Monday, June 20, 2016

MULTIKAMPUS ITB : Saatnya ITB Untuk Berkembang!



Dzikra Yuhasyra – Rekayasa Pertanian 2013 (11413019)
Satgas Isu Multikampus Bidang Kajian MWA WM ITB 2015/2016


  
Majelis Wali Amanat (MWA) adalah organ tertinggi di ITB yang menentukan dan menetapkan kebijakan umum ITB serta mengawasi pelaksanaannya. MWA terdiri dari Menristekdikti RI, Gubernur Jawa Barat, Ketua Senat Akademik, Rektor, MWA-Wakil Alumni,  MWA-Wakil Tenaga Pendidikan, MWA-Wakil Masyarakat, dan MWA-Wakil Mahasiswa (MWA-WM).  MWA-WM sendiri merupakan perwakilan dari mahasiswa  yang mempunyai 5 fungsi  yaitu : fungsi representatif, fungsi informasi, fungsi aspirasi, fungsi kajian, dan fungsi koordinasi. Salah satu fungsinya, yaitu fungsi kajian, adalah mengkaji isu-isu utama dan insidental yang berkaitan dengan kebijakan umum ITB. Salah satu isu yang hangat dibicarakan saat ini adalah isu multikampus ITB.
                 
Sesuai dengan yang tercantum dalam RENIP (Rencana Induk Pengembangan) ITB mengenai visi ITB 2025 serta ITB sebagai World Class University, bahwa ITB akan berkembang menuju Multikampus. Apa sebenarnya Multikampus? Kenapa harus ada Multikampus? Bagaimana tantangannya? Bagaimana pengelolaan multikampus kedepan? Akan sedikit dijelaskan mengenai Multikampus ITB sesuai dengan hasil perbincangan dan pembahasan dengan ketua MWA ITB, Ir. Betti S. Alisjahbana, Direktur Pengembangan ITB, Dr. Ir, Sigit Darmawan,  Direktur Eksekutif ITB Jatinangor, Dr. Ir. Wedyanto, M.Sc. serta Wakil Direktur Eksekutif ITB Jatinangor, Dr. Taufikurahman.




Sesuai pemaparan Ibu Betti, sebagai ketua MWA ITB, multikampus pada intinya merupakan salah satu langkah dari ITB untuk  terus mengembangkan diri. Beberapa alasan diperlukannya multikampus adalah Kampus Ganesha yang hanya memiliki luas 28 hektare dirasa sudah sangat sesak dan jauh dari kondisi ideal dalam daya tampung, ITB juga diharapkan untuk terus meningkatkan student body nya karena masih dibutuhkannya lulusan ITB dalam jumlah yang lebih banyak sebagai sumber daya manusia unggul, serta untuk memenuhi permintaan dari Kemenristekdikti serta Gubernur Jawa Barat agar ITB turut berkontribusi untuk meningkatkan APK (Angka Partisipasi Kasar) masyarakat dalam mendapatkan pendidikan tinggi, terutama bagi Jawa Barat yang memiliki APK yang relatif lebih rendah dibandingkan daerah lain, serta terus meningkatkan peran ITB dalam menyelesaikan dan berkontribusi pada pengembangan masyarakat, rujukan, serta perumusan kebijakan publik baik lokal, nasional, sampai akhirnya pada tingkat internasional melalui pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Sehingga multikampus ada di satu pihak untuk mengakomodasi perkembangan ITB dan dilain pihak untuk mendukung pemerintah dalam peningkatan APK.


Secara umum konsep Multikampus belum secara penuh didefinisikan dan terus dalam proses penyempurnaan dan pembahasan baik oleh pihak rektorat, senat akademik, dan pihak terkait lainnya mengenai apa, dimana, dan bagaimana konsep multikampus ini akan dilaksanakan. Meskipun demikian konsep multikampus ini sudah mulai berjalan dan sudah pasti dilaksanakan karena  ITB dituntut untuk terus tumbuh dan berkembang lebih jauh dan tidak boleh terkendala oleh luas kampus Ganesha yang relatif kecil. Beberapa kampus yang akan dijadikan sebagai kampus Off-G (di luar Ganesha) yaitu Kampus Jatinangor, Walini, Bekasi, Malaysia, dan yang paling baru dan masih dalam tahap pembahasan adalah di Cirebon sebagai Pelaksanaan Pendidikan Di luar Domisili (PDD) sebagai buah kesepakatan ITB dengan Pemprov Jawa Barat. Dan yang sudah berjalan saat ini adalah kampus Jatinangor dengan menempatkan program-program studi baru disana dan yang akan segera dilaksanakan adalah kelas di Bekasi serta kelas di Cirebon yang sudah dimasukan kedalam pilihan program studi dalam SNMPTN 2016 ini.


Setiap kampus yaitu Jatinangor, Walini, dan Bekasi maupun Cirebon dipilih dengan latar belakang dan alasannya masing-masing. Jatinangor dipilih sebagai permintaan dan kesepakatan Pemprov Jabar dengan ITB untuk mengambil alih pengelolaan kawasan kampus yang sebelumnya ada dibawah pengelolaan  Pemprov dengan tujuan untuk menambah kontribusi ITB dalam meningkatkan APK pendidikan tinggi di wilayah Jawa Barat serta  menambah peran ITB dalam menyelesaikan dan berkontribusi pada pengembangan masyarakat dan kebijakan publik baik lokal, nasional, sampai akhirnya pada tingkat internasional. Kampus Walini dipilih sebagai kampus diwilayah perkebunan teh seluas 250 hektar dengan sebagian kecil wilayah yang dilakukan pembangunan sebagai wujud dari pengembangan green techno art campus dan mengikuti masterplan Pemprov Jawa Barat yang akan membuat pusat pemerintahan disekitar kawasan Walini, serta pelaksanaan NARC (New Academic Research Cluster) yang merupakan gabungan 3 institusi, BPPT, ITB, dan IPB Bogor yang tergabung dalam NARC untuk menangani kesehatan, pangan, dan energi. Serta Kampus Bekasi ditujukan untuk kampus riset dan kerjasama dengan industri yang terkonsentrasi pada wilayah tersebut,  dan Pelaksanaan Pendidikan Di Luar Domisili (PDD) di Cirebon sebagai wujud peningkatan pemerataan kualitas pendidikan dan pengembangan potensi daerah yang strategis, serta pelaksanaan ITB Malaysia sebagai peluang bagi ITB untuk Go-International yang masih terganjal karena belum adanya pranata yang mengatur mengenai pelaksanaan pendidikan tinggi di luar Indonesia.


 
Melalui multikampus ini diharapkan terbangun academic atmosphere di setiap kampus, meskipun dalam pelaksanaannya banyak sekali tantangan dan hambatan yang ada, seperti keengganan dari mahasiswa dan komponen kampus lainnya untuk berpindah dari kampus Ganesha, koordinasi antar kampus, bentuk rumpun keilmuan setiap kampus yang harus sesuai agar terbangun academic atmosphere, penyamaan standar kualitas masing-masing kampus, dan berbagai tantangan lainnya. Berdasarkan keterangan yang didapatkan bahwa kampus-kampus tersebut masih akan dikelola secara terintegrasi sehingga akan sangat dibutuhkan koordinasi antar komponen dan stakeholder yang ada dalam pelaksaan multikampus ini.


Berdasarkan pembahasan bersama Direktorat Eksekutif ITB Jatinangor, bahwa keberadaannya ITB Jatinangor diawali oleh Perjanjian Kerjasama dengan pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia pada tanggal 27 Januari 2010 dengan dua kali perubahan tanggal 31 Desember 2010 dan kedua tanggal 18 Januari 2013 Perjanjian tersebut mengikat ITB dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal pengelolaan aset lahan yang sebelumnya dipakai oleh Universitas Winaya Mukti (UNWIM), berupa : Tanah seluas 46,353 Ha dengan bangunan diatas lahan tersebut dengan luas lantai 27,244 m2 dan tanah seluas 14 Ha di Desa Sindangsari Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang yang kemudian diadendum alih lokasi ke Kiara payung dengan luas 10 Ha. Pengalihan aset lahan tersebut berlaku untuk kurun waktu selama 30 tahun (hingga 2040) terhitung sejak tanggal 27 Januari 2010, dengan masa transisi 3 tahun (2010, 2011, 2012). Sampai saat ini telah dilakukan pembangunan gedung Labtek 1A (Tahun 2013), Labtek 1B (Tahunh 2014), Lab sedimentasi (Tahun 2014), GKU 1 (Tahun 2014), GKU 2 (Tahun 2013) yang didalamnya berisi ruang kuliah, laboratorium dan ruang administrasi sebagai sarana dan prasarana penunjang kegiatan akademik di Kampus ITB Jatinangor. Pembangunan Masjid Al-Jabbar Tahap 1 berupa bangunan (Tahun 2013) dan Tahap 2 terdiri dari taman dan menara (Tahun 2014) dengan sumber dana dan pelaksana dari Pemprov Jabar dan pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR 1 , GOR 2 dan GOR 3) sedang berlangsung di Tahun 2015 dengan sumber dana dan pelaksana dari Pemprov Jabar. Sampai saat ini sudah delapan program studi di ITB Jatinangor dengan enam Prodi S1 yaitu Rekayasa Hayati (SITH), Rekayasa Pertanian (SITH), Rekayasa Kehutanan (SITH), Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (FTSL), Teknik Pengelolaan Sumber Daya Air (FTSL), Kewirausahaan (SBM) dan dua Prodi S2 yaitu Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi (FTSL), dan Arsitektur Lansekap (SAPPK) dan akan menyusul tiga prodi S1 pada 2016 mendatang yaitu Teknologi Pasca Panen (SITH), Teknik Pangan (FTI) dan Teknik Bioenergi dan Kemurgi (FTI), sedangkan untuk prodi Teknik Biomedika (STEI) masih belum dipastikan tempat penyelenggaraannya. Saat ini kurang lebih terdapat 1100 mahasiswa yang ada di ITB Jatinangor dan kegiatan akademik sudah berjalan secara regular.



Berdasarkan pernyataan Direktur Pengembangan ITB, bahwa pelaksanaan pembangunan di wilayah Bekasi dan Walini belum dapat dilaksanakan karena hak milik tanah yang belum ada dipangkuan ITB, kampus Bekasi berlokasi di kompleks Deltamas dan kampus Walini berada di kilometer 102 Jalan Tol Cipularang  dengan  dua alternatif lokasi sekitar 250 hektar di kawasan Maswati dan kawasan Panglejar. Sedangkan untuk kelas Bekasi dan Cirebon yang sudah dimasukan pelaksanaannya di dalam SNMPTN 2016 ini akan menampung kurang lebih 20 orang yaitu Prodi Manajemen, Teknik Industri, dan Teknik Lingkungan di Kelas Bekasi dan Prodi Kriya serta Perencanaan Wilayah dan Kota di Kelas Cirebon yang teknis pelaksanaan pembelajarannya masih dipersiapkan oleh pihak rektorat.

Beliau menyatakan bahwa pengembangan tersebut tidak dapat dihindarkan dan itu harus dihadapi dan ITB tidak akan berhenti dari berkembang tadi. Bahwa tidak mungkin Ganesha dipertahankan hanya segitu saja dan multikampus mutlak menjadi pilihan. Sehingga segala konsekuensi dalam operasionalnya harus direncanakan dengan baik. Beliau menambahkan bahwa operasional baik pengembangannya maupun aktivitasnya dan manusia yang ada didalamnya harus dipikirkan, baik itu mahasiswanya, dosennya, maupun staf non akademiknya. Jadi bagaimana mengintegrasikan itu semua adalah tugas besar bukan hanya untuk satu unit saja, semua harus mendukung kelangsungannya. Semua harus vektornya sama, vektornya sama dalam rangka mendukung multikampus ini supaya terintegrasi untuk tempatnya, aktivitas, dan lain sebagainya. Beliau menegaskan bahwa semua komponen sudah berpikir ke arah sana dan hendaknya multikampus ini tidak menjadi penghalang justru menjadi kesempatan bagi ITB untuk berkembang, memang berbeda pengembangan kampus di satu tempat (hanya Ganesha saja) dengan multikampus yang dilaksanakan sekarang, tentu saja penyelesaiannya berbeda, lebih kompleks. Beliau mengakhiri bahwa itu adalah satu tantangan yang harus diselesaikan oleh pimpinan ITB dan ITB berpikir sama untuk semua kampus. 
               

Dibalik problem maupun peluang yang ada dari pelaksanaan multikampus ini, semoga ITB dapat berkembang dan berkontribusi lebih baik sesuai dengan nilai dan arahan filosofis MWA ITB yaitu kampus ITB sebagai tempat membangun dan mengembangkan budaya luhur bangsa Indonesia,  the house of learning, the house of culture, guardian of values, the agent of  change, the bastian of academic freedom, sebagai tempat best academic talents bertemu dan berkarya, kampus ITB yang inspiring, kampus ITB yang mampu mengajarkan kepada setiap yang ada didalamnya nilai-nilai kampus ITB yang dicita-citakan oleh visi ITB, serta memelihara seluruh artefak yang ada sebagai milestone budaya bangsa.


Semoga! In Harmonia Progressio


 

Video Pembahasan Multikampus ITB

1. Pembahasan Pembuka Bersama Ibu Betti Alisjahbana - Ketua MWA ITB


2. Video Pembahasan Bersama Direktur Pengembangan ITB



3. Pembahasan Bersama Direktorat ITB Jatinangor 



VIDEO PROFIL TIM MWA WM ITB 2015/2016


Because We are Leaders!


Dzikra Yuhasyra - 11413019

 
Pemimpin, sebuah kata yang selalu menghiasi setiap masa, zaman, bahkan setiap hari dalam keseharian kita. Tapi apa itu pemimpin? Apakah kita adalah pemimpin? Bukankah setiap dari kita pemimpin? Secara bahasa, pemimpin berarti orang yang memimpin. Sehingga pada hakikatnya setiap orang yang memimpin, baik dalam cakupan kecil atau besar, memimpin banyak orang atau sedikit, dalam lembaga formal atau tidak, bahkan ketika memimpin diri sendiri, keluarga, dan orang sekitar, ia adalah pemimpin. Tapi pertanyaan selanjutnya apakah pemimpin hanya sekedar orang yang memimpin? Kualitas apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin? Bagaimana seorang pemimpin dihasilkan dan terbentuk? Apa karya, pengaruh, serta dampak yang harus diberikan oleh seorang pemimpin? Bagaimana seorang pemimpin harus bersikap dalam menyelesaikan masalah dan menggerakan orang serta potensi  disekitarnya sehingga menghasilkan kualitas lingkungan yang lebih baik? Sehingga muncul pertanyaan menarik, bagaimana sebenarnya menjadi ‘pemimpin yang yang sesungguhnya’? Apa itu ‘real leader’?           

Seorang pemimpin tentu lahir dengan proses dan tempaan yang panjang dan berliku, tidak pernah menempuh jalan yang mudah. Selalu ada perjalanan yang tidak biasa sehingga seseorang pemimpin terbentuk. Dalam sejarah peradaban dunia, leadership atau kepemimpinan bertransformasi tipologinya. 

Pada mulanya kepemimpinan lahir berdasarkan ideologi dan dogma agama (ideology). Kepemimpinan  lahir dengan adanya dan disebarkannya filosofi atau firman Tuhan yang disampaikan kepada orang banyak dan akhirnya pemahaman tersebut diikuti. Hal tersebut terjadi pada zaman Nabi dan Rasul yang menjadikan Nabi dan Rasul tersebut  sebagai pemimpin untuk umatnya. 


Kepemimpinan selanjutnya lahir berdasarkan penguasaan geografis (geography). Terjadinya penjajahan dan penaklukan menjadikan sosok pemimpin lahir.  Sosok seperti Alexander Agung dan Genghis Khan yang menaklukan berbagai wilayah dibelahan dunia menjadikan mereka pemimpin yang besar karena kekuasaan dan penaklukan mereka. 

Tipe kepemimpinan yang ketiga adalah kepemimpinan revolusioner yang muncul sebagai pemimpin karena revolusi yang dilakukan (revolutionary). Tokoh-tokoh yang muncul pada abad 20 seperti  Mahatma Gandhi di India, Soekarno di Indonesia, dan Che Guavara di Cile merupakan pemimpin-pemimpin revolusioner yang karena pemikiran serta tindakan revolusioner dan heroiknya melawan penindasan. Mereka membawa rakyat yang dipimpinnya menuju kebebasan dan terlepas dari belenggu yang ada. 

Pada saat ini ketiga tipe kepemimpinan seperti diatas sudah tidak ada dan juga berkurang. Tipe kepemimpinan yang  saat ini ada adalah tipe kepemimpinan extraordinary dimana pemimpin berasal dari orang kebanyakan tapi banyak melakukan hal luar biasa dengan menghasilkan karya dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan, seperti Ridwan Kamil, walikota Bandung yang menjadikan Bandung Juara. Tipe kepemimpinan tersebut lahir karena usaha yang dilakukan untuk menggerakan orang sekitar untuk ikut dalam menyelesaikan masalah dan menumbuhkan solusi melalui berbagai inovasi, karya, gagasan, dan tindakan. Ketika pemimpin karena ideology sudah tidak ada, pemimpin karena penaklukan  geografis sudah  tidak ada, pemimpin karena revolusi yang dilakukan sudah tidak ada, tersisalah kita sekarang sebagai pemimpin extraordinary yang harus muncul dalam menyelesaikan masalah yang ada disekitar kita. Pemimimpin extraordinary lahir dari kebanyakan orang biasa seperti kita tanpa pengaruh dari dogma agama, latar belakang sejarah, atau yang lainnya. Sehingga setiap dari kita sebenarnya dalah pemimpin, ketika kita mau bergerak dan juga menggerakan.

Bagaimana kita sebagai pemimpin extraordinary harus berperan? Tugas dari seorang pemimpin extraordinary adalah melakukan transformational leadership. Transformational leadership adalah kepemimpinan yang mentransformasi keadaan dan menggerakan untuk menghasilkan hasil yang luar biasa dan mencapai tujuan yang ingin dicapai dengan leading by example. Seorang pemimpin extraordinary harus membuat perubahan dan menggunakan dirinya sebagai contoh yang memberikan keteladanan yang pada akhirnya akan menghasilkan kondisi yang luar biasa dan mengubah lingkungan sekitar menjadi lebih baik. Seorang pemimpin extraordinary  harus memberikan sense of hope yang dapat memunculkan semangat dan harapan baru bahwa kondisi yang lebih baik akan terwujud. 

Seorang pemimpin extraordinary memiliki leadership personality yang khas dan menonjol di setiap kondisi yaitu Risk Taker, Problem solver, Strong Will, dan Visioner serta Inovatif. Risk taker adalah salah satu ciri yang kuat dari seorang pemimpin extraordinary. Pemimpin extraordinary harus bisa mengambil resiko yang mampu secara tegas untuk bertindak dan mengambil keputusan. Setiap masalah dan kesempatan merupakan hal yang harus diambil dan  diselesaikan secara tuntas. Problem solver merupakan kepekaan seorang pemimpin extraordinary terhadap masalah dan lingkungan lalu mampu memberikan solusi dan jawaban terhadap permasalahan tersebut. Strong will adalah kemauan dan etos yang kuat untuk  mencapai dan mengerjakan sesuatu secara konsisten dan berkelanjutan. Dan visioner berarti memiliki perspektif jangka panjang dengan jangkauan yang luas dan menyeluruh untuk bisa mencapai gagasan yang besar di masa mendatang. Dan yang membedakan pemimpin extraordinary dengan pemimpin sebelumnya adalah sifat inovatif. Seorang pemimpin extraordinary harus mampu berinovasi dan melakukan sesuatu yang baru, menciptakan berbagai terobosan dan gebrakan yang mampu merangsang munculnya potensi baru dan menghasilkan karya yang luar biasa. Karena yang membedakan pemimpin dan pengikut adalah inovasi.  

Ketika kita semua sudah menyadari itu dan melakukan tindakan nyata yang memberikan dampak, maka akan lahirlah masyarakat madani yang terdiri dari pemimpin-pemimpin luar biasa yang menggerakan. Jadi tunggu apa lagi, jadilah pemimpin yang sesungguhnya karena setiap dari kita adalah pemimpin. Karena kita pemimpin, kita bergerak! Because We are Leaders!