Sunday, December 24, 2023

Ulasan Buku "Unleash Your Other 90 %" karya Robert K. Cooper #1 Hal. 1-34

 

Terinspirasi dari Gerakan 22 Hari Baca Buku (22 HBB), dimana saya sebagai pesertanya harus menulis review bacaan buku selama 22 hari, di masa liburan ini saya ingin mengulangi aktivitas yang sama yaitu mengulas sebuah buku, yang merupakan hadiah wisuda dari seorang kawan dekat semasa kuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB, yaitu Addo (Adna Daniel), yang belum sempat selesai saya baca sampai saat ini karena satu dan lain hal, dengan judul "Unleash Your Other 90 %" karya Robert K. Cooper, sebuah buku tentang kepemimpinan, self-help, dan self-development untuk membangkitkan potensi diri. Mungkin saya bisa mereview lebih cepat atau lebih lambat dari 22 hari, tapi yang ingin saya lakukan adalah membagikan isi buku ini kepada teman-teman, yang semoga akan bermanfaat untuk teman-teman. Dan mungkin bisa jadi pada saat mereview buku ini, saya  juga akan mereview buku  lain yang belum sempat saya selesaikan, jadi mungkin akan selang-seling ya. So, stay tuned! Berikut review saya dari halaman 1-34. Selamat Menyimak!


PENDAHULUAN: Tantangan Kakek

Robert memiliki ayah dengan kesibukan yang padat sehingga semasa kecil ia sangat dekat dengan Kakeknya. Karena Kakeknya sedang mengalami masalah jantung dan dokter-dokter berkata bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, Kakeknya ingin berpesan dan berbincang dengan Robert tentang sesuatu hal yang penting. Kakeknya menunjukan sebuah plakat pada Robert dengan tulisan "Berikan yang terbaik kepada dunia dan yang terbaik pula akan kembali kepadamu."

Meskipun saat itu adalah bulan Maret yang dingin, sinar matahari yang hangat memenuhi ruangan melalui jendela saat kami duduk bersama.

"Setelah kupikir-pikir," kata Kakek, sambil menunjuk ke bingkai perak dan memandang kalimat yang tertulis, "selama ini kurasa aku tahu apa makna kata-kata ini. Sederhana saja. Kau memberikan yang terbaik atau tidak. Pertama, kau pergi sekolah dan berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang baik...." Kakek menarik napas.

Kakek adalah anak pertama dari tujuh bersaudara yang me- namatkan SMU-nya. Kemudian, Kakek meneruskan ke perguruan tinggi dan pada pergantian milenium masa itu, meraih gelar masternya. 

"Lalu," Kakek melanjutkan, "begitu kau mendapat kerja, kau datang tepat waktu setiap hari dan bekerja keras. Ini berarti kau memberikan yang terbaik. Dengan demikian, hasil terbaik akan datang kembali kepadamu, dalam bentuk gaji dan kebanggaan."

Kakek memandangku dengan sungguh-sungguh seperti biasanya. "Selama hidup, aku telah melakukan hal yang salah," katanya.

"Apa maksud Kakek?"

"Di rumah sakit, aku memikirkan orang-orang sangat luar biasa yang kukenal. Mereka adalah orang-orang yang terus maju saat orang lain menyerah; orang-orang yang menemukan cara saat yang lainnya menganggap hal itu tidak bisa dikerjakan. Mereka tidak hanya menetap di satu pekerjaan atau bekerja keras. Mereka meraih sesuatu yang lebih dalam dan menemukan sesuatu yang lebih. Mereka membuat sebuah perbedaan yang lebih baik. Aku tak percaya mereka memahami kata-kata ini”—Kakek memegang bingkai itu sehingga kami berdua bisa melihat piagam tersebut -"seperti aku memahaminya selama ini.”

"Aku ingat orangtuaku dan orang dewasa lain di kampung halamanku berkata, 'Belajar dan bekerja keraslah, tapi jangan biarkan mimpimu semakin tinggi. Jika kau membiarkannya, kamu hanya akan kecewa.' 'Belajarlah menyesuaikan diri dan mengikuti arus,' kata mereka, 'itulah yang dilakukan para orang yang sukses.' Aku jadi sangat ahli dalam menyesuaikan diri dan mengikuti arus." Suara Kakek melemah.

"Robert, kau akan mendengar hal yang sama dari orang-orang kupertanyakan definisi terbaik yang sebelumnya kuyakini? Apa seandainya aku tidak menerima hal itu? Bagaimana jika setiap hari di sekitarmu. Maksud mereka baik, tapi itu salah. Bagaimana yang akan terjadi jika lebih kudengar nuraniku alih-alih kata orang-orang itu? Tentunya aku akan terus mencari semakin dalam dan memberikan pada dunia lebih dari yang terbaik selama ini tersembunyi dalam diriku."

"Dan jika aku melakukan hal itu," ujar Kakek, "hal yang lebih baik dari yang terbaik akan kembali kepadaku, dan kepada keluarga ini, dan kepadamu, Robert. Namun, itu tak terjadi," tambahnya, "karena aku tidak melakukannya."

"Nah, inilah tantanganku kepadamu, hidupkanlah kata-kata ini." Kakek menyerahkan bingkai itu kepada saya. Pigura itu tak dilapisi kaca; jari saya menelusuri kata-kata itu dan merasakan kertasnya yang rapuh. "Tapi, Kek," saya menyahut, bukannya ingin mengecewakan Kakek, melainkan tidak yakin bagaimana memenuhi permintaannya, “mungkin saat aku lebih dewasa ...."

"Usia tidak berhubungan dengan hal ini. Setiap hari kau bisa lebih mempelajari sesuatu tentang dirimu dan semua potensi yang tersembunyi dalam dirimu. Setiap hari kau bisa memilih menjadi dirimu yang lebih baik daripada sebelumnya. Kuminta kau mulai melakukannya sekarang juga."

"Tapi, bagaimana?"
 

"Dengan melihat ke dalam dirimu sendiri. Dengan menguji kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan mencari apa yang terpenting bagimu, Robert. Sedikit orang yang melakukan hal itu untuk kita semua. Malahan, kita menahan napas. Kita memalingkan muka. Kita hanya mengikuti atau terseret arus. Kita mempertahankan yang sudah ada. Kita berkata, 'Ini sudah cukup.' Kuharap, saat kau bangun suatu pagi kau tidak berkata, "Selama ini kujalani hidup yang salah dan kini sudah terlambat untuk memperbaikinya."

Pada usia semuda itu, saya bisa melihat penyebab kepedihan penyesalan Kakek, dan bahkan saya bisa mengenali bahwa pemberian Kakek adalah kejujuran kata-kata yang ingin Kakek sampaikan kepada saya.


"Robert, kita semua hampir tidak menggunakan potensi kita yang ada. Sekarang, tergantung pada dirimu untuk menjadi orang yang paling ingin tahu dan teruslah bertanya pada dirimu sendiri. Apakah yang terbaik pada diriku? Teruslah temukan jawaban hal itu, aku percaya bahwa hal yang jauh lebih baik daripada yang itu setiap hari untuk diberikan kepada dunia. Jika kau melakukan terbaik yang pernah kaubayangkan-dan dalam banyak cara lebih daripada sekadar uang akan kembali kepadamu."

Dan, begitulah. Di samping perjuangan dan kesalahan yang saya buat sepanjang hidup, saya mendapatkan bahwa ada banyak kesempatan bagi kita semua yang tak terbatas oleh pikiran dan kesan kita. Hal yang kakek saya sadari saat sudah terlambat, yang belum beliau lakukan, beliau tantangkan kepada saya untuk me- lakukannya. Melalui buku ini, saya teruskan kepada Anda tan- tangan yang sama.
 

 

90% Potensi yang Tersembunyi

Kecerdasan dan semangat manusia adalah kreasi terhebat yang kita kenal, tetapi sebagian besar dari kita menggunakan kepandaian atau kekuatan kita itu baru dalam persentase yang sangat kecil. Ibaratnya, pada waktu lahir kita masing-masing diberi sebuah pesawat jet. Pesawat tersebut bisa terbang-pesawat ini dibuat untuk terbang-tetapi kita tidak bisa melihatnya; kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita punya. Jadi, yang kita semua lakukan adalah mengelap sayapnya atau memanaskan mesinnya setiap pagi hanya untuk efek suaranya, lalu menutup pintu hangar seharian. Bagaimana Anda bisa membuat pesawat itu terbang adalah yang akan disampaikan oleh buku ini.

Begitu menerima tantangan Kakek, saya hanya sedikit menyadari bahwa hal itu akan membentuk tak hanya hidup pribadi saya, tetapi juga jalan profesional saya bertahun-tahun kemudian setelah kematian Kakek. Tantangannya telah mengalihkan saya ke kehidupan pembelajaran dan kepemimpinan secara independen dari perspektif yang berbeda, bagaikan orang awam mencari segala kemungkinan manusiawi yang tersembunyi. Hal ini mendorong saya untuk melakukan perjalanan jauh dan juga mengamati dunia lebih dekat di mana pun saya berada, mempertanyakan aneka pertanyaan yang tak biasa tentang bagaimana setiap hari orang-orang melakukan hal-hal istimewa: para penemu, orangtua, anak-anak, guru, pemimpin bisnis, pemikir, dan para pelaku kehidupan ini. Dari waktu ke waktu, saya menyaksikan mereka melakukan hal-hal yang tak mungkin, melawan semua keganjilan. Tindakan mereka, besar ataupun kecil, telah mengubah saya, merentang cara berpikir saya, dan lebih membangunkan hati dan semangat saya selamanya. Saya bukanlah orang yang sama seperti dahulu.
 

Kakek saya percaya pada pepatah, "Kita menggunakan hanya 10% potensi yang kita miliki selama kita hidup." Lalu, bagaimana dengan selebihnya, tanya Kakek. Itulah sebabnya Kakek memberikan kesempatan kepada saya untuk menemukan apa yang kami sebut "90% potensi yang tersembunyi atau potensi-raksasa yang tertidur". Kakek pun takjub saat mengetahui bahwa beberapa tahun sebelumnya, para bijak bestari mengubah pendapat: penelitian menunjukkan bahwa kita menggunakan bukannya sepersespuluh, melainkan seperseribu kemampuan kita!

Setiap kali Kakek mendapati saya dalam pencapaian sedikit di atas batas, perjuangan dengan kebiasaan, atau penghabisan banyak waktu atau usaha mencoba menghasilkan sedikit manfaat, beliau akan berkata, "Bagaimana dengan potensi-raksasa yang tertidur, Robert?" Inilah cara Kakek mendorong saya untuk mengubah cara pandang saya, melihat lebih dalam, dan berhasrat mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi.

Saya yakin bahwa terobosan yang paling menggairahkan pada abad ini akan datang tidak hanya dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari realisasi lebih dalam tentang makna bagi sebagian besar manusia dan kehidupan. Banyak pilihan yang secara dramatis bisa mengubah hidup kita adalah hal kecil dan mudah diraih, tetapi hanya sedikit orang yang bisa mengenali atau mengetahui bagaimana menerapkan hal itu.

William James, seorang perintis dalam filosofi dan psikologi mengatakan, "Semua kehidupan adalah sebuah massa pilihan kecil-praktis, emosional, dan intelektual-yang diorganisasi secara sistematis apakah pilihan-pilihan ini bisa diubah, dia menjawab, "Ya, sekali cara sistematis untuk kejayaan atau kegagalan kita." Saat ditanya setiap waktu. Namun, jangan lupa bahwa bukan hanya mimpi besar kita yang membentuk kenyataan .... "Pilihan kecil dengan sangat menarik menunjang kita atas takdir kita."

Selama berabad-abad, ada anggapan bahwa terdapat batas yang besar atas kemampuan manusia. Kini, tuan rumah penemuan ilmiah membuktikan hal itu salah, tetapi cara-pikir terbatas masih bertahan menutup kita dari berbagai kemungkinan hebat kita dan meninggalkan kita dengan perasaan yang dir stres, perubahan, dan ketidakpastian. Tak soal sekeras apa pun kita bekerja, tak masalah sebanyak apa pun kita memberi, kita masih belum mendapatkan apa yang kita harapkan.

Garis batas berikutnya bukan hanya di depan Anda, batas tersebut ada di dalam diri Anda. Anda memiliki potensi-raksasa yang tertidur dan takdir mengisyaratkan untuk bangun. Begitulah kita semua. Tak seorang pun bisa membangunkannya di tempat Anda.

 

Tak ada hasrat yang ditemukan berperan kecil -dalam memuaskan sebuah jiwa yang kurang daripada hasrat yang bisa membuatmu hidup.

-NELSON MANDELA

Saturday, December 23, 2023

Buku "Petani adalah Seorang Wirausaha? Sebuah Ikhtiar untuk Memahami dan Mengembangkan Pola Pikir dan Aktivitas Wirausaha Petani Skala Kecil" karya Bapak Gema Wibawa Mukti (Dosen Faperta Unpad) dan Rani Andriani - Sebuah Jawaban Mendasar Atas Banyak Pertanyaan Anak Muda, Mahasiswa Pertanian, dan Petani Pemula Atas Status Petani Sebagai Wirausahawan

 

 

Saya ingin mengulas sebuah buku yang saya pinjam dari Perpustakaan Pusat UNPAD yang baru selesai saya baca yaitu berjudul "Petani adalah Seorang Wirausaha? Sebuah Ikhtiar untuk Memahami dan Mengembangkan Pola Pikir dan Aktivitas Wirausaha Petani Skala Kecil" karya Bapak Gema Wibawa Mukti yang merupakan dosen di Fakultas Pertanian UNPAD dan Rani Andriani Budi dari Penerbit Unpad Press.

Buku ini menjadi jawaban mendasar atas pertanyaan yang sering muncul dari Anak Muda, Mahasiswa, dan Petani Pemula, yaitu "APAKAH SEORANG PETANI MERUPAKAN SEORANG WIRAUSAHA / ENTREPRENEUR / PENGUSAHA?" Dengan bahasa yang ringan buku ini menjabarkan penjelasan atas jawabannya setahap demi setahap.

Menurut buku ini, Petani melakukan usahatani karena didorong berbagai alasan unik, yang mungkin berbeda dengan profesi lainnya. Beberapa alasan petani berusahatani diantaranya adalah:

1. Untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga (subsisten). Mereka biasanya tidak menjual hasil panen nya yang hanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari saja. Mereka baru menjual hasil panen nya jika mereka membutuhkan kebutuhan lain nya selain bahan pokok.

2. Sebagian besar diperuntukkan untuk konsumsi rumah tangga, namun mereka juga menjual surplus atau kelebihan panen nya di pasar (sebagian besar di konsumsi, sebagian kecil di jual di pasar).

3. Sebagian kecil diperuntukkan untuk konsumsi rumah tangga, sedangkan sebagian besar mereka jual surplus atau kelebihan panen nya di pasar (sebagian kecil di konsumsi, sebagian besar di jual di pasar).

4. Menjual semua hasil panen nya di pasar, tidak ada untuk konsumsi sendiri (komersial)

Petani pada fase pertama (subsisten) umumnya berjuang untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan dasar/pokok diri dan keluarga mereka. Pada tahap ini, petani tidak dapat disebut sebagai pengusaha, mereka tidak berpikir bagaimana mengembangkan usaha, namun mereka fokus pada pemenuhan kebutuhan hidup diri dan keluarga nya.

Petani pada fase kedua adalah petani yang memiliki peluang atau kesempatan yang lebih baik untuk lebih berkembang. Mereka tidak hanya bertahan hidup saja, namun mulai berusaha untuk melampaui hal tersebut. Petani pada fase ini mulai dapat mengatasi masalah risiko hidup mereka, akses mereka terhadap kebutuhan dasar. Petani pada fase ini dapat dikatakan sebagai petani "preentrepreneurial". Petani pada fase ini belum dapat disebut sebagai petani wirausaha, karena dalam berusahatani mereka belum memiliki orientasi pasar. Mereka mulai memahami penting nya pasar bagi kelangsungan usaha mereka, namun mereka belum menjadikan pasar sebagai fokus utama dalam usahatani mereka. Petani masih membutuhkan dukungan atau sokongan dari pihak lain agar usahatani mereka dapat lebih berkembang. Petani pada fase ini masih dianggap sebagai masyarakat miskin yang masih membutuhkan bantuan orang lain untuk hidup lebih baik, sehingga mereka belum dapat dikatakan sebagai pengusaha atau petani wirausaha. Petani belum melihat usahatani nya sebagai bisnis yang dapat memberikan keuntungan, sehingga mereka belum memiliki keinginan untuk melakukan investasi jangka panjang.

Petani pada fase ketiga adalah petani yang mulai memahami nilai ekonomi dari produk nya. Mereka mulai memahami penting nya pasar bagi usahatani yang diuasahakan nya, namun seringkali mereka menghadapi kendala dalam mengembangkan bisnis nya. Kendala yang dimaksud adalah keterbatasan akses petani terhadap keuangan, tenaga kerja, kelembagaan dan informasi pasar. Petani pada fase ini cenderung untuk memproduksi produk pertanian yang memiliki pasar yang jelas dan pasti, karena mereka tidak bisa mengambil risiko keluarganya tidak akan tercukupi kebutuhan dasar nya. Oleh karena itu petani akan selalu berusaha untuk mencari kepastian penghasilan yang lebih besar. Mereka juga tidak akan mengambil risiko untuk menanam tanaman jenis baru yang mungkin lebih potensial, karena melakukan usahatani terlalu berisiko bagi keluarga nya.

Petani pada fase keempat adalah petani yang sepenuhnya berorientasi pasar. Alasan utama mereka keuntungan dari usahatani nya tersebut. Pada fase ini, petani selalu mencari cara terbaik agar usahatani nya  dapat menghasilkan profit. Investasi jangka panjang menjadi prioritas petani pada fase ini, selalu berusaha untuk menanam produk yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasar. Pada fase ini petani dapat disebut sebagai petani wirausaha (Entrepreneurial Farmer), dimana mereka selalu mencari peluang pasar, berani mengambil risiko dalam usahatani yang mereka usahakan serta menerapkan manajemen dan teknologi dalam usahatani mereka agar tercapai efisiensi dalam usaha nya.

Sehingga dari alasan petani berusahatani dan fase bisnis petani di atas bisa disimpulkan bahwa "PETANI ADALAH SEORANG WIRAUSAHA" ketika mencapai fase ketiga dan keempat, sehingga karakter wirausaha yang selalu kreatif, inovatif, memunculkan sesuatu yang baru dan berbeda, dan punya resiliensi, ketangguhan, dan daya juang yang tinggi ada ketika petani bisa memasuki fase ketiga dan keempat dari proses siklus bisnis petani tersebut.

Karakteristik Kewirausahaan Petani yang disampaikan dibuku ini diantaranya: (1) Inisiatif, (2) Memiliki Ambisi Untuk Sukses, (3) Berorientasi Pada Hasil, (4) Kreatif dan Inovatif, (5) Berani Mengambil Resiko dalam Bisnis, (6) Fleksibel dan Adaptif terhadap Perubahan, (7) Berpikir Strategis, dan  (8) Selalu Menjaga Silaturahmi dan Networking.

Buku ini menjadi panduan, pencerahan, dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mendasar yang ada di benak anak muda, mahasiswa pertanian, dan petani pemula tentang aspek kewirausahaan di bidang pertanian dan bagaimana status wirausaha atau entrepreneur melekat pada seorang petani.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca teman-teman :)

Friday, December 22, 2023

#BukanKampanye. Pilihlah Presiden dan Wakil Presiden yang Concern dengan Petani, Pertanian Modern, serta Pertanian Berkelanjutan dan Resilien!

Sudah mulai panas debat capres dan cawapres ya kawan. Hehe Oiya teman-teman, pada bulan Oktober lalu saya diundang oleh Rumah Bersama Pelayan Rakyat (RBPR) Bandung atau tim Relawan Ganjar-Mahfud untuk berbincang mengenai pertanian, anak muda, dan dunia digital. Karena saya juga diminta untuk mengisi podcast, dalam rekaman podcast kami, saya dan Bang Roy, menghighlight dan memfokuskan pembicaraan mengenai "digitalisasi pertanian". Dan karena sekarang sudah memasuki waktu kampanye Pilpres, postingan saya ini tidak bermaksud untuk berkampanye atau menganjurkan teman-teman memilih calon tertentu, karena tentu teman-teman sudah punya preferensi dan pilihan sendiri. Tapi dari diskusi di podcast ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk memilih calon pemimpin yang pro terhadap petani, pro terhadap pengembangan pertanian modern yang salah satunya adalah melalui digitalisasi pertanian, serta pemimpin yang pro mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan yang resilien, tentu dengan melibatkan anak muda di dalamnya. Saya juga ingin membagikan slide presentasi saya pada saat diskusi dengan senior-senior di RBPR Bandung. Semoga materi dan video ini bisa mencerahkan teman-teman anak muda, khususnya lulusan pertanian, serta masyarakat juga pada umumnya. Saya berharap, semoga siapapun presiden dan wakil presiden yang terpilih akan mewujudkan kesejahteraan petani dan memajukan pertanian Indonesia. Aamiin..

Presentasi "Berkontribusi kepada Dunia Pertanian dengan Potensi Anak Muda di Dunia Digital"


 

Video "Pertanian Modern! Siapa Pemimpin yang Concern Digitalisasi Pertanian?"

 


Jangan lupa pilih pemimpin dengan hati nurani masing-masing ya :)

Selamat Hari Ibu - Sebuah Surat Cinta untuk Mamah

 

Foto ini adalah foto saat saya nonton bioskop berdua saja dengan Mamah. Foto ini semoga bisa menggambarkan betapa dekatnya saya dengan Mamah. Sebagai anak bungsu, saya adalah "anak mama" yang kentara. Bagi saya Mamah bukan hanya seorang Ibu yang merawat dan mendidik anaknya, tapi juga partner berdiskusi dan guru untuk banyak hal. Papap Ade, Ayah saya, meninggal sejak saya kelas 6 SD. Sejak itulah Mamah juga berperan sebagai Ayah bagi saya. Mamah Eli adalah sosok Ibu yang penyayang, memanjakan, dan penuh perhatian, tapi juga sekaligus menjadi Ayah yang tangguh, tegas, dan keras dalam mendidik. Tiada kata ataupun balasan yang bisa setimpal untuk segala jasa Mamah bagi saya. Hanya bakti dan seuntai doa agar Mamah selalu mendapat ridho dan kasih sayang Allah SWT yang bisa saya panjatkan..

Mah, mungkin Mamah tidak sempat membaca postingan ini, tapi semoga dengan postingan ini, Dzikra bisa mengungkapkan rasa cinta dan bangga memiliki Mamah yang luar biasa seperti Mamah Eli Yanuwati. Sehat terus ya Mah, agar kita bisa melalui berbagai perjalanan kehidupan ke depan bersama sampai Dzikra bisa membangun keluarga kecil Dzikra sendiri :)

Selamat Hari Ibu ya Mah.. Berkah dan Ridho Allah SWT selalu mengiri.. Aamiin..

 

 

Dengan penuh sayang, anak bungsumu,

Dzikra Yuhasyra

Tuesday, December 19, 2023

UAS POLITIK PERTANIAN DAN AGRARIA - TEORI DOUBLE SQUEEZE DAN MULTIPLE SQUEEZE DALAM KONTEKS PERTANIAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PETANI

Berikut materi presentasi UAS saya di mata kuliah Politik Pertanian dan Agraria tentang Teori Double Squeeze dan Multiple Squeeze dalam Konteks Pertanian serta dampaknya Terhadap Petani, yang diampu oleh Pak Dr. Trisna Insan Noor, Ir., DEA. Selamat menyimak!



  • Apa itu Teori Double Squeeze?

Teori Double Squeeze adalah sebuah konsep yang digunakan dalam bidang ekonomi dan hukum persaingan. Teori ini menggambarkan situasi di mana sebuah perusahaan menghadapi tekanan dari dua sisi yang berbeda secara bersamaan. Pertama, perusahaan tersebut menghadapi tekanan dari pemasoknya yang menaikkan harga bahan baku atau komponen yang dibutuhkan. Kedua, perusahaan juga menghadapi tekanan dari konsumennya yang menuntut harga yang lebih rendah untuk produk atau layanan yang ditawarkan.

Dalam situasi ini, perusahaan berada di antara dua tekanan yang saling bertentangan. Jika perusahaan menaikkan harga produknya untuk mengimbangi kenaikan harga bahan baku, konsumen mungkin akan beralih ke pesaing yang menawarkan harga lebih rendah. Namun, jika perusahaan menurunkan harga produknya untuk memenuhi tuntutan konsumen, maka laba perusahaan dapat tergerus karena biaya produksi yang meningkat.

Teori Double Squeeze ini sering kali menjadi perhatian dalam kasus-kasus persaingan di pasar yang terbatas atau terkonsentrasi. Pemerintah dan otoritas pengatur sering kali harus mempertimbangkan dampak dari teori ini dalam menentukan kebijakan persaingan yang adil dan melindungi kepentingan konsumen serta produsen.

  • Teori Double Squeeze dalam Konteks Pertanian

Dalam konteks pertanian, contoh teori Double Squeeze dapat terjadi ketika petani menghadapi tekanan dari dua sisi yang berbeda. Pertama, mereka mungkin menghadapi kenaikan harga input pertanian seperti bibit, pupuk, atau pestisida yang diperlukan untuk produksi tanaman. Kedua, mereka juga dapat menghadapi tekanan dari pembeli atau perusahaan pengolahan yang menawarkan harga yang rendah untuk produk pertanian mereka.

Misalnya, petani jagung menghadapi kenaikan harga pupuk dan pestisida yang dibutuhkan untuk menanam jagung. Di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan dari perusahaan pengolahan jagung yang menawarkan harga yang rendah untuk hasil panen mereka. Dalam situasi ini, petani berada di antara dua tekanan yang saling bertentangan.

Jika petani menaikkan harga jual jagung mereka untuk mengimbangi kenaikan harga input pertanian, perusahaan pengolahan mungkin akan mencari pasokan dari petani lain yang menawarkan harga lebih rendah. Namun, jika petani menurunkan harga jual jagung mereka untuk memenuhi tuntutan perusahaan pengolahan, maka laba petani dapat tergerus karena biaya produksi yang meningkat.

Teori Double Squeeze pada petani dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam keuntungan antara petani dan perusahaan pengolahan. Hal ini dapat mengakibatkan kesulitan bagi petani untuk memperoleh keuntungan yang adil dari hasil panen mereka.

  • Peran Pemerintah Menghadapi Double Squeeze dalam Konteks Pertanian

Pemerintah dapat membantu petani dalam menghadapi teori Double Squeeze dengan mengambil beberapa langkah strategis. Berikut adalah beberapa contoh:

1. Subsidi input pertanian: Pemerintah dapat memberikan subsidi untuk input pertanian seperti pupuk, benih, pestisida, dan alat pertanian. Dengan mengurangi biaya produksi, petani dapat mengatasi kenaikan harga input yang dapat menyebabkan tekanan finansial.

2. Regulasi harga: Pemerintah dapat menerapkan kebijakan yang mengatur harga minimum untuk produk pertanian. Hal ini dapat mencegah perusahaan pengolahan atau pembeli untuk menawar harga yang terlalu rendah kepada petani. Regulasi harga yang adil dapat membantu petani mendapatkan keuntungan yang layak dari hasil panen mereka.

3. Peningkatan akses pasar: Pemerintah dapat membantu petani dengan memperluas akses mereka ke pasar domestik dan internasional. Ini dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur yang memadai, dukungan dalam pemasaran dan promosi produk pertanian, serta memfasilitasi perdagangan yang adil.

4. Pendidikan dan pelatihan: Pemerintah dapat menyediakan pendidikan dan pelatihan kepada petani untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang praktik pertanian yang efisien dan inovatif. Dengan pengetahuan yang lebih baik, petani dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha pertanian mereka, sehingga dapat mengurangi tekanan finansial yang mungkin mereka hadapi.

5. Jaminan harga: Pemerintah dapat memberikan jaminan harga kepada petani untuk produk pertanian tertentu. Ini dapat memberikan kepastian kepada petani tentang harga jual produk mereka, sehingga mereka dapat merencanakan produksi dan investasi dengan lebih baik.
 
Melalui langkah-langkah ini, pemerintah dapat berperan aktif dalam membantu petani menghadapi teori Double Squeeze dan menciptakan lingkungan yang lebih adil dan berkelanjutan bagi sektor pertanian.

  • Dampak Pada Keberlanjutan Pertanian

Teori Double Squeeze memiliki dampak yang signifikan pada keberlanjutan pertanian. Berikut adalah beberapa dampak yang dapat terjadi:

1. Penurunan keuntungan petani: Dalam teori Double Squeeze, petani menghadapi tekanan dari dua sisi, yaitu kenaikan harga input pertanian (seperti pupuk, benih, dan pestisida) dan penurunan harga jual produk pertanian. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan keuntungan yang diperoleh oleh petani. Jika keuntungan yang diperoleh tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan investasi di pertanian, petani mungkin terpaksa meninggalkan usaha pertanian mereka.

2. Ketidakseimbangan ekonomi: Dalam teori Double Squeeze, peningkatan harga input dan penurunan harga jual produk pertanian dapat menciptakan ketidakseimbangan ekonomi dalam sektor pertanian. Petani mungkin menghadapi kesulitan dalam membayar biaya produksi dan hutang, sementara perusahaan pengolahan atau pembeli mungkin mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Ketidakseimbangan ini dapat mengancam keberlanjutan pertanian dan mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi di daerah pertanian.

3. Pengurangan produksi pertanian: Dalam situasi Double Squeeze, beberapa petani mungkin memilih untuk mengurangi produksi atau bahkan berhenti sepenuhnya. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan pasokan produk pertanian, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dan harga di pasar. Pengurangan produksi pertanian juga dapat berdampak negatif pada ketahanan pangan dan keamanan pangan suatu negara.

4. Ketidakstabilan sosial: Dampak teori Double Squeeze juga dapat menciptakan ketidakstabilan sosial di daerah pertanian. Petani yang menghadapi tekanan finansial yang tinggi mungkin mengalami stres, ketidakpuasan, dan ketidakadilan. Ini dapat memicu ketegangan sosial, protes, dan konflik di antara petani, perusahaan pengolahan, dan pemerintah.

5. Kerugian lingkungan: Dalam upaya untuk mengatasi tekanan finansial, petani mungkin terpaksa menggunakan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, seperti penggunaan berlebihan pupuk atau pestisida. Hal ini dapat berdampak negatif pada kualitas tanah, air, dan biodiversitas. Dengan demikian, teori Double Squeeze juga dapat membahayakan keberlanjutan lingkungan.
Dalam menghadapi dampak dari teori Double Squeeze, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja sama dalam menciptakan kebijakan dan solusi yang dapat meningkatkan keberlanjutan pertanian, melindungi kepentingan petani, dan menjaga keseimbangan ekonomi dan lingkungan.

  • Multiple Squeeze dalam Konteks Pertanian

Ada juga teori Multiple Squeeze yang dapat mempengaruhi keberlanjutan pertanian. Teori Multiple Squeeze mengacu pada situasi di mana petani menghadapi tekanan dari beberapa faktor eksternal yang saling terkait. Contoh-contoh teori Multiple Squeeze dalam konteks pertanian antara lain:

1. Squeeze Ekonomi: Ini terjadi ketika petani menghadapi penurunan harga jual produk pertanian yang tidak sebanding dengan kenaikan biaya produksi. Misalnya, jika harga gabah turun secara signifikan sementara biaya pupuk dan bahan bakar naik, petani akan mengalami tekanan finansial yang besar.

2. Squeeze Lingkungan: Ini terjadi ketika petani menghadapi tekanan untuk mengurangi penggunaan sumber daya alam yang terbatas, seperti air atau lahan pertanian, karena kebutuhan yang semakin meningkat. Misalnya, jika air irigasi semakin langka karena perubahan iklim, petani mungkin menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air tanaman mereka.

3. Squeeze Kebijakan: Ini terjadi ketika kebijakan pemerintah atau peraturan yang tidak menguntungkan diterapkan terhadap petani. Misalnya, jika pemerintah mengurangi subsidi pupuk atau memberlakukan aturan yang membatasi akses petani ke pasar, hal ini dapat menghambat kemampuan petani untuk menghasilkan dan menjual produk pertanian mereka.

4. Squeeze Pasar: Ini terjadi ketika petani menghadapi kesulitan dalam menjual produk pertanian mereka dengan harga yang menguntungkan. Misalnya, jika terjadi peningkatan impor produk pertanian yang lebih murah, hal ini dapat menekan harga jual produk lokal dan mengurangi keuntungan petani.

Dalam menghadapi teori Multiple Squeeze, penting bagi petani dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencari solusi yang holistik dan berkelanjutan. Ini dapat melibatkan kerjasama antara pemerintah, petani, perusahaan pengolahan, dan masyarakat untuk mengembangkan kebijakan yang mendukung, meningkatkan akses pasar, mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan, dan melindungi kepentingan petani.

  • Mengatasi Multiple Squeeze dalam Praktik Pertanian

Untuk mengatasi teori Multiple Squeeze dalam praktik pertanian, petani dapat mengambil langkah-langkah berikut:

1. Diversifikasi usaha pertanian: Petani dapat mencoba menanam berbagai jenis tanaman atau beternak hewan yang berbeda untuk mengurangi risiko dari fluktuasi harga dan permintaan pasar. Dengan diversifikasi, petani dapat memanfaatkan peluang yang ada dan mengurangi dampak dari tekanan ekonomi.

2. Meningkatkan efisiensi produksi: Petani dapat mengadopsi teknologi pertanian yang lebih efisien, seperti penggunaan irigasi tetes, penggunaan pupuk organik, atau penggunaan energi terbarukan. Dengan meningkatkan efisiensi produksi, petani dapat mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas, sehingga dapat mengatasi tekanan ekonomi.

3. Membangun kemitraan: Petani dapat bekerja sama dengan pihak lain, seperti perusahaan pengolahan atau kelompok tani, untuk meningkatkan akses ke pasar yang lebih stabil dan menguntungkan. Dengan membentuk kemitraan, petani dapat memperoleh keuntungan dari skala ekonomi dan mendapatkan akses ke sumber daya yang lebih baik.

4. Meningkatkan keberlanjutan lingkungan: Petani dapat mengadopsi praktik pertanian yang berkelanjutan, seperti penggunaan pupuk organik, pengelolaan air yang efisien, atau pengendalian hama yang ramah lingkungan. Dengan menjaga keseimbangan ekologi dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, petani dapat mengatasi tekanan lingkungan.

5. Berpartisipasi dalam kebijakan pertanian: Petani dapat aktif terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan berpartisipasi dalam organisasi pertanian atau kelompok advokasi. Dengan berperan dalam kebijakan pertanian, petani dapat mempengaruhi peraturan yang mengatur sektor pertanian dan memperjuangkan kepentingan mereka.

Dengan mengadopsi langkah-langkah ini, petani dapat mengatasi teori Multiple Squeeze dan meningkatkan keberlanjutan praktik pertanian mereka.

  • ​Dampak Jangka Panjang dari Multiple Squeeze Terhadap Keberlanjutan Pertanian

Dampak jangka panjang dari teori Multiple Squeeze terhadap keberlanjutan pertanian dapat meliputi:

1. Penurunan pendapatan petani: Ketika petani menghadapi tekanan ekonomi yang terus menerus, seperti fluktuasi harga yang tinggi atau biaya produksi yang meningkat, pendapatan petani dapat menurun secara signifikan. Hal ini dapat menghambat kemampuan petani untuk menginvestasikan kembali dalam usaha pertanian mereka dan menghadapi tantangan ekonomi yang lebih besar.

2. Ketidakstabilan pasar: Teori Multiple Squeeze dapat menyebabkan ketidakstabilan pasar, di mana harga dan permintaan produk pertanian menjadi tidak terduga dan sulit diprediksi. Hal ini dapat membuat petani sulit untuk merencanakan produksi dan mengelola risiko dengan baik, yang pada gilirannya dapat menghambat pertumbuhan dan keberlanjutan usaha pertanian.
 

3. Pengurangan keanekaragaman hayati: Dalam upaya untuk mengatasi tekanan ekonomi, beberapa petani mungkin cenderung beralih ke produksi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan keanekaragaman hayati, karena tanaman atau hewan yang lebih menguntungkan secara ekonomi mungkin mendominasi lahan pertanian. Pengurangan keanekaragaman hayati dapat memiliki dampak negatif pada keberlanjutan ekosistem pertanian dan ketahanan pangan jangka panjang.

4. Ketergantungan pada input eksternal: Dalam situasi teori Multiple Squeeze, petani mungkin terpaksa mengandalkan input eksternal seperti pupuk kimia, pestisida, atau benih hibrida yang mahal untuk meningkatkan produktivitas mereka. Ketergantungan ini dapat mengurangi kemandirian petani dan meningkatkan risiko terhadap fluktuasi harga input, yang dapat merugikan keberlanjutan pertanian.

5. Kerusakan lingkungan: Teori Multiple Squeeze juga dapat berdampak negatif pada lingkungan pertanian. Tekanan ekonomi yang tinggi dapat mendorong penggunaan praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan pestisida berlebihan atau penggundulan hutan untuk perluasan lahan pertanian. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang berdampak jangka panjang terhadap keberlanjutan pertanian dan ekosistem.

Dalam menghadapi dampak jangka panjang dari teori Multiple Squeeze, penting bagi petani untuk mengadopsi strategi yang berkelanjutan dan berfokus pada keberlanjutan jangka panjang usaha pertanian mereka.

  • Contoh Squeeze Harga yang Berpengaruh kepada Petani

Squeeze harga dapat berpengaruh kepada petani dengan cara sebagai berikut:

1. Squeeze harga beli: Squeeze harga beli terjadi ketika petani harus membeli input pertanian, seperti benih, pupuk, atau pestisida, dengan harga yang tinggi. Jika harga input meningkat secara signifikan, petani akan menghadapi tekanan finansial yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan produksi mereka. Hal ini dapat mengurangi margin keuntungan petani dan menghambat keberlanjutan usaha pertanian.

2. Squeeze harga jual: Squeeze harga jual terjadi ketika petani menjual hasil panen mereka dengan harga yang rendah. Faktor-faktor seperti fluktuasi pasar, kelebihan pasokan, atau dominasi pasar oleh pemain besar dapat menyebabkan harga jual produk pertanian menjadi rendah. Dalam situasi ini, petani mungkin tidak dapat memperoleh harga yang adil untuk produk mereka, yang dapat mengurangi pendapatan dan menghambat keberlanjutan pertanian.

3. Squeeze harga pasar: Squeeze harga pasar terjadi ketika petani menghadapi persaingan yang ketat di pasar. Jika terlalu banyak petani yang menanam tanaman yang sama atau menghasilkan produk yang serupa, permintaan pasar mungkin tidak mampu menyerap semua produksi tersebut. Akibatnya, harga produk pertanian dapat turun secara signifikan, mengakibatkan kerugian finansial bagi petani dan menghambat keberlanjutan usaha pertanian.

4. Squeeze harga rantai pasokan: Squeeze harga rantai pasokan terjadi ketika petani mendapatkan bagian yang kecil dari nilai tambah yang dihasilkan oleh produk pertanian mereka. Dalam rantai pasokan pertanian, terdapat berbagai tingkatan seperti distributor, pedagang, dan pengecer, yang masing-masing menambahkan nilai dan mengambil keuntungan. Jika petani hanya mendapatkan bagian kecil dari keuntungan akhir, mereka mungkin menghadapi kesulitan dalam mengelola biaya produksi dan mencapai keberlanjutan usaha pertanian.

Dalam menghadapi squeeze harga, petani dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya, seperti diversifikasi usaha pertanian, mencari pasar alternatif, berkolaborasi dengan petani lain untuk memperoleh kekuatan tawar-menawar yang lebih besar, atau mengembangkan strategi pemasaran yang inovatif.

  • ​Mengatasi Squeeze Harga dan Meningkatkan Keberlanjutan Usaha Pertanian

 Untuk mengatasi squeeze harga dan meningkatkan keberlanjutan usaha pertanian, petani dapat melakukan beberapa langkah berikut:

1. Diversifikasi usaha: Petani dapat mencoba menanam berbagai jenis tanaman atau mengembangkan produk pertanian yang berbeda. Diversifikasi usaha dapat membantu mengurangi risiko dari fluktuasi harga satu jenis tanaman atau produk tertentu. Selain itu, dengan menawarkan variasi produk, petani dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan mengurangi ketergantungan pada satu pasar atau pembeli.

2. Membangun kemitraan: Petani dapat bekerja sama dengan petani lain atau membentuk koperasi pertanian untuk memperoleh kekuatan tawar-menawar yang lebih besar dalam negosiasi harga dengan pembeli atau pengecer. Melalui kemitraan, petani dapat memperkuat posisi mereka dalam rantai pasokan dan memperoleh keuntungan yang lebih adil.

3. Meningkatkan efisiensi produksi: Petani dapat mengadopsi teknologi pertanian modern dan praktik pertanian yang efisien untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi. Menggunakan teknik irigasi yang efisien, mengoptimalkan penggunaan pupuk dan pestisida, serta menerapkan metode pertanian berkelanjutan dapat membantu petani mengurangi biaya produksi dan meningkatkan keuntungan.

4. Membangun jejaring pemasaran: Petani dapat membangun jejaring pemasaran yang kuat dengan pembeli, pengecer, dan konsumen. Dengan mengenal pasar dan permintaan konsumen, petani dapat mengembangkan strategi pemasaran yang tepat, seperti branding produk, menjual langsung kepada konsumen melalui pasar lokal atau penjualan online, atau menjalin kerjasama dengan restoran atau toko-toko organik. Hal ini dapat membantu petani mendapatkan harga yang lebih baik dan meningkatkan keberlanjutan usaha pertanian.

5. Meningkatkan keahlian dan pengetahuan: Petani dapat mengikuti pelatihan, seminar, atau mengakses informasi pertanian terbaru untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang teknik pertanian yang efektif, manajemen keuangan, dan strategi pemasaran. Dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik, petani dapat menghadapi tantangan dan peluang dengan lebih baik, serta meningkatkan keberlanjutan usaha pertanian mereka.

  • Keterkaitan Impor Beras dan Bahan Pokok Lainnya dengan Squeeze Harga serta Pengaruh terhadap Petani

 Kebijakan impor beras atau bahan pokok lainnya dapat memiliki dampak yang signifikan pada petani dan dapat berkontribusi pada squeeze harga. Berikut adalah beberapa cara hubungan antara kebijakan impor dan squeeze harga dapat mempengaruhi petani:

1. Persaingan harga: Jika negara mengimpor beras atau bahan pokok dari negara lain dengan harga yang lebih murah, maka petani lokal akan menghadapi persaingan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan penurunan harga jual produk pertanian lokal, yang pada gilirannya dapat mengurangi pendapatan petani. Petani mungkin sulit bersaing dengan produk impor yang lebih murah, terutama jika biaya produksi mereka lebih tinggi. 

2. Ketergantungan pada pasar impor: Jika negara terlalu bergantung pada impor beras atau bahan pokok lainnya, petani lokal dapat menjadi rentan terhadap fluktuasi harga di pasar internasional. Jika harga impor naik, maka harga jual produk pertanian lokal juga cenderung naik. Namun, jika harga impor turun, petani lokal dapat menghadapi tekanan untuk menurunkan harga jual mereka, yang dapat mempengaruhi pendapatan mereka. 

3. Kebijakan subsidi: Negara dapat memberikan subsidi kepada petani lokal untuk melindungi mereka dari persaingan harga yang tidak adil dengan produk impor. Subsidi ini dapat membantu petani tetap bersaing dan menjaga keberlanjutan usaha pertanian mereka. Namun, jika kebijakan subsidi tidak tepat atau tidak efektif, hal ini juga dapat menciptakan distorsi pasar dan mengganggu harga yang sebenarnya.

4. Dampak sosial dan ekonomi: Squeeze harga dapat memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan pada petani. Jika harga jual produk pertanian terus rendah, petani mungkin menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka dan keluarga mereka. Hal ini dapat mengancam keberlanjutan usaha pertanian dan menyebabkan migrasi petani ke sektor lain.

Penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan impor dengan hati-hati dan memastikan bahwa kepentingan petani dan keberlanjutan usaha pertanian tetap menjadi prioritas. Dalam beberapa kasus, kebijakan proteksi atau insentif bagi petani lokal dapat membantu mengatasi squeeze harga dan memperkuat sektor pertanian domestik.

  • CONTOH KASUS

Salah satu contoh kasus nyata yang dapat menggambarkan hubungan antara kebijakan impor beras atau bahan pokok lainnya dan squeeze harga terhadap petani adalah kasus impor beras di Indonesia.

Pada tahun 2015, pemerintah Indonesia mengimpor beras dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan nasional. Impor beras dilakukan karena adanya kekurangan pasokan beras lokal yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti cuaca buruk dan penurunan produktivitas petani. Namun, impor beras tersebut memiliki dampak yang signifikan pada petani lokal.

Ketika beras impor masuk ke pasar Indonesia dengan harga yang lebih murah, petani lokal menghadapi persaingan yang ketat. Harga jual beras lokal pun turun drastis karena sulit bersaing dengan harga impor yang lebih rendah. Hal ini mengakibatkan pendapatan petani menurun dan mereka mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.  

Selain itu, ketergantungan pada impor beras juga membuat petani lokal rentan terhadap fluktuasi harga di pasar internasional. Jika harga beras impor naik, harga jual beras lokal juga cenderung naik. Namun, jika harga beras impor turun, petani lokal harus menurunkan harga jual mereka, yang berdampak negatif pada pendapatan mereka.

Dalam kasus ini, kebijakan impor beras berpengaruh pada squeeze harga yang dialami oleh petani lokal. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara impor dan produksi lokal, serta perlunya kebijakan yang mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan kesejahteraan petani.

Beberapa kasus lain yang dapat menggambarkan dampak kebijakan impor terhadap petani. Salah satunya adalah kasus impor gula di negara-negara Afrika.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara di Afrika mengalami peningkatan impor gula yang signifikan. Impor gula yang tinggi ini telah memberikan dampak negatif pada petani lokal di negara-negara tersebut. Ketika gula impor dengan harga yang lebih murah masuk ke pasar, petani lokal menghadapi persaingan yang sulit. Harga jual gula lokal pun turun drastis dan pendapatan petani menurun.

Selain itu, impor gula yang tinggi juga berdampak pada keberlanjutan usaha petani. Banyak petani di negara-negara Afrika mengandalkan pertanian gula sebagai sumber pendapatan utama. Namun, dengan adanya impor gula yang menggeser pasar lokal, petani menjadi kurang berdaya dan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan usaha pertanian mereka.

Kasus ini menunjukkan bahwa kebijakan impor yang tidak diimbangi dengan perlindungan dan dukungan yang memadai bagi petani lokal dapat mengakibatkan squeeze harga dan mengancam keberlanjutan usaha pertanian.

  • REFERENSI

FAO Regional Office for Asia. (2006). Rapid Growth of Selected Asian Economies: Lessons and Implications for Agriculture and Food Security (Vol. 1). Food & Agriculture Organization

https://www.fao.org/3/ag089e/AG089E00.htm#TOC

Clapp, J. (2016). The Double Squeeze: Globalization and the Agricultural Crisis. Cambridge University Press.

Rulli, M. C. (2020). Multiple Squeeze in Agriculture: Challenges and Opportunities for Smallholder Farmers. Springer.

Monday, December 4, 2023

6 Buku Tony Robbins Untuk Self-Development. Yuk Dibaca!

Pada beberapa postingan terdahulu saya sempat membuat review dan ringkasan dari buku Tony Robbins yang berjudul "Unlimited Power" yang kebetulan saya punya buku cetaknya. Saya pun ingin teman-teman ikut membaca tulisan-tulisan menggugah dari Tony Robbins melalui beberapa buku/ebook beliau yang akan saya sematkan di bawah ini. Saya pun ingin dan akan membaca buku-buku lain dari Tony Robbins untuk terus mengupgrade dan menambah kapasitas diri selain dari buku "Unlimited Power" yang sudah saya baca. Yuk disimak bersama teman-teman. Semoga bermanfaat :)

 

1. Unlimited Power: The New Science Of Personal Achievement

 

 

 

 

 

2. MONEY Master the Game: 7 Simple Steps to Financial Freedom

 

 

3. Unshakeable: Your Financial Freedom Playbook

 

 

4. Awaken the Giant Within : How to Take Immediate Control of Your Mental, Emotional, Physical and Financial Destiny! 

 

 

5. Re-Awaken the Giant Within

 

 

6. Creating Lasting Change Workbook 

 

Tuesday, November 28, 2023

"Design of A Research Project and Publication Process" by Dr. Rico Ihle - Wageningen University and Research, Netherlands

 

 

Today I joined a seminar about designing a research project and publication process at the Graduate Program of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran conducted by Dr. Rico Ihle from Wageningen University and Research, Netherlands. I was delighted because the discussion at the seminar was really interactive and I could learn a lot from the speaker, especially the suggestion to make a research diary or maybe a research log book to archive my research journey.


Here are the important materials from Dr. Rico about designing a research project and publication process:

 


 




I hope I can run my research smoothly using these key steps from Dr. Rico :) 

Monday, November 27, 2023

REVIEW MATERI INTERNATIONAL CONFERENCE AAI – INNOVATION FOR SUSTAINABLE AGRIBUSINESS. "Green Marketing: Concept and Business" Oleh Prof. Dr. Yosini Deliana – Fakultas Pertanian – UNPAD

 


REVIEW MATERI INTERNATIONAL CONFERENCE AAI – INNOVATION FOR SUSTAINABLE AGRIBUSINESS

 

DZIKRA YUHASYRA – 150120230001

 

Panelis : Prof. Dr. Yosini Deliana – Fakultas Pertanian – UNPAD

Judul : "Green Marketing: Concept and Business"

 

  • Apa yang dimaksud dengan Green Marketing? Green marketing sangat dekat dengan istilah Eco-Friendly yang dapat didefinisikan dengan Ecological Marketing (Fisk, 1974), Environmental Marketing (Coddington, 1993), dan Sustainable Marketing (Seth and Atul, 2020).
  • Konsep Green Marketing meliputi Green Producer, Green Consumer, Green Communication, Green Product, Green Finance, Green Living, Green Creativity, Green Management, Green Quality, dan Green Logisitc.
  • Mengapa Green Marketing menjadi sangat penting? Hal tersebut disebabkan oleh polusi lingkungan yang semakin merebak dan merajalela, sumberdaya yang terbatas sehingga harus dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin, dan adanya peluang bisnis untuk menarik konsumen pada kampanye Green Marketing.
  • Beberapa isu dan masalah lingkungan yang melatarbelakngi pentingnya Green Marketing yaitu Climate Change (Global Warming, Flooding), Natural Degradation (Natural habitat changes, water, air, and soil quality decrease), Health Decrease (Asthma, Birth Defects, Leukimia, Cancer), Waste Increase (Household, industrial, health waste), dan Resource Reduce (Consumption increase, resource fishery decrease and water scarcity. Dan salah sati bagian solusi dari masalah-masalah lingkungan tersebut adalah Green Packaging.
  • Masalah pertanian yang berhubungan dengan Green Marketing diantaranya berhubungan dengan keseluruhan rantai pasok dari produk dan olahan pertanian mulai dari produsen dan manufacturer, agen distribusi, wholesaler, retailer, sampai ke konsumen. Dan hampir keseluruhan produk menggunakan kemasan plastik yang sulit diurai dan berbahaya bagi lingkungan
  • Solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan penggunaan Green Packaging dengan mengintegrasikan konsep Green Producer dan Green Consumer.
  • Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Green Producer adalah melakukan Green Branding melalui Eco-Label. Eco-label, Eco-brand, dan environmental advertisement adalah bagian dari Green Marketing yang dapat membuat persepsi yang lebih baik dan mudah serta meningkatkan kesadaran konsumen tentang eco-friendly products. Konsumen dapat diberikan pilihan informasi produk ramah lingkungan dengan menggunakan label, seperti ‘organic’, ‘eco-friendly’, ‘biodegradable’, ‘recyclable’, sustainable’, dan ‘carbon neutral’.
  • Sedangkan untuk konsep Green Consumer, beberapa faktor yang dapat membuat konsumen berkontribusi untuk Green Marketing diantaranya membuat suatu identitas diri tentang Environmental Protection, menanggapi serius dan menjadi concern dengan masalah-masalah lingkungan, dan bagaimana sikap peduli lingkungan yang ditularkan melalui peer influence atau kolega dan rekan sejawat
  • Beberapa fakta Green Marketing diantaranya Green Marketing akan berhalan baik dan konsumen akan bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk produk ramah lingkungan apabila hal tersebut meningkatkan fungsi, meningkatkan desain, dan memiliki dampak positif serta bermanfaat untuk lingkungan.
  • Salah satu hal yang paling penting dari mendistribusikan produk dari upstream ke downstream adalah masalah kemasan dan packaging.
  • Indonesia merupakan negara kedua di dunia dengan sampah plastik terbanyak di dunia dengan 3.216.856 ton atau 0,05 kg/orang/hari.
  • Apa itu Green Packaging? Biasanya juga disebut sebagai Eco Green Packaging, Eco-Friendly Packaging, Sustainable Packaging, Recyclable Packaging merupakan penggunaan material dan metode manufaktur untuk bahan kemasan/packaging yang mempunyai dampak rendah terhadap konsumsi energi dan lingkungan.
  • 5 konsep dari Green Packaging yaitu (1) Society, mempertemukan kebutuhan pengguna, (2) Environment, mengurangi dampak negatif dari kemasan kepada lingkungan melalui life cycle-nya, (3) Economy, mengurangi biaya produksi, distribusi, dan pengolahan limbah, (4) Time, mempertimbangkan dampak dari kemasan di masa mendatang dan setelahnya dengan mempertemukan ekspektasi dan kebutuhan konsumen, dan (5) Development, mendukung pengembangan dan peningkatan inovasi Perusahaan.
  • Beberapa manfaat dari Green Packaging yaitu mempromosikan produk buatan lokal, sesuai dengan kualitas standar industri, dan tentu saja eco-friendly atau ramah lingkungan.  
  • Beberapa hambatan dari Green Packaging diantaranya adalah harga yang mahal, mudah rusak, serta bahan baku yang masih sulit dan jarang.
  • Sedangkan di dunia Pendidikan beberapa hambatan Green Marketing diantaranya adalah fasilitas yang masih terbatas, kesadaran yang masih rendah, dan biaya yang masih sangat mahal.
  • Diharapkan menggunakan Green Packaging akan mengurangi masalah-masalah lingkungan yang dimulai dari keberlanjutan ekonomi, dilanjutkan ke keberlanjutan sosial, dan pada akhirnya akan tercapai keberlanjutan lingkungan.
  • Bagaimana mendukung Green Marketing? Yaitu dengan meningkatkan dan menyebarkan informasi tentang isu-isu ramah lingkungan, melalui kebijakan pemerintah, dan investasi hijau (Green Investment)
  • Terdapat dua istilah yang penting yaitu Green Economy dan Circular Economy. Green Economy mendoorng pertumbuhan ekonomi dengan dibarengi perhatian dan concern terhadap lingkungan dan natural resource yang dipastikan harus berkelanjutan. Sedangkan Cirular Economy berfokus pada sumber daya dalam  closed cycle yaitu Reduce, Reuse, Recycle, Replace, dan Renewable.
  • Green Marketing Penta-Helix diantaranya Government, Company, Society, Academia, dan Media
  • Green Marketing dapat dilakukan salah satunya melalui Value Co-Creation (VCC) atau suatu proses dalam interaksi kolaboratif dalam bentuk komunikasi dan aktivitas fiisk yang melibatkan dua pihak untuk menciptakan nilai dan mencapai tujuan bermanfaat satu sama lain. Tipe dari VCC ini seperti Co-design, Co-development, co-learning, co-evaluation, dan yang lainnya.
  • Sebagai kesimpulan, Green Marketing bukan hanya sesuatu yang inovatif dan kreatif tapi juga menarik dan subjek yang nyaman untuk dipelajari.
  • Knowing is not enough; we must apply. Wishing is not enough; we must do. – Johann Wolfgang von Goethe