Monday, June 20, 2016

MULTIKAMPUS ITB : Saatnya ITB Untuk Berkembang!



Dzikra Yuhasyra – Rekayasa Pertanian 2013 (11413019)
Satgas Isu Multikampus Bidang Kajian MWA WM ITB 2015/2016


  
Majelis Wali Amanat (MWA) adalah organ tertinggi di ITB yang menentukan dan menetapkan kebijakan umum ITB serta mengawasi pelaksanaannya. MWA terdiri dari Menristekdikti RI, Gubernur Jawa Barat, Ketua Senat Akademik, Rektor, MWA-Wakil Alumni,  MWA-Wakil Tenaga Pendidikan, MWA-Wakil Masyarakat, dan MWA-Wakil Mahasiswa (MWA-WM).  MWA-WM sendiri merupakan perwakilan dari mahasiswa  yang mempunyai 5 fungsi  yaitu : fungsi representatif, fungsi informasi, fungsi aspirasi, fungsi kajian, dan fungsi koordinasi. Salah satu fungsinya, yaitu fungsi kajian, adalah mengkaji isu-isu utama dan insidental yang berkaitan dengan kebijakan umum ITB. Salah satu isu yang hangat dibicarakan saat ini adalah isu multikampus ITB.
                 
Sesuai dengan yang tercantum dalam RENIP (Rencana Induk Pengembangan) ITB mengenai visi ITB 2025 serta ITB sebagai World Class University, bahwa ITB akan berkembang menuju Multikampus. Apa sebenarnya Multikampus? Kenapa harus ada Multikampus? Bagaimana tantangannya? Bagaimana pengelolaan multikampus kedepan? Akan sedikit dijelaskan mengenai Multikampus ITB sesuai dengan hasil perbincangan dan pembahasan dengan ketua MWA ITB, Ir. Betti S. Alisjahbana, Direktur Pengembangan ITB, Dr. Ir, Sigit Darmawan,  Direktur Eksekutif ITB Jatinangor, Dr. Ir. Wedyanto, M.Sc. serta Wakil Direktur Eksekutif ITB Jatinangor, Dr. Taufikurahman.




Sesuai pemaparan Ibu Betti, sebagai ketua MWA ITB, multikampus pada intinya merupakan salah satu langkah dari ITB untuk  terus mengembangkan diri. Beberapa alasan diperlukannya multikampus adalah Kampus Ganesha yang hanya memiliki luas 28 hektare dirasa sudah sangat sesak dan jauh dari kondisi ideal dalam daya tampung, ITB juga diharapkan untuk terus meningkatkan student body nya karena masih dibutuhkannya lulusan ITB dalam jumlah yang lebih banyak sebagai sumber daya manusia unggul, serta untuk memenuhi permintaan dari Kemenristekdikti serta Gubernur Jawa Barat agar ITB turut berkontribusi untuk meningkatkan APK (Angka Partisipasi Kasar) masyarakat dalam mendapatkan pendidikan tinggi, terutama bagi Jawa Barat yang memiliki APK yang relatif lebih rendah dibandingkan daerah lain, serta terus meningkatkan peran ITB dalam menyelesaikan dan berkontribusi pada pengembangan masyarakat, rujukan, serta perumusan kebijakan publik baik lokal, nasional, sampai akhirnya pada tingkat internasional melalui pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Sehingga multikampus ada di satu pihak untuk mengakomodasi perkembangan ITB dan dilain pihak untuk mendukung pemerintah dalam peningkatan APK.


Secara umum konsep Multikampus belum secara penuh didefinisikan dan terus dalam proses penyempurnaan dan pembahasan baik oleh pihak rektorat, senat akademik, dan pihak terkait lainnya mengenai apa, dimana, dan bagaimana konsep multikampus ini akan dilaksanakan. Meskipun demikian konsep multikampus ini sudah mulai berjalan dan sudah pasti dilaksanakan karena  ITB dituntut untuk terus tumbuh dan berkembang lebih jauh dan tidak boleh terkendala oleh luas kampus Ganesha yang relatif kecil. Beberapa kampus yang akan dijadikan sebagai kampus Off-G (di luar Ganesha) yaitu Kampus Jatinangor, Walini, Bekasi, Malaysia, dan yang paling baru dan masih dalam tahap pembahasan adalah di Cirebon sebagai Pelaksanaan Pendidikan Di luar Domisili (PDD) sebagai buah kesepakatan ITB dengan Pemprov Jawa Barat. Dan yang sudah berjalan saat ini adalah kampus Jatinangor dengan menempatkan program-program studi baru disana dan yang akan segera dilaksanakan adalah kelas di Bekasi serta kelas di Cirebon yang sudah dimasukan kedalam pilihan program studi dalam SNMPTN 2016 ini.


Setiap kampus yaitu Jatinangor, Walini, dan Bekasi maupun Cirebon dipilih dengan latar belakang dan alasannya masing-masing. Jatinangor dipilih sebagai permintaan dan kesepakatan Pemprov Jabar dengan ITB untuk mengambil alih pengelolaan kawasan kampus yang sebelumnya ada dibawah pengelolaan  Pemprov dengan tujuan untuk menambah kontribusi ITB dalam meningkatkan APK pendidikan tinggi di wilayah Jawa Barat serta  menambah peran ITB dalam menyelesaikan dan berkontribusi pada pengembangan masyarakat dan kebijakan publik baik lokal, nasional, sampai akhirnya pada tingkat internasional. Kampus Walini dipilih sebagai kampus diwilayah perkebunan teh seluas 250 hektar dengan sebagian kecil wilayah yang dilakukan pembangunan sebagai wujud dari pengembangan green techno art campus dan mengikuti masterplan Pemprov Jawa Barat yang akan membuat pusat pemerintahan disekitar kawasan Walini, serta pelaksanaan NARC (New Academic Research Cluster) yang merupakan gabungan 3 institusi, BPPT, ITB, dan IPB Bogor yang tergabung dalam NARC untuk menangani kesehatan, pangan, dan energi. Serta Kampus Bekasi ditujukan untuk kampus riset dan kerjasama dengan industri yang terkonsentrasi pada wilayah tersebut,  dan Pelaksanaan Pendidikan Di Luar Domisili (PDD) di Cirebon sebagai wujud peningkatan pemerataan kualitas pendidikan dan pengembangan potensi daerah yang strategis, serta pelaksanaan ITB Malaysia sebagai peluang bagi ITB untuk Go-International yang masih terganjal karena belum adanya pranata yang mengatur mengenai pelaksanaan pendidikan tinggi di luar Indonesia.


 
Melalui multikampus ini diharapkan terbangun academic atmosphere di setiap kampus, meskipun dalam pelaksanaannya banyak sekali tantangan dan hambatan yang ada, seperti keengganan dari mahasiswa dan komponen kampus lainnya untuk berpindah dari kampus Ganesha, koordinasi antar kampus, bentuk rumpun keilmuan setiap kampus yang harus sesuai agar terbangun academic atmosphere, penyamaan standar kualitas masing-masing kampus, dan berbagai tantangan lainnya. Berdasarkan keterangan yang didapatkan bahwa kampus-kampus tersebut masih akan dikelola secara terintegrasi sehingga akan sangat dibutuhkan koordinasi antar komponen dan stakeholder yang ada dalam pelaksaan multikampus ini.


Berdasarkan pembahasan bersama Direktorat Eksekutif ITB Jatinangor, bahwa keberadaannya ITB Jatinangor diawali oleh Perjanjian Kerjasama dengan pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia pada tanggal 27 Januari 2010 dengan dua kali perubahan tanggal 31 Desember 2010 dan kedua tanggal 18 Januari 2013 Perjanjian tersebut mengikat ITB dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal pengelolaan aset lahan yang sebelumnya dipakai oleh Universitas Winaya Mukti (UNWIM), berupa : Tanah seluas 46,353 Ha dengan bangunan diatas lahan tersebut dengan luas lantai 27,244 m2 dan tanah seluas 14 Ha di Desa Sindangsari Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang yang kemudian diadendum alih lokasi ke Kiara payung dengan luas 10 Ha. Pengalihan aset lahan tersebut berlaku untuk kurun waktu selama 30 tahun (hingga 2040) terhitung sejak tanggal 27 Januari 2010, dengan masa transisi 3 tahun (2010, 2011, 2012). Sampai saat ini telah dilakukan pembangunan gedung Labtek 1A (Tahun 2013), Labtek 1B (Tahunh 2014), Lab sedimentasi (Tahun 2014), GKU 1 (Tahun 2014), GKU 2 (Tahun 2013) yang didalamnya berisi ruang kuliah, laboratorium dan ruang administrasi sebagai sarana dan prasarana penunjang kegiatan akademik di Kampus ITB Jatinangor. Pembangunan Masjid Al-Jabbar Tahap 1 berupa bangunan (Tahun 2013) dan Tahap 2 terdiri dari taman dan menara (Tahun 2014) dengan sumber dana dan pelaksana dari Pemprov Jabar dan pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR 1 , GOR 2 dan GOR 3) sedang berlangsung di Tahun 2015 dengan sumber dana dan pelaksana dari Pemprov Jabar. Sampai saat ini sudah delapan program studi di ITB Jatinangor dengan enam Prodi S1 yaitu Rekayasa Hayati (SITH), Rekayasa Pertanian (SITH), Rekayasa Kehutanan (SITH), Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (FTSL), Teknik Pengelolaan Sumber Daya Air (FTSL), Kewirausahaan (SBM) dan dua Prodi S2 yaitu Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi (FTSL), dan Arsitektur Lansekap (SAPPK) dan akan menyusul tiga prodi S1 pada 2016 mendatang yaitu Teknologi Pasca Panen (SITH), Teknik Pangan (FTI) dan Teknik Bioenergi dan Kemurgi (FTI), sedangkan untuk prodi Teknik Biomedika (STEI) masih belum dipastikan tempat penyelenggaraannya. Saat ini kurang lebih terdapat 1100 mahasiswa yang ada di ITB Jatinangor dan kegiatan akademik sudah berjalan secara regular.



Berdasarkan pernyataan Direktur Pengembangan ITB, bahwa pelaksanaan pembangunan di wilayah Bekasi dan Walini belum dapat dilaksanakan karena hak milik tanah yang belum ada dipangkuan ITB, kampus Bekasi berlokasi di kompleks Deltamas dan kampus Walini berada di kilometer 102 Jalan Tol Cipularang  dengan  dua alternatif lokasi sekitar 250 hektar di kawasan Maswati dan kawasan Panglejar. Sedangkan untuk kelas Bekasi dan Cirebon yang sudah dimasukan pelaksanaannya di dalam SNMPTN 2016 ini akan menampung kurang lebih 20 orang yaitu Prodi Manajemen, Teknik Industri, dan Teknik Lingkungan di Kelas Bekasi dan Prodi Kriya serta Perencanaan Wilayah dan Kota di Kelas Cirebon yang teknis pelaksanaan pembelajarannya masih dipersiapkan oleh pihak rektorat.

Beliau menyatakan bahwa pengembangan tersebut tidak dapat dihindarkan dan itu harus dihadapi dan ITB tidak akan berhenti dari berkembang tadi. Bahwa tidak mungkin Ganesha dipertahankan hanya segitu saja dan multikampus mutlak menjadi pilihan. Sehingga segala konsekuensi dalam operasionalnya harus direncanakan dengan baik. Beliau menambahkan bahwa operasional baik pengembangannya maupun aktivitasnya dan manusia yang ada didalamnya harus dipikirkan, baik itu mahasiswanya, dosennya, maupun staf non akademiknya. Jadi bagaimana mengintegrasikan itu semua adalah tugas besar bukan hanya untuk satu unit saja, semua harus mendukung kelangsungannya. Semua harus vektornya sama, vektornya sama dalam rangka mendukung multikampus ini supaya terintegrasi untuk tempatnya, aktivitas, dan lain sebagainya. Beliau menegaskan bahwa semua komponen sudah berpikir ke arah sana dan hendaknya multikampus ini tidak menjadi penghalang justru menjadi kesempatan bagi ITB untuk berkembang, memang berbeda pengembangan kampus di satu tempat (hanya Ganesha saja) dengan multikampus yang dilaksanakan sekarang, tentu saja penyelesaiannya berbeda, lebih kompleks. Beliau mengakhiri bahwa itu adalah satu tantangan yang harus diselesaikan oleh pimpinan ITB dan ITB berpikir sama untuk semua kampus. 
               

Dibalik problem maupun peluang yang ada dari pelaksanaan multikampus ini, semoga ITB dapat berkembang dan berkontribusi lebih baik sesuai dengan nilai dan arahan filosofis MWA ITB yaitu kampus ITB sebagai tempat membangun dan mengembangkan budaya luhur bangsa Indonesia,  the house of learning, the house of culture, guardian of values, the agent of  change, the bastian of academic freedom, sebagai tempat best academic talents bertemu dan berkarya, kampus ITB yang inspiring, kampus ITB yang mampu mengajarkan kepada setiap yang ada didalamnya nilai-nilai kampus ITB yang dicita-citakan oleh visi ITB, serta memelihara seluruh artefak yang ada sebagai milestone budaya bangsa.


Semoga! In Harmonia Progressio


 

Video Pembahasan Multikampus ITB

1. Pembahasan Pembuka Bersama Ibu Betti Alisjahbana - Ketua MWA ITB


2. Video Pembahasan Bersama Direktur Pengembangan ITB



3. Pembahasan Bersama Direktorat ITB Jatinangor 



VIDEO PROFIL TIM MWA WM ITB 2015/2016


Because We are Leaders!


Dzikra Yuhasyra - 11413019

 
Pemimpin, sebuah kata yang selalu menghiasi setiap masa, zaman, bahkan setiap hari dalam keseharian kita. Tapi apa itu pemimpin? Apakah kita adalah pemimpin? Bukankah setiap dari kita pemimpin? Secara bahasa, pemimpin berarti orang yang memimpin. Sehingga pada hakikatnya setiap orang yang memimpin, baik dalam cakupan kecil atau besar, memimpin banyak orang atau sedikit, dalam lembaga formal atau tidak, bahkan ketika memimpin diri sendiri, keluarga, dan orang sekitar, ia adalah pemimpin. Tapi pertanyaan selanjutnya apakah pemimpin hanya sekedar orang yang memimpin? Kualitas apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin? Bagaimana seorang pemimpin dihasilkan dan terbentuk? Apa karya, pengaruh, serta dampak yang harus diberikan oleh seorang pemimpin? Bagaimana seorang pemimpin harus bersikap dalam menyelesaikan masalah dan menggerakan orang serta potensi  disekitarnya sehingga menghasilkan kualitas lingkungan yang lebih baik? Sehingga muncul pertanyaan menarik, bagaimana sebenarnya menjadi ‘pemimpin yang yang sesungguhnya’? Apa itu ‘real leader’?           

Seorang pemimpin tentu lahir dengan proses dan tempaan yang panjang dan berliku, tidak pernah menempuh jalan yang mudah. Selalu ada perjalanan yang tidak biasa sehingga seseorang pemimpin terbentuk. Dalam sejarah peradaban dunia, leadership atau kepemimpinan bertransformasi tipologinya. 

Pada mulanya kepemimpinan lahir berdasarkan ideologi dan dogma agama (ideology). Kepemimpinan  lahir dengan adanya dan disebarkannya filosofi atau firman Tuhan yang disampaikan kepada orang banyak dan akhirnya pemahaman tersebut diikuti. Hal tersebut terjadi pada zaman Nabi dan Rasul yang menjadikan Nabi dan Rasul tersebut  sebagai pemimpin untuk umatnya. 


Kepemimpinan selanjutnya lahir berdasarkan penguasaan geografis (geography). Terjadinya penjajahan dan penaklukan menjadikan sosok pemimpin lahir.  Sosok seperti Alexander Agung dan Genghis Khan yang menaklukan berbagai wilayah dibelahan dunia menjadikan mereka pemimpin yang besar karena kekuasaan dan penaklukan mereka. 

Tipe kepemimpinan yang ketiga adalah kepemimpinan revolusioner yang muncul sebagai pemimpin karena revolusi yang dilakukan (revolutionary). Tokoh-tokoh yang muncul pada abad 20 seperti  Mahatma Gandhi di India, Soekarno di Indonesia, dan Che Guavara di Cile merupakan pemimpin-pemimpin revolusioner yang karena pemikiran serta tindakan revolusioner dan heroiknya melawan penindasan. Mereka membawa rakyat yang dipimpinnya menuju kebebasan dan terlepas dari belenggu yang ada. 

Pada saat ini ketiga tipe kepemimpinan seperti diatas sudah tidak ada dan juga berkurang. Tipe kepemimpinan yang  saat ini ada adalah tipe kepemimpinan extraordinary dimana pemimpin berasal dari orang kebanyakan tapi banyak melakukan hal luar biasa dengan menghasilkan karya dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan, seperti Ridwan Kamil, walikota Bandung yang menjadikan Bandung Juara. Tipe kepemimpinan tersebut lahir karena usaha yang dilakukan untuk menggerakan orang sekitar untuk ikut dalam menyelesaikan masalah dan menumbuhkan solusi melalui berbagai inovasi, karya, gagasan, dan tindakan. Ketika pemimpin karena ideology sudah tidak ada, pemimpin karena penaklukan  geografis sudah  tidak ada, pemimpin karena revolusi yang dilakukan sudah tidak ada, tersisalah kita sekarang sebagai pemimpin extraordinary yang harus muncul dalam menyelesaikan masalah yang ada disekitar kita. Pemimimpin extraordinary lahir dari kebanyakan orang biasa seperti kita tanpa pengaruh dari dogma agama, latar belakang sejarah, atau yang lainnya. Sehingga setiap dari kita sebenarnya dalah pemimpin, ketika kita mau bergerak dan juga menggerakan.

Bagaimana kita sebagai pemimpin extraordinary harus berperan? Tugas dari seorang pemimpin extraordinary adalah melakukan transformational leadership. Transformational leadership adalah kepemimpinan yang mentransformasi keadaan dan menggerakan untuk menghasilkan hasil yang luar biasa dan mencapai tujuan yang ingin dicapai dengan leading by example. Seorang pemimpin extraordinary harus membuat perubahan dan menggunakan dirinya sebagai contoh yang memberikan keteladanan yang pada akhirnya akan menghasilkan kondisi yang luar biasa dan mengubah lingkungan sekitar menjadi lebih baik. Seorang pemimpin extraordinary  harus memberikan sense of hope yang dapat memunculkan semangat dan harapan baru bahwa kondisi yang lebih baik akan terwujud. 

Seorang pemimpin extraordinary memiliki leadership personality yang khas dan menonjol di setiap kondisi yaitu Risk Taker, Problem solver, Strong Will, dan Visioner serta Inovatif. Risk taker adalah salah satu ciri yang kuat dari seorang pemimpin extraordinary. Pemimpin extraordinary harus bisa mengambil resiko yang mampu secara tegas untuk bertindak dan mengambil keputusan. Setiap masalah dan kesempatan merupakan hal yang harus diambil dan  diselesaikan secara tuntas. Problem solver merupakan kepekaan seorang pemimpin extraordinary terhadap masalah dan lingkungan lalu mampu memberikan solusi dan jawaban terhadap permasalahan tersebut. Strong will adalah kemauan dan etos yang kuat untuk  mencapai dan mengerjakan sesuatu secara konsisten dan berkelanjutan. Dan visioner berarti memiliki perspektif jangka panjang dengan jangkauan yang luas dan menyeluruh untuk bisa mencapai gagasan yang besar di masa mendatang. Dan yang membedakan pemimpin extraordinary dengan pemimpin sebelumnya adalah sifat inovatif. Seorang pemimpin extraordinary harus mampu berinovasi dan melakukan sesuatu yang baru, menciptakan berbagai terobosan dan gebrakan yang mampu merangsang munculnya potensi baru dan menghasilkan karya yang luar biasa. Karena yang membedakan pemimpin dan pengikut adalah inovasi.  

Ketika kita semua sudah menyadari itu dan melakukan tindakan nyata yang memberikan dampak, maka akan lahirlah masyarakat madani yang terdiri dari pemimpin-pemimpin luar biasa yang menggerakan. Jadi tunggu apa lagi, jadilah pemimpin yang sesungguhnya karena setiap dari kita adalah pemimpin. Karena kita pemimpin, kita bergerak! Because We are Leaders!

KEMAHASISWAAN : (HARUS JADI) SOLUSI UNTUK NEGERI

Dzikra Yuhasyra (11413019)

Mahasiswa mempunyai potensi yang sangat besar untuk bersatu lalu bergerak membuat perubahan dan memperbaiki kondisi bangsanya. Pemikiran yang kritis, keilmuan yang dimiliki, hasrat yang besar untuk mengubah bangsa menjadi bangsa yang maju dan meraih kejayaannya, serta sikap idealis adalah kelebihan dari mahasiswa untuk menggerakan masyarakat dan seluruh komponen bangsa untuk memperbaiki masalah dan mengembalikan negara sesuai dengan kondisi yang seharusnya. Pergerakan reformasi dan berbagai pergerakan sebelumnya merupakan bukti sejarah bahwa mahasiswa adalah komponen penting bangsa yang ikut serta mengubah sejarah dan peradaban bangsa ini. Mahasiswa dengan tridharma perguruan tinggi: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian masyarakat merupakan pelopor dan penggerak dinamis bangsa yang menjadi tonggak perubahan menuju perbaikian.

Kemahasiswaan dan pergerakan mahasiswa mungkin identik dengan turun ke jalan, demo, dan hal yang tidak jarang berujung kepada kekerasan dan kebrutalan. Apakah seharusnya terjadi seperti itu? Mungkin pada masa revolusi ataupun orde baru metode tersebut menjadi pilihan sebagai satu-satunya cara untuk menekan dan menuntut pihak yang berkuasa agar tidak sewenang-wenang, kembali mempedulikan kepentingan rakyat, dan mementingkan kepentingan nasional daripada bangsa asing. Apakah sekarang harus juga seperti itu? Mahasiswa sebagai insan akademik mempunyai tanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengamalkan bidang keilmuannya, dan salah satu  potensi kemahasiswaan dan pergerakan mahasiswa yang harus dimulai saat ini adalah pergerakan kemahasiswaan berbasis gagasan dan karya yang menunjukan rumusan solusi permasalahan bangsa. Berbagai keilmuan dan keprofesian yang ada harus menjadi tonggak dan sumber pergerakan mahasiswa untuk mengguncang bangsa dan berada di tengah masyarakat untuk menyelesaikan masalah. Demo atau turun ke jalan hanyalah sebagai salah satu metode, tetapi hasrat, mimpi, dan semangat untuk berkarya dan menyelesaikan permasalahan bangsa adalah inti dari kemahasiswaan dan pergerakan mahasiswa tersebut. Dan mensinergiskan pergerakan dari berbagai keilmuan dan latar belakang yang ada akan menghasilkan hasil dan solusi yang luar biasa.

Kaderisasi merupakan salah satu hal yang juga tidak bisa dilepaskan dari kemahasiswaan dan gerakan mahasiswa itu sendiri. Kaderisasi adalah sebuah metode, proses, dan tempaan untuk membentuk mahasiswa secara fisik, mental, perspektif, dan kemampuan untuk dapat menjalankan dan menjadi mahasiswa seutuhnya menjalankan tri dharma perguruan tinggi yang diembannya dengan idealisme tinggi untuk memajukan bangsanya dan menghasilkan bentuk kemahasiswaan dan gerakan mahasiswa yang dapat memperbaiki dan menyelesaikan persoalan bangsa. Lantas, bagaimana wajah dari kaderisasi saat ini? Nilai-nilai yang diturunkan  dari kaderisasi semakin lama semakin menurun dan kehilangan tujuan awalnya. Kaderisasi yang seharusnya menjadi sarana penempaan dan penurunan nilai-nilai luhur bangsa, kemahasiswaan, dan keprofesian, buyar dari fungsi dan peranan yang seharusnya dilakukan. Metode serta nilai yang kurang tepat dilakukan lebih banyak menunjukan bentuk arogansi dan formalitas untuk mempunyai jaket himpunan saja dan terdaftar menjadi anggota. Nilai, output, serta metode dari kaderisasi juga harus direnungkan kita bersama sebagai insan kemahasiswaan, karena apalah jadinya kaderisasi yang memakan waktu, biaya, tenaga yang sangat besar  tetapi tidak bisa ikut membentuk karakter kemahasiswaan dan gerakan mahasiswa yang menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa, bahkan justru menambah permasalahan yang sebenarnya tidak perlu. Perlulah semua insan kemahasiswaan berpikir dan melihat kembali bentuk dari kaderisasi yang ada sehingga betul-betul menghasilkan manusia seutuhnya yang mempunyai mimpi, idealisme, dan kemampuan untuk langsung terjun menyelesaikan persoalan bangsa yang terjadi melalui gerakan, karya, dan inovasi.

Lalu bagaimana kondisi kemahasiswaan dan pergerakannya saat ini? Yang menjadi problem bersama dalam kemahasiswaan saat ini adalah sikap apatis dan individualistis. Ya, sikap keengganan untuk bergerak bersama dan bekerja sama dalam merumuskan solusi atas semua permasalahan bangsa yang ada. Mementingkan kepentingan pribadi bukanlah hal yang salah, tetapi harus dibarengi dengan sinergitas bersama untuk menjawab tantangan dan persoalan bangsa karena kita tidak bisa mengubahnya sendirian. Aktivitas-aktivitas yang merangsang untuk berkumpul bersama, saling bertukar pikiran, dan mengkritisi permasalahan yang ada, semakin sulit dan jarang ditemui. Dan himpunan serta organisasi terpusat adalah wadah untuk membakar, mengasah, dan memperbaiki kondisi tersebut. Himpunan dan organisasi terpusat haruslah menjadi rumah belajar untuk mengasah kemampuan, pemacu semangat, dan tempat merumuskan solusi bersama lalu membuatnya menjadi pergerakan, inovasi, karya, dan tindakan nyata bersama dan terintegrasi sehingga menggerakan masyarakat dan komponen bangsa lainnya untuk mempebaiki bangsa dan membuatnya menjadi bangsa yang maju.  Kitalah yang harus menjadi bagian dari solusi atas permasalahan yang ada.

Semoga kemahasiswaan dan pergerakan mahasiswa akan kembali dinamis untuk memperbaiki dan membangun kejayaan Indonesia. Aamiin..



Sunday, June 19, 2016

Mahasiswa Bergantung pada Ide-Ide yang Abstrak dan Sesaat


Sebuah tulisan dari tahun 1995 yang dirasa masih relevan hingga saat ini. Salah satu tulisan di Edisi Spesial Boulevard ITB.

 



Dari beberapa pendapat yang herhasil dihimpun, sebagian besar mengindikasikan keraguan bahkan ketidakpercayaan terhadap aksi mahasiswa. Keraguan dan ketidakpercayaan ini  pada gilirannya tentu akan menimbulkan sejumlah pertanyaan terhadap aksi mahasiswa. Jika ditilik lebih jauh, pertanyaan tadi tidak bisa tidak akan membawa kita masuk  ke dalam pembicaraan tentang "gerakan mahasiswa" karena bagaimanapun aksi merupakan salah satu bentuk dari gerakan mahasiswa.

Disini akan disorot gerakan mahasiswa dengan beherapa aspeknya. Sorotan yang kami tampilkan adalah wawaneara dengan Hendardi dengan pokok tema "gerakan mahasiswa" dimana BOULEVARD diwakili oleh Suryadi AR, staf LBH Bandung. 

Sekilas mengenainya: Hendrardi adalah alumni ITB jurusan Teknik Sipil angkatan '78. Tahun 1978-1981 menjabat Ketua KPM (Komite pembelaan Mahasiswa) DM ITB - organisasi yang bertugas menangani kasus pengadilan mahasiswa ITB yang terlibat gerakan 1978. Tahun 1981 Hendrardi mengambilalih jabatan ketua terpilih DM ITB yang mengundurkan diri. Sekarang dia menjabat Direktur Komunikasi dan Program Khusus Yayasan LBH Indonesia di Jakarta 

BOULEVARD: Mengapa mahasiswa yang peduli terhadap politik sekarang makin sedikit? 

Hendardi : Ada sejumlah faktor yang menimbulkan keadaan seperti itu. Pertama. penguasa Orde, Baru telah berhasil menciptakan ketakutan-ketakutan politik bukan saja terhadap mahasiswa tapi kepada semua warga negara masyarakat Indonesia sehingga bicara politik seperti hidup di sebuah ruangan yang menakutkan. Apa yang ditampilkan Deni ketika menentang otoriterisme ITB menunjukkan hal itu. Dia telah memunculkan istilah `takut': takut dipecat. takut ditangkap, takut disiksa, dan takut dipenjara bertahun-tahun. Kedua, dampak ketakutan ini dikawinkan dengan politik 'massa mengambang'. Akibatnya. orang yang aktif menciptakan kemajuan politik rakyat begitu langka. Apalagi oposisi dilarang. Ketiga. implikasi dari pelarangan berorganisasi. seperti DM/MPM adalah sudah begitu mencengkeramnya kaki tangan aparat negara (state apparatus) ke kampus-kampus. Hal yang sama terjadi diluar kampus. Upaya mahasiswa ITB mclaksanakan referendum LSM (Lembaga Sentral Mahasiswa) mencapai kemenangan namun upaya selanjutnya justru terbentur oleh penguasa kampus (rektorat). Tapi setidak-tidaknya, mahasiswa ITB tidak lagi 'buta huruf’ terhadap kata referendum. Keempat, mahasisxva ITB sekarang relatif lebih makmur dibanding pada masa saya jadi mahasiswa. Faktor ekonomi seperti ini telah mempengaruhi minat mahasiswa akan politik. Dengan kemakmuran, mereka bisa berbuat banyak hal tanpa dipusingkan oleh penindasan-penindasan politik. Mereka bisa menyalurkan hobinya ke olahraga dan hiburan. Kelima. faktor SKS juga berpengaruh. SKS yang makin ketat memang mendorong mahasiswa untuk memikirkan kepentingan pribadinya untuk menggondol gelar sarjana. Tapi SKS bukanlah faktor utama. Menurut saya, represi politik itulah faktor utamanya.

Tapi mengapa masih banyak protes-protes politik yang dilancarkan mahasiswa? 

Secara ideologis. mahasiswa dihidupkan oleh mitos-mitos peranan. Sampai sekarang mahasiswa masih terus dijulangkan sebagai 'hero' bagi masyarakat yang tertindas. Mahasiswa merasa bahwa mereka bertanggung jawab untuk memprotes penindasan politik yang terus dijalankan penguasa termasuk penguasa kampus. Gerakan mahasiwa baru muncul di Indonesia tahun 1965-1966. Berhubung mereka sukses menumbangkan rezim Soekarno dan menjadi pendukung yang memuluskan jalan bagi Angkatan Darat mengambil alih kekuasaan negara, timbul istilah gerakan mahasiswa. Sebelum masa itu ada banyak gerakan. Misalnya. gerakan buruh, petani. opbsisi dan gerakan pemuda. Selama Orba, gerakan-gerakan ini dilenyapkan dan tampil gerakan mahasiswa. Kalau diperiksa lebih, seksama. kemenangan tahun 1965 telah berada di tangan Angkatan Darat. Sementara mahasiswa anti-komunis dimobilisasi untuk segera mempercepat pencopotan Soekarno. Jadi. mahasiswa '66 bergerak atas dasar mitos seolah-olah mereka yang punya andil besar menumbangkan Soekarno dan membalas dendam terhadap golongan kiri dan simpatisannya.              

Alasan yang lebih mendasar, mahasiswa belum masuk dalam hubungan kerja upahan atau gajian sehingga mahasiswa sering terbawa mitos maupun ideologi dominan. Mereka belum masuk dalam dunia karir atau profesi. Sementara dalam struktur ekonomi, negara (state) menempati posisi dan peran yang dominan. Karenanya negara mendominasi universitas.

Kalau begitu, dimana posisi dari gerakan mahasiswa di Indonesia?
 
Posisi mahasiswa tidak jelas, karena belum masuk dalam dunia hubungan kerja atau profesi sehingga mereka tidak membawakan kepentingan ekonomi (struktural) diri mereka. Mereka menggantungkan diri pada gagasan seperti hak asasi. kebebasan dan demokrasi atau keadilan sosial. Sebagai gerakan. menggantungkan pada gagasan—bukan kepentingan ekonomi—tentu saja lemah. 

Mengapa menggantungkan pada gagasan demokrasi dan keadilan sosial dianggap lemah?

Karena mereka tidak menganalisa kondisi obyektif ekonomi-politik. Akibatnya tidak punya pegangan ilmiah yang kuat. Gerakan mahasiswa tidak digabung kedalam gerakan ilmiah. Berbeda dengan negara lain. Misalnya. mahasiswa Korea Selatan justru menggabungkan dirinya ke dalam  gerakan ilmiah. Mereka menyerap ilmiah untuk menganalisa ekonomi-politik serta kekuatan-kekuatan sosial yang beroperasi di negaranya. Sementara mahasiswa kita hanya menggantungkan pada ide-ide yang abstrak dan sesaat. 

 

Mengapa harus digabungkan dengan gerakan ilmiah? 
 
Karena mahasiswa tidak punya basis kepentingan ekonomi. Mereka berbeda dengan buruh. petani. pengusaha atau profesi seperti guru. Golongan-golongan sosial tadi membawa kepentingan ekonomi, tapi mahasiswa tidak. Mereka cenderung jadi resi. intelektual tukang protos tapi mandul dalam politik karenanya menjadi elitis dan eksklusif. Kegagalan gerakan mahasiswa 1974 dan 1978 bisa dipahami dari cara mereka bergerak yang mirip resi dan elitis.                                

Apa akibatnya jika gerakan mahasiswa tanpa gerakan ilmiah?
 
Mereka cenderung berilusi. Mereka seolah-olah merasa kuat, tapi begitu dipukul ketahuan lemahnya.

Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan gerakan ilmiah?
 
Untuk menghasilkan gerakan yang efektif. mahasiswa harus ditunjang oleh  ilmu pengetahuan. Tidak ada demokrasi tanpa kesadaran demokratik. Untuk sampai pada kesadaran demokratik, mahasiswa harus membekali kesadarannya untuk mengetahui apa demokrasi itu, mengapa sekarang belum ada dan bagaimana upaya untuk mencapainya. Tapi sebagian besar mahasiswa masih saja melayang sebagai `massa mengambang'.  
                 
Apa kehidupan ilmiah di Indonesia sudah berkembang?

Belum. Kita tidak dididik untuk .berdebat, berdiskusi, atau berdialog dengan suatu argumentasi yang kuat. Forum-forum seminar dan diskusi. tidak sedikit yang dilarang. Para aktivispun tidak banvak menghimpun energinya untuk belajar dan secara kreatif mendidik dirinya untuk dibekali pengetahuan yang tajam. Artinya, mereka nggak mau menggarap pikirannva untuk menimbulkan kekuatan spiritual yang tangguh dan unggul. Ironisnya, mereka berada dalam suatu –‘masyarakat iimiah’.

Apakah ada perkembangan atau kemajuan dalam pola aksi mahasiswa? 

Aksi-aksi mahasiswa akhir 80-an dan 90-an memang berbeda dibanding tahun 70-an. Tanpa sengaja telah menyeret mereka untuk menjulangkan isu-isu penggusuran penduduk dari tanah garapan se perti Badega, Kacapiring, Cimacan dan Kedungombo. Pada tingkat ini mahasiswa mulai melihat perannya dengan kepentingan ekonomi penduduk (petani) yang tergusur. Hal ini  menaikkan mitos mahasiswa sebagai `pejuang rakyat'.  Dengan mitos ini, mahasiswa tetap saja terpisah dengan petani. Mahasiswa terus dipengaruhi oleh obsesi borjuis kecil.         
       
Apa pola mobilisasi maupun isu tanah tidak tepat? 

Secara kebetulan. itu tepat saja. Yang tidak tepat adalah perencanaannya. Mahasiswa selalu menggarapnya secara sesaat. Umumnya. mereka membentuk komite dan menjalin komunikasi dengan penduduk yang tegusur, lalu memobilisasi aksi. 

Apakah perencanaan itu mengandung arti jangka panjang? 

Tepat sekali. Berorganisasi itu tidak cuma sekedar aksi-aksian. Dalam perencanaan harus digarap upava memperbanyak aktivis karena tidak ada kemajuan kalau jumlah aktivis tidak bertambah. Dalam posisi mahasiswa yang lemah, aksi haruss diasumsikan sebagai sarana latihan berorganisasi. Mobilisasi massa dalam situasi 'massa mengambang’ hanya akan efektif kalau pesan yang disampaikan bersifat konkret. 

Apa alternatif yang harus dilakukan mahasiswa? 

Perlu dicamkan, saya tidak lagi berposisi sebagai mahasiswa. Saya tidak ingin menggurui. Alternatif itu harus dilakukan mahasiswa sendiri. Misalnya. mereka harus mcmpertimbangkan atau meninjau kcmbali basis massa gerakannya baik di dalam maupun di luar kampus. Mereka harus lebih jeli menggarap organisasi dan menyiapkan rencana jangka panjang.                 

Apa kelemahan mendasar gerakan mahasiswa terletak pada organisasinya?

Itu betul. Organisasi adalah sesuatu yang vital bagi sebuah gerakan. Tapi organisasi yang efektif tidak akan ada tanpaditunjang oleh pengetahuan yang efektif tentang organisasi dan gerakannya.

Buya Hamka, 1940.


"Maka sebelum kita maju dalam menentukan tujuan hidup, hendaklah kita pandai memilih mana yang cocok buat diri, jangan mana yang disukai saja. Anak muda kerapkali tidak insaf akan hal ini, karena darahnya masih muda dan panas.

Ada anak muda melihat orang lain senang makan gaji, dia hendak makan gaji, padahal yang lebih cocok dengan dia bukan makan gaji, tetapi berniaga. Ada pula yang melihat orang jadi wartawan atau pengarang, dia hendak jadi wartawan pula, padahal yang lebih sesuai dengan dirinya jika ia jadi petani. Ada pula pemuda yang hendak dibentuk oleh ayahnya menurut maunya saja, mau menurut kelayakan yang cocok dengan anak itu, ada pula yang karena pengaruh orang lain hilang timbangannya.

Tetapi ada golongan ketiga yang mempelajari pekerjaan sebelum ditempuhnya, menimbang sebelum berjalan dengan kemerdekaan pendapat dan akal, memakai pakaian yang sesuai dengan tubuhnya. Inilah yang paling benar, tetapi ini pula yang  sulit."