua panen petani harus diserahkan kepada tengkulak dan bandar. Dan hal ini dilakukan berjejaring yaitu pinjaman dan modal diberikan mulai dari bandar di pasar induk, ke bandar antar kota/kabupaten, lalu ke bandar antar kecamatan, sampai ke tengkulak kecil dan lalu ke petani dengan sistem hutang. Sehingga pihak yang kelebihan uang akan memberikan hutang ke pihak yang lebih rendah dan sampai ke hutang untuk petani.

Jejaring informal berbasis sistem kepercayaan ini sudah mengakar di lapangan dan bukan tidak menimbulkan masalah. Pemerintah sering kali mencoba membantu petani melalui mekanisme dan instrumen pasar, sedangkan petani tidak ada di dalam mekanisme pasar ini, tetapi berada di perputaran uang di jejaring informal yang sudah mengakar tadi. Jadi seberapa pun pemerintah mencoba membantu petani dan memberdayakannya, hal tersebut tidak efektif karena adanya jejaring informal yang sudah terlebih dahulu ada, mengakar di lapangan, dan menguasai perputaran uang dan barang.

Pemaparan Pak Ronnie ini menjadi refleksi bagi saya, bahwa menyelesaikan masalah pertanian tidak sesederhana yang dipikirkan. Karena di lapangan sudah terdapat aktor-aktor yang bermain dan kita harus memperhatikan hal tersebut apabila ingin terjun menyelesaikan masalah pertanian di lapangan.

Saya ingin menutup refleksi ini dengan menshare salah satu video saya tentang digitalisasi pertanian dan korporasi pangan petani yang semoga bisa menginspirasi :) Bisa disaksikan di bawah ini:


 

Sekali lagi, SELAMAT HARI TANI NASIONAL! Semoga petani Indonesia semakin sejahtera dan dilimpahi keberkahan. Aamiin.. 

Saturday, August 19, 2023

"The Self Worth Method With Trent Shelton" on Mastermind.com


I received email from Dean Graziosi @deangraziosi and Mastermind.com Team @mastermind.com_official to join the platform for 30 days just with 1 dollar.

Thanks to Ii @yesi.m.indira and Aa @soulkillaz for the support, so I could use my Jenius account to grab this opportunity.

First course that I watch on Mastermind.com is "The Self Worth Method With Trent Shelton" @trentshelton I watch the first part that entitled "Understanding Your Self Worth To Become Invincible".
 
It teaches me that acceptance and confidence are two basic fundamentals to establish our self worth. Self worth is not our status on achieving something, but it is what God gave us as ourselves today with all of our potential and who we are. We are custom made by God with our uniqueness and strength. So when we accept who we are, we can build our confidence to make our environment.

I want to share this with you all because I believe you are enough. Like flowers, we are well grown up because of the environment. If the flower died, maybe we should change the environment or move the flowers to another environment.


*The Self Worth Method With Trent Shelton*

Unbreakable Confidence In Knowing Your Self Worth

What’s the measuring stick of your life? Is it people’s opinions? Is it your career? What is the thing that you measure your successes and your failures to? Whether you think you do or not, we all measure yourself to other people and to the world around us. And, that’s a dangerous road to go down to measure your life based on someone else’s success, status or opinions. Even worse, is allowing the things that you are not in control of, to be in control of your worth. I encourage you to go buy a ruler. A little cheap one. One that you can break easily. I usually use the little wooden ones we used to get when we were in kindergarten. Write the things on there or write the thing on there that you measure your life too. Then I want you to break that ruler. Because starting right now and right here, you will not allow yourself to measure your life by anything outside of you anymore. You are your own measuring stick. This is not a race. This is not a competition. It’s your life. The fastest way to depression and unhappiness is trying to live up to a life that’s not you. For most of us, this is one of the hardest things to undo. Because everywhere we look we see everyone’s highlight reel. And that’s great. I am happy for anyone who has highlighted reels. But the reality of it is, we ALL have flaws too. Most of the time, we don’t know what people struggle with behind closed doors. Just like most of the time you don’t let anyone into what you struggle with behind closed doors. It’s time to normalize simply being you and being OK with that. The greatest success you will ever achieve is being free in this world to be you. It’s time to break the things off of you, out of you and away from you that do not serve your life. Are you truly ready to take this journey? it won’t be easy. But, I Got you. Let’s get it!

"AVOID UNHEALTHY COMPARISON. LIFE IS ABOUT PROGRESS, NOT PERFECTION." - TRENT SHELTON

Monday, August 14, 2023

Koperasi dan Korporasi Petani

Pada kesempatan kali ini saya ingin memposting salah satu Book Chapter dari IKOPIN yang bertajuk "SINERGITAS KOPERASI DAN KORPORASI PETANI DALAM MEMPERCEPAT PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL PASCA COVID-19" dari Nurhayat Indra.

Book Chapter ini menyoroti bagaimana Koperasi, Korporasi Petani, dan Sistem Agribisnis saling bertaut dan harus disinergiskan agar bisa menjadi solusi dalam menyejahterakan petani gurem atau petani kecil yang kepemilikan lahannya hanya atau di bawah 0,25 hektare. Book Chapter tersebut bisa teman-teman simak di pdf di bawah ya. Selamat menyimak!


Sunday, August 13, 2023

Own Your Future Challenge 2023

 

From August 1-7, 2023, I attended Own Your Future Challenge from Dean Graziosi and Tonny Robbins. This six days event discussed about Self-Education and Knowledge Industry and how we make and reflect our story, teach it, and use tools or action plans as blueprint and framework to monetize it. 

I learned about 1 Million Rules from Rachel Miller. The content that we make, it should be worth "1 Million Viewers, 1 Million Dollar Revenue, and 1 Million Minutes of Duration". From Trent Shelton I learned that we should avoid Vision Validation from others and take our own power of perspectives. Dean Graziosi reminds me to 3 important steps: Change, Courage, and Confidence. 


 

The pdf above is some materials from Own Your Future Challenge. I hope we could learn something from it. Knowledge and Self-education Industry is huge and promising. I will try to deep dive more to it. 

 

 

Thanks to Dean and Tony for the event :)

Sebuah Kontemplasi: Aku dan Dunia

 

Sebuah Kontemplasi: Aku dan Dunia.

Hari ini aku berbaring dan berkontemplasi.

Bahwa aku hanyalah satu entitas di antara berjuta dan bermiliar bintang dan entitas lain di dunia.

Tapi aku percaya bahwa Tuhan menciptakan aku unik, berdaya, dengan tujuan besar dan mulia.

Ya. Untuk menjadi: seorang khalifah di muka bumi yang memelihara alam semesta.

Orang paling beruntung adalah orang yang hidup untuk saat ini, tidak kecewa dan menyesal dengan masa lalu, dan tidak khawatir juga gelisah dengan masa depan.

Bersyukur dan merasa cukup adalah kunci untuk berbahagia.

Dan terus berbagi kebermanfaatan adalah rahasia untuk menjadi seseorang yang selalu bermakna untuk sesama.

Berharap kita dapat berjumpa dalam keadaan saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran.

Dan aku berharap kamu dan aku, ya kamu yang membaca dan aku yang menulis tulisan ini, kita bisa menjadi penerang jiwa yang bisa saling membawa ketenangan ketika risau dan cemas menerpa.

Berdoalah kepada Tuhan agar Ia selalu memberikan hidayah dan berkah-Nya kepada kita hamba-Nya, yang selalu memerlukan pertolongan-Nya :)

 

Kota Bandung, 13 Agustus 2023.

Seorang pembelajar dan pemimpi,

Dzikra Yuhasyra

*Semoga ada kabar baik di akhir bulan ini. Aamiin..*

Wednesday, August 2, 2023

Agriculture: New Hope for New Future

 

I want to explore my English Skill in writing by posting an article about agriculture on this beloved blog. The title of this article is "Agriculture: New Hope for New Future". I want to spread optimism and belief that sustainable and efficient agriculture will give a good impact on economics also the environment and make young generations realize that maintaining our nature's condition and the potential of the sustainable ecosystem could give prosperity to the people. Let's start together!


In my previous posting, I wrote an article from The Conversation Indonesia that Agriculture Degree Graduates in Indonesia are not willing to be farmers. A lot of reasons cause this phenomenon. One of the fundamental reason, and I also feel it, is Agriculture Degree Graduates in Indonesia don't have enough time and experience to feel and do actual farming activities. So what they learn in the classroom at University is not followed by practical or field knowledge and exposure. It's a basic but crucial problem. Because without practical or field knowledge and exposure, the graduates cannot have big pictures of how to run and start agricultural businesses.


Based on my experience, the solution to this problem is how the University and Agriculture Degree Students make a cooperation with experienced farmers and agricultural companies to do a professional internship, so the students can feel real exposure to real-life cases and problems. Thank God that today there are a lot of programs from Kampus Merdeka and Merdeka Belajar that facilitate the students to experience real case studies of agriculture in companies, experienced farmers, or other organizations.


Based on my learnings, another solution to attract young generations to join the agriculture field and industry is by making the operation of agriculture sustainable and efficient. I read a book entitled "The Lean Farm" by Ben Hartman that teaches beginner farmers to maximize agriculture production in efficient ways by cutting off waste.


The main problem of today's agriculture is too much waste in more comprehensive views and a lot of aspects, not just too much waste on agricultural input, like water, pesticides, fertilizers, and seeds, but also from too long waiting of harvesting and complexity in the supply chain. All of that is categorized as waste. We also should change our mindset to make sustainable and efficient agriculture in an organic manner and natural cycle in nature. So we must do Good Agricultural Practices (GAP) in sustainable ways.


It's time for me, you, and us, as young generations in Indonesia to make a breakthrough in Indonesia's agriculture sector. We must believe that we can do something for our beloved country, and one of them is to repair and increase the quality of the agriculture sector in Indonesia. Let's do small, act locally, and think globally that Indonesia will achieve prosperity and the status of a developed country when we can improve and add value to our agricultural production.


Agriculture: New Hope for New Future. Yes, We Can!

Tuesday, August 1, 2023

Langkah yang Tepat (La Tahzan Jangan Bersedih! - Dr. 'Aidh al-Qarni)

 

Langkah yang Tepat (La Tahzan Jangan Bersedih! - Dr. 'Aidh al-Qarni)

Asy-Syaukani pernah mengatakan, "Sejumlah ulama menasehatiku: 'Jangan pernah berhenti menulis, walaupun hanya dua baris sehari.' Aku pun mematuhinya, dan kini aku dapat memetik buahnya."

Pesan yang tersirat dalam pernyataan asy-Syaukani ini merupakan makna hadits Rasulullah: "Sebaik-baik perbuatan adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit."

Dikatakan, tetesan demi tetesan akan membentuk sebuah aliran air yang deras.

Tidakkah kau lihat seutas tali yang karena lama mengikat pinggang bukit telah mengguratkan bekas.

Kita sering menggerutu karena tidak sabar ingin melakukan apa saja dengan sekali jadi, yang kemudian itu membuat kita merasa capek dan bosan, lalu meninggalkannya. Padahal jika kita melakukannya sedikit demi sedikit, dan setahap demi setahap sesuai perencanaan kita, pasti kita akan mampu melalui fase-fase itu dengan tenang. Anggaplah shalat sebagai contoh. Agama telah mensyariatkannya dalam lima waktu yang berpisah-pisah, sehingga memungkinkan hamba untuk istirahat sejenak, dan merindukannya lagi pada saat menunggu waktu shalat berikutnya. Seandainya shalat lima waktu itu digabungkan dalam satu waktu pasti akan membosankan. Dalam hadits disebutkan: "Sesungguhnya orang yang memaksakan diri itu tidak akan kuasa menahan keletihan punggungnya dan tidak akan mampu menyelesaikan jarak tempuh." Dari pengalaman nyata kita dapat menyimpulkan bahwa seseorang yang melakukan secara bertahap jauh lebih produktif daripada yang melakukannya sekaligus.

Sebuah tesis yang dikemukakan sejumlah ulama menyimpulkan: Shalat itu menertibkan waktu kita. Tesis ini mengambil makna dari firman Allah,

"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

(Q.S. An-Nisa: 103)

Seandainya saja seorang hamba mampu membagi pekerjaannya yang menyangkut agama dan dunianya setelah waktu shalat, niscaya dia akan mendapatkan waktu yang luang.

Dapat saya contohkan, jika seorang pelajar atau mahasiswa mengalokasikan waktu sehabis shalat subuh untuk menghafal ilmu apa saja, setelah shalat zhuhur untuk membaca yang ringan-ringan, setelah Ashar untuk tulisan yang serius, setelah Maghrib untuk main dan perbincangan santai, dan setelah Isya untuk membaca buku-buku kontemporer, hasil riset, jurnal, dan kumpul bersama keluarga dan kerabat, maka akan bagus sekali. Dari dasar nuraninya, orang yang berpikir akan mendapatkan pertolongan dan cahaya.

"Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan."

(Q.S. Al-Anfal: 29)

Monday, July 31, 2023

FOOD SECURITY oleh Rhenald Kasali - Founder Rumah Perubahan. Sebuah Tulisan Arsip Lama dari LINE VOOM di Tahun 2017

Selain tulisan mengenai "petani yang terancam punah" yang sebelumnya saya post sebelum postan ini, salah satu tulisan yang ingin posting kembali dari arsip LINE VOOM saya di tahun 2017 adalah tulisan mengenai Food Security dari Pak Rhenald Kasali. Semoga menjadi tulisan ini jadi pengingat bahwa kita harus terus memperbaiki sektor pertanian di Indonesia dengan langkah-langkah kecil yang bisa kita lakukan. Selamat menyimak!


 FOOD SECURITY

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

 

 

Bila dua-tiga bulan lalu bangsa ini heboh membicarakan energy security, maka sebulan terakhir kita sibuk membicarakan pangan. Food dan energy adalah sebuah kesatuan, apalagi sekarang bahan-bahan  pangan mulai dijadikan pengganti energy.  CPO, kedelai, biji bunga matahari, jagung, tebu, ketela, gandum, dan sebagainya kini di dunia mulai dialihkan menjadi bioenergy yang harganya terus melonjak. Kalau harganya terus melonjak, dan sebagian besar tanaman itu bisa ditanam di sini, mengapa justru mengalami kerawanan? Kalau pertanian Indonesia ingin maju, maka berikanlah keuntungan yang positif dan harga jual yang bagus bagi produk-produk pertanian Indonesia. Ini berarti, batasi impor dan jangan manjakan konsumen. Tetapi kita sepertinya ingin mendapatkan keduanya: Pertanian maju, tetapi harganya harus murah dan konsumen harus senang.


Surplus Tetapi Miskin


Ketahanan pangan menjadi masalah besar justru di negara-negara Asia, yang menurut Bank Dunia mengalami pengurangan kemiskinan yang signifikan. Menurut FAO (2009), sepanjang 2003-2005 saja, terdapat 541,9 juta penduduk Asia yang kekurangan gizi. Mengapa pertumbuhan ekonomi disertai kerawanan pangan? Ambil contoh saja di Thailand dan Vietnam yang mati-matian mengembangkan konsep ketahanan pangan sejak 30 tahun lalu. Di kedua negara ini sektor pertanian mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbeda dengan di Pulau Jawa yang lahan-lahan pertaniannya beralih ke properti dan industri, di kedua negara itu lahan-lahan pertanian justru diperluas dan irigasi diperbaiki. Keduanya surplus pangan dalam jumlah besar. Pada tingkatan makro, pertaniannya maju pesat. Namun pada tingkatan rumah tangga para petani tetap kesulitan hidup dengan layak dari sektor pertanian. Mereka lebih menjadi net buyer yang hanya bisa membiayai sepersepuluh konsumsinya dari hasil pertanian (Isvilonanda & Bumyasiri, 2009).

Demikianlah, pangan adalah masalah yang sangat serius, semakin kompleks dan butuh perhatian lintas sektoral. Tidak cukup diatasi oleh penghapusan bea masuk seperti yang dilakukan pemerintah terhadap impor kedelai. Pangan adalah masalah ketahanan yang rumit. Konsep pertahanan-keamanan yang dulu berarti tentara dan senjata, kini bergeser ke pangan dan energi.  Dan lihatlah betapa kita kedodoran mengelola ketahanan pangan yang menyangkut apa saja.  Tahun lalu cabai saja sampai menjadi agenda  pembicaraan yang hangat di istana. Lalu dalam perekonomian kita muncul masalah daging sapi, gula, garam, ikan kembung, beras, bahkan bawang merah.  Kini kedelai.  Sebanyak 150.000 anggota koperasi tahu tempe hari-hari ini tengah melakukan aksi mogok ketika harga kedelai melonjak dari Rp5000 menjadi Rp8000 per kilogram.  Meski semalam saya masih bisa menikmati tahu-tempe, ada rasa was-was, bukan khawatir kehilangan keduanya, melainkan khawatir anak-anak kita kelak akan kesulitan makan karena negeri ini tak memiliki konsep ketahanan pangan yang jelas.

Semakin Kerdil

Selain data yang sudah banyak dipaparkan para ahli, mari kita membaca insight berikut. Menurut kamus, insight adalah a clear or deep perception of a situation.  Atau bisa juga perasaan subjekif yang bisa dibaca dari sebuah situasi.  Namanya juga subjektif, jadi bisa terbaca, bisa juga tidak. Bisa terbaca A, bisa juga terbaca B.  Tetapi mari kita renungkan baik-baik, dan coba lebih gunakan insight  untuk melihat peluang yang mungkin timbul dari masalah besar ini, daripada memperbesar masalah itu sendiri. Kata orang bijak, bangsa-bangsa yang unggul adalah bangsa yang bisa melihat kesempatan dari setiap kesulitan. Dan pemenangnya adalah bangsa yang berani berselancar dalam gelombang ketidakpastian. 

Sedangkan bangsa yang selalu kalah adalah bangsa pengeluh yang hanya mau menjelajahi dunia yang pasti-pasti saja, lalu menyalahkan orang lain atas masalah yang ia buat.  Bangsa yang demikian akan selalu kalah, dan pemimpinnya gemar melempar kesalahan pada orang lain.  Ketimbang mengatakan, "saya yang salah", mereka akan selalu mengatakan, "itu bukan kesalahan saya." Sudah salah dan menyangkal, mereka pun mengulangi kesalahan yang sama bekali-kali. Saya kira tulisan ini tidak dimaksudkan menghadirkan keluhan atau sikap pecundang. 

Insight dari Dapur Rumah Makan Sunda tempat saya biasa menikmati makan enak menunjukkan, ada sesuatu yang tak beres pada pangan-pangan kita.  Berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang berupaya keras menghadirkan buah-buahan dan sayuran yang lebih besar dan lebih manis,  saya justru menemukan pangan lokal yang sebaliknya.  Kedelai impor semakin hari semakin bagus, sedangkan kedelai lokal semakin kuntet.  Petai padi yang dulu besar-besar, kini semakin mengecil.

Demikian juga dengan ikan pepes (ikan peda) yang dulu besar-besar, kini hanya daun pembungkusnya saja (daun pisang) yang besar. Rasanya semua ini berlaku pada hampir semua panganan kita. Kue pisang juga semakin kerdil dan pisangnya sepet. Sekalipun makannya di hotel berbintang lima. Bakso yang di jajakan keliling juga semakin kecil, dan rasa dagingnya semakin tak terdeteksi lidah. Kata pemilik restoran bukan hanya ukuran yang mengecil, keharumannya juga berkurang.  

Saya berbicara dengan para petambak ikan, mereka pun mengaku alam dan pakan sekarang sudah tidak bersahabat.  Air dari sungai sudah rusak, pencemaran luar biasa ganas karena pabrik celana jeans yang beroperasi tidak jauh dari tambak sering membuang limbah pewarna ke sungai. Ikan-ikan sulit menjadi besar. Di Waduk Jangari-Cirata saja, yang menjadi pusat  ikan mas Jawa Barat, sudah dikepung oleh sampah.  Lebih mengerikan lagi, harga pakan ikan pun sudah terlalu mencekik. Maka supaya bisa tetap untung panen pun dipercepat.  Itu pulalah yang tampaknya dilakukan petani (termasuk petai dan cabai), memanen hasil tanaman lebih cepat dari yang seharusnya agar bisa meraih untung. Apalagi akibatnya kalau bukan kuntet?

Sementara di dunia internasional, perubahan iklim bisa merubah peta suplai secara tiba-tiba. Kalau sudah begini, bangsa yang menang hanyalah bangsa yang proaktif. Artinya menanam jauh-jauh hari. Bukan seperti sekarang, ribut menanam kedelai pada ribuan hektar saat harganya sedang mahal. Lalu apa akibatnya dua-tiga bulan lagi saat panen beramai-ramai? Insight ini menunjukkan bahwa pertanian sudah tidak lagi menjadi sektor yang gurem.

Pertanian justru akan menjadi sektor yang mengalahkan sektor-sektor lainnya. Apa artinya mempunyai emas kalau tak bisa mendapatkan makan? Tetapi dalam masa transisi jelaslah suatu bangsa harus bisa menciptakan kondisi hasil investasi (Internal Rate of Return) pada sektor pertanian yang positif. Saat ini saja dunia perbankan cenderung alergi pada sektor pertanian. Ini berarti diperlukan perubahan kebijakan agar petani mau kembali menjadi petani. Syaratnya, ya sederhana saja, berikan IRR yang positif dan besar. 

Saya ingin menutup dengan insight lain dari para pedagang pangan. Bagi mereka kenaikan harga adalah wajar, tetapi khusus mulai 2012, kenaikan pangan yang biasa terjadi di bulan Ramadhan kini bergerak jauh lebih cepat 1-2 bulan sebelumnya. Lebih jauh lagi, bila sebelum 2005 dari 365 hari berdagang mereka kalah sebanyak 80 hari (karena cost lebih besar dari price), maka sejak 2005 ke sini, hari kekalahan terus membesar dan membesar. Tahun ini telah menjadi 150 hari kalah. Masih positif sih. Tetapi itu lampu kuning yang sebentar lagi menjadi merah. Artinya, ada masalah yang harus kita benahi bersama. Artinya food kita sedang tidak secure. Artinya selain banyak masalah, ya banyak peluang.

PETANI, SEBUAH PROFESI YANG (MUNGKIN) AKAN PUNAH (?) oleh djodjobedjodirodjo - Kompasiana. Sebuah Tulisan Arsip Lama dari LINE VOOM di Tahun 2017

Saya teringat dan ingin menuliskan kembali salah satu tulisan arsip lama yang saya tulis di Timeline LINE atau yang sekarang disebut LINE VOOM. By the way, pada saat menjadi mahasiswa sarjana dan berkuliah, saya lebih sering menggunakan aplikasi LINE dibandingkan aplikasi yang lain dan seringkali menulis di sana, termasuk menulis tentang topik pertanian. Tulisan mengenai petani ini saya ambil dari Kompasiana. Jadi mari kita simak bersama tulisan yang menurut saya menggelitik ini. Selamat menyimak!

Menjadi Petani? Menarik. Sulit. Jadi?
 

PETANI, SEBUAH PROFESI YANG (MUNGKIN) AKAN PUNAH (?)

djodjobedjodirodjo - Kompasiana

 


Lebay? Mungkin bisa dikatakan ya, tapi inilah pembuka yang hangat yang memantik kenyamanan kita untuk sedikit gundah memperhatikan nasib petani, dalam konteks di sini petani yang menggarap sawah. Penulis bertanya, petani itu apakah suatu pekerjaan yang enak? Kalau para pembaca menjawab “iya”, berarti Anda sudah siap untuk merasakan ‘enaknya’ menjadi petani. Proses ‘olah raga’ itu dimulai ketika petani menyiapkan lahan dengan membajak sawah, menabur bibit padi, menyemai, dan memanam satu per satu benih. Setelah tumbuh, petani harus menyiangi rumput yang tumbuh bersamaan dengan berkembangnya benih, kemudian ngrabuk (yang konon pupuk bersubsidi tetapi tetap saja harganya mahal) supaya tanaman subur dan menghasilkan banyak buliran padi. Belum lagi kalau hama menyerang, entah itu wereng lah, keong lah, burung emprit lah, tikus lah, ah sudahlah. Petani mau gak mau membutuhkan obat pestisida untuk menyemprot padinya supaya terbebas dari hama wereng, butuh membuat orang-orangan sawah dan setia menunggui padi dari ‘pencurian’ yang dilakukan oleh burung pipit. Dan juga, harus rajin gropyokan apabila ada hama tikus mengganas.

Ibarat sekolah, petani ini mengalami banyak sekali ‘pekerjaan rumah’, ‘les tambahan’, dan juga ‘tes’ supaya dapat lulus sampai tiba waktu panen. Pada waktu panen tiba pun, biasanya yang punya gawe akan dikerubungi buruh dadakan yang ikut “membantu” dan mau tidak mau petani mengeluarkan upah bawon. Sudah selesai? Ternyata belum. Petani harus menjamin gabah setelah dirontokkan harus kering benar supaya laku dan dihargai oleh para tengkulak. Berakhir? Belum juga. Petani harus menghadapi final examination, yaitu: harga gabah. Hal yang menyayat hati adalah apabila dengan pengorbanan yang demikian besar tersebut, harga gabah ternyata jatuh dan pada akhirnya malah tidak menutupi ongkos produksi. 

Dengan bercermin kondisi yang demikian, penulis kadang berpikir, jika generasi penerus lebih memilih untuk mencari profesi baru yang lebih menjanjikan, lalu, apa yang terjadi kemudian dengan kelangsungan hidup profesi petani? Pakdhe Ngatimin dan Paklik Sagiman adalah ‘sisa-sisa’ penduduk yang berkutat mempertahankan ‘tradisi’ di luar kebanyakan orang yang setelah lulus sekolah kemudian merantau ke kota. Mereka adalah ‘pewaris’ status agraris yang konon masih melekat identitasnya atas negeri ini. Mereka adalah generasi penerus pendekar pangan di saat orang-orang lain yang ‘lebih pintar dan terpelajar’, yang karena entah punya kesempatan atau memang karena tidak punya lahan lagi, akhirnya, meninggalkan lumpur dan aroma harum busuknya jerami untuk mendapatkan jalan hidup yang ‘lebih mapan’ dengan mencari pekerjaan ‘terhormat’ di tempat yang lebih modern sebagai seorang: Buruh! Dengan profesi itulah, mereka menikmati ‘kenyamanan hidup’ berupa penghasilan teratur yang mereka terima setiap bulan, tanpa harus terpanggang sengatan matahari dan guyuran hujan. 

Fenomena yang jamak terjadi ini sebenarnya tidak bisa lepas dari stigma yang melekat pada diri petani dan kondisi yang menyebabkan profesi ini sebagai sesuatu yang berhubungan erat dengan hal yang melelahkan, memprihatinkan, dan kurang menjanjikan. Walaupun tidak semua demikian, penulis yakin lebih banyak yang beranggapan seperti itu. Bahkan, kakek penulis pun ketika masih sugeng dengan berapi-api menceritakan perjuangannya ketika masih muda dalam membesarkan anak-anaknya, bercita-cita supaya mereka, anak-anaknya dan kelak cucu-cucunya (termasuk penulis), jangan sampai mengalami dan merasakan kesusahan hidup seperti dirinya melainkan menggapai hidup yang ‘lebih mulia’ dan menjadi ‘orang’. 

Dan benar saja, kegigihan kakek sebagai petani membiayai 7 anaknya meniti jalur sekolah sampai SLTA, sukses membawa mereka menjadi ‘orang’, dan satu dari antara mereka mungkin yang paling ‘rendah derajatnya’ adalah bapak penulis yang ‘hanya’ berprofesi sebagai seorang: Guru SD! Penulispun, karena ingin mencari jalan pintas, maka memilih untuk ikut pendidikan kedinasan yang mewajibkan bekerja pada institusi tertentu setelah lulus. Dan, jadilah kini penulis sebagai ‘buruh’ negara. Baik. 

Mari kita tinggalkan cerita kakek saya, berganti ke hal yang menggelisahkan. Kegalauan penulis dimulai tatkala menelisik fakta yang sangat memprihatinkan ketika: generasi penerus terus-menerus berbondong-bondong ke kota; sawah-sawah terkonversi menjadi pabrik dan perumahan ibarat sawah thukul omah, bukan padi atau tanaman hijau lainnya; adanya permainan harga pupuk dan harga gabah panen, dan juga faktor alam yang tidak bisa dihindari karena musim yang tidak jelas. Tidak bisa dipungkiri bahwa akibat industrialisasi, terjadi pergeseran pola kependudukan. Pabrik-pabrik dan perkantoran yang bermunculan luar biasa banyaknya karena ‘undangan’ investasi dari pemerintah seakan melambai-lambaikan tangannya dan memberi harapan yang lebih kepada generasi muda akan hidup yang lebih mapan. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah penduduk juga membuat lahan garapan semakin sempit. Sejurus, mulailah generasi penerus ini mengubah arah hidupnya, dan tragisnya, berbondong-bondong meninggalkan sawah. Yang tidak ikut arus ini, tentu tersisa dengan tetap setia menggarap sawah, bagi yang punya; atau menggarap sawah orang lain dan bekerja serabutan di desa supaya asap dapur tetap terjaga. 

Berkurangnya generasi petani ini, entah di luar dugaan atau diperkirakan sebelumnya, ternyata sangat mengkhawatirkan. Hal ini tercermin dari hasil sensus yang dilakukan oleh BPS (Tempo, 2013) yang mengungkapkan data bahwa terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani dari 31,17 juta rumah tangga pada tahun 2003 menjadi sekitar 26,13 juta rumah tangga pada tahun 2013. BPS menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun, Indonesia kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani. (Menghela nafas). Bagaimana dengan 10 tahun ke depan, apakah kita dapat memprediksinya, ataukah nanti petani itu hanyalah tinggal sebagai ‘makhluk langka’ yang perlu dilestarikan di suatu ‘cagar alam’? Patut diingat bahwa hal ini sangat berbanding terbalik dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang dari tahun 2003 sampai 2013 saja tumbuh dari sekitar 215 juta jiwa menjadi lebih dari 250 juta jiwa. 

Ironis memang, di tengah adanya peningkatan jumlah penduduk yang demikian besar dan membutuhkan ketersediaan pasokan pangan yang memadai, tidak diimbangi dengan pertumbuhan jumlah petani yang memproduksi pangan. Penulis, atau siapapun yang peduli akan nasib petani dan ketahanan pangan harus menahan napas dalam-dalam karena kondisi seperti ini cukup menyesakkan dada. 

Berbekal pengalaman hidup selama 2 tahun tinggal di negeri ‘Saudara Tua’, penulis dapat menggambarkan bahwa betapa enaknya menjadi petani di sana. Salah satu petani yang penulis kenal, Satoshi Wada, bahkan memiliki 2 mobil yang di sini pegawai pajak pun harus berpikir ulang untuk membeli Honda All New Jazz, dan satu lagi mobil mewah! Penulis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Apa rahasianya? Ternyata profesi petani dan hasil pertanian sangat dilindungi oleh pemerintah Jepang. Harga beras dijamin tinggi oleh pemerintah, sehingga mereka memperoleh hasil yang memuaskan walaupun di beberapa daerah tertentu karena keterbatasan musim tanam, mereka hanya panen sekali dalam setahun. Para petani, yang rata-rata juga usia tua pun, menikmati profesi ini karena tidak melelahkan. Satu-dua hektar untuk menanam atau memanen hanya butuh hitungan kurang dari tiga jam, tidak lebih, dilakukan seorang diri atau dua orang. Pula, proses penanaman sampai panen pun dilakukan secara mekanik. Petani tinggal duduk manis di atas mesin, menyetting bibit padi muda, mesin dijalankan dan, tatdaaaa, benih akan ditanam secara otomatis. Panen pun demikian, petani tinggal naik traktor, menjalankan mesin, dan buliran padi pun akan tertampung di bagian traktor, dan jerami akan sendirinya tersisih dengan berhamburan keluar ditebas mesin. Menakjubkan sekali! 

Sementara itu, di pelosok desa, menanam padi bisa membutuhkan 5 – 10 orang. Dengan berjajar, mereka bergerak menanam satu per satu benih semaian dengan jarak teratur. Demikian pula waktu panen. Bermodalkan alat tradisional berupa sabit, para pekerja memotong padi, mengumpulkan menjadi berkas-berkas, lalu dirontokkan secara manual untuk memisahkan buliran padi dari jerami. Hal ini biasa dilakukan dari pagi hari sampai sore hari. Demikianlah proses ini berlangsung, dari sejak jaman Majapahit belum ada perubahan yang berarti. Menyedihkan sekali! Penulis berpikir, apakah tidak ada usaha pemerintah untuk mengubah situasi ini menjadi lebih baik? Penulis yakin ada, namun belumlah signifikan. Program yang sering terdengar adalah penemuan dan penggunaan secara massal bibit baru yang terkenal tahan hama dan menghasilkan bulir yang banyak. Tujuannya adalah tidak lain dan tidak bukan: untuk meningkatkan produksi. Namun, bagaimana dengan permasalahan sumber daya manusianya, apakah akan menutup mata apabila petani dalam kurun waktu satu periode mendatang akan habis? Atau bahkan kita juga latah dengan membuka kran impor tenaga petani dari negara-negara miskin untuk mengerjakan tanah kita? Ataukah terus-menerus mengimpor beras dengan dalih bahwa beras impor lebih murah dari pada beras lokal? Mengerikan sekali! 

Pemerintah harus lebih peka terhadap nasib petani. Patut dicamkan bahwa para petani ini adalah ‘makhluk’ yang paling sabar dalam menjalani profesinya. Walaupun gagal panen berkali-kali, pukulan harga gabah yang anjlok, lelahnya mengolah sawah, mereka tetap menjalani proses dan terus berkarya. Jika saja mereka seperti buruh manja yang banyak demo, mogok, dan menuntut, maka dapat dibayangkan apabila petani ini ‘ngambeg’. Stok pangan habis, harga makanan pokok mahal, devisa negara jebol, dan lain-lain, dan pada akhirnya, adalah suatu keniscayaan kalau bangsa ini bakal runtuh, hanya karena tidak punya ketahanan produksi pangan. Ah, semoga tidak, karena ini adalah kegalauan hati penulis.

Saturday, July 29, 2023

Belajar Trading dan Investasi Saham IDX Melalui Analisa Teknikal dan Analisa Fundamental

 

Salah satu skill dan keahlian yang terus saya ingin pelajari dan kembangkan adalah kemampuan untuk trading dan investasi saham IDX atau di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui Sekuritas tentunya. 

Pada tahun 2018 saya membuka akun dan rekening saham di Mirae Asset Sekuritas melalui Sekolah Pasar Modal (SPM) Syariah di Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat. 

Semenjak membuka akun dan rekening saham, saya mengikuti pelatihan atau edukasi dari Mirae Asset tentang analisa teknikal dan analisa fundamental untuk menganalisis suatu saham dan perusahaan. Salah satu yang dipelajari adalah Simple Support and Resistance, Simple Moving Average, dan berbagai rasio keuangan untuk melihat kesehatan dan profitabilitas suatu perusahaan.

Materi di bawah ini adalah materi basic tentang analisa teknikal dan fundamental dari Mirae Asset Sekuritas yang sangat bisa untuk dipelajari dan dikembangkan bagi pemula sebagai bekal menjadi trader dan investor saham.

Berikut materinya:

 

 
 

 

 

Hari ini, Sabtu, 29 Juli 2023, saya mengikuti kembali webinar tentang saham yaitu Multiple Trading Strategy (MTS) dari Galeri Saham dengan Pemateri yaitu Pak Rio Rizaldi.

 

Berikut adalah materinya:

 

 

 

Semoga saya bisa terus belajar mengenai trading dan investasi saham dan kalau ada rezekinya semoga bisa membeli dan berinvestasi lagi di saham Blue Chip.

By the way, bulan ini saya sell saham ANTM dengan take profit lebih dari 250 % setelah di hold selama 5 tahun. Alasannya karena sedang butuh uang lebih. Haha

Yuk ah semangat berinvestasi lagi. Semoga ada rezekinya :)