Thursday, May 23, 2024

Buku "A World Without Agriculture: The Structural Transformation in Historical Perspective" karya C. Peter Timmer - Sebuah Diskursus Pembangunan Pertanian

 


Pak Trisna Insan Noor di mata kuliah Pembangunan Pertanian menyarankan kepada saya dan teman-teman Magister Ekonomi Pertanian Faperta UNPAD untuk mengkaji satu buku tentang "Development Without Agriculture atau "Pembangunan Tanpa Pertanian". Hal ini menjadi topik yang menarik dalam diskursus mata kuliah Pembangunan Pertanian terutama yang berkaitan dengan Transformasi Struktural Perekonomian dari Sektor Pertanian atau Subsisten ke Sektor Industri dan Jasa atau Kapitalis. Dan buku tersebut berjudul "A World Without Agriculture: The Structural Transformation in Historical Perspective" karya C. Peter Timmer yang terbit pada tahun 2009.  Berikut saya sampaikan bagian kesimpulan buku yang sudah ditranslate ke Bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi diskursus bagi mahasiswa dan akademisi yang mengkaji Pembangunan Pertanian. Selamat menyimak!

 

Kesimpulan Pengamatan


Ada tiga poin dasar. Pertama, transformasi struktural telah menjadi jalan utama keluar dari kemiskinan bagi semua masyarakat, dan hal ini bergantung pada peningkatan produktivitas di sektor pertanian dan non-pertanian (keduanya saling berkaitan). Kedua, proses transformasi struktural memberikan tekanan besar pada masyarakat pedesaan untuk melakukan penyesuaian dan modernisasi, dan tekanan ini diwujudkan dalam respons kebijakan yang nyata dan signifikan yang mengubah harga produk pertanian. Ketiga, meskipun kepentingan relatif sektor pertanian menurun, yang mengarah ke “dunia tanpa pertanian” di masyarakat kaya, proses pertumbuhan ekonomi dan transformasi struktural memerlukan investasi besar di sektor pertanian itu sendiri. Paradoks ini telah mempersulit (dan mengaburkan) perencanaan di negara-negara berkembang, serta bagi lembaga-lembaga donor yang ingin mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menghubungkan masyarakat miskin dengan pertumbuhan tersebut.

Proses historis transformasi struktural ini tampaknya hanya tinggal janji belaka bagi masyarakat miskin di dunia, yang sebagian besar hanya terjebak dalam mencari nafkah sehari-hari. Ada banyak hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk memberikan harapan yang lebih cepat, seperti menjaga agar makanan pokok tetap murah dan mudah diakses serta membantu menghubungkan pekerja pedesaan dengan pekerjaan di perkotaan. Mungkin hal paling berharga yang dapat dilakukan pemerintah untuk membantu masyarakat miskin dan mempercepat proses transformasi struktural adalah dengan berinvestasi pada layanan pendidikan dan kesehatan di daerah pedesaan. Namun agar inisiatif-inisiatif pengentasan kemiskinan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang lama—yaitu bersifat “berkelanjutan”, sebagaimana jargon pembangunan saat ini—kebutuhan yang sangat diperlukan adalah pertumbuhan ekonomi. Terlebih lagi, perekonomian yang sedang berkembang berhasil mengintegrasikan sektor pedesaan dan perkotaan dan menstimulasi produktivitas yang lebih tinggi pada kedua sektor tersebut (investasi pada pendidikan pedesaan dan kesehatan juga membantu dalam hal ini). Dengan kata lain, keberhasilan pengentasan kemiskinan dalam jangka panjang bergantung langsung pada keberhasilan transformasi struktural.

Sebagaimana ditekankan dalam monograf ini, bahkan transformasi struktural yang sukses pun bukannya tanpa masalah bagi masyarakat miskin. Dua ciri transformasi struktural, yang dibahas pada halaman sebelumnya, memberikan perhatian khusus.

Yang pertama adalah kecenderungan historis yang kuat terhadap semakin melebarnya perbedaan pendapatan antara perekonomian pedesaan dan perkotaan pada tahap awal transformasi struktural. Bahkan negara-negara kaya pun melihat pola ini dalam perkembangannya pada abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Kemiskinan absolut biasanya tidak memburuk selama periode tersebut, dan di Asia Timur buktinya menunjukkan bahwa kemiskinan absolut turun dengan sangat cepat selama transformasi struktural yang cepat. Namun di negara-negara dengan pertumbuhan yang kurang pesat, atau pertumbuhan yang kurang terhubung dengan masyarakat miskin di pedesaan, prevalensi kemiskinan mengalami stagnasi atau bahkan meningkat, terutama di Afrika.

Bahkan ketika angka kemiskinan absolut turun, distribusi pendapatan yang semakin melebar menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan korektif. Sejauh ini, bukti yang ada menunjukkan bahwa respons kebijakan yang umumnya dipicu—perlindungan pertanian dan subsidi yang meluas kepada petani—tidak hanya gagal membantu masyarakat miskin, namun sering kali memperburuk nasib mereka, karena begitu banyak masyarakat miskin yang harus membeli makanan mereka di pasar. Perekonomian pedesaan yang dinamis yang dirangsang oleh pertumbuhan produktivitas riil selalu berpihak pada masyarakat miskin dalam segala kondisi, namun perekonomian pedesaan dengan keuntungan pertanian yang dirangsang oleh perlindungan cenderung merugikan masyarakat miskin baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Ciri kedua adalah kecenderungan melebarnya kesenjangan pendapatan antara sektor pertanian dan non-pertanian pada tahap-tahap awal transformasi struktural kini meluas lebih jauh ke dalam proses pembangunan. Akibatnya, dengan kecilnya prospek untuk segera mencapai titik balik di mana produktivitas dan pendapatan pertanian dan non-pertanian mulai menyatu, banyak negara miskin yang lebih cepat beralih ke perlindungan pertanian dan subsidi pertanian dalam proses pembangunan mereka. Kecenderungan tindakan-tindakan ini merugikan masyarakat miskin semakin besar, karena jumlah masyarakat miskin di pedesaan jauh lebih banyak pada tahap-tahap awal ini.

Terlalu dini untuk mengatakan apakah pembalikan tren penurunan harga riil komoditas pertanian dalam jangka panjang – yang didorong oleh permintaan akan biofuel dan kemungkinan dampak perubahan iklim terhadap produktivitas pertanian – juga akan membalikkan pergerakan stabil pada titik balik pada transformasi struktural menuju tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Jika demikian, dampak jangka pendek terhadap masyarakat miskin hampir pasti akan negatif, namun keuntungan riil yang lebih tinggi yang dijanjikan kepada produsen komoditas, tanpa perlindungan pertanian, dapat merangsang peningkatan produktivitas riil di daerah pedesaan, meningkatkan upah riil, dan menjadi jalan keluar dari kemiskinan di pedesaan dalam
jangka panjang.

Tuesday, May 21, 2024

Buku "Give a Man a Fish: Reflections on the New Politics of Distribution" karya James Ferguson

 


Pada saat buka bersama dengan pengurus IA SITH ITB di bulan Ramadhan kemarin, saya bertemu dengan Pak Angga Dwiartama, suami Teh Anug, salah satu pengurus IA SITH ITB, sekaligus dosen saya di Rekayasa Pertanian SITH ITB dan sekarang menjadi dosen pembimbing kedua saya di Magister Ekonomi Pertanian UNPAD. Untuk tesis saya di S2, saya berencana mengambil topik mengenai bantuan hibah kartu tani Sibedas Kabupaten Bandung yang merupakan kelanjutan penelitian saya bersama Pak Angga dan Kang Fikry dengan Kang Rudi dan Bappelitbangda Kabupaten Bandung. 

Disela obrolan saat buka bersama saya berdiskusi ringan dengan Pak Angga mengenai topik tesis saya tersebut. Beliau merekomendasikan saya kepada satu buku yang menurut saya cukup menarik dan provokatif yaitu "Give a Man a Fish: Reflections on the New Politics of Distribution" karya James Ferguson. Saya baru baca sampai bagian introduction dan akan terus melanjutkan membaca tetapi sudah mendapatkan gambaran apa yang dimaksud dengan Politics of Distribution yang menjadi inti pemikiran dari penulisnya yaitu James Ferguson, seorang Antrolopog terkemuka.

Buku ini menjelaskan tentang fenomena di Afrika bagian selatan, seperti Afrika Selatan dan Namibia yang melakukan "Politik Distribusi" melalui cash transfers untuk mengurangi dan mengatasi kemiskinan dengan memberikan pensiun usia tua dan jaminan bagi anak yang diberikan tanpa kecuali tanpa memandang siapa orang tua atau keluarga yang terdekat. Bahkan di Namibia sudah terdapat usulan dan pemikiran untuk memberikan "Basic Income Grant" (BIG) dengan sejumlah uang untuk keseluruhan warga tanpa terkecuali. Cash Transfers / Bantuan Langsung Tunai yang berfokus pada jaminan perkembangan anak dan pensiunan kepada masyarakat di Afrika Selatan dilakukan sebagai upaya post-apartheid kepada masyarakat kulit hitam yang terkungkung kesempatan kerjanya oleh industri orang kulit putih sedangkan di lain pihak kondisi ekonomi terus menurun dan dideranya Afrika Selatan oleh serangan HIV yang menyebabkan banyak anak tidak punya orang tua dan keluarga. Dan menurut penulis, jaminan sosial ini berhasil mengeluarkan Afrika Selatan dari jurang kemiskinan ekstrim karena masyarakat terbantu dan memiliki opsi untuk berdaya kembali bagi keluarganya. 

Fenomena kebijakan ini meluas ke bagian selatan Afrika yang lain. Bahkan menurut penulis fenomena ini sudah terjadi di berbagai dunia negara berkembang atau "the Global South". Seperti di Indonesia kita mengenal ada BLT atau bansos yang dimulai zaman Presiden SBY hingga sekarang. Meskipun banyak opini kontra tentang pemberian "Cash Transfers" kepada masyarakat ini, seperti rawan menimbulkan ketergantungan masyarakat juga membuat masyarakat menjadi malas serta menimbulkan korupsi besar-besaran, penulis buku ini berpendapat bahwa "Politics of Distribution" ini bisa menjadi solusi dan pemikiran baru untuk mewujudkan "Welfare State" atau Negara Berkemakmuran, sebagai gabungan antara pemikiran neoliberalisme, sosialis, dan kiri/marxisme apabila dilakukan dengan tepat dan sesuai porsinya.

Berikut saya lampirkan resensi buku dari ChatGPT dan link untuk mendownload buku lengkap dari website penerbit resmi nya.

Link Download ebook: 

https://read.dukeupress.edu/books/book/165/Give-a-Man-a-FishReflections-on-the-New-Politics

Bisa juga via Google Play Book ya.

 

Resensi Buku"Give a Man a Fish: Reflections on the New Politics of Distribution" karya James Ferguson oleh ChatGPT

 

Judul: Give a Man a Fish: Reflections on the New Politics of Distribution
Penulis: James Ferguson
Penerbit: Duke University Press
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 280

 

Pendahuluan

"Give a Man a Fish: Reflections on the New Politics of Distribution" karya James Ferguson merupakan sebuah karya akademis yang mendalam dan provokatif yang mengkaji ulang konsep tradisional tentang pembangunan ekonomi di Afrika. Ferguson, seorang antropolog terkemuka, mengarahkan pandangannya pada transformasi fundamental dalam cara distribusi sumber daya dilakukan, terutama di negara-negara Afrika bagian selatan. Buku ini menawarkan wawasan baru tentang politik distribusi dan dampaknya terhadap masyarakat miskin.

Sinopsis

Buku ini terdiri dari beberapa bab yang mengulas berbagai aspek dari kebijakan distribusi dan bantuan langsung. Ferguson menekankan pergeseran dari pendekatan pembangunan berbasis pekerjaan dan produktivitas ke arah distribusi langsung uang tunai dan sumber daya kepada masyarakat miskin. Dia berargumen bahwa pendekatan tradisional, yang sering kali menekankan pentingnya pekerjaan dan produksi, tidak lagi relevan atau efektif dalam konteks modern.

Isi dan Analisis

1. Perubahan dalam Kebijakan Distribusi

Ferguson memulai dengan menggambarkan perubahan besar dalam cara bantuan dan distribusi dilakukan di Afrika. Dengan contoh-contoh dari Afrika Selatan, Namibia, dan negara-negara lainnya, ia menunjukkan bagaimana pemerintah dan organisasi internasional semakin bergerak menuju model distribusi tunai langsung. Pendekatan ini, menurut Ferguson, menantang paradigma lama yang menyatakan bahwa bantuan harus diberikan melalui skema pekerjaan atau proyek pembangunan.

2. Kritik terhadap Pendekatan Tradisional

Salah satu poin utama yang diangkat Ferguson adalah kritik terhadap pendekatan tradisional pembangunan yang berfokus pada penciptaan pekerjaan. Dia berpendapat bahwa dalam banyak kasus, pendekatan ini tidak hanya tidak efektif tetapi juga memperkuat ketidaksetaraan. Ferguson menggunakan data empiris untuk menunjukkan bahwa distribusi langsung uang tunai sering kali lebih efisien dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin.

3. Implikasi Sosial dan Ekonomi

Ferguson mengkaji implikasi sosial dan ekonomi dari kebijakan distribusi baru ini. Dia menyoroti bagaimana program seperti Basic Income Grant di Namibia dan sistem tunjangan sosial di Afrika Selatan telah mengubah dinamika sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Ferguson berpendapat bahwa distribusi tunai langsung memiliki potensi untuk memberdayakan masyarakat miskin dan memberi mereka kendali lebih besar atas kehidupan mereka sendiri.

4. Tantangan dan Kritik

Ferguson juga tidak menghindar dari membahas tantangan dan kritik terhadap model distribusi tunai. Dia mengakui bahwa ada risiko ketergantungan dan potensi penyalahgunaan dana. Namun, dia berargumen bahwa dengan pengelolaan yang tepat dan kebijakan yang bijaksana, manfaat dari distribusi tunai langsung jauh lebih besar daripada kerugiannya.

5. Perspektif Masa Depan

Di bagian akhir buku, Ferguson mengajak pembaca untuk mempertimbangkan masa depan kebijakan distribusi global. Dia menyarankan bahwa model distribusi tunai langsung dapat diadopsi secara lebih luas, tidak hanya di Afrika tetapi juga di negara-negara lain dengan tingkat kemiskinan tinggi. Ferguson mengimpikan sebuah dunia di mana setiap orang memiliki akses yang adil terhadap sumber daya dasar untuk hidup layak.

Kesimpulan

"Give a Man a Fish" adalah buku yang sangat penting bagi siapa saja yang tertarik pada isu-isu pembangunan, kebijakan sosial, dan ekonomi politik. Ferguson berhasil mengajak pembaca untuk berpikir ulang tentang asumsi dasar yang sering kali tidak dipertanyakan dalam diskusi pembangunan. Buku ini menawarkan argumen yang kuat dan didukung dengan data empiris, membuatnya menjadi bacaan wajib bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan aktivis.

Dengan analisis yang tajam dan wawasan yang mendalam, Ferguson tidak hanya menawarkan kritik terhadap kebijakan lama tetapi juga memberikan peta jalan menuju pendekatan baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. "Give a Man a Fish" mengajarkan kita bahwa dalam era modern ini, memberikan "ikan" dalam bentuk bantuan langsung mungkin merupakan langkah pertama menuju pemberdayaan yang sesungguhnya.

Friday, May 17, 2024

Selamat Hari Buku Nasional - 17 Mei 2024




Selamat Hari Buku Nasional ya, 17 Mei 2024. Hanya cukup melalui satu buku agar kamu jatuh cinta dengan membaca, temukan buku itu dan selamat menjelajahi pemikiran tanpa batas!

Satu buku yang membuat saya jatuh cinta pada buku tebal dan membaca adalah Novel "The Kite Runner" karya Khaled Hosseini. 
Buku ini cukup berkesan karena saya dapatkan secara gratis dari hadiah pidato dalam peringatan Isra Miraj sewaktu SMA di SMAN 24 Bandung. Rasa keingintahuan saya untuk mempelajari kehidupan dan apa itu arti hidup saya temukan dalam karya sastra fiksi yang menggugah. Setelah saya bertemu novel ini di mid-2011-an bacaan saya terus berkembang. Semenjak itu saya selalu rutin berkunjung ke Gramedia Merdeka untuk membeli novel atau buku lain saat punya uang lebih. Tak lupa kebiasaan membaca koran Harian Umum Pikiran Rakyat @pikiranrakyat yang turun dari orang tua mengasah kemampuan daya kritis saya dalam membaca. Jadi temukan sweet spot mu, dan selamat jatuh cinta pada buku :)

Dialek Tani 2024 Vol. 1 Bersama Pak Faisal Basri - Kamis, 16 Mei 2024



















Sangat terhormat bisa berdiskusi dengan Ekonom Senior Indonesia, Pak Faisal Basri @faisalbasri2017 juga Kang Haikal @haikalfsyah diacara Dialek Tani 2024 Vol. 1 @gematani.kmfp @bemkmfpunpad

Sangat terlecut dan menjadi awas bahwa kondisi sistem ekonomi oligarki kapitalis di Indonesia sudah menjangkiti hampir semua sektor dan lini, termasuk pangan dan pertanian.

Memang menjadi ironis bahwa defisit perdagangan Indonesia menjangkiti tiga sektor utama, yaitu Pangan, Manufaktur, dan Minyak Gas/Energi. Hal ini menghambat negeri ini untuk melangkah, yang kalau kata Pak Faisal Basri, kita hanya mengandalkan pengerukan sumber daya alam seperti Batu Bara, Nikel, Timah, Tembaga yang bukan sumber daya alam terbarukan, serta juga Kelapa Sawit/CPO yang dikuasai oligarki konglomerat, sebagai upaya men-tacklenya, yang menurut bahasa beliau "tidak pake otak".

Solusi dari Pak Faisal Basri untuk sektor pangan dan pertanian diantaranya adalah (1) bagaimana meningkatkan produksi dan hari kerja petani yang efektif selama setahun yang hanya 100 hari menjadi 200 hari atau lebih, melalui industrialisasi pedesaan dengan Teknologi Tepat Guna, (2) membuat Bank Tani, (3) membuat Syarekat Dagang Rakyat. Hal ini senada dengan yang saya tawarkan melalui pertanyaan di forum yaitu Korporasi Pangan Petani dengan Metode Bottom Up, dimana pada akhirnya Korporasi Pangan kembali kepada petani bukan konglomerat dan oligarki.

Dibalik segala kekalutan selalu ada harapan. Dan harapan itu adalah kita, setiap insan bangsa, terutama pemuda dan mahasiswa, untuk menyusun strategi yang lebih jitu untuk Indonesia berdaulat dan "memakai otak" nya.

Hatur nuhun untuk acara nya, sangat menginspirasi!