Tuesday, January 9, 2024

#22HBB Vol.3 Day 3 and Day 4 Buku Pertanian Postmodern Karya Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M. Gunardi Judawinata

 

Berikut ini rekap insight dan rangkuman dari Day 3 dan Day 4 #22HBB Vol. 3 Buku Pertanian Postmodern Karya Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M. Gunardi Judawinata. Selamat Menyimak!

Day 3 #22HBB Vol.3 (8 Januari 2024)

6 - 0 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Pertanian Postmodern: Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara -  Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M.Gunardi Judawinata – hlm. 49-64/362

Insight/rangkuman/catatan:

IDENTITAS PERTANIAN

"Indonesia memiliki ragam komoditas unggul spesifik lokal yang potensial merajai pasar dalam era kompetesi berkelanjutan; namun metafor-metafor modernisme telah mereduksi rasa bangga bangsa atas identitas pertaniannya, sehingga lebih bangga dengan komoditas-komoditas yang serba didatangkan dari luar; lebih bangga dengan produk industri dan impor daripada produk bangsanya sendiri; bangsa ini lebih bangga dengan sawit daripada kelapa dan pala, lebih bangga dengan ayam Bangkok daripada ayam pelung Cianjur, lebih bangga dengan terigu daripada sagu dan labu, lebih bangga dengan apel California daripada apel Malang, lebih bangga dengan sankis daripada manggis, lebih bangga dengan sapi Australia daripada sapi Bali dan Madura, lebih bangga dengan industri manufacture daripada industri agriculture"

MENAWARKAN GAGASAN MEMBANGUN KESADARAN DAN KECERDASAN

..bedanya peradaban yang dibangun dengan kebenaran mutlak (agama Islam) dan kebenaran relatif (ilmu dunia) terletak pada pola pikir, pola sikap dan pola tindak (gerakan, amal); jika kebenaran mutlak gerakannya pembebasan (al-fath), maka kebenaran relatif gerakannya penaklukan; jika kebenaran mutlak menciptakan keteraturan, keseimbangan dan keadilan, maka kebenaran relatif menciptakan kesenjangan, ketimpangan dan penindasan...

Gagasan yang ditawarkan buku ini jelas tidak populer dalam iklim intelektual modernitas yang lahir dan lekat dengan warna kebenaran relatif seperti sekarang. Untuk sekedar menjadi oposan pun tidak akan banyak menegangkan, karena arus utama sedang dikendalikan dan didominasi kemodernan. Tetapi perlu ditegaskan bahwa kebenaran selalu diturunkan dalam kegelapan. Tujuan utama substansi buku ini bukan untuk menyerang kebenaran relatif dan modernitas, tetapi menyampaikan pesan antisipatif kepada calon-calon generasi emas NDK (termasuk Indonesia) yang akan meregenerasi peradaban dan menjadi aktor utama di era bonus demografi 2035, bahwa belajar dari pengalaman 50 tahun dalam awan hitam kebenaran relatif era modernitas, harapan NDK dapat sejajar dan berdaulat, tidak kunjung terwujud. Diskursus pembangunan sebagai bentuk kemodernan sengaja dikemukakan kepada pembaca (terutama generasi bangsa) supaya memahami bagaimana bekerjanya kekuasaan (imperium) dalam menjalankan imperialismenya. Tanpa memahami dan menganalisis diskursus pembangunan, kita tidak akan mampu memahami bagaimana imperium barat dan atau imperium global melanggengkan kontrol (dominasi) secara sistematik dan mensukseskan imperialsime secara berkelanjutan. Bagaimana skema modernitas diarus- utamakan melalui proyek-proyek dengan menciptakan abnormalitas, stereotype, kolonisasi metodologi, pembentukan agen-agen pembangunan dan desain-desain linear NDP untuk mengidentifikasi penyakit dan resep penyembuhan NDK

Pertanyaannya kemudian, mengapa imperialisme menjadi begitu dominan dalam pengantar atau pendahuluan buku ini? Secara historis empiris, imperialisme di Nusantara berpangkal dari perebutan sumberdaya alam, terutama komoditas pertanian. Sumberdaya inilah yang oleh berbagai sumber selalu dikabarkan menjadi pondasi peradaban dan ketika dilupakan menjadi penanda "senja" akan berakhirnya peradaban. Artinya, sampai kapan pun, pertanian tidak akan lepas dari peradaban dan akan selalu menjadi penciri imperialisme. Sampai zaman berakhir pun, pertanian akan selalu lekat dengan peradaban. Bagi generasi-generasi bangsa yang akan memulai dan membuka bangunan peradaban baru, pertanian menjadi hal yang tidak dapat ditawar-tawar. Tidak ada kesepakatan sejarah, tetapi diakui secara alami maupun teori, baik oleh Ibnu Khaldun dalam siklus peradabannya, Alfin Tofler dalam gelombang ekonominya, W.W Rostow dalam tahapan pembangunannya maupun Lester Brown dalam tanda-tanda zamannya, bahwa pertanian selalu menjadi pondasi dan sekaligus titik balik peradaban.

Sebagai referensi ideal, Al-Qur'an mengabarkan dengan jelas bahwa peradaban-peradaban mapan masa silam tumbuh berlandaskan ekonomi pertanian dan runtuh karena melupakan pertanian. Fakta sekarang pun menunjukan bahwa untuk menjadi yang terdepan, imperium Eropa, Amerika, Cina dan Asia memulainya dengan membangun dan menguasai pertanian (melalui imperialisme). Untuk membangun imperiumnya, Romawi menaklukan dan menguasai pusat-pusat produksi pangan di Mediterania dan Mesopotamia. Untuk membangun imperium yang luasnya dua kali lipat Romawi, Gengis Khan memapankan kekuatan pangannya dengan telebih dahulu menaklukan dan menjarah gandum dari Korea. Untuk membangun peradaban modemnya, Eropa membangun kemapanan pangannya dengan menjarah pangan melalui praktik kolonialisme di negara-negara yang menjadi sumber pangan di Afrika, Asia dan Amerika. Untuk membangun peradaban Amerika Serikat, Abraham Lincoln memulainya dengan membangun pertanian. Fakta sekarang juga yang menunjukan bahwa keruntuhan kekuasaan di negara-negara yang berbasis pertanian (negara tropis) selalu diawali dari krisis pertanian, terutama krisis pangan.

Praktik memulainya ada yang mengembangkan secara mandiri, ada yang menguasai pasar pertanian dan ada yang melakukan ekspansi pertanian (imperialisme). Dalam kontek sekarang, penguasaan pangan dan pertanian yang dilakukan imperium global mulai bergeser ke investasi pertanian di negara-negara tropis yang memiliki keunggulan komparatif. Kecenderungannya, selama peradaban dibangun manusia di muka bumi, imperialisme tidak akan pernah berhenti. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa imperialisme selalu diawali dengan penguasaan pertanian, baik melalui imperialisme tanam paksa (cultuure stelsel), imperialisme inovasi pertanian (green revolution), imperialisme pasar (standardization) maupun atas nama investasi pangan asing. Setelah imperialisme pertanian, muncul imperialisme pendidikan, kesehatan, transportasi, pasar, keuangan, pelayanan, informasi, inovasi dan sebagainya. Salah satu bentuk kreasi dan inovasi imperialisme pertanian adalah modernisasi pertanian atau pertanian modern. Maknanya, jika imperialisme terhadap pertanian berhasil diganti dengan kemandirian, maka imperialisme secara nasional dapat ditinggalkan. Mengganti imperialisme pertanian berarti mengganti pertanian modern dengan pertanian baru yang beradab, yang mandiri, yang berdaulat, yang maslahat, yang spesifik lokal, yang semuanya berlandaskan pada kebenaran mutlak, bukan kebenaran relatif yang diproduksi peradaban luar.


Day 4 #22HBB Vol.3 (9 Januari 2024)

6 - 0 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Pertanian Postmodern: Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara -  Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M.Gunardi Judawinata – hlm. 65-96/362

Insight/rangkuman/catatan:

TITIK BALIK PERTANIAN MODERN

"menjerat negara dunia ke tiga: semula pertanian modern jilid 2 yang didesakan negara maju dan TNCs dalam skema green revolution begitu menjanjikan, inovasi luar yang dintroduksikan begitu meyakinkan akan melipatgandakan intensitas dan produktifitas pertanian, sehingga optimis akan menjamin pemenuhan kebutuhan pangan untuk penduduk yang terus tumbuh mengikuti deret ukur, lebih dari itu akan melompatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dunia ke tiga; namun lacur, green revolution ternyata bagian strategis dari puzzle besar kolonisasi lanjut, strategi menjejalkan inovasi (input) luar untuk penyeragaman, pengendalian dan penghancuran ragam sumberdaya lokal negara dunia ke tiga, kesejahteraan dan ketahanan pangan yang dijanjikan entitas neokolonial hanyalah patamorgana yang tidak akan pernah terwujudkan"

Secara historis-empiris, pertanian modern telah dimulai sejak perkebunan teh, tebu, kina, karet dan kakao dikembangkan penguasa kolonial di Nusantara. Proposisinya, perkebunan (estate, onderneming) merupakan produk revolusi industri yang dalam perspektif barat menjadi "motor utama" kemodernan (modernism). Pertanian modern didefinisikan oleh FAO (2006) sebagai "model pertanian skala luas atau sedang (large or intermediate scale) yang berorientasi pasar (commercial), yang padat modal (capital intensive), yang operasinya didukung dengan mechanised (traktor, drones agriculture, harvester, combines), yang intensif menggunakan input eksternal (pupuk kimia, pestisida sintetis, benih unggul, zat pengatur tumbuh dan teknologi canggih lainnya)" yang ditujukan untuk mengoptimalkan produksi, produk dan proses-proses agribisnis terkait dari hulu sampai hilir. Pertanian modern juga didukung dengan organisasi atau institusi yang bermanajemen profesional dan terintegrasi dengan pengolahan yang meningkatkan nilai tambah (value added). Bahkan, meminimalkan risiko di sepanjang rantai pasokan. Tegasnya, pertanian modern adalah pertanian yang dikendalikan oleh inovasi dan investasi global.

Pertanian Modern 1.0

Pertanian modern 1.0 ini tidak dilabel pembangunan (developmentalism), karena praktiknya kental dengan aroma imperialisme (penjajahan) yang bertentangan dengan humanisme dan warna penjajahan yang eksplisit memiskinkan, memaksa dan mengeksploitasi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam Nusantara. Pada masa ini, teknologi pertanian modern (terutama alat mesin produksi, komoditi dan input kimia) yang dihasilkan industri merupakan sarana (mean) yang setara dengan senjata, alat untuk membunuh (fitrah, karakter, budaya, identitas, varietas, teknologi lokal), mengeksploitasi dan mengendalikan negara jajahan. Pertanian modern jilid 1 benar-benar dikuasai, dioperasikan dan dikendalikan oleh pihak pemerintah dan perusahaan kolonial. Tidak ada proses difusi dan adopsi inovasi kepada dan oleh pribumi. Kalaupun pribumi dilibatkan, praktiknya lebih bersifat tanam paksa (cultuurstelsel), menanam tetapi tidak pernah menikmati, karena seluruh hasil dibawa penjajah. Memproduksi, memanen dan mengolah (teh, kopi, kakao, tebu, kina dan lainnya) dilakukan, tetapi tidak pernah merasakan dan memasarkan. Proses ini berjalan berabad-abad, hingga ikut menghancurkan tatanan dan kebudayaan. Pasca kemerdekaan, bisnis pertanian modern 1.0 yang lama berada dalam genggaman penguasa kolonial tidak serta merta berpindah tangan, berbagai kesepakatan diciptakan agar pengusahaan dan penguasaan perkebunan dipegang generasi kolonial (neokolonial). Ironi, hingga zaman orde baru berlalu, tidak sedikit perkebunan yang masih dikuasai asing, yang penguasaan dan pengusahaannya "diwariskan dan dilegalkan" kepada generasi kolonial.

Pada masa pertanian modern 1.0, pertanian masyarakat yang didominasi sawah (terutama di pulau Jawa, Bali dan NTB) dan didominasi ladang di luar pulau Jawa, sengaja tidak digang- gu oleh penguasa kolonial. Bukan karena mempertahankan dualisme ekonomi sebagaimana dilukiskan ekonom Belanda J.H Boeke, tetapi sengaja diciptakan agar pertanian yang sudah menjadi tradisi tetap terjamin, sehingga pangan tercukupi dan sistem usaha kolonial tidak terganggu. Witzenburg (1936), Van der Giessen (1946) dan Van Zetten Vander Meer (1979) mene- gaskan bahwa jaringan irigasi teknis sengaja dibangun secara besar-besaran oleh penguasa kolonial untuk menciptakan kelancaran usahatani petani, sehingga tercipta kondisi petani nyaman berusaha, nyaman bekerja di perkebunan Belanda. Boleh dikatakan, dualisme ekonomi zaman kolonial tidak ber- sifat alami, tetapi sengaja diciptakan permanen agar "dengan kenyamanan", pencitraan Belanda tercipta, usaha ekonomi lokal tetap terjaga (stagnan) dan pasokan buruh murah untuk perkebunan berkelanjutan. Sebagai orang luar, J.H Boeke hanya melihat ekonomi Indonesia secara "apa adanya" tetapi tidak memikirkan (atau menyembunyikan) "ada apanya" dibalik real- itas tersebut dan dibalik metafor "teori dualismenya". Mirip seperti "fenomena buruh petik, buruh sadap, buruh sawit" yang difasilitasi dan dicukupi kebutuhannya (tinggal di bedeng-be- deng, pulang-pergi dijemput, diberi upah dan bahkan diberi sedikit lahan untuk usahatani), tetapi tujuh turunan kehidupan- nya diciptakan stagnan (permanen), sehingga dengan demiki- an, pasokan tenaga kerja untuk perkebunan terjamin secara berkelanjutan.

Menjelang era kemerdekaan, seiring dengan menyebarnya penentangan terhadap penjajahan (imperialisme) di seluruh dunia, praktik pertanian modern dalam bentuk tanam paksa pun turut ditentang, karena berbau penjajahan dan penindasan. Bersama itu, pasar internasional komoditi pertanian modern 1.0 mengalami kontraksi, bahkan turut memacu depresi ekonomi. Bagi negara-negara maju dan korporasi internasional, penentangan bangsa-bangsa di dunia atas penjajahan fisik, tanam paksa dan penjarahan sumberdaya alam, tidak lantas membuat mereka "berpangku tangan". Sejumlah kreasi dan pendekatan alternatif yang lebih halus (kamuflase) telah lebih awal disiapkan. Model penjajahan direvolusi dari yang bersifat fisik dan komoditi ke penjajahan ekonomi (utang), inovasi, teknologi, industri, informasi dan sebagainya. Melalui pendekatan revolutif, pertanian NDK dikendalikan dengan "bantuan" utang berbunga dan inovasi teknologi yang serba didatangkan dari NDP. Tentu prosesnya dilakukan secara halus dan dengan tangan terbungkus (invisible hand), sehingga praktiknya terlihat manusiawi, padahal pengendalian, penghisapan sumberdaya dan eksploitasi NDK terus berlangsung.

Melalui pendekatan revolutif, terminologi kolonisasi dieliminasi dan diganti dengan istilah yang lebih menjanjikan dan dicitrakan lebih berkemanusiaan, yakni pembangunan (developmentalism). Melalui isme-pembangunan, negara-negara industri dan korporasi-korporasi pertanian internasional yang menjadi pelaku imperialisme, berperilaku seolah-olah memiliki kepedulian, pemihakan dan balas budi kepada negara-negara bekas jajahan (dunia ketiga). Senjata api direduksi, diganti dengan teknologi, pinjaman dan tenaga ahli. Ironi, padahal sejatinya pembangunan merupakan bentuk neoimperialisme atau kolonisasi lanjut. Gayung bersambut, berbagai program (proyek) pembangunan didesakan neo kolonial ke negara dunia ketiga melalui berbagai skema dan mekanisme yang telah lebih dahulu dirancang negara-negara maju dan badan-badan dunia (sarana imperialisme baru). Untuk menjustifikasinya, berbagai paradigma, teori, model, metode dan strategi pembangunan ditumbuhkan berbagai pemikir dan institusi pendidikan tinggi. Salah satu program pertanian modern yang dioperasikan NDP di NDK adalah revolusi hijau (green revolution).

Pertanian Modern 2.0

Bermodal pinjaman (baca: utang) dan inovasi benih "ajaib", pupuk kimia, pestisida sintetis, kredit, irigasi, alat mesin pertanian modern dan kelembagaan pendukung (penyuluh, kelompok tani), revolusi hijau disambut antusias oleh negara-negara dunia ketiga dan negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia yang pada waktu itu sedang dihadapkan pada persoalan krisis pangan dan krisis politik Kabar keberhasilan revolusi hijau di India, Filipina, Pakistan, Bangladesh, Tiongkok dan Meksiko pada tahun 1967-1970 telah "memukau" banyak negara "miskin pangan" untuk segera mengadopsinya. Melihat banyak yang terperangkap, maka sesaat setelah itu, negara-negara maju dan korporasi internasional (TNCs, MNCs) mulai melebarkan dan melembagakan "hegemoninya melalui pembentukan Consultative Group for International Agriculture Research (CGIAR). Melalui CGIAR, erbagai bantuan dan utang dikucurkan kepada berbagai pusat penelitian internasional, seperti International Rice Research Institute di Filipina dan International Maize Wheat Improvement Centre (IMWIC) di Meksiko. Lembaga dunia lainnya yang dijadikan kendaraan oleh entitas hegemony adalah Food and Agriculture Organization (FAO). Ironi, hampir dipastikan, semua negara adopter tidak menyadari modus dibalik revolusi hijau, modus dibalik riset-riset, modus dibalik kucuran-kucuran pinjaman (utang) dan komuflase-komuflase korporasi internasional yang menjadi produsen berbagai input modern. Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk dalam perangkap revolusi hijau atau "pertanian modern 2.0". TNCs atau MNCs yang beroperasi di Indonesia sejatinya merupakan metamorfosis (jika tidak disebut reinkarnasi) dari VOC.

Berbeda dengan pertanian modern 1.0 yang lama dioperasikan penjajah kolonial di Nusantara, pertanian modern 2.0 yang diadopsi Indonesia sejak awal 1970an lebih fokus pada modernisasi produksi pertanian non komoditas perkebunan, terutama pangan (padi, jagung, kedelai, ubi kayu), hortikultura (terutama sayuran datarang tinggi dan buah-buahan), peternakan (terutama ayam ras), perikanan (terutama tambak) dan kehutanan. Sawit yang mulai diuji coba penguasa kolonial pada tahun 1916 dan dilembagakan sebagai komoditas perkebunan pada tahun 1923, menjadi senjata utama yang dilindungi sistem pembangunan modern di Indonesia. Meskipun perkebunan sawit tumbuh subur sesaat setelah Indonesia mengadopsi revolusi hijau, namun sengaja dibiaskan dengan komoditas pangan dan hortikultura yang dikendalikan korporasi. Meskipun perkebunan sawit semakin masif dan menjadi mode neoimperialisme juga, namun menjadi pengecualian, karena eksitensinya lebih dikendalikan oleh "cukong-cukong" Singapura dan Malaysia yang eksis di luar dominasi "entitas korporasi (TNCs, MNCs)" yang menjadi sutradara program revolusi hijau. Seperti halnya pertanian modern 1.0 (perkebunan), pertanian modern 2.0 ini telah membawa banyak perubahan di Indonesia. Harus diakui bahwa dalam setengah abad implementasi pertanian modern 2.0 di Indonesia, kemajuan "semu" pembangunan pertanian terlihat pada berbagai aspek, terutama pada sisi inovasi teknologi pertanian yang menjadi muatan utama modernisasi (baca: industrialisasi) pertanian. Inovasi teknik olah tanah, teknik budidaya, benih unggul, pupuk kimia, pestisida sintetis, alat mesin produksi, alat mesin pengolahan, kredit, jaringan irigasi, kelompok tani, lembaga penyuluhan, agroindustri, koperasi dan pasar, telah terbukti mampu meningkatkan produktifitas pertanian Indonesia hingga beberapa kali lipat. Jika pada periode 1970-1985 pertanian modern 2.0 fokus pada padi dan kedelai, maka memasuki periode 1980-1995 lebih fokus pada komoditas hortikultura dan palawija.

Pada sisi produksi tanaman pangan, revolusi hijau telah berhasil meningkatkan luas areal tanam, jumlah petani, lokasi pengembangan dan produktifitas padi dari hanya 2 ton/ha menjadi 5-6 ton/ha, sehingga pada tahun 1985-1989 sukses mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras. Tidak hanya itu, sejak tahun 1980 produktifitas dan produksi jagung dan kedelai juga meningkat signifikan, sehingga antara periode 1980-1997 Indonesia net impor jagung dan kedelai. Bersamaan dengan itu, sektor peternakan (poultryshop) dan ragam industri berbasis jagung dan kedelai turut terdongkrak. Memasuki era 1990an, revolusi hijau mulai mewarnai dataran tinggi, sehingga produksi, luas tanam dan sentra pengembangan sayuran mengalami peningkatan yang signifikan. Perkebunan dan lahan hutan di dataran tinggi banyak yang dikonversi atau diganti dengan sayuran. Berbagai macam sayuran didatangkan dari luar, sehingga menyisihkan sayuran-sayuran lokal yang telah lebih awal berkembang. Kemajuan teknologi rekayasa sayuran telah mendorong berkembangnya sayuran dataran medium dan dataran rendah. Sayuran tidak hanya dikembangkan di Pulau Jawa tetapi juga di Sumatera (Sumut, Lampung), Pulau Bali, NTB, Sulawesi (Makasar), Kalimantan dan di wilayah timur Indonesia.

Secara sosial ekonomi, lompatan-lompatan sebagaimana diuraikan pada paragraf di atas dipengaruhi juga oleh perkembangan berbagai jenis pasar (termasuk supermarket), tingginya permintaan pasar dan efek perkembangan masyarakat (baik jumlah, tingkat konsumsi maupun gaya hidup). Bahkan, permintaan terhadap beras mengalami peningkatan setiap tahun sebagai akibat terus naiknya grafik permintaan pasar dan bergesernya konsumsi masyarakat di daerah-daerah yang semula memiliki pangan spesifik non beras. Selain itu, konsumsi sayuran dan kacang-kacangan meningkat seiring dengan berkembanganya tren gaya hidup sehat. Sangat menakjubkan, hanya dalam hitungan 30 tahun, revolusi hijau telah menyebar dan menciptakan keseragaman di seluruh Indonesia. Padi hasil produksi IRRI telah menggeser jagung, sukun, pisang, keladi, singkong dan sagu sebagai pangan lokal. Begitu juga sayuran dan buah-buahan varietas unggul luar negeri yang berhasil menggeser varietas spesifik lokal.

ersoalannya, sejak tahun 1990 Indonesia kembali mengimpor beras dan sejak tahun 1998 Indonesia kembali mengimpor jagung, kedelai, sayuran, buah-buahan, gula, garam, daging dan sebagainya. Memasuki abad 21, lengkap sudah, hampir semua jenis kebutuhan pangan bangsa Indonesia, baik beras, jagung, kedelai, sayuran, buah- buahan dan bahkan komoditas yang berlimpah (seperti ikan, gula, garam, daging, teh, tapioka, telur) didatangkan dari luar (impor). Teknologi pertanian modern 2.0 dipacu, tetapi produktifitas lahan, tanaman dan petani seperti terhenti. Kejenuhan menghinggapi seluruh sumberdaya pertanian dan kerusakan lingkungan (degradasi lahan, air, udara, hutan, biodiversitas) tidak terhindarkan. Secara sosial, ketimpangan ekonomi melebar dan kesejahteraan yang dicita-citakan tidak terwujudkan. Regenerasi pelaku pertanian terhenti, sehingga menyisakan sumberdaya manusia pertanian yang sebagian besar tua (aging agriculture). Ironi, setelah hampir 50 tahun pertanian modern 2.0 dioperasikan, kecacatan dan kekeliruan dari praktik-praktik dan komuflase-komuflase neoimperialisme tidak dapat lagi dikoreksi sendiri (self-correction). Paradigma pertanian modern 2.0 mulai dihadapkan pada krisis-krisis yang sulit untuk disembuhkan secara sendiri (self-correction). Karakter kemajuan yang diraih ternyata hanya sesaat, mirip seperti paradigma positivistik yang dianutnya, reduksionis, parsial, ekploitatif, menciptakan 3R (rusak, renggut, resah), deduktif, anti diversifikasi dan lainnya. Ketahanan, kedaulatan dan kemandirian pangan yang dijanjikan revolusi hijau berakhir tragis. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan hanya dinikmati petani elit (capitalism/entrepreneurial farm), sulit digapai mayoritas petani kecil (peasant) karena biaya produksi dan utang petani bertambah tinggi. Petani komersial terbangun, tetapi semu, karena mempercepat penghisapan hasil tani oleh perkotaan, menjatuhkan nilai tukar dan melemahkan ketahanan pangan rumah tangga pedesaan. Ketimpangan antar kelas pelaku dan wilayah melebar, sehingga mempercepat laju migrasi.

Jelas sudah bahwa pertanian modern 2.0 didesain hanya untuk menjadikan Indonesia dan negara-negara dunia ketiga sebagai produsen sempurna (pangsa dan mangsa), negara yang hanya berperan dalam produksi pertanian primer, negara yang hanya menerima atau hanya menjadi konsumen berbagai teknologi yang dihasilkan negara industri. Indonesia hanya menjadi pengadopsi benih, alat mesin pertanian, pupuk kimia, pestisida sintetis dan input luar lainnya yang dihasilkan oleh korporasi transnasional (TNCs).

Sukses korporasi juga dibantu oleh "agen-agen" yang mereduksi, menjauhkan dan mematikan budaya dan komoditas lokal. Jika demikian, lantas dimana kedaulatan dan kemandirian pertanian Indonesia? Sekali lagi, kolonisasi lanjut telah berhasil mendesain (baca: merekayasa) Indonesia menjadi negara "total" produsen bahan mentah, "total" konsumen input luar dan "total" konsumen produk agro impor. Itulah buah dari kesuksesan negara maju, lembaga riset dunia dan korporasi agribisnis internasional dalam melakukan imperialisme inovasi (melalui pembangunan pertanian 2.0), penyeragaman komoditas agro dan mereduksi keragaman komoditas spesifik lokal.

Meminjam istilah Dale Carnegie dan Muhammad Al-Ghazali, desainer imperialisme global telah berhasil merekayasa pertanian Indonesia, menelanjangi identitas fitrahnya dan membuang kepribadiannya, lalu menggantinya dengan identitas palsu yang sesuai dengan keinginan para desainer, identitas yang sejatinya tidak sesuai dengan fitrah alami dan kepribadian bangsa Indonesia. Pertanian modern hanyalah sebuah reflika, hanya plagiasi, yang secara filsafat menegaskan sebuah kecacatan berpikir yang sangat membahayakan. Kecacatan yang akan mewarnai tindakan para adopternya untuk selalu mengekor dan menjilat. Padahal, kebenaran dan fitrah Indonesia sudah ditentukan oleh Yang Maha Pencipta, dengan spesifik lokal sebagai faktanya. Alloh SWT berfirman "dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran (QS. AI Hijr: 19); "dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu (QS. Al Hijr: 21); "dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik (QS. Asy Syu'araa: 7)". Validasi ideal tersebut menegaskan bahwa komoditas dan pertanian Indonesia sudah tertentu, memiliki fitrah yang berbeda dengan Eropa, Amerika, Afrika dan bahkan dengan sesama negara tetangga di Asia. Ketika pertanian Indonesia keluar dari fitrah dan karakter alaminya, maka dapat dipastikan akan rusak, labil dan sulit bersaing. Semua itu menegaskan bahwa "pertanian kita harus dibangun sesuai potensi, sifat dan fitrah alami Indonesia, harus dikembangkan sesuai dengan karakteristiknya yang sangat beragam", karena sejak diciptakan tidak pernah ada wilayah dan komoditas lain di dunia yang sama persis dengan fitrah Indonesia. Keunikan dan spesifik lokal inilah yang akan berdaya saing berkelanjutan (sustainable competitiveness), yang akan menjadi pemenang dalam era keterbukaan.

Kini semua pihak mengakui bahwa pertanian modern 2.0 telah membawa "kemunduran" pertanian dalam berbagai apsek, terutama degradasi keragaman hayati di daratan dan perairan, kejenuhan sumberdaya lahan, pencemaran air dan udara, kerusakan lingkungan, penggundulan hutan, kejenuhan sumberdaya manusia, melandainya regenerasi petani, tereduksinya diversifikasi, hilangnya kearifan dan budaya lokal. Boleh jadi, telah juga turut memiskinkan petani, meningkatkan penyakit dari kontaminan-kontaminan pertanian dan mematikan lapangan kerja/wirausaha di pedesaan. Jika diperbandingkan dinamikanya, maka grafik kemunduran pertanian modern 2.0 kian hari kian menyisihkan kemajuannya, ketimpangannya kian meninggalkan keseimbangannya, keseragamannya semakin mengalahkan keberagamannya. Kemunduran itu semakin kentara tatkala mode pembangunan bergeser ke daya saing berkelanjutan (sustainable competitiveness) dan perdagangan bebas komoditas pertanian dibuka lebar-lebar, baik pada tingkat ASEAN (AEC), tingkat Asia Pasifik (APEC) maupun tingkat dunia (WTO). Kini pertanian Indonesia tersisih di dua sisi, baik di pasar dalam negeri maupun manca negara. Ironi, baru saja pasar terbuka ASEAN dan ASIA dibuka, berbagai produk pertanian impor sudah langsung menjadi raja di Indonesia. Hal ini terjadi karena jauh sebelum pasar terbuka diberlakukan, fitrah (lokalitas) Indonesia sudah dikalahkan, fasilitas impor (terutama supermarket, hypermarket) sudah dibangun lebih awal dan "kegandrungan" pada komoditas impor sudah dilembagakan pada seluruh kelas sosial.

Pertanian Modern 3.0

Kemunduran pertanian modern 2.0 yang terus meninggi di penghujung abad 20, sejatinya mencerminkan kemunduran paradigmanya. Meminjam istilah Thomas Kuhn, akar sejati krisis pertanian modern 2.0 bersumber dari krisis paradigmanya yang positivistik. Persoalannya, bagi sebagian besar masyarakat, krisis-krisis dan implikasi-implikasi yang ditimbulkannya lebih menarik dan menjadi fokus perhatian, sehingga abai terhadap akar persoalan sejatinya. Paradoks dengan itu, para penganut paradigma pertanian modern justru sudah mendeteksi kemunduran lebih awal, sehingga mereka berupaya menutupi kekeliruan dengan riset dan pengembangan. Mereka berupaya mencari solusi, klaim-klaim kesahihan dan alternatif pembangunan untuk mengoreksi kekeliruan pertanian modern 2.0, terutama dengan semakin nyatanya dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan pestisida sintetis, pupuk kimia dan benih hasil rekayasa genetik. Salah satu pendekatan korektif yang digulirkan oleh aktor pertanian modern 2.0 adalah pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture development) yang oleh NDP dimplementasikan dalam wujud pertanian organik (organic farming). Konsep ini diadopsi sesaat setelah pembangunan berkelanjutan diadaptasi dari konsep "our comman future" hasil konferensi PBB di Stockholm tahun 1987, kemudian diarusutamakan dalam KTT Bumi di Rio Jeneiro tahun 1992 yang menghasilkan "Agenda 21" dan dikuatkan dalam pertemuan PBB di Johannesburg tahun 2000 dan KTT Dunia tahun 2002 yang menghasilkan Millenium Development Goal's (MDGs). Tahun 2015, setelah berbagai riset menyimpulkan bahwa MDGs gagal total, maka PPB mengganti MDG's dengan konsep baru yang lebih menjanjikan, yakni sustainable development goal's (SDG's). Tahun 2015, SDGs resmi diarusutamakan dan diadopsi sebagai mode baru pembangunan global.

Sebagai produk turunan (atau varian) paradigma pembangunan berkelanjutan, pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) ditawarkan sebagai alternatif pertanian modern 2.0. Secara substantif, pertanian berkelanjutan yang diarus-utamakan di penghujung abad 20 menawarkan keberlanjutan secara sosial, ekonomi dan ekologi. Sebuah kreasi kapitalisme yang sepintas tampak menawarkan keramahan dan keberlanjutan, padahal isme sejatinya tetap pembangunan. Warna pembangunannya terlihat jelas dalam praktiknya. Selain masih tetap didominasi penggunaan input luar (external input) yang diproduksi industri, juga proses, praktik dan hasilnya menjadi lebih mahal, sehingga tidak terjangkau oleh kaum lemah (peasant). Input internal (benih, pupuk, pestisida) yang seharusnya terpenuhi secara mandiri dari implementasi pertanian terpadu (integrated farming), dalam praktiknya tetap dominan didatangkan dari luar. Mahalnya input internal terjadi budaya lokal, baik budaya beternak, bertanam tanaman bahan pestisida hayati dan teknologi lokal. Kecenderungannya, pertanian berkelanjutan diterapkan secara parsial, bias keberlanjutan ekologis dan abai terhadap keberlanjutan ekonomi, sosial dan politik. Implikasinya, alih fungsi lahan tidak terkendali, regenerasi tidak terjadi, urbanisasi tetap tinggi dan ketimpangan ekonomi semakin menjadi. Pertanian berkelanjutan dioperasikan, tetapi kebutuhan generasi sekarang tetap tidak tercukupi, impor semakin tinggi, kebutuhan generasi yang akan datang terlupakan dan lapangan kerja atau wirausaha pedesaan tetap tidak tercipta. Meskipun dipandang ramah lingkungan, namun karena masih kental dengan isme pembangunan, maka pembangunan pertanian berkelanjutan layak dilabel sebagai pertanian modern 3.0.

Sepintas ekonomi hijau yang diarus-utamakan imperialisme global (negara industri dan korporasi internasional) menawarkan banyak peluang bagi negara-negara sedang berkembang untuk menciptakan kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagian berkelanjutan, namun faktanya gelombang ekonomi hijau tidak bebas dari hegemoni skenario eksploitasi lingkungan dan kreasi kapitlisme (termasuk modus pengendalian mekanisme dan institusi hijau oleh TNCs). Pada ujung- ujungnya, ekonomi hijau menggunakan isu lingkungan sebagai senjata baru imperialisme global untuk melakukan penghisapan, pengendalian dan eksploitasi NDP. Sudah sejak awal Greer dan Bruno (1999) mengingatkan bahwa hijau (green) tidak steril dari kreasi- kreasi kapitalisme (creative capitalism), tidak steril dari manipulasi environmentalism atau komuflase hijau (green compuflage). Gunter Pauli (2010) menegaskan bahwa implementasi ekonomi hijau dengan konsep green products and services, ternyata tidak sesuai harapan. Hal ini terjadi karena produk keduanya harus dibeli dengan harga yang sangat mahal, sehingga tidak dapat dijangkau oleh masyarakat miskin. Karena diperlukan nilai investasi yang lebih besar, maka investor harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk berproduksi, dan tambahan biaya ini pada akhimya dibebankan kepada produsen skala kecil dan konsumen. Industrialisasi hijau juga menuntut bahan baku yang tinggi dan kontinyu, sehingga menyedot stok kebutuhan manusia dan memaksa perluasan areal produksi. Implikasinya, jatah orang miskin dirampas dan harga komoditas melambung, sehingga melemahkan akses kaum miskin.

Pertanian Modern 4.0

Pertanian modern 4.0 adalah pertanian modern masa depan yang digerakan oleh petani postgenomik. Pertanian yang segala sesuatunya berbasiskan teknologi super canggih (hyper technology). Pertanian yang serba instan, serba direkayasa (hyper biotechnology), serba digerakan oleh robot, serba terkontrol, serba kimia, serba buatan (artificial), serba media non tanah, serba vertikal (dalam gedung bertingkat), serba cyber, serba energi alternatif (bioenergi, solar energy, blue energy, green energy), serba kloning, serba nanobiology, serba komputer dan seba-serba lainnya. Pertanian yang ekstrim, yang lahir dari ketakutan (paranoia) manusia masa depan yang sebagian hidup di luar angkasa. Pertanian yang akan menerapkan dan menghalalkan segala cara. Meminjam istilah James Canton (2010), pertanian 4.0 adalah pertanian yang menggabungkan gen-gen dan sel-sel dari berbagai verietas dan ras unggul di seluruh dunia. Pertanian yang akan mencuri dan menginfiltrasi varietas-varietas di seluruh dunia. Pertanian yang mengintegrasikan dan mengkombinasikan gen-gen yang bersumber dari DNA virtual. Pertanian yang memproduksi virus, bakteri, jamur, ganggang dan tanaman yang dapat menjadi senjata biologi masa depan yang dapat dikontrol dari gen-gen yang terkontaminan. Pertanian yang menghasilkan produk yang daya tariknya ke konsumen dapat direkayasa dengan DEPs (Digitally Engineered Personalities). Sebuah pertanian yang mengintegrasikan biomolekular dan selular dengan bantuan nano teknologi dan biomimetik.

Pertanian di planet lain atau di luar angkasa (seperti di bulan, di mars, di jupiter dan lainnya), pertanian dan peternakan hyper abnormal dan hyper instan (memproduksi pangan dan daging tanpa bertani dan beternak, tetapi melalui rekayasa sel tanaman dan sel ternak). Model produksi pangan dan daging yang mirip dengan abnormalitas pertumbuhan sel kanker. Pengetahuan terlarang, menyimpang dan abnormal akan diaplikasikan dalam berbagai bidang pertanian. Pertanian yang ekstrim, yang perlahan akan mengadakan perlawanan kepada manusia, yang akan menjadi bumerang kepada manusia, yang akan memicu ketidak-seimbangan dalam berbagai ekosistem. Pertanian 4.0 pertanian yang dikembangkan di atas lautan, di gurun, di gedung-gedung, di bawah tanah dan di luar angkasa. Pertanian 4.0 merupakan pertanian yang sudah tidak lagi dipengaruhi oleh iklim, karena serba tertutup dan direkayasa (climate artificial). Pertanian yang kebutuhan haranya dipasok dari pupuk super nano (nanofertilizer) dan energi nano (nanoenergy).

Akhir Pertanian Modern

Perlahan namun pasti, teknologi-teknologi canggih yang bersifat massal dan global akan mengalami kehancuran, termasuk teknologi pertanian 2.0, 3.0 dan 4.0. Faktanya, produk yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika, pada akhimya akan kembali ke sifat fitrahnya (heredity). Alat mesin, terutama yang digerakan oleh energi buatan (bahan bakar fosil, bioenergi, listrik, solar cell dan lainnya) pada saatnya akan berakhir, akan menjadi tidak berfungsi, terutama ketika sumber energi tidak lagi menghasilkan (mati, berakhir). Suatu saat, teknologi canggih yang serba didatangkan dari luar (impor) tidak akan lagi berguna dan tidak akan lagi tersedia, terutama ketika kejutan terjadi, baik karena bencana, embargo, terhentinya rantai pasokan, tidak adanya fasilitas pendistribusian maupun peperangan. Pada akhirnya, semuanya akan kembali kepada karakter dasar orisinalitas, kepribadian, identitas dan fitrah alaminya yang sudah dari awal ditentukan oleh Alloh SWT.

Paradoks dengan industri besar, industri pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutanan skala mikro, kecil dan menengah dominan dikuasai anak negeri. Tetapi ironi, kondisinya semakin terhimpit di dua sisi, dalam dan luar negeri. Bahkan, kini terancam globalisasi, terutama impor produk dan investasi asing bidang usaha kecil. Implikasinya, alih-alih naik kelas menjadi industri besar, UMKM yang ada pun berguguran. Semua itu menegaskan cacat-cacat pertanian modern. Jika realitas sudah sedemikian jelas, lantas akankah kita bertahan dengan Pertanian Modern 2.0, 3.0 dan 4.0?

Semua itu menegaskan bahwa secara paradigmatis, pertanian modern 2.0, 3.0 dan 4.0 sudah lebih dari krisis, sehingga sulit direkonstruksi. Jika demikian, maka harus diganti dengan paradigma baru yang steril dari kreasi kapitalisme global, yang bervalidasi kebenaran ideal, yang sesuai dengan fitrah alam yang ditetapkan Tuhan, yang menghargai keunikan dan spesifik lokal. Paradigma yang adaptif dan antisipatif, yang menghendaki hadirnya pertanian yang berbeda dengan pertanian primitif dan tradisional, yang lebih dari sekedar modern (postmodern). Pertanian yang teratur, yang ketersediaan input produksi, produksi input, peningkatan nilai tambah output dan kelembagaannya dikreasi dan diinovasi dalam lingkungan internal (internalize). Pertanian yang proses produksinya bukan didasarkan atas lompatan permintaan pasar, tetapi didesain berdasarkan proyeksi konsumsi yang hemat dan pola konsumsi yang semakin ramah. Pertanian yang digerakan oleh petani-petani yang beretika dan konsumen-konsumen yang jauh dari konsumtif. Produsen dan konsumen yang memperhatikan kepentingan generasi yang akan datang. Pertanian postmodern adalah pertanian yang divalidasi kitab suci (Al-Qur'an), pertanian yang beradab, maslahat, adaptif, antisipatif, divergen, kreatif, halalan toyyiban, bersih dari isme pembangunan dan imperialisme lanjut, humanis dan membahagiakan, menghargai keunikan dan kearifan lokal, serta sesuai fitrah dan karakter spesifik lokal yang dianugerahkan Alloh SWT.

Seperti hidup yang bersifat linear (tidak kembali ke titik nol), pertanian juga berkembang liniear dari Pertanian Primitif yang karena Mengalami Krisis paradigmatis, Kemudian Dikoreksi dan berkembang Pertanian Tradisional; Pertanian Tradisional yang karena Mengalami Krisis paradigmatis, Kemudian dikoreksi dan Lahirlah Pertanian Modern (Postradisional), dan Pertanian Modern pun pada akhirnya Mengalami Krisis paradigmatis, maka Lahirlah pertanian Postmodern.

Pertanian postmodern adalah pertanian pasca modern, pertanian masa depan, pertanian harmoni (diversitas) dan pertanian berdaulat. Pertanian yang ramah dan arif secara sosial budaya, ekonomi, ekologi dan politik, baik dalam produksi usahatani, pengolahan (agroindustri) dan pemasaran. Pertanian yang memperhatikan sosiosistem, ekosistem dan geosistem. Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa diperlukan pertanian postmodern? Apa dasar dan harapan yang dapat kita peroleh dari pertanian postmodern? Indonesia ini sangat kaya dengan berbagai sumberdaya alam, flora dan fauna. Apa yang dibutuhkan oleh negara lain, serba ada di Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya bangsa dan pertanian Indonesia merdeka dan berdaulat, lepas dari kendali imperialisme. Sudah waktunya kita mandiri dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap inovasi dan investasi pertanian yang serba didatangkan dari luar (impor), yang serba diproduksi dan dikuasai korporasi asing. Sudah saatnya kita meninggalkan perangkap keseragaman pangan dan homogentias komoditas yang lama dijejalkan entitas global. Sudah saatnya kita sadar diri untuk melepaskan dan membebaskan bangsa dari kendali imperialisme.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

(QS Ar Ruum:41)

Sunday, January 7, 2024

#22HBB Vol.3 Day 1 and Day 2 Buku Pertanian Postmodern Karya Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M. Gunardi Judawinata

 


Di awal Januari ini saya kembali mengikuti Challenge 22 Hari Baca Buku #22HBB Volume 3, dan lebih spesial karena saya menjadi salah satu fasilitator setelah diajak oleh Teh Ayu. Seperti di Volume 2, saya juga ingin menshare insight dan rangkuman yang saya tulis di Blog ini setiap 2 hari sekali, dan kali ini saya akan membaca buku "Pertanian Postmodern: : Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara" karya Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M.Gunardi Judawinata. Selamat menyimak ya teman-teman!


Day 1 #22HBB Vol.3 (6 Januari 2024)

6 - 0 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Pertanian Postmodern: Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara -  Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M.Gunardi Judawinata – hlm. 1 - 14/362

Insight/rangkuman/catatan:

KATA PENGANTAR

..di zaman kolonisasi, pertanian padi dimanjakan agar produksi stabil dan kebutuhan pangan masyarakat jajahan terjamin, sehingga kenyamanan usaha perkebunan kolonial tidak terganggu; berbekal tesis Thomas Robert Malthus, kamuflase dan perangkap yang sama diterapkan dalam era modernisasi, melalui pembangunan dan industrialisasi pertanian yang dikemas apik dalam skema revolusi hijau (green revolution), pertanian padi kembali dimanjakan (bahkan di nasionalkan) dengan berbagai subsidi pupuk kimia, pestisida kimia, alat mesin pertanian modern, benih bersertifikasi, irigasi teknis dan kredit (hutang) berbunga rendah, arah utamanya agar kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi dan stabilitas politik Indonesia kondusif, dengan itu usaha korporasi agribisnis (terutama perkebunan sawit) dan industri manufaktur yang didominasi korporasi asing (dan aseng) tidak terganggu; singkatnya, dengan politik dualisme akan tercipta kondisi:

"petani nyaman bersubsistensi, korporasi aman mengeksploitasi"...

Modernisasi dan industrialisasi pertanian telah membawa kemajuan semu di Indonesia. Dikatakan demikian karena:
(1) telah menenggelamkan bangsa dalam kendali korporasi global dan komoditas pertanian impor, sehingga menciptakan ketergantungan yang akut dan berkelanjutan; (2) telah mengukuhkan negeri ini sebagai zona produksi usahatani (on-farm) neokolonial, sedangkan zona hulu dan hilir berada di genggaman negara maju dan korporasi global; (3) telah sukses menjauhkan budaya agraris dari generasi anak negeri, sehingga menyisakan pelaku pertanian yang tua (aging agriculture) dan penilaian rendah (under value)generasi muda terhadap pertanian (termasuk peternakan, perikanan, kehutanan dan perkebunan); (4) telah mematikan keberagaman komoditas spesifik unggul lokal, input internal dan kearifan lokal oleh "zombi-zombi dan mumi-mumi" komoditas-komoditas dan input-input yang didatangkan dari luar (impor); (5) telah menenggelamkan pengetahuan dan teknologi pertanian lokal (tacit knowledge) oleh metafor-metafor hegemoni teknologi dan inovasi pertanian modern; (6) telah menyingkirkan petani pribumi dan menyuburkan dominasi korporasi agribisnis asing dan aseng melalui investasi; (7) telah memudahkan korporasi asing dan elit-elit pemodal dalam menguasai sumberdaya lahan (land grabbing) dan privatisasi sumberdaya air di seluruh negeri; (8) telah mengerdilkan keberlimpahan sumberdaya alam dan melemahkan peradaban lokal (localism); dan (9) telah menanamkan isme-isme pembangunan dan kediktatoran kapitalisme-komunisme yang terdesentralisasi dalam ruang pemerintahan, birokrasi, realitas pasar, dan superioritas rasio di dunia pendidikan-penelitian. Penguasaan korporasi global atas lahan-lahan subur di negara dunia ketiga (NDK), termasuk di Indonesia, kembali masif sesaat setelah sukses memisahkan generasi petani dari pertanian dan menyisakan petani-petani yang usianya semakin tua (aging agriculture).

Tulisan sederhana ini cukuplah dijadikan pembangkit motivasi bagi generasi era bonus demografi, yang karena lahir dari "rahim kemodernan" yang dibuahi "imperium global" dan dibesarkan "nilai keduniaan dan ilusi kebenaran", penulis khawatir menjadi miskin dalam keberlimpahan. Padahal, sebagai bangsa yang dianugerahi keberlimpahan sumberdaya, generasi anak bangsa punya segala. Keragaman hayati lautan nomor satu dan keragaman hayati daratan nomor 2 di dunia. Apa yang lain tidak punya kita punya, apa yang lain miliki kita kelebihan. Hanya empat yang tidak dimiliki generasi anak negeri saat ini, yakni keyakinan diri, percaya diri, harga diri, dan identitas diri. Penduduknya nomor tiga di dunia, tetapi nasibnya bak zombi- zombi yang hanya punya raga, bagai robot-robot yang tidak berjiwa. Hilang kemanusiaannya karena dikendalikan hutang dan hegemoni neokolonisasi. Implikasinya, keberagaman sumberdaya direduksi dan diganti dengan keseragaman oleh korporasi. Kearifan dan pengetahuan lokal ditinggalkan, diganti dengan teknologi global Kini pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan yang tumbuh secara alami di atas keragaman hayati lautan dan daratan diasingkan dari generasi. Padahal tanpa pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan peradaban tidak akan berdiri. Jika para pendiri peradaban Eropa dan Amerika menjarah Asia, Afrika dan Amerika Selatan untuk membangun peradabannya, maka bangsa Nusantara hanya butuh kebenaran mutlak untuk merekonstruksi keyakinan diri, percaya diri, harga diri dan identitas diri.

Apapun, tulisan ini masih jauh dari sempurna, tetapi seperti pepatah Arab "ketika saya menulis, saya yakin". Kalaupun kalimatnya tidak mudah dicerna, minimal substansinya dapat dimengerti dan dipahami. Kalaupun ide utamanya baru sebatas wacana, minimal isinya dapat menjadi motivasi dan inspirasi. Meski arus utama (mainstream) pemikirannya tidak gampang dimapankan, minimal ditawarkan. Kalaupun tidak dimiliki, minimal diamati dan dipikirkan. Kalaupun belum musimnya untuk diimplementasikan, minimal gagasan dan harapannya sudah ditanamkan lebih awal. Kata orang bijak "cintanya datang padaku sebelum aku tahu artinya cinta".



Day 2 #22HBB Vol.3 (7 Januari 2024)

6 - 0 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Pertanian Postmodern: Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara -  Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska & M.Gunardi Judawinata – hlm. 15-48/362

Insight/rangkuman/catatan:

PERTANIAN DALAM IMPERIALISME POSTMODERN

EROSI BUDAYA AGRARIS
"komoditas yang dipaksakan dari luar dan teknologi pertanian modern yang didesakan ke pedesaan bukan hanya mengganti komoditas lokal dan teknologi pertanian tradisional, tetapi mereduksi budaya (culture) agraris secara regeneratif; perlahan namun pasti pertanian dinilai rendah, dilupakan dan ditinggalkan oleh generasi, sehingga tinggal petani-petani tua (aging); dengan demikian maka jelaslah bahwa modernisasi pertanian merupakan suatu metafor pembangunan yang diarus-utamakan neokolonial dan korporasi transnasional untuk mengendalikan keberlimpahan, menciptakan keseragaman, dan ketergantungan".

..."imperium global menempatkan Indonesia dalam puzzle imperialisme berkelanjutan. Oleh karena itu, calon generasi emas, generasi bonus demografi Indonesia harus disadarkan, dicerahkan dan dihijrahkan, baik pemikiran maupun perilakunya, agar steril dari kamuflase-kamuflase pembangunan, tidak terbawa arus kecacatan pemikiran modern yang semakin jauh meninggalkan kearifan, agar terlepas dari ketergantungan atas inovasi-inovasi global yang menjadi piranti kolonisasi, serta proaktif menjemput Iptek unggul untuk mengkreasi inovasi-inovasi lokal unggul global sehingga tidak taqlid terhadap isme dan episteme yang diwariskan "generasi korban pembangunan", agar percaya diri terhadap keunikan dan keberlimpahan yang dianugerahkan Illahi (fitrah tanah air), agar kelak tidak menyesali kekeliruan dan tidak berkata 'tidak ada yang mengingatkan', tidak ada yang menguatkan, tidak ada yang meluruskan, tidak ada yang menawarkan jalan baru yang bereferensi pada kebenaran ideal..

Imperialisme sengaja disajikan paling awal agar generasi bangsa yang akan menjadi pelaku utama era bonus demografi sadar bahwa "kita belum merdeka dalam banyak hal", agar mereka tidak terlelap dalam "zona nyaman" isme pembangunan neokolonial, agar mereka belajar bahwa "kita berada dalam puzzle penjajahan global", agar mereka berpikir bahwa "bangsa ini semakin jauh dari kemandirian", agar mereka cerdas menghadapi "benturan peradaban", agar mereka bangga dan berdaya "mengelola sumberdaya", dan agar mereka berinisiatif "menjemput dan menata kebangkitan peradaban Nusantara". Sudah lebih dari 400 tahun imperium Nusantara (Indonesia) tenggelam sejak dihantam ragam bencana, dijajah imperium Eropa, imperium Jepang, imperium Amerika Serikat, dan sekarang diintai imperium Cina modern. Sebuah kondisi yang mirip Arab di abad kegelapan (jahiliah), Eropa di abad pertengahan, dan Jepang sebelum restorasi Meiji. Masa kegelapan dipastikan pernah dialami seluruh imperium dunia, baik Mesir, Yunani, Romawi, Eropa, Arab, Amerika, Jepang, Cina, maupun India (Hindu). Mungkin karena peradaban di muka bumi diciptakan Yang Maha Kuasa senantiasa timbul tenggelam (dipergilirkan). Inilah hakikat kehidupan yang bersifat siklus (cyclic), tidak ada yang linear (QS. Ali Imran, 140). Ada masa kejayaan dan ada masa keruntuhan, ada masa cerah dan ada masa kegelapan, yang keduanya ada yang melatari dan mendahului. Setiap peradaban memberi warna dan pelajaran kepada generasi yang menjemput dan mempersiapkan lahirnya peradaban kemudian.

Imperialisme postmodern berupa "Imperialisme Global" yang didesain secara berkelanjutan (sustainable imperialism) sedang merongrong bangsa ini dan peradaban Islam (peradaban selanjutnya yang akan bangkit) yang sedang menuju puncak bonus demografi dan gold generations melalui (1) Imperialisme Spatial (Colonization), (2) Imperialisme Komoditi, (3) Imperialisme Idiologi, (4) Imperialisme Industri, (5) Imperialisme Inovasi, (6) Imperialisme Informasi dan Teknologi Informasi, (7) Imperialisme Pasar, (8) Imperialisme Standar, (9) Imperialisme Investasi, dan (10) Imperialisme Pendidikan. Dan "Pertanian" merupakan kunci utama untuk kita terbebas dari imperialisme global karena peradaban yang menguasai dunia diawali oleh penguasaan pertanian dan akan jatuh ketika peradaban tersebut meninggalkan pertanian. Dan pertanian postmodern merupakan jawaban agar kita terbebas dari imperialisme global.

Tuesday, December 26, 2023

2023's Reflection on A New Journey

 


 

2023's Reflection on A New Journey


I want to write a 2023 reflection in English to remember that I must use my English regularly and always improve it.

2023 is a special year for me because I start my new academic journey to a Master's Degree.  The story started in mid-2022 when I chatted via WhatsApp with Pak Iwan Setiawan, I got his phone number from the Study Program's Website. During that period, I asked about the curriculum of the Agricultural Economics Study Program and the chance thesis topic that I was interested in. Now, I get lectures from him and discuss them regularly. I am really grateful for that.

If I remember the process and the decision, I think it wasn't an easy option. But Alhamdulillah,  Allah SWT gives me the way.

I submitted the Master's Selection (SMUP) in March and I got the announcement on  Ramadhan 23, 1444 H, or April 14, 2023, on my Elder Brother's Birthday. It was a really special day for me.

I will tell you a bit about the process. For the administration, I took the Offline English Language Test (ELT) on January 25 at UNPAD Dipatiukur and the Tes Kemampuan Akademik (TKA) Online on 31 January, on my Mom's birthday. Alhamdulillah I could pass the tests on first-time taking. I continued to make a Statement of Purpose as an administrative document. I got the interview selection on April 11, 2023, and the announcement on April 14, 2023.

After I was officially passed the selection, I tried to fulfill the administrative document for the Jabar Future Leaders Scholarship (JFLS), like LoA (Letter of Acceptance). I asked to Directorate of Academic Affairs and Internationalization UNPAD via email for the LoA. Unfortunately, I was rejected from the scholarship. So for the first semester, I did self-funding with help from my Mom. I would like to find another scholarship for the other semesters. I hope I will get it. Aamiin..

I officially became a UNPAD student in August when I got a Student's ID Card and did Penerimaan Mahasiswa Baru in the Faculty of Agriculture. Then, I started learning in the first semester.

I was really grateful that I got new friends, colleagues, and lecturers who supported my learning journey at UNPAD.  I really enjoyed the facilities and environment in Pascasarjana Faperta UNPAD especially and UNPAD generally.

Now, I am waiting for the score of GPA in the first semester. I hope I can get good scores. Aamiin..

This new journey is an opportunity to develop myself, my skills, and my expertise, and deep dive into a new subject that I want to advance: Agricultural Economics, Development, and Policy.

I hope Allah SWT always blesses my way and gives me the best future ahead. Aamiin..

Sunday, December 24, 2023

Ulasan Buku "Unleash Your Other 90 %" karya Robert K. Cooper #2 Hal. 35-79

 


 

Kali saya akan mengulas buku "Unleash Your Other 90 %" karya Robert K. Cooper halaman 35-79. Terdapat empat landasan untuk merealisasikan 90 % potensi yang tersembunyi, yaitu (1) Kepercayaan, (2) Energi, (3) Visi, dan (4) Nyali. Kali ini akan dibahas sebagian dari bagian Kepercayaan yaitu "Jadilah yang Sejati", "Gunakan Otak Anda: Ketiga-tiganya", dan "Tak Seorang pun Harus Kalah agar Anda Menang." Selamat Menyimak!

 

LANDASAN PERTAMA: KEPERCAYAAN



1. Jadilah yang Sejati


Jika Semua Orang Melakukannya, Jangan Lakukan

Salah satu hukum tidak tertulis yang akhirnya saya yakini adalah, "Jika semua orang melakukannya, jangan lakukan." Bertahun-tahun sudah saya belajar bahwa saat menggunakan pendekatan ini, banyak individu di segala bidang pekerjaan dalam hidup ini akan mampu membangkitkan lebih banyak yang terbaik dalam diri mereka.

Apabila kita menyembunyikan orisinalitas kita, kesejatian kita, kita akan terputus dengan sumber vitalitas dan inisiatif kita. Pembelajaran dan pencapaian terbesar tidak berasal dari pekerjaan kelompok dengan standar tertentu, tetapi dari upaya-upaya unik individu. Dalam hal ini, jiwa manusia memiliki perangkat aturan sendiri. Dalam banyak hal, jiwa manusia bersifat memberontak. Perintah untuk menjalani hidup dengan berbeda, dengan cara kita sendiri, terus terbangun sampai mendobrak permukaan. Setelah itu, terserah kita untuk tidak membiarkannya berangsur- angsur hilang.


Saat Rosa Parks menolak melakukan apa yang dilakukan se mua orang pada suatu malam Desember 1955, sejarah Amerika pun berubah selamanya Saat itu, dia sedang dalam perjalanan pulang dalam bus, di penghujung hari kerja yang panjang. "Aku sedang duduk di kursi depan tempat penumpang kulit hitam,"  de,imikian dia bercerita, "dan orang-orang kulit putih duduk di kursi tempat penumpang kulit putih. Semakin banyak penumpang kulit putih yang naik, dan itu membuat kursi di bagian kulit putih menjadi penuh sesak. Apabila itu terjadi, kami orang-orang kulit hitam diharuskan menyerahkan kursi kami kepada orang-orang kulit putih. Tapi, aku tidak bergerak. Si sopir yang kulit putih itu berkata, 'Berikan kursinya.' "Aku tetap diam." Keberaniannya menolak menerima praktik tak berperikemanusiaan itu telah disambut sebagai momen yang menentukan dalam gerakan hak asasi manusia di Amerika.

Thomas Edison adalah satu contoh lainnya. Pada hari pertamanya bersekolah, Edison diantarkan pulang oleh guru taman kanak-kanaknya. Si guru berkata kepada orangtuanya, "Dia bodoh dan tak bisa diajari." Edison mengenang, "Nilaiku selalu terendah di kelas. Aku merasa guru-guruku tidak melihat potensi dalam diriku dan ayahku berpikir aku bodoh."


Nyaris tuli, dipecat dari tak terhitung banyaknya pekerjaan awal, Edison dengan sengaja maju ke arah yang berlawanan dengan cara berpikir konvensional. Hasilnya, dia memainkan peran utama dalam hal penemuan abad ke-20. Dia mewariskan kepada kita 6.000 penemuan yang mengubah dunia, tiga juta halaman catatan serta diagram, dan menerima pujian karena membangun kerja sama kelompok ilmiah.

Contoh lain lagi yang terdorong untuk melangkah berlawanan dengan apa yang dilakukan orang kebanyakan adalah "Lone Eagle", Charles Lindbergh. Kebanyakan kita mengenal dia sebagai pilot The Spirit of St. Louis, orang pertama yang terbang solo melintasi Lautan Atlantik. Tak banyak di antara kita yang tahu bahwa sebagai seorang peneliti di Rockefeller Institute, dia membuat takjub dunia kedokteran dengan menemukan mesin pemisah da rah serta hati dan paru-paru buatan. Alat-alat penyelamat hidup ini berkembang dari keinginan kuatnya untuk melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain. Saat tak ada orang lain yang mau menerbangkan persediaan serum radang paru-paru dari Wisconsin ke Quebec untuk menyela- matkan nyawa salah seorang kawan terdekatnya, dia sendiri yang melakukannya.


Satu Mekanisme Bagus Mengalahkan Seratus Rencana Bagus


Sebuah rencana merupakan maksud baik atau visi jauh ke depan. Rencana mungkin menginspirasi, tetapi sekadar rencana saja biasanya tidak terlalu berarti. Namun, segera setelah Anda memiliki pendirian yang jelas tentang apa yang Anda inginkan, barulah sebuah mekanisme benar-benar akan membuahkan hasil.

Misalnya, ada sebuah mekanisme sederhana yang mengatasi perlawanan alamiah kita terhadap perkembangan atau perubahan dan membantu kita menjadi yang terbaik. Yang dibutuhkan cuma mengajukan dua pertanyaan ini secara teratur: 

1. Apakah hal paling istimewa yang telah Anda lakukan minggu ini?
2. Apakah hal paling istimewa yang akan Anda lakukan minggu depan?

Anda bisa meminta setiap anggota sebuah kelompok untuk menjawab pertanyaan tersebut atau Anda bisa melakukannya sendiri-Anda bisa menjadwalkan "rapat mingguan" dengan diri Anda sendiri (setiap Jumat pagi di depan cermin kamar mandi, misalnya). Kata "istimewa" didefinisikan sesuai dengan keinginan Anda. Kata itu hanya bermakna, "Apa yang menonjol dalam diri Anda?" atau "Bagaimana Anda berhadapan dengan orang banyak?" atau "Apa perbedaan nyata yang Anda buat dengan orang-orang di sekitar Anda atau dunia luas?" Barangkali, minggu ini "istimewa" karena ada sesuatu yang besar. Atau mungkin sejenis kata atau tugas yang tak diperhatikan di rumah atau di kantor yang membuat Anda bangga. Kata "istimewa" adalah intensitas yang bernilai. Ambil waktu sejenak untuk memikirkan jawaban Anda: Apakah ini hal terbaik yang bisa Anda berikan? Adakah cara lain agar Anda bisa memberikan sesuatu yang lebih?

Saya belajar tentang esensi mekanisme ini dari Kakek Cooper. Sabtu pagi, saat saya sedang berkunjung atau melakukan pekerjaan sambilan di sekitar rumahnya, beliau akan bertanya, "Apa yang kamu lakukan minggu ini yang membuatmu menjadi orang paling bangga?" Kakek akan menyimak jawaban saya dan kami pun mengupasnya bersama-sama. Kadang-kadang, Kakek juga suka menceritakan kepada saya jawaban-jawaban yang beliau peroleh dari mengajukan pertanyaan yang sama kepada para imigran baru yang Kakek pekerjakan. Apa yang saya dengar ternyata sederhana, tetapi menginspirasi.

"Aku menabung satu dolar minggu ini untuk membelikan putri kecilku pakaian pertama," ujar seorang imigran. "Adik lelakiku menderita polio dan tidak bisa berjalan," kata yang lain. "Suatu malam, aku menggendongnya naik ke bukit di ujung jalan rumah kami dan kami menyaksikan bintang-bintang bermunculan." Seorang lelaki menyampaikan, "Aku dan istriku sengaja tidak ma kan, dan memberikan makanan kami kepada orangtua kami yang kekurangan. Waktu mereka bertanya apakah kami sudah makan, kami menjawab, 'Ya, tentu saja, makanan yang kami punya lebih dari cukup."

Begitulah contoh lain berlakunya mekanisme sederhana itu: Ia memberikan cara yang langsung dan tak terduga untuk memerhatikan dan menilai usaha-usaha yang tak terlihat tetapi penting bagi orang lain. Kebanyakan kita tidak menyadari berapa kali orang-orang mengulurkan tangan, berjalan lebih jauh, atau melakukan suatu tindak kebaikan atau inisiatif dalam satu minggu yang sibuk. Dari hari ke hari, kita masing-masing mampu melakukan tindakan inisiatif dan kepedulian yang kecil tetapi luar biasa. Apabila kita menjalani hidup dengan sekreatif ini, pada akhirnya kita juga menyadari bahwa perilaku positiflah yang tidak lain tidak bukan merupakan pemicu utama sikap positif.

Di akhir perbincangan mingguan kami, Kakek akan berkata, "Minggu depan, Robert, apa yang bisa kamu lakukan yang tak se orang pun menduga kamu akan melakukannya?" Beliau meng ajari saya sesuatu yang dipelajari seumur hidupnya: Meskipun kita boleh bermimpi tentang masa depan kita dengan bayangan-bayangan indah, kita harus menjalani hidup kita dengan tindakan-tindakan praktis sehari-hari, satu demi satu.

Selama menggunakan mekanisme ini, tak pernah sekali pun saya bertemu seseorang yang menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa dia tidak melakukan sesuatu yang istimewa minggu ini dan tidak akan melakukan hal istimewa minggu depan. Tentu saja, tak seorang pun ingin terlihat bingung atau tampak tak punya angan- angan, tetapi masalahnya lebih dari itu. Mekanisme ini merangsang perubahan sederhana tetapi signifikan pada cara kita memandang diri kita sendiri. Meka- nisme ini melancarkan maksud baik dan pengumuman. Ia mendorong cara yang lebih mendalam untuk menghargai saat- saat Anda dapat mencapai sesuatu yang istimewa.

Jika sekarang Anda bertanya kepada diri sendiri tentang hal istimewa apa yang telah Anda lakukan minggu lalu, Anda mungkin perlu berpikir sejenak. Apabila Anda menentukan jawaban kedua pertanyaan itu-apa yang Anda lakukan minggu lalu dan apa yang akan Anda lakukan minggu depan sebagai sebuah ba-gian integral dalam hidup Anda, ini dapat mengubah pendekatan Anda terhadap segalanya yang Anda lakukan. Ini akan terus-menerus meningkatkan pandangan Anda tentang kemampuan Anda.

Pada hari Selasa, Anda mungkin berpikir, "Tapi, aku belum melakukan sesuatu yang benar-benar istimewa minggu ini." Ini bisa mendorong respons batin, seperti, "Kalau begitu, lebih baik aku memikirkan sesuatu yang istimewa untuk dilakukan!" Ini menambah keinginan mencari tahu segala kemungkinan untuk mengambil tindakan-tindakan baru. Kemungkinan besar Anda akan semakin aktif mencari cara untuk memberi kepada dunia le- bih banyak yang terbaik dalam diri Anda, ketimbang cuma berharap diberi. 

Meskipun penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang secara rutin berpikir ke depan cenderung mengalami lebih ba- nyak peluang kepemimpinan dan peningkatan karier, mekanisme ini menyangkut sesuatu yang lebih dalam ketimbang lambang kesuksesan luar. Mekanisme ini tetap menolak naluri "jangan- berkembang-atau-berubah" dalam amigdala dan menjelaskan apa yang membuat Anda "orisinal" dan membedakan Anda dengan orang banyak. Mekanisme ini bertindak sebagai pengingat s hingga terserah pada kita untuk tetap menemukan cara-cara yang praktis dan yang tampak untuk meninggalkan kesan berarti pada dunia di sekitar kita dan pada kehidupan orang-orang yang paling kita pedulikan.

 

Jauh di dalam diri manusia terdapat potensi yang masih tidur itu; potensi yang akan membuat mereka terheran-heran karena mereka tak pernah ber- mimpi memilikinya; potensi yang akan merombak hidup mereka jika dibangkitkan dan ditindaklanjuti.

-ORISON MARDEN


2. Gunakan Otak Anda: Ketiga-tiganya


Neurosains Telah Memutarbalikkan Pengetahuan Konvensional

"Kecerdasan tersebar di seluruh tubuh"

Pandangan kuno tentang bagaimana "otak satu"-otak di kepala Anda-memengaruhi perilaku manusia dapat disimpulkan begini: Kapan pun Anda memiliki pengalaman langsung-seperti berinteraksi dengan seseorang atau menghadapi suatu tantangan, problem, atau kesempatan maka Anda melewati lima indra utama dan memasuki sistem saraf. Dalam model tradisional ini, tiap- tiap pengalaman langsung menuju otak dan Anda berpikir tentang pengalaman itu, meresponsnya dengan perilaku. Segalanya terjadi di kepala Anda.

Kenyataannya, sebagaimana akan kita lihat sebentar lagi, tidaklah seperti itu. Sebenarnya, apabila terlalu banyak aktivitas yang dikeluarkan untuk berpikir dan mengingat, energi otak yang tersisa tidak cukup untuk merasakan dan mengalami ruang lingkup dan kedalaman sesuatu yang sedang terjadi. Akibatnya, perbuatan yang mungkin kreatif dan praktis itu menjadi janggal dan menyimpang.

Ada saat-saat ketika mengandalkan otak-yang-berpikir tak hanya tidak berarti bagi perolehan dan ekspresi perhatian atau keahlian; sebenarnya ia sungguh-sungguh mengintervensi.

Setiap hari kita belajar lebih banyak tentang misteri kecerdasan manusia serta cara untuk tetap mengembangkan dan memperdalam potensi bawaan kita. Berikut ini beberapa pokok temuan hingga saat ini: Pertama, kita sekarang tahu bahwa kecerdasan tersebar di seluruh tubuh. Apabila sudah mengenai kecerdasan atau pengetahuan, kita tidak bisa memisahkan tubuh dari pikiran. Kapan saja Anda mendapatkan pengalaman langsung, pengalaman itu tidak langsung menuju otak untuk dipikirkan. Tempat pertama yang dituju adalah jaringan-jaringan saraf dalam sistem usus dan jantung.

 

"Penalaran tertinggi dan kecerdasan paling cemerlang melibatkan kerja sama otak kepala, otak perut, dan otak jantung."



3. Tak Seorang pun Harus Kalah agar Anda Menang


Saat saya sedang dalam masa pertumbuhan, lingkungan kecil di Ann Arbor, Michigan. Setiap malam pada musim panas, bundaran di ujung blok kami dikerumuni anak-anak. Salah satu permainan favorit kami adalah Merebut Bendera.

Sebanyak tiga puluh orang pemain akan berdesak-desakan di balik sebuah tembok batu atau pagar sementara seorang pemain keluar untuk menyembunyikan sebuah bendera merah, hanya mem- biarkan satu sudut kecilnya terlihat. Tempat persembunyiannya bisa salah satu dari seribu tempat di blok itu atau di bukit di belakangnya. Tujuannya adalah menjadi orang pertama yang menemu- kannya.

Dengan sebuah teriakan, permainan pun dimulai. Kami berlomba-lomba menuju tempat-tempat favorit kami. Kami saling menjegal. Kami membuat banyak keributan. Kami memberikan isyarat-isya- rat palsu sebagai gangguan. Pertama-tama kami menggeledah halaman dan lorong yang terdekat dengan titik awal, bersiaga penuh terhadap petunjuk dari anak-anak yang lain. Kami harap-harap cemas menanti siapa kira-kira yang lebih dekat dengan bendera itu, dan bagaimana kami bisa mencegah anak-anak lain menemukannya.

Sudah terpatri di benak kami bahwa mengerahkan segenap kekuatan untuk mengalahkan anak lain adalah cara terbaik bagi kami untuk menang. Namun, ada sedikit anak yang tidak berkompetisi dengan cara yang sama dan mereka adalah anak-anak yang hampir selalu menang. Mereka tak hanya menang, bahkan membuat kami terkagum-kagum.  

Scott dan Neil, dua tetangga saya, baru beranjak remaja saat saya duduk di bangku pertengahan sekolah dasar. Selepas kuliah, Scott terjun ke dunia bisnis dan menjadi seorang eksekutif. Neil bergabung dengan US Army's 101st Airborne Division dan tewas di Vietnam pada 1968.

Scott dan Neil mengajari saya bagaimana merebut bendera. Mereka menunjukkan kepada saya bahwa betapapun besar atau cepatnya Anda (berulang kali salah seorang dari mereka menga- lahkan pemain-pemain yang lebih besar dan cepat), atau betapa- pun tingginya Anda bisa melompat, atau duduk di kelas berapa pun Anda di sekolah, betapa banyaknya teman yang Anda miliki, atau betapa kencangnya Anda bisa berteriak-hal itu sering kali tidak penting.

Akan tetapi, merebut bendera adalah perkara mencapai ke dalam diri Anda sendiri dan mengikuti Permainan, mengasah ketajaman perasaan Anda sehingga Anda bisa memerhatikan -lebih cepat dan dari jarak yang sangat jauh-kelebatan warna merah dari ujung bendera yang diperlihatkan. Dengan melintasi kemacetan lalu lintas manusia di titik awal, cara ini memungkinkan untuk bekerja ke dalam lingkaran dari sudut-sudut luar lingkungan itu ketimbang sibuk ke sana kemari dalam garis-garis pencarian yang kacau dari tengah jalan. Melakukan hal itu sama dengan membuka sudut-sudut pandang terbaik dari pagar, bubu
ngan atap, dan bukit. Dengan cara itu, jejak-jejak kaki pada tempat-tempat yang jarang-dilalui di halaman rumput dan lembah menjadi lebih tampak. Bahkan waktu Anda berlari, Anda bisa melihat dari lebih banyak arah, memperpanjang kesadaran Anda melebihi orang lain yang tengah cekcok dan saling teriak.


Lebih sering daripada tidak, Scott dan Neil membuat kami semua takjub. Mereka menggunakan pola-pola pencarian yang tak terduga. Mereka meneliti semak-semak dengan ranting-ranting bengkok, pintu-pintu gerbang yang terbuka sedikit, bekas- bekas tumit di petak-petak tanah tempat tumbuhnya bunga, dan tanda-tanda lain yang ada. Mereka mencari ke atas dari jalan setapak di taman dan bergerak ke bawah dari ketinggian. Pernah suatu ketika, Scott memanjat sebuah terali beranda dan naik ke atap di sudut sebuah rumah. Dia menemukan bendera itu tertancap di sebuah pot bunga di ujung blok itu-sebuah tempat persembunyian yang hebat. Pengintaian itu menyita waktunya sekejap saja. Lalu, dengan tenang dia berjalan ke sisi yang berlawanan dengan jalan itu sebelum berlari melintas untuk mendapatkan kembali bendera tersebut. Sementara itu, saya dan anak-anak lain masih saling tabrakan di bundaran.

Neil pernah melompat dari sebuah pagar ke atap sebuah mobil, lalu memanjat kerangka penopang metal segitiga untuk antena televisi yang menjulang enam meter ke angkasa. Saat beberapa di antara kami berdiri tegang, terpaku melihat kenekatannya naik, dia menemukan ujung bendera itu di bagian belakang sebuah pipa beton di seberang jalan sementara para pencari lainnya sedang berlarian melewatinya, tidak melihat.

Ada hal lain yang menonjol. Apabila orang lain yang mene- mukan bendera itu, Scott dan Neil selalu menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat. Mereka menghadapi keriangan permainan itu dengan senyuman. Jika menang, mereka tidak menampakkan wajah senang dan puas, malahan tetap mencari cara untuk lebih kreatif dan lebih banyak bersenang-senang.

Mereka membuat semua orang di sekeliling mereka merasa lebih berharga dan gembira pula. Apabila kedua teman saya yang lebih tua itu bicara, mereka terdengar seperti para petualang de- ngan persaingan sehat karena mereka menjelaskan suatu cara ba- ru yang telah mereka temukan untuk mencari di mana bendera disembunyikan dan menemukannya lebih cepat daripada rekor yang pernah mereka capai. Jika gagal, mereka juga bisa tersenyum menghadapinya-dan mereka belajar lebih cepat daripada siapa pun. Bagi mereka, Merebut Bendera itu sendiri adalah laboratorium belajar yang asyik, bukan tujuan akhir. Mereka membuat permainan itu berarti. Meskipun saya tidak menyadarinya pada waktu itu, mereka mengajari saya untuk unggul, bukan bersaing.



Bebaskan Diri Anda dari Perangkap Perbandingan yang Terus-menerus


Permainan-dewasa dalam hidup menyediakan bagi kita banyak bendera untuk diburu. Banyak di antara bendera itu yang berwuj
ud simbol eksternal prestasi kita: promosi, gelar, bonus, pekerjaan baru, mobil baru, tonggak-bersejarah prestasi, atau liburan khusus. Yang lainnya mungkin mewakili tingkatan baru pertumbuhan internal yang kita incar: kepuasan hati, persahabatan, warisan di dunia, vitalitas. Hidup tanpa prestasi yang dicita-citakan -tanpa bendera untuk direbut- memang akan terasa suram.

Namun, jika bendera itu sendiri yang menjadi tujuan, dan jika kita beranggapan bahwa kita harus mengalahkan orang lain untuk mencapai tujuan, semua itu bisa menjadi bumerang bagi kita. Mungkin kita mendapatkan apa yang kita cari, tetapi di dalam hati, kita akan merasa hampa setiap kali kita, seperti yang diharapkan, berhasil mencegah orang lain untuk menang ketimbang berusaha unggul dengan cara kita sendiri. Dalam banyak keluarga, komunitas, dan organisasi, persaingan telah menjadi gangguan besar dan sumber konflik yang tidak produktif. Fokus-kuat untuk bersaing dapat menjadi salah satu rintangan utama untuk unggul dalam kehidupan atau pekerjaan.

Beginilah yang kita ketahui: zero-sum competition -yang dalam persaingan itu ada orang yang harus kalah agar yang lain menang- cenderung melemahkan yang terbaik dalam diri kebanyakan kita. Ini membuat kita waspada dan curiga terhadap orang lain, menyebabkan kita menahan dan mengubah informasi, menginspirasi kita untuk mengarikaturkan orang lain secara negatif, membuat kita tidak toleran terhadap ketidakpastian dan perubahan, dan begitu membatasi fokus kita sehingga kreativitas konstruktif hampir-hampir mati.

Persaingan menghalangi pembelajaran dan kreativitas karena orang-orang itu dalam kondisi berfokus pada persaingan semata atas tugas yang dihadapi, memberikan terlalu banyak perhatian pada apa yang dilakukan oleh para pesaing, membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain tetapi tidak dengan kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar, dan berusaha mengambil-hati juri kontes. Terlalu berpikiran kompetitif bahkan dapat mengganggu kinerja terbaik dan meningkatkan pelepasan hormon-hormon stres negatif. Dalam studi terhadap para atlet, mi- salnya, kata-kata kompetitif menyebabkan lebih dari dua kali lipat peningkatan hormon-hormon stres seperti norepinefrin. Sebagai hasil studi ini, para peneliti merekomendasikan agar manusia "membuang pikiran kompetitif selama berlatih. Kinerja akan meningkat apabila Anda melepaskan tekanan dari diri Anda." 

Itulah sebabnya -mengambil satu contoh saja- W. Edwards Deming, pionir kualitas yang wawasannya mengubah bisnis di seluruh dunia, dengan penuh semangat menentang evaluasi- evaluasi kinerja relatif. Dia memandang bahwa pemeringkatan komparatif—yaitu beberapa orang akan "menang" tetapi banyak orang lain harus "kalah"-akan memelihara persaingan yang tidak sehat, meruntuhkan motivasi, dan merangsang sikap mencela bagi orang lain terhadap orang-orang yang, mula-mula, unggul di bidang mereka. Dia berpendapat bahwa sistem ranking seperti itu mendorong para pemimpin melabeli para bawahannya sebagai pemain buruk sekalipun mereka melakukan pekerjaan berkualitas tinggi. Deming menemukan bahwa apabila orang-orang menerima evaluasi komparatif negatif, sekalipun tidak benar atau berdasarkan kecemburuan atau politik, ini membuat mereka "tidak enak, hancur, sakit hati, terpukul, sedih, remuk hati, patah hati, merasa kurang cerdas, bahkan ada yang depresi, tidak mampu memahami atau mengambil tindakan karena mereka lebih rendah."


Jangan Bersaing, tapi Unggullah


Individu-individu yang berprestasi tinggi membuat terobosan terjadi dalam setiap pekerjaan kehidupan atau bidang usaha dengan berfokus pada keunggulan, sementara orang lain hanya bersaing. Ya, orang-orang seistimewa itu mungkin secara individu tampak menonjol di antara orang banyak; tetapi pada saat bersamaan -seperti teman masa kecil saya Scott dan Neil-mereka juga senang berada di sekitar orang banyak karena mereka pun menghargai orang lain. Karena tak seorang pun harus kalah agar mereka merasa berharga, mereka berusaha keras untuk mengakui atribut-atribut khusus dalam diri orang lain dan mengedepankan sifat-sifat semacam itu.

Bersaing artinya berlari di arena yang sama, dengan cara yang sama seperti semua orang, terus-menerus membandingkan diri Anda dengan orang lain dan mengetahui bahwa, dalam persaingan zero-sum tradisional, orang lain harus kalah agar Anda menang. Tujuannya adalah melintasi garis finis pertama kali secara "wajar".

Unggul artinya mencapai melebihi yang terbaik yang pernah Anda berikan karena berbuat demikian penting bagi Anda secara pribadi, demi kepentingannya sendiri. Ini berarti memimpin arena Anda sendiri-sebagai individu, tim, atau organisasi. Unggul adalah mengetahui kekuatan dan keinginan terbesar Anda, serta menekankan kekuatan dan keinginan itu sambil dengan jujur mengakui dan menyiasati kelemahan Anda. Agar unggul, ditun- tut kemauan untuk memberikan perhatian istimewa dan, secara paradoks, mengetahui kapan dan bagaimana berpikir lebih sedikit agar bisa belajar dan mengalami lebih banyak. Untuk unggul, kita perlu mengantisipasi dan melampaui harapan dengan cara ber- ubah dan kreatif menggarap segi-segi penting kemampuan Anda-tidak sekaligus, tetapi waktu demi waktu, sering kali di tengah-tengah stres, ketidakpastian, perubahan mendadak, dan harapan tinggi.

Berikut ini beberapa strategi yang bisa membantu melejitkan yang terbaik dalam diri Anda dan yang terbaik dalam diri orang lain, tanpa menjebak Anda dalam pemikiran zero-sum:

  • Setiap kali Anda menjadi bersikap kompetitif, tenangkan diri Anda -dan berfokuslah pada menemukan cara baru untuk unggul


Setiap kali Anda menemukan diri Anda membidik tepat ke arah kelemahan orang lain (atau, lebih tepatnya, yang Anda anggap kelemahan mereka), atau merasa bahwa orang lain harus kalah agar Anda menang, tahan diri Anda. Stop. Ingatkan diri Anda tentang betapa dapat melemahkannya daya saing semacam itu. Jika ini membantu Anda memperoleh perspektif, pikirkan sesuatu yang lucu. Kembalilah pada arus apa pun yang paling menyenangkan atau menantang dalam hal yang Anda lakukan. Ganti persneling. Ubah sudut pandang Anda. Kejutkan diri Anda.

Daya saing kerap bermuara dari tidak ingin bersikap fleksibel atau mengubah diri Anda. Kegagalan orang lain bisa menampakkan seolah-olah Anda baik-baik saja atau maju, padahal sebenarnya Anda diam di tempat.

  • Setiap kali Anda menemukan bahwa Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain, ubahlah sudut pandang.


Bagaimana jika membandingkan diri Anda dengan yang terbaik dalam diri Anda? Jika tergoda untuk bersedia menerima apa yang biasa, bertanyalah, "Aku melakukan sebuah usaha di sini, tetapi dibandingkan dengan apa? Apakah aku mencapai lebih jauh ke dalam diriku untuk sesuatu yang baru atau berbeda yang mungkin? Apa yang kira-kira terjadi jika aku mengedepankan lebih banyak yang terbaik dalam diriku di sini?"

Memang, ada saat-saat ketika medali emas hanya diraih oleh pemenang. Akan tetapi, tidak dalam pertandingan kehidupan, yang pemenangnya adalah orang-orang yang unggul yang bu- kan dibandingkan dengan orang lain, melainkan dengan diri mereka sendiri. Dalam keunggulan, Anda menghemat waktu dan energi yang akan dihabiskan untuk membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain dan melawan orang lain; dan Anda memanfaatkan waktu serta energi itu untuk menjadi yang terbaik bagi diri Anda. Pada peluang orang lain dengan memungkinkan saat bersamaan, Anda memaksimalkan me
reka membangun kesuksesan mereka di sekitar kesuksesan Anda. Begitulah cara menyingkap sumber-sumber di bawah permukaan air dan bagaimana seorang individu tumbuh dewasa. Begitu juga cara kolaborasi mengepakkan sayapnya.

 

Unggul adalah mengetahui kekuatan dan keinginan terbesar Anda, serta menekankan kekuatan dan keinginan itu sambil dengan jujur mengakui dan menyiasati kelemahan Anda.



Yang Terjadi Saat Anda Berfokus pada Keunggulan: Grace Hopper dan Lance Armstrong


Ketika Grace Hopper memasuki bidang komputer pada 1944, sebagaimana kemudian dia mengenang, "Anda bisa memasukkan semua orang yang pernah mendengar kata komputer ke dalam satu ruangan kecil." Serta-merta dia menyukai tantangan industri baru ini; kesenangan intelektual murni usaha itu merangsang dirinya untuk tetap melebarkan sayap imajinasinya. Pada 1952, dia menciptakan sebuah program master tipe baru yang memungkinkan komputer menghimpun program-program kerja dari banyak subrutinitas; penemuan itu kelak akan dikenal sebagai kompiler, satu bagian vital dalam semua komputer masa kini. Pada 1955, dia mengembangkan bahasa komputer yang akan menjelma menjadi COBOL, bahasa yang membuat dimungkinkannya perhitungan skala-besar. Dia mendapat penghargaan ka- rena begitu banyak terobosan yang dia buat sehingga dijuluki "Ibunya Komputer".


Seakan-akan itu saja belum cukup, dia juga muncul dalam barisan angkatan laut, menjadi salah satu laksamana wanita pertama di sana. Apabila ada orang yang mencoba menghambat ide baru Grace dengan kalimat yang sudah tidak asing, "Tapi, kita selalu melakukannya begitu," dia akan meresponsnya dengan moto pribadinya: "Kapal di pelabuhan memang aman, tapi bukan itu kegunaan kapal." Sebuah bendera tengkorak dan tulang bersilang berkibar di kantornya, plus jam dinding dengan jarum berputar ke belakang. Ini, kata dia, adalah untuk mengingatkan orang-orang agar mencapai keunggulan melalui fleksibilitas cara berpikir ketimbang terpaku pada kebiasaan saling berperang atau bertahan pada cara-cara lama. Saat mengajar di sebuah universitas, dia memberikan ujian akhir pada hari pertama kuliah sehingga mahasiswanya akan mengetahui untuk apa mereka belajar dan bisa mendapatkan kesenangan melebihi itu. Dia ingin mahasiswanya membalikkan kebiasaan, membuat kesalahan, membiasakan diri mereka dan orang lain mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan tak terduga, dan tetap menekan batas-batas. Yang terpenting, dia ingin mereka tetap menggebu-gebu melakukannya.

Kemauannya untuk berlayar ke wilayah-wilayah yang belum dipetakan dan memandang ke luar batas cakrawala menjadi le- gendaris. Pada awal 1954, dia memprediksi bahwa perangkat lunak akan segera menjadi lebih penting daripada komputer itu sendiri, dan bahwa komputer akhirnya akan berukuran sekotak sepatu dan merambah ke mana-mana. Lama setelah banyak orang lain pensiun, dia menyusun aplikasi-aplikasi komputer baru. Dia menjadi perwira militer nasional tertua yang tetap aktif bertugas. Dia menjadi konsultan yang tetap disegani di Digital Equipment Corporation sampai hari dia meninggal dalam tidurnya pada usia 85 tahun. Presiden Bush menganugerahkan National Medal of Technology. Dia adalah orang pertama yang meraih penghargaan itu. Kecintaan pribadi Grace Hopper pada komputer membuat dia unggul di bidang itu; komitmen menularnya untuk merangsang yang terbaik dalam diri orang lain mengantarkan wanita itu menjadi pejabat eselon atas di angkatan laut.

Beberapa orang, seperti Lance Armstrong, rupanya semula menang dengan bersaing, tetapi belakangan baru belajar apa makna sejati keunggulan. Armstrong berprestasi sebagai seorang pembalap sepeda, memenangi kejuaraan-kejuaraan perseorangan, tetapi dia tidak pernah dapat menaklukkan tantangan bersepeda paling bergengsi, Tour de France. Tour de France tak hanya membutuhkan inisiatif individu, tetapi juga kerja tim, dan Armstrong sudah lama terlalu kompetitif menjadi anggota tim yang sukses. Saat memenangi Kejuaraan Dunia Perseorangan, dia berteriak sambil melancarkan serangannya, mengejek pembalap-pembalap lain, dan sok aksi melintasi garis finis.  lain,  Dia terus-menerus membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, sering marah, bertekad mengalahkan mereka semua, dan memastikan mereka tahu itu.

Kemudian, dia mengidap kanker yang mengancam jiwa, dan dokter memberinya harapan tiga persen untuk tetap hidup. Saat berperang menghadapi penyakit itu, dia menyadari betapa tidak memuaskannya semua kemenangannya selama ini yang berpusat pada diri sendiri itu. Dia bersumpah bahwa, apabila diberi kesempatan lagi, dia akan berubah.

Sebuah keajaiban medis, dia tetap hidup untuk bersepeda lagi suatu hari, dan untuk mempertahankan komitmennya untuk unggul sebagai sebuah pribadi dan sebagai seorang atlet. Dia jatuh cinta dan menikah. Dia dan istrinya, Kristin, mendapat anugerah anak pertama. Dia menatap dunia dengan mata baru. Apabila orang bertanya kepadanya hari ini, "Mengapa kanker mengubah Anda?" dia menjawab, "Mengapa tidak?" 

Saat dia mulai kembali ke arena balap sepeda lagi, tak satu pun kelompok pembalap mau mensponsorinya sampai tim US Postal Service mengambil kesempatan. Lalu, dia mencapai apa yang tidak pernah bisa dia lakukan sendiri. Tour de France disebut Race of Truth (Arena Sejati) karena tantangan-tantangan beratnya mengungkap begitu banyak karakter manusia. Bekerja sebagai seorang anggota tim, dia menang pada tahun pertamanya kembali ke sirkuit lomba. Kemudian, dia menang lagi.

"Aku ingin mati di usia seratus tahun," katanya, "dengan bendera Amerika di punggungku dan bintang Texas di helmku, setelah berteriak sepanjang lereng Alpen di atas sepeda dengan kecepatan 120 km per jam. Aku ingin melintasi satu garis finis terakhir sambil disambut tepuk tangan istriku dan sepuluh anakku, dan kemudian aku ingin berbaring di salah satu tanah berisi bunga-bunga matahari Prancis yang terkenal itu dan meninggal dengan anggun, sungguh berlawanan dengan kematian dini menyedihkan yang pernah diduga akan menimpa diriku."



Bebas dari orang lain dan bekerja sama dengan orang lain, tugas utamamu dalam kehidupan adalah melakukan yang paling bisa kaulakukan dan menjadi apa yang paling berpotensi dalam dirimu.

-ERICH FROMM

Ulasan Buku "Unleash Your Other 90 %" karya Robert K. Cooper #1 Hal. 1-34

 

Terinspirasi dari Gerakan 22 Hari Baca Buku (22 HBB), dimana saya sebagai pesertanya harus menulis review bacaan buku selama 22 hari, di masa liburan ini saya ingin mengulangi aktivitas yang sama yaitu mengulas sebuah buku, yang merupakan hadiah wisuda dari seorang kawan dekat semasa kuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB, yaitu Addo (Adna Daniel), yang belum sempat selesai saya baca sampai saat ini karena satu dan lain hal, dengan judul "Unleash Your Other 90 %" karya Robert K. Cooper, sebuah buku tentang kepemimpinan, self-help, dan self-development untuk membangkitkan potensi diri. Mungkin saya bisa mereview lebih cepat atau lebih lambat dari 22 hari, tapi yang ingin saya lakukan adalah membagikan isi buku ini kepada teman-teman, yang semoga akan bermanfaat untuk teman-teman. Dan mungkin bisa jadi pada saat mereview buku ini, saya  juga akan mereview buku  lain yang belum sempat saya selesaikan, jadi mungkin akan selang-seling ya. So, stay tuned! Berikut review saya dari halaman 1-34. Selamat Menyimak!


PENDAHULUAN: Tantangan Kakek

Robert memiliki ayah dengan kesibukan yang padat sehingga semasa kecil ia sangat dekat dengan Kakeknya. Karena Kakeknya sedang mengalami masalah jantung dan dokter-dokter berkata bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, Kakeknya ingin berpesan dan berbincang dengan Robert tentang sesuatu hal yang penting. Kakeknya menunjukan sebuah plakat pada Robert dengan tulisan "Berikan yang terbaik kepada dunia dan yang terbaik pula akan kembali kepadamu."

Meskipun saat itu adalah bulan Maret yang dingin, sinar matahari yang hangat memenuhi ruangan melalui jendela saat kami duduk bersama.

"Setelah kupikir-pikir," kata Kakek, sambil menunjuk ke bingkai perak dan memandang kalimat yang tertulis, "selama ini kurasa aku tahu apa makna kata-kata ini. Sederhana saja. Kau memberikan yang terbaik atau tidak. Pertama, kau pergi sekolah dan berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang baik...." Kakek menarik napas.

Kakek adalah anak pertama dari tujuh bersaudara yang me- namatkan SMU-nya. Kemudian, Kakek meneruskan ke perguruan tinggi dan pada pergantian milenium masa itu, meraih gelar masternya. 

"Lalu," Kakek melanjutkan, "begitu kau mendapat kerja, kau datang tepat waktu setiap hari dan bekerja keras. Ini berarti kau memberikan yang terbaik. Dengan demikian, hasil terbaik akan datang kembali kepadamu, dalam bentuk gaji dan kebanggaan."

Kakek memandangku dengan sungguh-sungguh seperti biasanya. "Selama hidup, aku telah melakukan hal yang salah," katanya.

"Apa maksud Kakek?"

"Di rumah sakit, aku memikirkan orang-orang sangat luar biasa yang kukenal. Mereka adalah orang-orang yang terus maju saat orang lain menyerah; orang-orang yang menemukan cara saat yang lainnya menganggap hal itu tidak bisa dikerjakan. Mereka tidak hanya menetap di satu pekerjaan atau bekerja keras. Mereka meraih sesuatu yang lebih dalam dan menemukan sesuatu yang lebih. Mereka membuat sebuah perbedaan yang lebih baik. Aku tak percaya mereka memahami kata-kata ini”—Kakek memegang bingkai itu sehingga kami berdua bisa melihat piagam tersebut -"seperti aku memahaminya selama ini.”

"Aku ingat orangtuaku dan orang dewasa lain di kampung halamanku berkata, 'Belajar dan bekerja keraslah, tapi jangan biarkan mimpimu semakin tinggi. Jika kau membiarkannya, kamu hanya akan kecewa.' 'Belajarlah menyesuaikan diri dan mengikuti arus,' kata mereka, 'itulah yang dilakukan para orang yang sukses.' Aku jadi sangat ahli dalam menyesuaikan diri dan mengikuti arus." Suara Kakek melemah.

"Robert, kau akan mendengar hal yang sama dari orang-orang kupertanyakan definisi terbaik yang sebelumnya kuyakini? Apa seandainya aku tidak menerima hal itu? Bagaimana jika setiap hari di sekitarmu. Maksud mereka baik, tapi itu salah. Bagaimana yang akan terjadi jika lebih kudengar nuraniku alih-alih kata orang-orang itu? Tentunya aku akan terus mencari semakin dalam dan memberikan pada dunia lebih dari yang terbaik selama ini tersembunyi dalam diriku."

"Dan jika aku melakukan hal itu," ujar Kakek, "hal yang lebih baik dari yang terbaik akan kembali kepadaku, dan kepada keluarga ini, dan kepadamu, Robert. Namun, itu tak terjadi," tambahnya, "karena aku tidak melakukannya."

"Nah, inilah tantanganku kepadamu, hidupkanlah kata-kata ini." Kakek menyerahkan bingkai itu kepada saya. Pigura itu tak dilapisi kaca; jari saya menelusuri kata-kata itu dan merasakan kertasnya yang rapuh. "Tapi, Kek," saya menyahut, bukannya ingin mengecewakan Kakek, melainkan tidak yakin bagaimana memenuhi permintaannya, “mungkin saat aku lebih dewasa ...."

"Usia tidak berhubungan dengan hal ini. Setiap hari kau bisa lebih mempelajari sesuatu tentang dirimu dan semua potensi yang tersembunyi dalam dirimu. Setiap hari kau bisa memilih menjadi dirimu yang lebih baik daripada sebelumnya. Kuminta kau mulai melakukannya sekarang juga."

"Tapi, bagaimana?"
 

"Dengan melihat ke dalam dirimu sendiri. Dengan menguji kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan mencari apa yang terpenting bagimu, Robert. Sedikit orang yang melakukan hal itu untuk kita semua. Malahan, kita menahan napas. Kita memalingkan muka. Kita hanya mengikuti atau terseret arus. Kita mempertahankan yang sudah ada. Kita berkata, 'Ini sudah cukup.' Kuharap, saat kau bangun suatu pagi kau tidak berkata, "Selama ini kujalani hidup yang salah dan kini sudah terlambat untuk memperbaikinya."

Pada usia semuda itu, saya bisa melihat penyebab kepedihan penyesalan Kakek, dan bahkan saya bisa mengenali bahwa pemberian Kakek adalah kejujuran kata-kata yang ingin Kakek sampaikan kepada saya.


"Robert, kita semua hampir tidak menggunakan potensi kita yang ada. Sekarang, tergantung pada dirimu untuk menjadi orang yang paling ingin tahu dan teruslah bertanya pada dirimu sendiri. Apakah yang terbaik pada diriku? Teruslah temukan jawaban hal itu, aku percaya bahwa hal yang jauh lebih baik daripada yang itu setiap hari untuk diberikan kepada dunia. Jika kau melakukan terbaik yang pernah kaubayangkan-dan dalam banyak cara lebih daripada sekadar uang akan kembali kepadamu."

Dan, begitulah. Di samping perjuangan dan kesalahan yang saya buat sepanjang hidup, saya mendapatkan bahwa ada banyak kesempatan bagi kita semua yang tak terbatas oleh pikiran dan kesan kita. Hal yang kakek saya sadari saat sudah terlambat, yang belum beliau lakukan, beliau tantangkan kepada saya untuk me- lakukannya. Melalui buku ini, saya teruskan kepada Anda tan- tangan yang sama.
 

 

90% Potensi yang Tersembunyi

Kecerdasan dan semangat manusia adalah kreasi terhebat yang kita kenal, tetapi sebagian besar dari kita menggunakan kepandaian atau kekuatan kita itu baru dalam persentase yang sangat kecil. Ibaratnya, pada waktu lahir kita masing-masing diberi sebuah pesawat jet. Pesawat tersebut bisa terbang-pesawat ini dibuat untuk terbang-tetapi kita tidak bisa melihatnya; kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita punya. Jadi, yang kita semua lakukan adalah mengelap sayapnya atau memanaskan mesinnya setiap pagi hanya untuk efek suaranya, lalu menutup pintu hangar seharian. Bagaimana Anda bisa membuat pesawat itu terbang adalah yang akan disampaikan oleh buku ini.

Begitu menerima tantangan Kakek, saya hanya sedikit menyadari bahwa hal itu akan membentuk tak hanya hidup pribadi saya, tetapi juga jalan profesional saya bertahun-tahun kemudian setelah kematian Kakek. Tantangannya telah mengalihkan saya ke kehidupan pembelajaran dan kepemimpinan secara independen dari perspektif yang berbeda, bagaikan orang awam mencari segala kemungkinan manusiawi yang tersembunyi. Hal ini mendorong saya untuk melakukan perjalanan jauh dan juga mengamati dunia lebih dekat di mana pun saya berada, mempertanyakan aneka pertanyaan yang tak biasa tentang bagaimana setiap hari orang-orang melakukan hal-hal istimewa: para penemu, orangtua, anak-anak, guru, pemimpin bisnis, pemikir, dan para pelaku kehidupan ini. Dari waktu ke waktu, saya menyaksikan mereka melakukan hal-hal yang tak mungkin, melawan semua keganjilan. Tindakan mereka, besar ataupun kecil, telah mengubah saya, merentang cara berpikir saya, dan lebih membangunkan hati dan semangat saya selamanya. Saya bukanlah orang yang sama seperti dahulu.
 

Kakek saya percaya pada pepatah, "Kita menggunakan hanya 10% potensi yang kita miliki selama kita hidup." Lalu, bagaimana dengan selebihnya, tanya Kakek. Itulah sebabnya Kakek memberikan kesempatan kepada saya untuk menemukan apa yang kami sebut "90% potensi yang tersembunyi atau potensi-raksasa yang tertidur". Kakek pun takjub saat mengetahui bahwa beberapa tahun sebelumnya, para bijak bestari mengubah pendapat: penelitian menunjukkan bahwa kita menggunakan bukannya sepersespuluh, melainkan seperseribu kemampuan kita!

Setiap kali Kakek mendapati saya dalam pencapaian sedikit di atas batas, perjuangan dengan kebiasaan, atau penghabisan banyak waktu atau usaha mencoba menghasilkan sedikit manfaat, beliau akan berkata, "Bagaimana dengan potensi-raksasa yang tertidur, Robert?" Inilah cara Kakek mendorong saya untuk mengubah cara pandang saya, melihat lebih dalam, dan berhasrat mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi.

Saya yakin bahwa terobosan yang paling menggairahkan pada abad ini akan datang tidak hanya dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari realisasi lebih dalam tentang makna bagi sebagian besar manusia dan kehidupan. Banyak pilihan yang secara dramatis bisa mengubah hidup kita adalah hal kecil dan mudah diraih, tetapi hanya sedikit orang yang bisa mengenali atau mengetahui bagaimana menerapkan hal itu.

William James, seorang perintis dalam filosofi dan psikologi mengatakan, "Semua kehidupan adalah sebuah massa pilihan kecil-praktis, emosional, dan intelektual-yang diorganisasi secara sistematis apakah pilihan-pilihan ini bisa diubah, dia menjawab, "Ya, sekali cara sistematis untuk kejayaan atau kegagalan kita." Saat ditanya setiap waktu. Namun, jangan lupa bahwa bukan hanya mimpi besar kita yang membentuk kenyataan .... "Pilihan kecil dengan sangat menarik menunjang kita atas takdir kita."

Selama berabad-abad, ada anggapan bahwa terdapat batas yang besar atas kemampuan manusia. Kini, tuan rumah penemuan ilmiah membuktikan hal itu salah, tetapi cara-pikir terbatas masih bertahan menutup kita dari berbagai kemungkinan hebat kita dan meninggalkan kita dengan perasaan yang dir stres, perubahan, dan ketidakpastian. Tak soal sekeras apa pun kita bekerja, tak masalah sebanyak apa pun kita memberi, kita masih belum mendapatkan apa yang kita harapkan.

Garis batas berikutnya bukan hanya di depan Anda, batas tersebut ada di dalam diri Anda. Anda memiliki potensi-raksasa yang tertidur dan takdir mengisyaratkan untuk bangun. Begitulah kita semua. Tak seorang pun bisa membangunkannya di tempat Anda.

 

Tak ada hasrat yang ditemukan berperan kecil -dalam memuaskan sebuah jiwa yang kurang daripada hasrat yang bisa membuatmu hidup.

-NELSON MANDELA