Saturday, September 25, 2021

My Riding Journey

Seperti pada judul artikel ini, aku akan sedikit menceritakan mengenai perjalanan ku belajar mengendarai sepeda motor. Mungkin bagi sebagian orang mengendarai motor adalah hal yang biasa saja, tidak ada yang spesial, tapi bagiku ini adalah salah satu pencapaian besar yang akan menjadi bekal bagiku untuk seumur hidup.


Aku belajar sepeda motor pertama kali pada tahun 2016 saat aku berusia 20 tahun. Waktu itu aku sedang menjalani semester 5 di Rekayasa Pertanian SITH ITB dan akan kerja praktek ke Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan sendirian, sehingga aku berpikir penting bagiku untuk belajar motor, karena siapa tau di tempat kerja praktek aku harus mengendarainya. Saat itu Mamah dan Aa Gaya, Kakakku, membelikan sepeda motor Yamaha Mio agar aku bisa gunakan untuk belajar motor. Bukan motor baru tapi cukup untuk mempersiapkan aku belajar motor. Aku pertama kali belajar didampingi oleh A Buris, setelah beberapa waktu latihan dilanjut oleh A Brey. Saat itu kemampuan mengendalikan motor ku masih payah, aku kesulitan mengendarai motor. Lalu setelah itu aku melanjutkan belajar dengan A Mpink tepat saat bulan Ramadhan sebulan sebelum aku pergi ke Sumatera Selatan. Dengan A Mpink latihan motor lebih diintensifkan dan aku mulai bisa mengendalikan motor sedikit demi sedikit. Dan di akhir bulan Ramadhan aku berhasil membawa motor dari Cicadas sampai Ujungberung ke tempat tinggalku meskipun masih belum benar-benar lancar. Lalu pergilah aku ke Sumatera Selatan, dan di sana ternyata skill motor ku tidak digunakan, karena aku lebih banyak diantar jemput disana. Pada semester setelahnya aku lebih disibukkan oleh Tugas Akhir dan mengejar nilai bagus, aku pun tidak pernah menyentuh motor lagi setelah itu.

Aku lulus kuliah pada tahun 2018, lalu setelah itu sibuk mencari pekerjaan dan harus juga ikut menjaga Mamah yang patah tulang, aku pernah ceritakan dipost sebelumnya. Karena itu aku pun tidak sempat memikirkan untuk melancarkan kembali belajar motor. Tibalah saat aku mulai bekerja di Griin.id pada Agustus 2021. CEO ku di Griin.id, Bang Ifan, mendorong ku untuk kembali melancarkan mengendarai motor, karena untuk kedepan dibutuhkan mobilitas yang lebih tinggi untuk kerjaan sehingga skill mengendarai sepeda motor sangat diperlukan. Saat itulah aku menghubungi Aa Gaya untuk menghubungi A Mpink untuk kembali mendampingiku belajar motor. Akhir nya aku mulai belajar motor lagi mulai tanggal 14 Agustus setiap weekend saat libur kerja. Karena terakhir aku mengendarai motor 5 tahun lalu pada 2016, aku sudah agak lupa lagi cara mengendarai motor, jadi aku mulai belajar dari awal lagi. Mulai dari mengendarai lurus, angka 8, sampai mencoba belok di jalan kosong dan lapangan. Alhamdulillah aku terus konsisten dan berprogress saat latihan motor tiap weekend. Ini video aku latihan motor di Taman Makam Pahlawan Cikutra pada 22 Agustus 2021.

 



Setelah cukup mahir mengendarai di jalan kosong dan lapangan, aku mulai belajar mengendarai di jalan komplek didekat rumah Kakakku di Kosar, Cijambe yang ada trek naik turun nya. Setelah cukup mahir, aku mulai mencoba di jalan hidup di sekitar Kosar-Cijambe-Pasirjati. Alhamdulillah aku bisa melalui uji coba-uji coba latihan tersebut. Pada awalnya aku mencoba membawa motor dengan membonceng A Mpink tapi perlahan aku mencoba membawa sendiri sambil diawasi A Mpink yang juga membawa motor sendiri. Akhirnya sampailah aku mencoba membawa motor ke jalan raya besar. Aku membawa motor ke Jalan A.H. Nasution dari rumah Kakakku di Cijambe ke rumah tinggal ku di Cigending pada tanggal 25 September 2021. Dan A Mpink memvideokan nya saat aku membawa motor di jalan raya besar.

 

Dan pekerjaan rumah ku saat ini adalah terus konsisten menambah pengalaman membawa motor di jalan, dan lalu tentu saja membuat SIM C. Semoga aku bisa segera mendapatkan SIM C ya. Ini adalah awal dari perjalanan panjang ku kedepan untuk berkendara. Modal yang baik dan berharga untuk dapat melancarkan aktivitas dan kerjaan ku ke depan sekaligus menjadi pengalaman berkesan dalam hidup ku. Semoga dengan post ini aku dapat mengenang lagi saat pertama-tama aku belajar motor dan menjajal jalan raya :)

Sunday, August 1, 2021

Belajar Meningkatkan Digital Skills Front-End Web Development dan AWS Cloud di Dicoding Indonesia Melalui Beasiswa

Halo semua, lama tak jumpa dengan aku, Dzikra Yuhasyra, di blog kesayangan ku ini. Oiya sebelum membahas mengenai belajar digital skills, aku mau update pekerjaan terbaru aku saat ini. Aku sudah bekerja menjadi Marketing, Sales, and Business Development Executive di Griin.id atau PT Gelora Rempah Inti Indonesia terhitung mulai bulan Agustus ini. Aku sudah melewati probation period selama 3 bulan mulai April - Juli 2021 dan sepakat untuk menjalin kerjasama kontrak kerja untuk beberapa waktu kedepan. Semoga semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan selalu dilancarkan ya. Aamiin..

Mari sekarang kita membahas mengenai belajar digital skills. Sedari lulus kuliah di bulan April tahun 2018, aku sudah mulai memikirkan untuk mendalami dua skills yang sangat penting untuk aku pelajari lebih lanjut karena urgensi kebutuhan mengenai skill ini kedepan. Dua skill ini adalah digital skills dan skill finansial dan investasi. Setelah lulus aku memulai terlebih dahulu belajar mengenai skill finansial dan investasi. Sekitar bulan Agustus 2018 aku mengikuti Sekolah Pasar Modal Syariah dari BEI Jawa Barat. Dari SPM ini aku belajar mengenai investasi di pasar modal dan membuat akun saham syariah dan reguler di Mirae Asset Sekuritas. Aku pun mulai mempelajari sedikit demi sedikit mengenai bagaimana caranya berinvestasi dan meraih kebebasan finansial. Setelah satu skill berhasil aku pelajari tinggal skill yang kedua yaitu digital skills. Aku sempat berencana untuk kuliah singkat satu tahun untuk menambah skill ku di bidang digital khususnya pengembangan web dan mobile. Tapi hal tersebut tak jadi dilaksanakan karena sedang ada musibah yang menimpa keluarga ku pada akhir 2018. Mamah ku tercinta mengalami patah tulang dan harus dioperasi besar sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga aku mengurungkan niat untuk mengikuti kuliah singkat selama satu tahun itu. Saat itu di tahun 2018, aku belum mengetahui ada online course keren mengenai coding seperti Dicoding Indonesia, dan aku pun lebih disibukkan untuk membantu merawat Mamah ku yang harus bed rest selama 1 tahun untuk memulihkan patah tulang sambil mencoba melamar-lamar pekerjaan, sehingga aku tidak fokus untuk mencari peluang dalam mengembangkan digital skills khususnya pengembangan web dan mobile.

Tibalah di bulan April di tahun 2020, setelah aku selesai intern di Neurafarm dan semakin menyadari pentingnya digital skill, khususnya di bidang pertanian, aku melihat di instagram ada platform online course mengenai coding dan menjadi developer yaitu Dicoding Indonesia dan sangat tertarik untuk belajar disana. Aku pun menemukan ada program beasiswa dari Indosat Ooredoo untuk belajar di platform Dicoding Indonesia, yaitu IDCamp. Ada beberapa path belajar yang bisa diambil diantaranya adalah Android dan Front-End Web Development. Wah, aku pikir ini sangat sesuai dengan keinginan ku untuk menambah skill di bidang pengembangan web dan aplikasi mobile. Saat akan mendaftar beasiswa IDCamp aku menimbang-nimbang apakah akan mengambil path android atau Front-End Web, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengambil path Front-End Web karena levelnya lebih dasar/basic dan sederhana dibanding path android dan juga spek laptop ku tidak memenuhi syarat untuk spek path android karena termasuk laptop jadul dengan spek rendah. Hehe Akhirnya akupun mendaftar di path Front-End Web. Setelah mendaftar aku mendapat token belajar untuk diredeem di kelas dasar dan pemula yaitu kelas Belajar Dasar Pemrograman Web dan Belajar Fundamental Front-End Web Development. Dalam waktu kurang dari satu bulan aku berhasil menyelesaikan dua kelas ini. Dan ini adalah sertifikat kelulusannya.

 


   


Dan karena aku tidak lolos seleksi ke tahap kelas menengah dan expert, pada saat itu pembelajaran ku terhenti di dua kelas ini. Aku pun lebih banyak mengikuti event-event online di Dicoding dan akun-akun mengenai front-end web development di instagram.

Setahun kemudian di tahun 2021, aku menemukan peluang baru untuk belajar kembali di kelas expert melalui beasiswa Baparekraf Digital Talent. Dan akupun mendaftar kelas Menjadi Front-End Web Developer Expert melalui beasiswa ini dengan bekal telah menyelesaikan kelas Belajar Fundamental Front-End Web Development. Dan alhamdulillah aku pun diterima. Alhamdulillah setelah dua bulan lebih aku berjuang menyelesaikan modul dan mengerjakan 3 submission/tugas, aku berhasil lulus dari kelas expert ini. Dan ini sertifikatnya.

Dan dari kelas ini aku berhasil mendeploy website karya ku di Netlify.

Websitenya bisa dikunjungi di https://dzikra-resto-finder-catalogue.netlify.app

Aku pun membuat website sederhana untuk Boombox Monger komunitas kepunyaan Kakak ku


Websitenya bisa dikunjungi di https://boombox-monger.netlify.app

Selain di Front-End Web Development, akupun mempelajari dasar-dasar AWS Cloud di kelas Architecting on AWS (Membangun Arsitektur Cloud di AWS) dan Cloud Practitioner Essentials (Belajar Dasar AWS Cloud) dari beasiswa Amazon Web Services (AWS) dan Dicoding. Ini sertifikat nya.


Dan semoga setelah kedua kelas ini aku mendapatkan kesempatan untuk belajar path Back-End dan mendalami nya lebih lanjut.

Jadi untuk teman-teman yang ingin menambah digital skills, saat ini sangat terbuka lebar berbagai kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dan belajar menambah kemampuan kita di bidang digital. Jangan pernah berhenti belajar dan berkembang ya. Kita pasti bisa! Semangat!

Saturday, April 10, 2021

Pengalaman Intern Di Griin.id

 


Pada Selasa, 6 April 2021 lalu saya baru menyelesaikan masa internship di Griin.id, salah satu startup sustainable integrated agriculture solution di Desa Tugu Mukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Saya masuk divisi GriinTech yang dikomandoi oleh Boy dan Bang Muhsin. Jadi intern di Griin ini dilakukan dengan melakukan proyek tertentu berkaitan dengan divisi yang dimasuki dengan durasi minimal 25 hari kerja. Terdapat tiga divisi utama di Griin.id yaitu GriinTech yang berhubungan dengan Agritech seperti penjualan sayur, akuaponik, dan instalasi serta kit hidroponik, Griin Industry yang berhubungan dengan Agroindustry seperti pembuatan tisane dan madu peppermint, dan Griin Goods yang behubungan dengan sales and marketing. Karena saya masuk divisi GriinTech, saya melakukan proyek yang berhubugan dengan Agrotechnology khususnya hidroponik. Setelah berdiskusi dengan supervisor saya Bang Muhsin proyek saya adalah pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang diharapkan bisa digunakan di instalasi hidroponik sebagai pengganti atau penambah nutrisi AB Mix, sehingga diharapkan hidroponik yang digunakan bisa menggunakan nutrisi organik bukan sintetis atau kimiawi sehingga lebih sehat. Dan rencananya saya membuat POC tersebut dari limbah yang dihasilkan di site Griin.id seperti bangkai ikan, sisa sayuran, dan limbah dapur. Saya pun memulai minggu pertama di Griin.id dengan brainstorming untuk menyiapkan presentasi awal sebagai rencana pelaksanaaan proyek. Setelah presentasi awal dilaksanakan, saya memulai minggu kedua dengan mengumpulkan limbah yang akan dipakai. Saya memutuskan untuk memakai limbah dapur yang ada di site yaitu nasi basi dan cangkang telur sehingga selama minggu kedua saya mengumpulkan dua limbah dapur tersebut. Pada awalnya saya juga akan membuat POC dari sisa sayuran dari greenhouse dan bangkai ikan dari sistem akuaponik, tapi dalam seminggu pengumpulan limbah tidak terdapat limbah sisa sayuran dan bangkai ikan yang dihasilkan sehingga saya beralih untuk menggunakan limbah kulit pisang yang didapat dari penjual gorengan di sekitar site. Dalam pengumpulan limbah dan pembuatan POC saya dibantu oleh Esa, rekan magang di periode bulan Maret. Esa melakukan proyek pembuatan video akuaponik melanjutkan proyek Tata yang sudah membuat proyek video hidroponik. Setelah seminggu pengumpulan limbah, tibalah minggu ketiga untuk pembuatan POC. Saya membagi pembuatan POC untuk masing-masing bahan. Nasi basi dan cangkang telur di botol bekas 1,5 Liter sedangkan kulit pisang di wadah komposter.






Setelah pembuatan POC selesai, dilakukan fermentasi selama kurang lebih dua minggu. Diminggu keempat atau minggu pertama fermentasi, saya melakukan progress report dan mulai menyiapkan rencana bagaimana menguji hara POC ini. Tadinya saya akan menguji hara POC secara kuantitatif di laboratorium Balitsa tapi ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar satu setengah bulan dengan harga yang cukup mahal. Sehingga diambil keputusan bahwa untuk pengujian hara POC dilakukan dengan secara kualitatif menggunakan instalasi hidroponik sederhana dari botol bekas. Setelah dua minggu fermentasi dan POC jadi, saya langsung menguji POC di instalasi hidroponik sederhana pada semaian pakchoy.  Dilakukan empat perlakuan untuk menguji hara POC yaitu perlakuan air saja, perlakuan POC saja, perlakuan AB Mix saja, dan perlakuan POC dicampur dengan AB Mix.



Dan lalu diamati dan dicatat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun selama tujuh hari untuk mengetahui pengaruh masing- masing perlakuan. Ini adalah foto hasil pengamatan instalasi hidroponik sederhana di hari ke tujuh. Foto pertama merupakan foto perlakuan AB Mix Saja, foto kedua foto perlakuan AB Mix dan POC, foto ketiga foto perlakuan POC Saja, dan foto keempat foto perlakuan Air Saja.


 

 

Dapat terlihat kalau pertumbuhan yang paling baik adalah pada perlakuan AB Mix Saja dan lalu berurutan  pada perlakuan di foto selanjutnya. Meskipun POC yang dibuat belum efektif menyamai efektivitas hara AB Mix tapi sangat berpotensi untuk diteliti oleh peserta intern selanjutnya bahwa POC dapat mengurangi dosis AB Mix atau menjadi tambahan bagi nutrisi AB Mix. Apalagi proyek POC yang saya buat masih kekurangan unsur hara Nitrogen. Dan setelah pengamatan selesai, keesokan harinya  saya melakukan  presentasi akhir disupervisori oleh Bang Muhsin dan Boy dan di hari terakhir intern tepat di hari ke 25 hari kerja saya mengepack POC ke botol 1,5 Liter dengan tiga perbandingan. 





Ini beberapa foto kenang-kenangan selama di site.














Saya sangat senang dan bersyukur bisa melaksanakan intern di Griin.id dan melihat project-project di GriinTech dan Rumabhumi seperti Bhumi Pesantren di Al-Kasyaf atau hidroponik di rooftop perkantoran seperti di Elcorps yang membukakan mata bahwa bisnis di bidang pertanian masih sangat banyak peluang yang bisa dieksplor dan digali lebih dalam. Semoga bisa bertemu lagi teman-teman Griin.id!

Wednesday, August 19, 2020

Anak Kota (Berani) Bertani?

 

Halo, aku Dzikra Yuhasyra, alumni Rekayasa Pertanian SITH ITB angkatan 2013, aku tinggal di kampung kota di wilayah timur Kota Bandung yang sepertinya masuk kawasan peri urban, karena termasuk berada di wilayah antara desa dan kota. Di wilayah tempat tinggal ku, di kawasan kampung kota ini, jamak ditemui lahan pertanian lebih banyak pemukiman padat penduduk, harus sedikit berkendara ke atas ke arah kaki Gunung Manglayang baru lahan pertanian ditemui, itu pun bukan sentra produksi sayuran atau padi yang masif seperti Lembang ataupun kawasan pantura Jawa. Karena lebih dekat dengan pasar tradisional, lebih banyak masyarakat di kampung ku berprofesi menjadi pedagang atau menjadi pekerja kantoran yang nglaju ke pusat kota, sangat jarang yang berprofesi sebagai petani. Sehingga dari kecil masalah-masalah yang sering aku temui adalah masalah-masalah urban dan peri urban di kota besar, seperti kemacetan, polusi udara, masalah sanitasi dan pencemaran, kepadatan penduduk, ataupun kesemrawutan pasar tradisional khas perkotaan. Sangat jarang aku menemukan masalah-masalah agrikultur, agribisnis, atau kesejahteraan petani yang mayoritas ada di pedesaan. Seperti yang aku tulis pada tulisan sebelumnya, aku masuk Rekayasa Pertanian SITH ITB karena aku menyukai pelajaran biologi dan keresahan ku melihat berita media tentang bidang pertanian yang terkesan dipinggirkan dan selalu pesimistis untuk sukses karena yang diberitakan baik di koran atau TV hanya berita gagal panen dan paceklik, jarang sekali berita inspirasi sukses petani di desa. Menjadi anak kampung kota yang berada di posisi itu menjadi keuntungan sekaligus kerugian untukku untuk terjun ke bidang pertanian. Keuntungan karena tidak ada hambatan dari keluarga dan lingkungan terdekat untuk terjun kuliah dan menekuni bidang pertanian tapi sekaligus kerugian karena tidak pernah ada pengalaman real langsung bagaimana hidup di desa dengan permasalahan agrikultur dan agribisnis sebagai petani, sehingga sosok petani hanya aku ketahui dengan sumber dari “katanya”, baik kata dosen, kata buku, kata jurnal, atau kata media tapi tidak pernah mengalami langsung. Sehingga aku sendiri tidak pernah mengalami kesulitan dan penderitaan langsung petani yang tinggal di desa dan melihat realita di lapangan. Waktu kuliah lapangan Agroekologi, salah satu mata kuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB, aku pernah mewawancarai peternak sapi perah yang tidak ingin anaknya menjadi peternak juga karena beban kerja yang sangat berat dan lebih ingin anaknya kerja kantoran di kota. Sedangkan anak kampung kota yang tidak pernah merasakan beban itu malah tertantang ingin mencoba untuk menjadi petani dan peternak lalu hidup di desa. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi seperti yang dikatakan Pak Tomy Perdana dosen Agribisnis Unpad pada salah satu seminar yang saya ikuti, dikhawatirkan tekad anak kota yang ingin berkecimpung di dunia pertanian hanya sebatas keinginan sesaat dan tidak ditekuni serius serta mendalam. Pak Tomy menyebutkan hal tersebut bisa terlihat dari banyak nya startup pertanian bermunculan tapi tidak bisa bertahan lama dan tidak bisa konsisten berdiri. Itu juga yang dirasakan saya sebagai anak kampung kota yang masih kurang nyali untuk menggarap lahan pertanian dan memang kenyataannya tidak punya lahan kosong untuk digarap. Tapi dewasa ini, ada gerakan lain yang muncul yaitu urban farming melalui maraknya dan menjamurnya hidroponik. Tentu ini menjadi angin segar bagi anak kota yang ingin bertani, tapi apabila ditinjau lebih dalam hal ini belum menyelesaikan permasalahan agrikultur yang ada di desa. Muncul juga gerakan permakultur dan pertanian alami untuk digalakan di kota yang tentu menjadi angin segar juga bagi anak kampung kota seperti ku. Tapi realisasi permakultur di wilayah perkotaan mengalami banyak hambatan dan kendala terutama karena terbatasnya lahan. Dan sekali lagi hal ini belum menjadi solusi bagi masalah agrikultur di desa. Jadi anak kota berani bertani? Masih menjadi pertanyaan yang harus di jawab penulis yang sekarang ternyata masih terjebak mencari pekerjaan kantoran di kota untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Friday, July 24, 2020

Memori: Video Pagelaran Upacara Bubuka Agenda Badag Sundaland 2014 LSS ITB


Saya baru saja mengupload di YouTube video pagelaran saya di LSS ITB di tahun 2014. Siapa tahu ada yang belum tahu dan mau menonton. Pagelaran ini juga menjadi bukti bahwa budaya Sunda itu sangat kaya atau "beunghar pisan". Jadi ayo lestarikan budaya luhur bangsa dengan "ngamumule budaya Sunda". Prung ah :)

Sunday, July 12, 2020

Sebuah Opini Kritis Alumni. Agricultural Engineers: "Apakah Hanya Mengurusi Rancang Bangun Alat dan Mesin Pertanian atau Juga Berperan Dalam Rekayasa Produksi Biomassa Tumbuhan dan Sumberdaya Hayati?"


Menurut Wikipedia, definisi dan peran Agricultural Engineers adalah

“Agricultural engineers may perform tasks such as planning, supervising and managing the building of dairy effluent schemes, irrigation, drainage, flood water control systems, performing environmental impact assessments, agricultural product processing and interpret research results and implement relevant practices. A large percentage of agricultural engineers work in academia or for government agencies such as the United States Department of Agriculture or state agricultural extension services. Some are consultants, employed by private engineering firms, while others work in industry, for manufacturers of agricultural machinery, equipment, processing technology, and structures for housing livestock and storing crops. Agricultural engineers work in production, sales, management, research and development, or applied science.

 

 In the United Kingdom the term Agricultural Engineer is often also used to describe a person that repairs or modifies agricultural equipment.” [1]

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Agricultural_engineering


Sedangkan menurut website Rekayasa Pertanian SITH definisi dan peran Agricultural Engineers adalah:


“Program Sarjana Rekayasa Pertanian merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional agriculture engineers yang mampu menjawab tantangan masalah terkini di bidang pertanian. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Rekayasa Pertanian untuk menghasilkan profesional yang:

- Handal dan tangguh untuk mengembangkan sumberdaya hayati yang berkelanjutan, berkontribusi dalam memenuhi swasembada produk pertanian dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat dan Indonesia umumnya.

- Sebagai perancang sistem produksi biomassa pertanian yang efisien secara biologis dan ekonomis pada berbagai kondisi lingkungan dengan mengadopsi termuan terkini pada bidang sains dan teknologi, dan mencapai potensi maksimal melalui pebelajaran seumur hidup.” [2]

[2] https://rp.sith.itb.ac.id/tujuan-program-studi/


Dari dua definisi di atas terdapat dua perbedaan kontras definisi secara umum, dari Wikipedia terutama dari definisi di United Kingdom disebutkan bahwa seorang Agricultural Engineers adalah orang yang memperbaiki dan memodifikasi alat dan mesin pertanian (alsintan) sedangkan menurut website Rekayasa Pertanian SITH ITB, Agricultural Engineers adalah seorang perancang sistem produksi biomassa pertanian yang efisien secara biologis dan ekonomis pada berbagai kondisi lingkungan.

Jadi sebuah pertanyaan kritis dari penulis adalah,

Apakah seorang Agricultural Engineers hanya berperan sebagai “orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian” atau juga sebagai “perekayasa produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati”?

Mari kita simak!


Mari kita lihat Teknik Pertanian Unpad. Di website HIMATETA (Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian) Unpad dijelaskan bahwa,

“Pada bagian akhir studinya, mahasiswa program studi Teknik Pertanian FTIP Unpad akan menentukan bidang keahlian atau spesialisasinya. Spesialisasi ini ditandai dengan mata kuliah pilihan, PKL dan penelitian skripsi. Idealnya ketiga hal ini sejalan sehingga materinya saling menunjang dan mahasiswa mendapatkan spesialisasinya secara utuh. Bidang kajian tersebut yaitu:

  1. Alat dan Mesin Pertanian

  1. Teknik Tanah dan Air

  1. Teknik Pengolahan Pasca Panen

  1. Sistem dan Manajemen Mekanisasi Pertanian.” [3]

[3] http://himateta.ftip.unpad.ac.id/index.php/tentang-program-studi-teknik-pertanian/


Sehingga dapat terlihat bahwa Teknik Pertanian Unpad lebih condong kepada definisi Wikipedia dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian serta kurang berhubungan dengan rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati sebagaimana definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB.

Mari kita lihat Teknik Mesin dan Biosistem IPB. Di laman Wikipedia dijelaskan bahwa,

“Dengan berbagai pertimbangan, terutama mengenai perkembangan bidang ilmu dan minat masyarakat, pada tahun 2010 nama Departemen Teknik Pertanian berubah menjadi Teknik Mesin dan Biosistem (TMB). Perubahan juga terjadi pada bagian-bagian di dalam departemen. Terdapat 4 bagian yang baru, yaitu :

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Departemen_Teknik_Mesin_dan_Biosistem_Institut_Pertanian_Bogor


Sedangkan kompetensi lulusan dari program studi sarjana Teknik Mesin dan Biosistem adalah,

“Setelah menyelesaikan program studi ini lulusan mampu menguasai ilmu pertanian dan biosistem, dasar-dasar keteknikan, alat dan mesin pertanian, ilmu sistem dan manajemen, sistem kontrol dan instrumentasi, sumberdaya alam dan lingkungan, pengolahan hasil pertanian dan pangan, energi dan eletrifikasi, teknologi informas dan komunikasi, dan etika profesi keteknikan serta kewirausahaan.” [5]


[5] http://kms.ipb.ac.id/1132/1/_Learning%20Outcomes%20S1%20TMB.pdf


Sehingga dapat terlihat bahwa Teknik Mesin dan Biosistem IPB lebih condong kepada menggabungkan definisi Wikipedia dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian dengan definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB yaitu rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati, karena di dalam Teknik Mesin dan Biosistem IPB terdapat divisi yang membahas kedua definisi tersebut yaitu, Teknik Mesin dan Otomasi (TMO), Teknik Biosistem (TBS), Teknik Energi Terbarukan (TET), dan Teknik Bioinformatika (TBI) serta kompetensi lulusannya pun menggabungkan kompetensi dua definisi tersebut.



Mari kita lihat Teknik Pertanian dan Biosistem UGM. Menurut website nya, learning objective dari Teknik Pertanian dan Biosistem UGM adalah,


“Program Educational Objective (PEO)


Within a few years of graduation, graduates are expected to have established themselves as practicing engineers who:

Are able to apply fundamental engineering principles including mathematics, physical science, biological science, and engineering science, as well as system and management.

Are able to serve the engineering needs in the areas of energy and agricultural machinery, land and water resources, food and agricultural products, as well as environment and ecosystems.

Are successfully employed as a designer, manager, system analyst, science and technology developer, or entrepreneur.

Are able to be engaged in professional development and life-long learning throughout their careers.

Have interpersonal and collaborative skills and the capacity for productive and advancing careers in leadership roles as well as exhibit effective communications skills.


Learning Objectives (Competence)

Able to identify, understand, and explain sustainable tropical industrial agricultural system using principles of agricultural engineering science.

Able to design and construct, as well as to manage natural resources, equipment, industrial processes in an environmentally friendly tropical agricultural systems using the principles of agricultural engineering science

Able to perform scientific communication effectively and responsive to the application of science and technology in the field of agriculture engineering.

Able to perform an experiment, as well as to analyze and interpret data to improve the performance of agriculture and biosystems.

Able to show a professional and innovative work in the field of agricultural engineering in accordance with ethical norms of public life.

Able to evaluate or analyze the sustainable tropical industrial agricultural system using principles of agricultural engineering science

Able to apply a competitive technology based on local raw materials and local wisdom in tropical industrial agriculture. “ [6]

[6] https://tpb.tp.ugm.ac.id/en/profil/organisasi/visi-misi



Meskipun tidak dijelaskan secara rinci di website nya, tapi Teknik Pertanian dan Biosistem UGM berfokus pada “energy and agricultural machinery, land and water resources, food and agricultural products, as well as environment and ecosystems” yang terlihat hampir sama dengan Teknik Pertanian Unpad. (Mohon dikoreksi apabila kurang tepat). Sehingga dapat lebih condong kepada definisi dari Wikipedia yaitu dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian serta kurang berhubungan dengan rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati sebagaimana definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB. Meskipun menurut video profil Teknik Pertanian dan Biosistem UGM di YouTube [7] disebutkan pula terdapat laboratorium Biofisik yang berkaitan dengan biofisik tumbuhan dan hewan.

[7] https://www.youtube.com/watch?v=_7cAd6zGoKQ


Mari kita simak dari Departement of Agricultural and Biosystem Engineering di Iowa State University, Amerika Serikat. Di website nya dijelaskan bahwa,


“The Agricultural Engineering Profession

As an agricultural engineer, you apply your knowledge of the biological, physical, and engineering and technical sciences to solve problems for the world’s largest industry ­ — the agriculture and food system. Here’s just the beginning of the things you could do:

  • Design, development, and testing of advanced machinery systems for agricultural, food, and bioenergy production systems

  • Evaluation, development and modeling of systems for sustainable protection and improvement of soil and water resources

  • Design and development of environmentally and economically sustainable animal production systems

  • Development and evaluation of management systems to insure food quality, safety and biosecurity

  • Manage complex agricultural and biological systems


Option Areas of Study

1. Power Machinery and Engineering: This area challenges the creative mind to design and improve upon the next generation of off-road vehicles and agricultural equipment.

2. Land and Water Resources Engineering: This emphasis enables you to design and evaluate soil and water conservation systems to mitigate and improve the environmental impacts of production agriculture. Areas of study also include GIS and natural resource management, water quality, and environmental engineering.

3. Animal Production Systems Engineering: This option allows you to focus on all aspects of animal productions including structural design and analysis, environmental control options for housed animals, and air quality issues associated with animal production.” [8]



[8] https://www.abe.iastate.edu/undergraduate-students/agricultural-engineering/

Sangat kontras terlihat bahwa apabila di Iowa State University lebih condong kepada definisi Wikipedia dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian serta kurang berhubungan dengan rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati sebagaimana definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB.

Di Rekayasa Pertanian SITH sendiri pada kurikulum terbaru 2019 termasuk pada kurikulum 2013 dimana penulis masih menjadi mahasiswa, Mesin Pertanian hanya merupakan mata kuliah pilihan dan tidak wajib diambil oleh mahasiswa, tetapi pada kurikulum 2019 terdapat mata kuliah baru yaitu Sistem Otomasi Pertanian yang berkaitan dengan rancang bangun sistem pertanian. Sedangkan sedari awal Rekayasa Pertanian berdiri, kurikulum dan tujuan pembelajaran lebih diarahkan pada konsep efisiensi produksi biomassa secara biologis dan ekonomis yang ditopang oleh mata kuliah seperti Neraca Massa dan Energi Biosistem (NME) atau Neraca Massa dan Energi Sistem Hayati pada kurikulum sekarang atapun pada mata kuliah seperti Peristiwa Perpindahan Dalam Biositem (PPDB) atau Peristiwa Perpindahan Dalam Sistem Hayati pada kurikulum sekarang. Dan mata kuliah sisanya lebih cenderung gabungan antara mata kuliah di program studi Agroteknologi dan Agribsinis, seperti mata kuliah Fisiologi dan Perkembangan Tumbuhan, Media Tumbuh, Perlindungan Pertanian Terpadu, Teknik Pemuliaan, Teknologi Benih, Agroekologi, Pertanian Organik, Sosiologi Pertanian, Ekonomi Pertanian dan mata kuliah lainnya serta mata kuliah yang berhubungan dengan keteknikan pertanian seperti Rekayasa Sumberdaya Air dan Lahan serta Mekanika Fluida. Sehingga dapat terlihat bahwa Rekayasa Pertanian SITH ITB merupakan ‘gado-gado’ atau campuran antara program studi Teknik Pertanian, Agroteknologi, dan Agribisnis di Universitas lain, sehingga mungkin diharapkan dapat lebih komprehensif dalam menjawab persoalan pertanian di lapangan dan tentu dapat menjadi keuntungan dan kelebihan tersendiri bagi mahasiswa dan alumni Rekayasa Pertanian SITH ITB yang meskipun menjadi “generalis” tetapi dapat lebih komprehensif karena mempelajari mata kuliah setara 3 program studi di Universitas lain yaitu Teknik Pertanian, Agroteknologi, dan Agribisnis.


Jawaban dari pertanyaan di judul diatas, “Agricultural Engineers: Apakah Hanya Mengurusi Rancang Bangun Alat dan Mesin Pertanian atau Juga Berperan Dalam Rekayasa Produksi Biomassa Tumbuhan dan Sumberdaya Hayati?” ternyata dapat memiliki berbagai jawaban tergantung dari kekhasan program studi sarjana yang ada. Karena tentu setiap program studi memiliki kelebihan dan Unique Value Proposition masing-masing yang membuat nya lebih unggul. Sehingga kesimpulan penulis saatnya untuk meniadakan dikotomi perbedaan definisi dan peran yang ada karena kedua definisi dan peran tersebut tidak lah salah tetapi saling melengkapi dan ayo bersama mari kita berperan untuk kemajuan dan kejayaan pertanian Indonesia. Semangat berkontribusi :)

Tuesday, June 9, 2020

Indonesia Emas 2045


Indonesia Emas 2045. 100 tahun Indonesia Merdeka. Visualisasi Indonesia Emas 2045. Keren :D

Wednesday, May 20, 2020

Mimpiku Untuk Pertanian Indonesia




Sekilas dalam benakku dulu sebelum menjadi mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB, pertanian adalah hal yang tidak begitu "seksi". Yang ada dibenakku adalah potret petani tua yang kotor-kotoran di sawah, kelelahan habis mencangkul seharian, dan keuntungan yang tak seberapa dibanding tenaga yang terkuras setiap hari. Pertanian bukan menjadi bidang primadona yang diidam-idamkan dalam menjalani karir. Setelah aku lulus dari Rekayasa Pertanian ITB, bayangan tentang hal tersebut ternyata tidak bergeser jauh, pertanian masih menjadi bidang yang sulit untuk digeluti karena permasalahan kompleks dan rumit untuk diselesaikan. Ya kompleks, karena mulai dari cara budidaya yang harus sesuai Good Agricultural Practices, masalah hama dan penyakit tanaman yang sulit dibasmi, ketiadaan air karena cuaca yang tak menentu, ketiadaan benih unggul, mahalnya pupuk dan pestisida, tenaga yang terkuras setiap hari tapi penghasilan hanya pada periode panen dan selebihnya harus mencari penghasilan tambahan, sampai pemasaran produk yang harus diurusi dengan serius agar tidak ada kerugian. Semuanya terlihat menyusahkan dan melelahkan. Tak heran generasi muda yang ingin jadi petani berkurang drastis. Tapi dari situlah ternyata muncul mimpi-mimpiku tentang pertanian Indonesia. Aku bermimpi bagaimana teknologi terkini mengubah "mindset" tentang permasalahan pertanian yang kompleks. Adanya revolusi industri 4.0 juga harus dirasakan bidang pertanian. Dan hal tersebut mulai tampak dari munculnya berbagai startup di bidang pertanian. Ada yang membuat sistem sensor pertanian otomatis dengan menggunakan internet of things (IoT) sehingga pemupukan dan penyiraman dapat dikontrol sedemikian rupa, ada yang membuat aplikasi untuk mendeteksi penyakit tanaman hanya dengan melalui foto daun yang terinfeksi, ada yang membuat aplikasi kerjasama bisnis pertanian yang menghubungkan investor dan petani sehingga petani tidak kesulitan mencari modal, dan inovasi-inovasi lainnya. Aku bermimpi aku ada dalam bagian dari solusi dan inovasi kekinian tersebut. Aku bermimpi bahwa pertanian akan dekat dengan generasi muda dan tidak menjadi alergi karenanya. Aku bermimpi potret petani tua yang kesusahan tak lagi ada. Dan aku bermimpi bahwa suatu saat negeri ini akan makmur karena devisa produk-produk pertaniannya dan menjadi penopang pembangunan poros utama. Semoga :)