Thursday, March 2, 2023

"Mestinya Perencanaan Perdesaan dan Pertanian Didukung Aspek Hukum" - Hastu Prabatmodjo (Dosen Planologi ITB)

 

Ingin membagikan salah satu tulisan dari Buku "Alumni Berbagi Membuka Cakrawala Takdir: Curah Pikiran dan Asa Para Alumni Planologi ITB tentang Kuliah dan Masa Depan Planner" yang diterbitkan oleh Alumni Planologi ITB (API) pada tahun 2010 yang saya beli setelah mengikuti salah satu acara HMP Pangripta Loka dengan tajuk dan judul tulisan "Mestinya Perencanaan Perdesaan dan Pertanian Didukung Aspek Hukum" dari narasumber Hastu Prabatmodjo (Dosen Planologi ITB) yang saya kira masih relevan sampai saat ini. Topik ini sengaja saya tulis karena berkaitan dengan bidang pertanian yang menjadi interest dan bidang keahlian yang ingin saya tekuni kedepannya. Selamat menyimak!

Mulai tahun 1985 saya bergabung di Planologi dibimbing Pak Bambang Bintoro, Ibu Zohara dan Pak Uton. Dari ketiga orang itulah saya belajar. Sejak awal saya diplot di bidang pengembangan pertanian, perdesaan, dan kadang-kadang menyerempet pengembangan wilayah. Bagaimanapun pengembangan wilayah merupakan bingkai dari keduanya. Pertanian adalah subset sektoral, dan perdesaan adalah subset spasial dari wilayah.

Dari studio-studio wilayah, saya juga membimbing Kuliah Kerja Nyata. Sekarang tidak ada lagi. KKN adalah kesempatan mengenal secara dekat tentang perdesaan. Di sana, realita perdesaan tampak nyata bukan saja teori. Jadi, ada lubang pengetahuan dan pengalaman yang hilang pada mahasiswa sekarang. Tapi itu adalah tuntutan perkembangan zaman.

Perencanaan perdesaan dan pertanian masih merupakan kebutuhan di Indonesia. Faktanya bahwa penduduk Indonesia masih banyak di perdesaan. Tugas planologi, mengantarkan agar bagian wilayah bernama perdesaan bisa menjalani transformasi dengan harmonis. Transformasi perdesaan merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Itu bagian dari perubahan besar sistem spasial kita. Perencanaan perdesaan perlu menghindari pendekatan konservatif. Kita tidak melakukan sesuatu yang mengembalikan desa kembali seperti zaman nenek moyang. Tetapi bagaimana caranya agar desa bisa menjalani perubahannya dengan manfaat yang maksimal dan efek negatif yang minimal. Paradigma itu penting sekali sehingga kita tidak terjebak dalam romantisme suasana perdesaan yang aman dan damai.

Kedepan, wilayah perdesaan akan berkurang. Ciri-ciri perdesaan lama-lama akan hilang berubah menjadi lebih well-organized. Urbanisasi merupakan mekanisme permukaan yang menandai transformasi perdesaan. Tapi bukan berarti desa akan hilang. Fungsi perdesaan sebagai tempat produksi pangan, keseimbangan ekologi, rekreasi, dan cadangan air harus tetap dipertahankan. Kalau fungsi tersebut hilang justru berbahaya. Yang berkurang adalah ciri komunitas perdesaan saja. Perencanaan perdesaan dikatakan sukses jika berhasil mengurangi ciri-ciri fisik perdesaan tanpa mengubah fungsinya.

Komunitas perdesaan saat ini sudah berubah. Perangkat modernisasi seperti televisi, teknologi komunikasi, dan internet nyata-nyata sangat mempengaruhi masyarakat desa. Dan faktanya perubahan  yang terjadi di perdesaan di Indonesia menuju arah yang kurang baik. Karakteristik perubahan yang terjadi lebih spontan, unplanned, mengikuti tren pasar. Intinya tidak mengikuti pedoman tertentu. Perencanaan bagian dari panduan itu dan tidak dihiraukan. Kalau tidak mengikuti perencanaan, akhirnya yang berlaku adalah hukum efisiensi, produktivitas. Ada hukum perdesaan yang tak bisa diserahkan pada pasar. Jangan sampai terjadi perubahan fungsi perdesaan yang ekstrem dan degradasi lingkungan yang mengancam ekologi.

Mestinya perencanaan pertanian didukung oleh aspek hukum, jadi perlu ada asas pemaksaan untuk menjaga keseimbangan. Namun faktanya masyarakat kita belum mengerti tentang hukum. Masyarakat kita masih mabuk demokrasi dan kebebasan. Literatur tentang perencanaan untuk masyarakat demokrasi sudah banyak. Tapi, persoalannya yang berdemokrasi di Indonesia adalah masyarakat yang belum berpengetahuan. Pelaksanaannya masih transaksional. Akhirnya keputusan yang terjadi bukan yang terbaik. Tapi, memang demokrasi tidak menghasilkan wisdom. Demokrasi merupakan suara terbanyak. Kalau banyak yang setuju, jadi keputusan meskipun bukan yang terbaik.

Wujud perencanaan perdesaan di Indonesia berupa program ad hoc yang merespon kebutuhan tertentu. Sekarang ada, ganti presiden bisa hilang. Selain itu juga aktivitas pengembangan sektoral: pertanian, pekerjaan umum dan lain-lainnya. Selain itu juga pengembangan kawasan seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET), yang sebagian berbasis pengembangan perdesaan. Namun demikian, program-program tersebut tidak mengikuti perencanaan tertentu yang terpadu. Konsep yang dijalankan adalah bagaimana memperbaiki keterkaitan antara desa dan kota yang termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).

Bagaimana mengubah desa agar lebih maju, tidak ketinggalan dari kota? Kuncinya adalah agrobisnis. Bagaimana membangun pertanian yang sensitif dengan kebutuhan pasar. Produk pertanian harus memperhatikan kebutuhan pasar dan dikelola dengan manajemen bisnis modern. Namun demikian untuk bergerak ke arah sana perlu banyak usaha. Banyak petani yang belum mampu. Meskipun sekarang petani dipaksa untuk bertarung sendiri menghadapi pasar. Belum lagi tantangan perubahan iklim. Pertanian perlu mengikuti permintaan pasar yang lebih modern dan dinamis. Kalau pertanian kita tak bisa menjawab kebutuhan pasar, maka sudah pasti akan diisi oleh perusahaan asing. Misalkan, orang saat ini ingin makan kentang goreng rasa pizza. Padahal bahan dasarnya singkong, melimpah di Indonesia. Kalau pertanian kita tak bisa mengolah lebih modern sudah pasti akan diambil oleh perusahaan asing.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah, jangan sampai pemilik agrobisnis adalah pemilik modal besar, apalagi dari luar. Percuma saja, jika yang beragrobisnis adalah pemodal luar, keuntungannya sebagian besar lari ke mereka. Kalau bisa berasal dari petani itu sendiri melalui koperasi-koperasi dan kelompok tani. Sehingga petani sendiri yang akan menikmati hasilnya.

Kebijakan pemerintah saat ini masih menganut rezim neolib. Pertanian kita dibiarkan lepas berhadapan langsung dengan pasar. Sementara kondisi pertanian di Indonesia sangat beragam. Ada pertanian yang modern dan lebih banyak yang masih tradisional. Karena itu perlu ada diferensiasi kebijakan, tidak disamaratakan. Kalau semua berbasis pasar, maka petani tradisional akan tergilas. Karena pasar itu kejam, yang efisien yang menang dan yang tidak efisien akan kalah.

Kunci lain untuk menyelamatkan petani adalah organisasi petani. Kalau petani sendiri-sendiri akan menjadi makanan empuk bagi para pemilik modal. Jika berkelompok mereka akan lebih kuat bersama-sama menghadapi pihak luar. Petani biasanya terjebak pada kebutuhan mendesak dan pemilik modal punya uang banyak. Di situlah jeratan tengkulak mengancam. Namund demikian, mengorganisasikan petani adalah pekerjaan melawan arus modernisasi. Tren masyarakat modern justru individual. Karena itu, diperlukan pioneer yang bisa kuat menghadapi itu.

Potret lainnya adalah perbedaan karakter antara Jawa dan luar Jawa. Pertanian di Jawa pada umumnya sawah, sedangkan di luar Jawa banyak ladang dan perkebunan. Namun demikian, ada juga pertanian sawah di luar Jawa. Kalau perkebunan, tantangan yang dihadapi adalah kapitalis. Sejak dulu perkebunan dikuasai oleh pemilik modal bukan oleh masyarakat pertanian. Di sana yang ada bukan petani tapi buruh perkebunan.

Terkait dengan persoalan petani dan buruh perkebunan, penguasaan lahan yang jadi pangkal persoalan. Makanya ada gagasan Reforma Agraria (Land Reform) yaitu perubahan kepemilikan lahan. Supaya tidak ada seseorang atau korporasi yang menguasai lahan terlalu dominan. Tetapi ini sangat sulit dilakukan.

Investasi untuk Desa

Apa yang harus diinvestasikan pemerintah untuk mengkondisikan desa bisa menjalani transformasi dengan harmonis dan menjawab tantangan modernisasi yang arusnya kuat menghanyutkan? Investasi jangka panjang yang diperlukan adalah pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.

Pendidikan merupakan kunci utama. Masyarakat desa harus lebih berpendidikan. Jangan lagi ada kisah keluarga petani mengadu nasib ke luar negeri dan pulang dengan tubuh penuh siksaan. Masyarakat desa harus lebih terampil mendayagunakan potensi lokal agar mampu memanfaatkan arus modernisasi untuk kemajuan. Selama ini pendidikan Indonesia masih generik dan baru mengantarkan pada modernisasi. Kedepan, perlu ada perkawinan antara pendidikan yang berorientasi pada modernitas dan pendidikan untuk mendayagunakan potensi desa.

Perangkat modernisasi harus juga memberi keuntungan pada desa. Teknologi komunikasi dan internet merupakan salah satu modal yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas pasar bagi produk desa. Justru, orang tidak perlu datang ke kota untuk mendapatkan berbagai akses informasi dan berhubungan dengan dunia luar. Keduanya bisa membuka pintu dunia yang selama ini menciptakan kesenjangan. Karena itu, kesempatan mendapatkan pendidikan di desa harus sama dengan masyarakat kota.

Investasi kedua adalah kesehatan. Pelayanan kesehatan harus sampai pada tingkat keluarga. Adanya Posyandu dan PKK merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat desa. Jangan sampai kesehatan menjadi penyebab kemiskinan petani. Infrastruktur perdesaan juga penting untuk menjamin kebutuhan dasar; air, energi, jalan, dan sanitasi. Kebutuhan infrastruktur dasar di kota sama dengan desa.      
       

Buku "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe" karya Ir. Haryoto Kunto Tahun 1984


"Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen."

"Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Itulah sebabnya, baik untuk bermukim di sana!"

Baru saja membaca ulang Buku "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe" karya Ir. Haryoto Kunto, sarjana Planologi ITB, yang diterbitkan pada tahun 1984. Buku ini merupakan hadiah dari Pak Angga Dwiartama saat saya mengerjakan project penulisan dengan bellau.

Buku ini mengulas sejarah Kota Bandung yang tidak lepas dengan pesatnya perkebunan kopi, teh, dan kina di kawasan pegunungan yang mengelilingi Kota Bandung oleh para Orang Belanda di perkebunan Priangan yang lebih terkenal dengan sebutan "Preangerplanters". Para "Toean Tanah" ini melakukan Tanam Paksa atau Cultuurstelsel yang tentu menyebabkan penderitaan dan duka bagi rakyat pribumi Priangan tapi juga memberikan "hikmah" yang cukup berarti seperti:

(1) Rakyat Priangan menjadi kenal, terbiasa, dan menguasai teknik, tata cara dari sistem pertanian, bagi jenis tanaman perkebunan. Pada umumnya hasil perkebunan lebih banyak mendatangkan keuntungan ketimbang hasil pertanian tanaman pangan.

(2) Selama Tanam Paksa dijalankan, banyak dibangun jalan-jalan "Kontrak" (Onderneming) untuk memudahkan pengangkutan hasil perkebunan ke kota. Jalur jalan perkebunan inilah kemudian, yang banyak membantu membuka "isolasi" daerah pedalaman Jawa Barat.

(3) Untuk menjaga kesuburan tanah, sistem pengairan, dan irigasi mulai dilaksanakan dengan teratur dan lebih intensif. Tentu saja upaya itu tidak terlepas untuk melipatgandakan hasil perkebunan.

(4) Beberapa "Lembaga Penyelidikan" tanaman perkebunan (kopi, teh, kina) didirikan di Wilayah Priangan. 

Beberapa "berkah" dari pelaksanaan Tanam Paksa tersebut merupakan faktor pendorong bagi intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan di Jawa Barat, khususnya di Priangan.

Buku ini juga mengulas asal usul mengenai julukan Kota Bandung sebagai "Kota Kembang" dan "Parijs van Java" dan bagaimana "Vereeniging tot nut van Bandoeng em Omstreken" (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya), yang menunjukkan bahwa sejak zaman dulu pihak swasta dan keterlibatan masyarakat sangat berpengaruh pada kota.

Saya juga ingin menuliskan Bab 18 Buku ini yang menjadi refleksi penulis nya mengenai "Bandung Antara Harapan dan Kenyataan" pada era tahun 1984 yang saya kira masih relevan hingga saat ini. 

Selamat menyimak!

 

BAB XVIII  
BANDUNG ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN


Ada sebagian warga kota yang nyengir sinis dan agak alergis mendengar ungkapan Bandung "Parijs van Java".


Memang benar, kalau orang mengatakan, bahwa "Parijs van Java" adalah "cerita lama". "syahibul hikayat", "bagaikan langit dan bumi", beda kenyataannya dengan Kota Bandung sekarang.


Kejayaan Bandung "Parijs van Java" telah lama berlalu, sebab gelar sanjungan itu lahir di jaman (maaf!) "tai kotok dilebuan" kata orang Sunda atau "jaman sepur lempung" kata orang Jawa.


Jadi dalam pembangunan Kota Bandung, mustahil bisa dikembalikan lagi ke jaman lampau. "de goede oude tijd" itu. Apalagi kenyataan sekarang menunjukkan, bahwa Kota Bandung yang sering dilanda banjir pada musim hujan, tidak layak lagi disebut "Paris", tapi lebih sesuai disebut "Venezia", Venezia adalah sebuah kota di Italia yang penduduknya hidup di atas air.


Ada lagi "usul" yang "tidak lucu" konon sebutan "Paris" harus disesuaikan dengan lirik "aa" versi baru lagu "Hallo Hallo Bandung", yang bait akhirnya diubah menjadi "Sekarang telah menjadi lautan cai" (bukan lautan Api!), maka Bandungpun jadi "Parit" van Java, alias "Selokan" van Java masya Allah!


Biarlah - Sekarang telah menjadi lautan cai, asalkan - Mari Bung Bangun kembali! Ditata kembali - bangunan fisik kotanya, kehidupan masyarakatnya, alam-lingkungan sekitarnya, dan sistem komunikasi dan aktivitas penduduk kotanya.


Dalam kaitannya dengan "penataan kembali" Kota Bandung inilah, suatu "Program Konservasi Bangunan dan Lingkungan Kota" sangat diperlukan.


Apa yang dimaksud dengan "konservasi", bukanlah upaya "proservasi" yang ditujukan untuk menjaga mengawetkan dan mempertahankan bangunan-bangunan lama dan alam lingkungan kota, agar masih tetap utuh bentuk dan wujudnya sebagaimana mula terjadi.


Bilapun di Kota Bandung nanti, ada usaha untuk memugar kembali bangunan - monumen dan obyek bersejarah, hal itu bukanlah upaya untuk mengembalikan sebagai "Parijs van Java" -- bukan itu yang dimaksud.


Jadi apakah yang dimaksud dengan "konservasi" itu? Sementara pihak ada yang mengatakan bahwa "konservasi", ialah pemanfaatan yang arif akan sumber daya alam dan mencegah kerusakan dan kemunduran mutunya (Wildan Yatim -"PR", 7 April 1983).


Sedangkan arti "konservasi" dalam "Proses Perancangan Kota" yang selalu berubah terus menerus dan berkembang secara dinamis adalah upaya untuk menjaga keberlangsungan proses perubahan alami secara wajar.


Dengan begitu, apa yang harus dikonservasi dan dilestarikan adalah - "proses perubahan alamiahnya".


Pendapat ini tentu agak kontraversil dan sedikit melawan arus. Namun bila kita berpijak kepada kenyataan bahwa di alam semesta ini tidak ada satu benda atau makhluk pun yang akan tetap langgeng dan abadi, maka upaya untuk melestarikan "proses perubahan alamiah" merupakan satu-satunya alternatip yang bisa dilakukan oleh manusia.


Untuk lebih menjelaskan maksud dari menjaga kelangsungan proses perubahan alami secara wajar dalam "proses perancangan dan pembangunan kota", bisa diikuti uraiannya seperti di bawah ini.


Seorang "perancang kota" (City Planner) yang arif, akan selalu berpegang kepada motto - "The City is The People!" ("Kota adalah manusia-manusia penghuninya").


Dengan berpegang pada pendapat itu, maka seorang perancang kota akan mendasari dan memperhitungkan "faktor manusia" (warga kota yang dimaksud) dalam menentukan kebijakan perencanaannya. Jadi tidak hanya memperhitungkan "faktor teknis" semata-mata.
 

Sebagai contoh - "modernisasi" pasar bertingkat, setelah selesai dibangun, banyak kios (terutama tingkat atas) masih kosong dan tidak terpakai, karena pembeli segan menaiki tangga ke atas.


Pelebaran jalan sebagai alternatip untuk memecahkan kemacetan lalu lintas tidak akan berhasil, tanpa mengetahui lebih dulu pola perjalanan sehari-hari dari penduduk kota.


Sebagaimana telah diungkapkan di depan, pelebaran jalan telah banyak menelan korban bangunan lama yang antik dan bersejarah - sedangkan problem kemacetan lalu lintas masih tetap belum teratasi.


Jembatan penyeberangan sudah disediakan, mengapa orang tidak mau memanfaatkannya?
Larangan parkir di pinggir jalan, tanpa menyediakan lokasi parkir, mendorong orang untuk memarkir kendaraan di trotoar.


Rambu-rambu lalu lintas sering kali tidak diindahkan dan banyak dilanggar oelh para pemakai jalan. Apakah ini disebabkan kurangnya rasa disiplin dan tidak ada kesadaran mentaati peraturan lalu lintas di kalangan masyarakat? Atau mungkin karena sistem pengaturan lalu lintasnya yang kurang tepat?


Semua itu mungkin saja.


Yang jelas dari beberapa contoh dikemukakan tadi, terlihat adanya "perbedaan kepentingan" ("conflict of interest") antara warga kota (masyarakat) di satu pihak, dengan para "pengambil keputusan" di lain pihak - dalam hal ini adalah para administrator pengelola kota.


Atau bisa juga dikatakan - tidak terdapat "keselarasan" antara "perilaku", "naluri alami" dan "hajat kepentingan" masyarakat dengan "peraturan-peraturan" dan "fasilitas kota" yang telah dibuat atau disediakan oleh para pengelola kota.


Apa yang disebut "conflict of interest", merupakan problema yang akan selalu dihadap, dalam penentuan kebijakan yang berkaitan dengan "perancangan kota" (Marvin L. Manheim. 1979)


Bila kita mesti berpihak dalam "konflik kepentingan" kepentingan siapa yang harus didahulukan? - Berpaling kemabli kepada semboyan "The City is The People", maka kepentingan masyarakat atau manusianyalah yang harus dimenangkan.


Namun bila unsur manusia harus dimenangkan dan mengatasi segala "peraturan" yang ada, lalu bagaimana caranya menjaga ketertiban hidup di dalam kota? Ya, tentu saja harus dengan "aturan-aturan" juga! Tapi "aturan" yang bagaimana?


Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan "lalu lintas" dan "Pembinaan Kota" akan efektif dan mencapai sasaran, sejauh peraturan tadi "selaras" dengan "naluri alami" dan memenuhi "hajat kepentingan" masyarakat. Yang lebih penting lagi, "peraturan-peraturan" tersebut tidak bertentangan dengan hakikat konservasi - yang menjamin kelangsungan proses perubahan alami secara wajar.


Nah, dalam menjaga "kewajaran" dalam membangun Kota Bandung yang sama-sama kita cintai inilah, perlu disarankan kepada para pengelola Kota Bandung agar dapat memetik "kearifan' dari kekeliruan -kekeliruan pembangunan dan perancangan yang pernah dialami oleh kota-kota lainnya.


Pembangunan Kota Bandung tidak perlu "meniru" atau "berpola" kepada "pembangunan" kota lainnya. Sekedar ingin disebut Moderen dan tidak ketinggalan jaman. Karena setiap kota memiliki "karakter", "problem", dan "potensi" yang khas dan memerlukan penanganan khusus dab memadai dengan kota itu masing-masing.


Para pengelola kota, tentunya telah menguasai prinsip elementer "perancangan kota" yaitu mahir menyusun Skala Prioritas Pembangunan dan memilih alternatip yang paling tepat, sesuai dengan tingkat urgensi dan kebutuhan paling mendesak bagi warga kota. Sebagai contoh yang spesifik di Kota Bandung, mana yang harus lebih diutamakan: "membangun patung badak atau membenahi lebih dulu sungai-sungai dangkal agar banjir tidak meluap, sehingga dapatlah dihindarkan jatuhnya korban jiwa dan harta penduduk".


Rupanya sudah sampai pada gilirannya, bahwa Program Konservasi Gedung dan Monumen Bersejarah di Kota Bandung mendapat perhatian dan prioritas utama. Sebelum tangan manusia "progresip revolusioner" merombak - membongkar - memusnahkan "harta budaya kota" yang bersejarah dan tak ternilai harganya - hilang lenyap - ditelan roda pembangunan yang berputar cepat.


Tak apalah warga Kota Bandung sedikit bersikap "konservatip" dalam upaya mempertahankan sekelumit wajah Kota Bandung "tempo doeloe".


Warisan masa lalu apalagi, yang cukup berharga dimiliki oelh Kota Bandung? Gedung, monumen atau obyek bersejarah sisa "peradaban" masa lalu - yang patut "dilindungi" dan "diselamatkan" oelh warga kota sekalian.


"This is The City, and I am one of the Citizen!"(Inilah sebuah kota dan saya adalah salah seorang Warganya!") kata penyair Walt Whitman.


Ucapan itu mengandung makna, bahwa "nasib", hidup - mati sebuah kota ("City") tidak bisa dipisahkan dengan "kehidupan" warga kotanya (Citizens).


Oleh sebab itu, menjadi "hak" dan "kewajiban" setiap "Warga Kota", untuk merasa memilki dan melibatkan diri dalam penataan maupun pembangunan kotanya.


Bagaimana "brengsek" dan "semrawutnya" Kota Bandung, tidak ada pilihan lain bagi "Warga Kota" untuk tinggal bersamanya dan - tetap mencintainya!


Warga-Kotalah sebenarnya ayng paling berhak "mengukir" bentuk wajah kotanya bukan semata-mata memperturutkan "selera" para administrator pengelola kota yang memiliki otoritas.


Dengan demikian "baik-buruk" wajah sebuah kota, pada hakikatnya adalah juga "cermin kehidupan" dari Warga Kotanya.

 
Akan berdiam dirikah para pembaca, khususnya "warga kota" Bandung, bila mendengar kota pemukimannya disebut orang "brengsek" dan "semrawut"?             

Wednesday, March 1, 2023

"Mengapa Kita Suka Makan Nasi?"

 

Sebuah video yang sangat menarik dan insightful dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) tentang "Mengapa Kita Suka Makan Nasi?" 

Selamat menyimak!

 



MySkill Short Class: Social Media Strategy dan Intro to SQL

Saya baru saja mengikuti Short Class di MySkill yaitu Short Class Digital Marketing dan Short Class Data Analysis. Dalam pelaksanaan Short Class tersebut peserta diwajibkan untuk membuat dan mengerjakan Mini Task dan juga twibbon lalu menguploadnya ke sosial media.

 

Berikut ini adalah Mini Task Short Class Digital Marketing: Social Media Strategy di MySkill dan saya membahas mengenai Content Pillar Instagram dari Cap Panah Merah atau PT East West Seed Indonesia.

 

 Dan berikut adalah Certificate of Completion nya:

 

Dan berikut ini adalah Mini Task saya di Short Class Data Analysis: Intro to SQL, terdiri dari Course Summary dan Hasil Olah Data.

 

Dan berikut adalah Certificate of Completion nya:

 

Semoga bermanfaat :)

Tuesday, February 28, 2023

MySkill E-Learning: Social Media Marketing


Baru saja menyelesaikan course dengan topik Social Media Marketing di e-learning MySkill setelah sebelumnya menyelesaikan topik Marketing Management. Topik course ini menjadi ajang evaluasi dan tambahan pengetahuan dari jobdesk di pekerjaan saya sebelumnya. Ternyata Digital Marketing memang sedinamis itu sehingga kita dituntut untuk terus belajar dan update tools serta insight terbaru sehingga bisa tetap berkompetisi di persaingan yang sangat ketat di dunia digital, khususnya social media :)

MySkill E-Learning: Marketing Management

Baru saja menyelesaikan e-learning course topik Marketing Management di path learning Digital Marketing di MySkill oleh Ryan Dwana dengan judul course:

1. Marketing Introduction
2. Branding Introduction
3. Brand Positioning Introduction
4. Consumer and Audience Insight
5. Finding The Brand Benefit
6. Campaign and Media Planning
7. Assessing Marketing Materials
8. Build a Marketing Team


Materi di topik ini sangat padat juga lengkap dan menjadi ajang kristalisasi pengetahuan dan evaluasi dari pekerjaan saya sebelumnya yang juga berkaitan dengan bidang Marketing Management.

Presentasi di atas adalah salah satu materi dan case study pada course Campaign dan Media Planning yang saya rasa sangat bermanfaat dan relevan dengan pengalaman saya di pekerjaan sebelumnya, sehingga menjadi bekal untuk terus upgrade tools juga pengetahuan terkini dan juga menjadi evaluasi dari kesalahan-kesalahan saya di pekerjaan sebelumnya tersebut.

Saya akan mempelajari materi-materi lain di path learning Digital Marketing dan path learning lainnya sehingga bisa upskilling dan reskilling sehingga tetap relevan dengan update tools dan tren yang ada saat ini.

Bravo MySkill.id!

Saturday, February 25, 2023

Digital Marketing Mini Course RevoU

Beberapa waktu lalu saya baru saja menyelesaikan Digital Marketing Mini Course di RevoU dan ingin membagikan beberapa materi yang saya capture saat lecture. Semoga bermanfaat!

Monday, February 13, 2023

[Part IV-Habis] Kutipan Buku “Unlimited Power” karya Anthony Robbins @tonyrobbins

 

Lima Kunci Untuk Kekayaan dan Kebahagiaan.

Kunci pertama: Anda harus belajar bagaimana untuk mengatasi frustasi.

Kunci kedua: Anda harus belajar bagaimana menangani penolakan.

Kunci ketiga: Anda harus belajar untuk menangani tekanan keuangan.

Kunci keempat: Anda harus belajar mengenai bagaimana menangani kepuasan diri.

Kunci kelima dan terakhir: Selalu memberi lebih daripada apa yang Anda harapkan untuk Anda terima. "Rahasia hidup adalah memberi."

Sunday, February 12, 2023

[Part III] Kutipan Buku “Unlimited Power” karya Anthony Robbins @tonyrobbins

 

 

Hubungan yang selaras adalah alat utama untuk menciptakan hasil dengan orang lain. Ingat, kita telah mempelajari di bab sebelumnya bahwa orang merupakan sumberdaya terpenting Anda. Tidak peduli apa pun yang Anda inginkan dalam hidup Anda, jika Anda membangun hubungan keselarasan Anda dengan orang yang tepat, Anda akan mampu memenuhi kebutuhannya, dan mereka akan mampu memenuhi kebutuhan Anda.

Bagaimana untuk mendapatkan apa pun yang Anda inginkan: "Minta," ucap saya. "Bagian akhir pembelajaran."

Apakah saya bercanda? Tidak. Ketika saya mengatakan, "Minta," saya tidak memaksudkan dengan memelas atau mengemis atau komplain atau menyembah-nyembah. Saya tidak memaksudkan harapan mendapatkan sedekah atau makan siang gratis atau mendapatkan derma. Saya tidak memaksudkan agar Anda berharap seseorang melakukan pekerjaan Anda untuk Anda. Apa yang saya maksudkan adalah belajar untuk meminta dengan cerdas dan dengan akurat. Belajar untuk meminta dengan cara yang dapat membantu Anda mendefinisikan sekaligus mencapai hasil Anda. Sekarang Anda memerlukan beberapa peralatan lisan yang spesifik. Terdapat lima panduan untuk meminta dengan cerdas serta akurat.

1. Meminta dengan spesifik. Anda harus menjelaskan apa yang Anda inginkan, baik bagi diri Anda sendiri maupun untuk orang lain. Seberapa tinggi, seberapa jauh, seberapa banyak? Kapan, dimana, bagaimana, dengan siapa? Jika bisnis Anda memerlukan pinjaman, Anda akan mendapatkannya -jika Anda mengetahui bagaimana cara meminta. Anda tidak akan mendapatkannya jika Anda mengatakan, "Kami memerlukan lebih banyak uang untuk mengembangkan lini produk baru. Kami mohon pinjami kami uang." Anda perlu mendefinisikan dengan akurat apa yang Anda inginkan, mengapa Anda menginginkan itu, dan kapan Anda membutuhkannya. Anda perlu untuk menunjukkan apa yang dapat Anda hasilkan dengannya. Dalam seminar-seminar penetapan tujuan kami, orang-orang selalu mengatakan mereka menginginka lebih banyak uang. Saya memberikan seperempat dolar. Mereka meminta dan mereka menerimanya, namum mereka tidak meminta dengan cerdas, jadi mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

2. Meminta kepada seseorang yang dapat membantu Anda. Tidak cukup hanya dengan meminta secara spesifik, Anda harus meminta secara spesifik kepada seseorang yang memiliki sumberdaya -pengetahuan, modal, sensitivitas, atau pengalaman bisnis. Katakanlah Anda memliki permasalahan dengan pasangan Anda. Hubungan Anda memburuk. Anda dapat mencurahkan isi hati Anda. Anda dapat menjadi begitu spesifik dan jujur. Akan tetapi jika Anda mencari pertolongan dari seseorang yang memiliki hubungan yang menyedihkan sebagaimana hubungan Anda, akankah Anda berhasil? Tentu tidak.

3. Ciptakan nilai bagi orang tempat Anda meminta. Jangan hanya meminta dan mengharapkan seseorang memberikan sesuatu kepada Anda. Cari tahu bagaimana Anda dapat membantunya terlebih dahulu. Jika Anda memiliki gagasan bisnis dan memerlukan uang untuk mendorongnya, satu cara untuk melakukan adalah dengan menemukan seseorang yang bisa membantu sekaligus bisa mendapatkan keuntungan. Tunjukan kepadanya bagaimana ide Anda dapat menghasilkan uang bagi Anda dan juga baginya. Nilai yang Anda ciptakan tidak harus selalu bersifat kentara seperti itu. Nilai yang Anda ciptakan dapat hanya berupa perasaan atau sebuah mimpi, namun itu sering kali sudah cukup. Jika Anda datang kepada saya dan mengatakan bahwa Anda membutuhkan 10.000 dolar, saya mungkin akan mengatakan, "Demikian juga dengan banyak orang lainnya." Jika Anda mengatakan bahwa Anda memerlukan uang tersebut untuk membuat perbedaan bagi kehidupan orang lain, saya mungkin akan mulai mendengarkan. Jika Anda secara spesifik menunjukan kepada saya bagaimana Anda ingin menolong orang lain dan menciptakan nilai bagi mereka dan diri Anda sendiri, saya mungkin akan melihat bagaimana membantu Anda akan dapat menciptakan nilai juga bagi diri saya.

4. Memintalah dengan keyakinan yang fokus, kongruen. Cara yang paling pasti untuk memastikan kegagalan adalah menyampaikan dengan keraguan (dua perasaan yang bertentangan). Jika Anda tidak yakin mengenai apa yang Anda minta, bagaimana dengan orang lain? Jadi ketika Anda meminta, lakukan hal tersebut dengan keyakinan bulat. Ekspresikan hal tersebut dalam kata-kata dan gerak fisik Anda. Mampukanlah diri Anda untuk menunjukkan bahwa Anda yakin terhadap apa yang Anda inginkan, Anda yakin bahwa Anda akan sukses, dan Anda yakin bahwa Anda akan menciptakan nilai, bukan hanya bagi Anda namun juga bagi orang yang Anda meminta kepadanya.

5. Meminta hingga Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan. Itu tidak berarti meminta kepada orang yang sama. Itu tidak berarti meminta dengan cara yang persis sama. Ingat, Formula Sukses Utama mengatakan Anda  perlu menumbuhkan ketajaman indra untuk mengetahui bagaimana dan untuk mengetahui apa yang Anda peroleh, dan Anda harus memiliki fleksibilitas diri untuk berubah. Jadi ketika Anda meminta, Anda harus berubah dan menyesuaikan diri hingga Anda mendapat apa yang Anda inginkan. Ketika Anda mempelajari kehidupan orang-orang sukses, Anda akan mendapatkan bahwa mereka lagi dan lagi tetap meminta, tetap mencoba, tetap berubah -karena mereka tahu bahwa cepat atau lambat mereka akan menemukan seseorang yang dapat memuaskan kebutuhan mereka.

Selain meminta, kemampuan untuk mewujudkan hubungan keselarasan adalah salah satu kemampuan terpenting yang dapat dimiliki oleh seseorang. Untuk menjadi bintang pertunjukan atau tenaga penjual yang baik, menjadi orang tua atau teman baik, pendorong atau politisi yang baik, apa yang amat Anda butuhkan adalah hubungan keselarasan, kemampuan untuk membentuk ikatan kesamaan manusia yang kuat dan hubungan yang responsif.        

Saturday, February 11, 2023

[Part II] Kutipan Buku “Unlimited Power” karya Anthony Robbins @tonyrobbins

 

Jalan menuju kesuksesan terdiri atas mengetahui hasil Anda, bertindak, mengetahui hasil apa yang akan Anda dapatkan, dan memiliki keluwesan untuk berubah hingga Anda sukses. Hal yang sama juga berlaku pada keyakinan. Anda harus menemukan keyakinan yang mendukung hasil Anda -keyakinan yang akan membawa Anda ke tempat yang ingin dituju. Jika keyakinan Anda tidak dapat melakukannya, maka Anda harus membuang keyakinan itu dan mencoba keyakinan baru.

Keyakinan #1: Semuanya terjadi karena suatu alasan dan tujuan, dan itu bermanfaat bagi kita.

Keyakinan #2: Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil.

Keyakinan #3: Apa pun yang terjadi, bertanggungjawablah.

Keyakinan #4: Anda tidak perlu memahami segalanya agar bisa menggunakan segalanya.

Keyakinan #5: Manusia adalah sumberdaya terbesar Anda

Keyakinan #6: Bekerja itu sama dengan bermain.

Keyakinan #7: Tidak ada kesuksesan tanpa komitmen.

Pebalet besar dari Rusia yaitu Anna Pavlova pernah mengatakan, "Mengikuti sebuah tujuan tanpa berhenti, itulah rahasia dari kesuksesan." Itu hanya cara lain untuk menjelaskan Rumus Kesuksesan Besar kita --ketahuilah hasil Anda, contohlah apa yang berhasil, bertindaklah, kembangkan sensor tajam untuk mengetahui apa yang Anda raih, dan teruslah memperbaikinya hingga Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan.

[Part I] Kutipan Buku "Unlimited Power" karya Anthony Robbins @tonyrobbins



Membaca lagi buku "Unlimited Power" dari Tony Robbins yang saya beli di tahun 2014. Saya sudah membaca sampai bab 4 dan akan mencoba menampilkan kutipan-kutipan yang bermakna dan penting bagi saya. Selamat menyimak!

"Kehidupan orang-orang yang berhasil telah menunjukkan kepada kita berulang kali bahwa kualitas hidup kita bukan ditentukan oleh apa yang terjadi pada diri kita, tetapi oleh apa yang kita lakukan terhadap apa yang terjadi."

"Sekali lagi, memiliki pengetahuan tidaklah cukup. Tindakanlah yang menciptakan hasil."

"Semakin banyak saya membaca buku tentang NLP (Neuro-Linguistic-Programming), semakin besar keheranan saya saat mengetahui bahwa sedikit atau tidak ada buku yang membahas tentang proses mencontoh. Bagi saya, mencontoh adalah jalan menuju keberhasilan. Ini berarti jika melihat siapa pun di dunia ini menciptakan hasil yang saya inginkan, maka saya bisa menciptakan hasil yang sama jika saya bersedia menyediakan waktu dan usaha yang diperlukan. Jika Anda ingin meraih keberhasilan, maka yang harus Anda lakukan adalah mencari cara untuk mencontoh mereka yang telah berhasil. Seperti mengetahui tindakan apa yang mereka lakukan, khususnya bagaimana mereka menggunakan otak dan tubuh mereka untuk meciptakan hasil yang ingin Anda tiru. Jika Anda ingin menjadi teman yang lebih baik, orang yang lebih kaya, orangtua yang lebih baik, atlet yang lebih baik, pengusaha yang lebih berhasil maka yang harus Anda lakukan adalah mencari contoh orang yang berhasil. ...Namun, tujuan saya untuk Anda bukan hanya untuk mempelajari berbagai pola keberhasilan ini, tetapi juga lebih dari itu yaitu menciptakan contoh Anda sendiri."

"Keyakinan/Sikap -> Kemampuan -> Tindakan -> Hasil -> Keyakinan/Sikap"
 
"Keyakinan kitalah yang menentukan seberapa banyak kemampuan yang dapat kita gunakan. Keyakinan dapat membuka atau menutup aliran ide. Bayangkan situasi berikut ini. Seseorang mengatakan kepada Anda, "Tolong ambilkan garam," dan saat Anda memasuki ruangan sebelah Anda berkata, "Tetapi aku tidak tahu tempatnya." Setelah mencari selama beberapa menit, Anda berteriak, "Aku tidak bisa menemukan garamnya." Kemudian orang itu berjalan menghampiri Anda, lalu mengambil garam dari rak yang berada tepat di depan Anda, dan berkata, "Lihatlah, garamnya tepat didepanmu. Seandainya garam ini ular, ia pasti sudah menggigitmu." Saat Anda berkata, "Aku tidak bisa," Anda memberi otak Anda perintah untuk tidak melihat garam. Dalam psikologi, kami menyebutnya skotoma. Ingatlah bahwa setiap pengalaman manusia, apapun yang pernah Anda katakan, lihat, dengar, raba, cium, atau rasakan disimpan dalam otak Anda. Saat Anda mengatakan Anda tidak ingat, maka Anda benar. Saat Anda mengatakan Anda ingat, maka Anda memberi perintah pada susunan saraf Anda untuk membuka jalan menuju bagian otak Anda yang kemungkinan bisa memberikan jawaban yang Anda butuhkan."

"Mereka bisa karena mereka berpikir mereka bisa." -Virgil

Friday, December 30, 2022

2022's Recap Video


It's the end of 2022. Thanks for being such a progressive year :)

Sunday, December 25, 2022

2022's Notes: My English Videos of This Year

 I would like to share you some English Videos that I made this year. Enjoy!

 

 

The first video is about my plans in 5 years' time. This was a task from Rigel Class at Cetta English.


 

The second video is a presentation task in Rigel Class at Cetta English about past, present, and future of something, and I presented about the past, present, and future of communication devices.


 

The third video is a presentation task in Capella Class at Cetta English about my favorite movie. I presented about "Imperfect" Movie.


 

The last video is a task from Schoters's Study Abroad Mini Bootcamp about Scholarship Interview Simulation.

I hope you guys enjoy the videos. Happy watching :) 

2022's Notes: My English Skill Improvement in 2022

 



2022's Notes: My English Skill Improvement in 2022.

Maybe a few years before, I would find it difficult to write in English like this. My mind is freezing when I try to write, speak, and listen in English. So started from mid-2022 I decided to join English course to solve this problem. The willingness to take a course was appeared since I graduated from university in 2018 but I didn't have enough money to buy English Course in that time. So when I had it enough in mid-2022, I grabbed some English Courses, there are Fluency Academy @fluencytvenglish and Cetta English @cettaenglish

Fluency Academy is Brazil-based platform which has great English materials and teachers. I am so lucky can join and to be a part of Fluency Academy Family. To improve my active speaking skill, I tried to find another course and I found Cetta English, a Zoom Meeting English Speaking Course, and I think it's very suitable with my need which need to improve an active speaking skills.

I feel the progress after almost 6 months joined the courses, and another challenge is coming. After I learned English for daily need and conversation, I have no clue how to face a English Test like IELTS that I need for future purposes like scholarships and master's degree admissions. So I joined IELTS Academy in Schoters @schoters to take IELTS Preparation.

I think learning English is an investment for myself and I enjoy the process of learning. I hope I can continue the progress and get fluency in English :)

December 25, 2022

Sincerely,
An English Student

Saturday, July 2, 2022

Steve Jobs - STAY HUNGRY, STAY FOOLISH

  


Steve Jobs - STAY HUNGRY, STAY FOOLISH

Three stories that change many lives. The first story is about connecting the dots. The second is about love and loss. The third is about death. Enjoy!

Wednesday, June 22, 2022

Learning a Language? Speak It Like You’re Playing a Video Game

 

Learning a language? Speak it like you’re playing a video game | Marianna Pascal | TEDxPenangRoad 

A new perspective on how we should learn a language. It is very useful information for an intermediate English level like me. :)

Tuesday, June 21, 2022

Pentingnya Penilaian dan Evaluasi Keberhasilan Korporasi Petani











Seperti yang saya share dipost sebelumnya mengenai buku terbaru Prof Bustanul Arifin saya mengheadline mengenai "Korporatisasi Petani dalam Sistem Agribisnis" sebagai salah satu jalan keluar agar petani dan pertanian Indonesia dapat lebih maju dan mensejahterakan seluruh komponen bangsa. Dan di post ini saya ingin menyampaikan contoh dari penilaian yang simpel dan mudah dipahami mengenai parameter kesuksesan salah satu Program Pengembangan Korporasi Usahatani (PKU) Jagung di Lampung Selatan.

Metode analisis untuk melihat keberhasilan sistem agribisnis pada penelitian ini menggunakan indeks sistem agribisnis melalui kelima subsistem agribisnis, yaitu subsistem sarana produksi, usahatani, pengolahan, pemasaran, dan jasa layanan penunjang.

Indeks agribisnis subsistem penyediaan sarana produksi menggunakan 15 indikator. Indeks sistem agribisnis subsistem usahatani menggunakan 20 indikator. Indeks sistem agribisnis subsistem pengolahan menggunakan 6 indikator. Indeks sistem agribisnis subsistem pemasaran menggunakan 16 indikator. Indeks sistem agribisnis subsistem peranan jasa layanan penunjang menggunakan 11 indikator, yaitu lembaga keuangan (bank), lembaga penyuluhan, kebijakan pemerintah, kelompok tani, jalan, pasar, toko sarana produksi, gapoktan, koperasi, lembaga penelitian, dan transportasi.

Indikator-indikator tersebut secara detail dapat dilihat digambar.

Indeks sistem agribisnis jagung pada korporasi petani belum baik dengan total nilai sebesar 10,82 dari nilai maksimal yaitu 19,07 atau sebesar 56,73%. Indeks sistem agribisnis subsistem sarana produksi, subsistem usahatani, dan subsistem pengolahan sudah dalam kategori baik. Namun, indeks sistem agribisnis subsistem pemasaran dan subsistem jasa layanan penunjang belum baik.

Penilaian sistem agribisnis seperti ini sangat penting untuk dilakukan untuk mengetahui evaluasi, progres, dan solusi untuk berbagai masalah korporasi usahatani kedepan. Dan hasil dari evaluasi tersebut menjadi masukan dan pertimbangan bagi semua stakeholder untuk memajukan usaha pertanian, pembangunan pertanian, dan tentu perekonomian lokal, regional, dan nasional.


Semoga bermanfaat :)

#pertanian #korporasipetani #korporasi #usahatani   

Friday, June 17, 2022

Pertanian Bantalan Resesi: Resiliensi Sektor selama Pandemi Covid-19

 


Untuk mengupgrade dan menambah pengetahuan mengenai Ekonomi Pertanian, sesuai dengan saran Prof Bustanul Arifin  di Twitter, saya membeli ebook buku terbaru Prof. Bustanul Arifin dari Google Play Book yang berjudul "Pertanian Bantalan Resesi : Resiliensi Sektor selama Pandemi Covid-19" yang diterbitkan oleh INDEF dan PERHEPI

Yang paling menarik perhatian dan yang paling saya cermati dari buku ini adalah mengenai "Korporatisasi Petani dalam Sistem Agribisnis" dan Bisnis Hortikulura Berbasis Kemitraan dengan menggunakan "Inclusive Closed Loop System". Dua hal ini dapat mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih maju dan terus berkontribusi, baik selama resesi ataupun tidak. Buku ini pun menyajikan data makro pertanian dengan data yang valid dan terbaru yang bisa dijadikan rujukan untuk kepentingan akademik, perumusan kebijakan, maupun bisnis.

Untuk lebih mempertajam pengetahuan saya mengenai buku ini, saya juga menyimak cuplikan webinar bedah buku ini yang diselenggarakan oleh Majalah Agrina tahun lalu. Yang paling saya soroti adalah sambutan dari Prof. Bungaran Saragih yang menyampaikan bahwa pertanian kedepannya seharusnya tidak hanya menjadi "bantalan" resesi, tapi menjadi "andalan" di setiap waktu baik saat resesi ataupun tidak. Beliau pun memberi saran bahwa dalam transformasi struktural perekonomian yang dibahas di buku ini, tidak hanya dibahas berdasarkan sektoral saja, yaitu pertanian, industri, dan jasa, karena menurut beliau itu konsep dari tahun 50-an yang harus sudah diganti dengan konsep baru yaitu statistik klaster sistem agribisnis yang mencakup keseluruhan supply chain pertanian, sehingga tidak hanya di on-farm (hulu) nya saja, tapi juga meliputi agroindustri dan industri jasa pertanian. Karena menurut beliau sebagian besar industri di Indonesia merupakan agroindustri dan pengolahannya yang tidak terpisahkan dari pertanian. Bahkan beliau menyarankan PERHEPI yang merupakan kepanjangan dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia diganti menjadi Perhimpunan Sistem Agribisnis Indonesia agar lebih banyak profesi yang menyumbangkan pemikirannya untuk pertanian.

Semoga bisa belajar lebih banyak dari para Ekonom Pertanian Senior :)

Friday, May 20, 2022

"THE BLUE ECONOMY 3.0: THE MARRIAGE OF SCIENCE, INNOVATION AND ENTREPRENEURSHIP CREATES A NEW BUSINESS MODEL THAT TRANSFORMS SOCIETY"

 








Salah satu yang menjadi acuan dalam buku "Pertanian Postmodern" adalah "Blue Economy". Sesuai saran dari penulis saya mencoba mencari buku yang menjadi referensi dari Blue Economy yaitu "THE BLUE ECONOMY 3.0: THE MARRIAGE OF SCIENCE, INNOVATION AND ENTREPRENEURSHIP CREATES A NEW BUSINESS MODEL THAT TRANSFORMS SOCIETY" karya Gunter Pauli.

Yang saya headline dari buku ini adalah,

"Nature knows no waste, and everyone has a job."

"we can create a Blue Economy, by being inspired by Nature, by changing the rules of the game, first growing the local economy, in order to better respond to people’s needs through a much greater focus on the use of what is locally available."

"Guiding Principles of the Blue Economy (2017 Edition)
1. Be Continually Inspired by Nature
1.1. Develop non-linear logic
1.2. Optimise the system to the benefit of all
1.3. Build greater resilience through diversification
1.4. Look to physics first
1.5. Go beyond organic and biodegradable – renewable is the new goal

2. Change the Rules of the Game
2.1. Discover interconnected problems as the basis for opportunities
2.2. Shift from standardisation to diversification and abundance
2.3. Strengthen the Commons
2.4. Meet basic needs first
2.5. Replace something with nothing
2.6. Value everything and everyone
2.7. Hold out for health and happiness

3. Focus on What is Locally Available
3.1. Create portfolios of local opportunities
3.2. Design initiatives with multiple cash flows and benefits
3.3. Redirect the flow of money back into communities
3.4. Look for opportunities for the capitalisation of costs
3.5. Revive stranded assets and infrastructure
3.6. Let mathematics design your business plan
3.7. Always keep ethics at the core

4. See Change as the Only Constant"

"Nature’s MBA – Master of Brilliant Adaptations. Do not expect the earth to produce more; do more with what the earth produces."

Blue Economy ini menggantikan Green Economy dengan lebih menitikberatkan bisnis dan ekonomi dengan cara sebagaimana alam bekerja dan berfokus pada internalisasi yang bersifat lokal.

Sangat menarik untuk dipelajari dan diterapkan :)


Wednesday, May 18, 2022

PERTANIAN POSTMODERN: Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara

 

Buku "PERTANIAN POSTMODERN: Jalan Tengah-Vertikal Generasi Era Bonus Demografi Membangkitkan Peradaban Nusantara"


Oleh: Iwan Setiawan, Dika Supyandi, Siska Rasiska, M. Gunardi Judawinata

MENAMPAR, MENGGUGAH, MEMBANGUNKAN DAN MENYADARKAN DIRI GENERASI MILENIAL DAN GENERASI Z UNTUK MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045!

Itulah reaksi saya yang baru saja menyelesaikan membaca buku "Pertanian Postmodern" yang penulisnya merupakan pakar sosial ekonomi pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Menyadarkan saya bahwa imperialisme postmodern berupa "Imperialisme Global" yang didesain secara berkelanjutan (sustainable imperialism) sedang merongrong bangsa ini dan peradaban Islam (peradaban selanjutnya yang akan bangkit) yang sedang menuju puncak bonus demografi dan gold generations melalui (1) Imperialisme Spatial (Colonization), (2) Imperialisme Komoditi, (3) Imperialisme Idiologi, (4) Imperialisme Industri, (5) Imperialisme Inovasi, (6) Imperialisme Informasi dan Teknologi Informasi, (7) Imperialisme Pasar, (8) Imperialisme Standar, (9) Imperialisme Investasi, dan (10) Imperialisme Pendidikan. Dan "Pertanian" merupakan kunci utama untuk kita terbebas dari imperialisme global karena peradaban yang menguasai dunia diawali oleh penguasaan pertanian dan akan jatuh ketika peradaban tersebut meninggalkan pertanian. Dan pertanian postmodern merupakan jawaban agar kita terbebas dari imperialisme global. Pertanian postmodern yang memiliki ciri pertanian berkelanjutan, pertanian organik, pertanian terintegrasi (integrated farming), menerapkan blue economy, berbasis komunitas yang dikolaborasikan dengan korporasi bangsa, dan berlandaskan kebenaran mutlak yang berdasar Al-Quran dan As-Sunnah sehingga menghasilkan pertanian beradab dan maslahat.

Saya percaya INDONESIA AKAN DIGDAYA apabila generasi muda menerapkan prinsip-prinsip di buku ini. InsyaAllah. Ayo dibaca juga teman-teman bukunya :) #postmodern #pertanian #pertanianpostmodern

“Ekonomi Beras Kontemporer: Data Baru, Tantangan Baru” by Prof. Bustanul Arifin

 


 
Buku “Ekonomi Beras Kontemporer: Data Baru, Tantangan Baru” yang dikirimkan Prof. Bustanul Arifin @b_arifin merupakan hadiah doorprize dari webinar bedah buku bersama PERHEPI @perhepi dan Asosiasi Profesor Indonesia. Buku ini menambah wawasan dan landasan akademis bagaimana kita mengelola ekonomi perberasan, yang merupakan komoditas ekonomi biasa tetapi memiliki peran strategis dan pengaruh politis yang sangat signifikan di masyarakat. 
 
Hal yang menjadi headline adalah bagaimana statistik beras yang baru dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA) memberikan konsekuensi baru dalam kebijakan dan ekonomi perberasan, seperti koreksi dari overestimasi produksi beras yang selama ini terjadi dan penentuan provinsi yang surplus dan defisit beras yang akan mempengaruhi perdagangan beras antarpulau dan stabilisasi harga beras. 
 
Di headline juga bagaimana evolusi peran Bulog yang sekarang sudah menjadi BUMN berbentuk Perum diera Bantuan Pangan Nontunai yang menggantikan kebijakan Rastra dan Raskin sebelumnya. Di headline juga bagaimana kita harus menambah efisiensi biaya produksi beras di Indonesia karena lebih mahal 2–2,5 kali lipat dibanding Thailand dan Vietnam sehingga harga beras di dalam negeri lebih mahal daripada harga internasional. Dan efisiensi produksi ini harus ditingkatkan apabila Indonesia ingin menjadi lumbung pangan dunia karena harus meningkatkan daya saingnya dengan negara lain. 
 
Terakhir bagaimana Pertanian 4.0 harus berperan dalam ekonomi perberasan seperti munculnya agregator bisnis beras seperti e-commerce yang dapat langsung menyerap beras dari petani sehingga harga di tingkat petani dapat lebih tinggi tapi lebih rendah di sisi konsumen. Dan juga mendorong munculnya startup company atau bisnis rintisan yang memanfaatkan teknologi data dan informasi untuk menggaet generasi muda yang merupakan generasi digital yang erat dengan smartphone dan media sosial.