Sunday, December 15, 2019

Pengalaman Pertama Bekerja di Neurafarm: Membukakan Mata Bahwa Pertanian itu Berharga dan Juga Bisa Modern



Hampir satu tahun lebih setelah lulus dan di wisuda dari Rekayasa Pertanian SITH ITB pada April 2018, aku belum juga mendapatkan pekerjaan. Setelah melamar kesana kemari, baik dengan mengirim email ke perusahaan, melalui job portal, ataupun seleksi CPNS dan BUMN, aku belum mendapatkan lampu hijau untuk dapat kesempatan bekerja. Aku pun sempat menulis tentang insecurity ku tentang mendapatkan pekerjaan. Aku pun sempat berpikir apakah karena aku lulusan Pertanian sehingga aku sulit dapat kerja dan apakah aku salah jurusan, meskipun setelah itu aku merenung dan sadar bukan karena aku salah jurusan atau karena lulusan Pertanian tapi karena  memang belum saatnya aku dapat kerja dan aku harus meningkatkan ikhtiar ku untuk dapat pekerjaan, saat itu aku percaya bahwa disaat yang tepat aku akan mendapat pekerjaan. 
 
Lalu sampailah pada bulan September 2019, aku mendapat kabar lowongan pekerjaan sebagai Business Development Intern di Neurafarm dari salah satu adik tingkat ku di Rekayasa Pertanian yaitu Lintang KP. Aku berpikir ini cocok untuk ku, bekerja di start up pertanian dan menghandle bidang pengembangan bisnis dimana aku cukup tertarik dan sesuai dengan minat ku saat mengerjakan TA 2 Perancangan Farming System dan lokasinya di Bandung, cocok untuk kondisi ku saat itu yang mencari pekerjaan di Bandung. Saat itu aku sudah mengetahui bahwa Neurafarm adalah start up yang membuat Dr. Tania, aplikasi untuk mendeteksi penyakit tanaman dari analisis foto daun yang terkena infeksi, dan aku berpikir mungkin menjadi salah satu bagian di dalam Neurafarm akan menjadi pengalaman berharga untukku. 
 
Aku pun membuat lamaran dan mengirim email ke Neurafarm sambil mengontak Lintang bahwa aku tertarik untuk bergabung menjadi Business Development Intern. Setelah menunggu beberapa hari ternyata aku mendapat respon positif, aku lolos ke tahap selanjutnya untuk di interview online. Aku pun di interview online dan ditanyai tentang apa kesibukanku, pengetahuanku tentang Neurafarm, dan bagaimana gambaran pekerjaan sebagai Business Development Intern.  Setelah beberapa hari, akupun ternyata dapat hasil yang positif lagi, aku dipanggil untuk interview langsung ke LPIK ITB. Dan saat itu aku baru tahu ternyata di LPIK ITB terdapat Co-Working Space yang didalam nya terdapat tempat bekerja start up - start up yang berada di bawah naungan LPIK ITB. Akupun di interview langsung tatap muka oleh Lintang sebagai COO Neurafarm dan Febi sebagai CEO Neurafarm. 

Saat itu aku mendapat penjelasan bahwa Neurafarm saat ini tidak hanya mengembangkan Dr. Tania tapi juga mengembangkan retail bisnis pertanian khususnya di produk kopi, yaitu Neukoffie, yang ditujukan untuk membantu kesejahteraan petani. Saat itu aku berpikir ini sesuai juga dengan visi ku dan aku berharap lolos untuk bekerja intern di Neurafarm. 

Setelah beberapa minggu menunggu informasi hasil interview, ternyata aku mendapat kabar gembira bahwa aku lolos dan diterima bekerja intern di Neurafarm dan diundang untuk menandatangani kontrak. Alhamdulillah saat itu aku ucapkan dalam hati, akhirnya aku dapat kesempatan bekerja, inilah saatnya bagiku untuk belajar bekerja langsung dan mendapatkan penghasilan. Akhirnya akupun menandatangani kontrak bersama David salah satu rekan yang juga diterima sebagai Business Development Intern. 

Selang satu minggu setelah menandatangani kontrak aku pun mulai resmi bekerja dan melakukan perkenalan, dimulai dari materi perkenalan tentang visi misi Neurafarm, model bisnis Neurafarm, hingga masa depan Neurafarm. Setelah itu aku diberi tugas pertama. Tugas pertama bagiku saat itu adalah mempelajari Blue Ocean Strategy, tentang materi kopi, analisis perilaku konsumen kopi, dan segmentasi konsumen kopi untuk mengembangkan Neukoffie. 

Lalu minggu-minggu selanjutnya dilanjutkan dengan analisis kompetitor kopi, membuat sales battle card, dan keliling Bandung untuk ngider ke coffee shop-coffee shop  untuk memberikan sample Neukoffie. Aku pun sempat diajak ke Jakarta untuk mengikuti pameran dan pitching Plug and Play Indonesia, yang menambah wawasan ku tentang dunia start up yang dinamis dan progresif, dan btw saat itu pun pengalaman pertama ku naik kereta ke Jakarta sendirian. Hehe Saat itu aku sadar bahwa menyisipkan teknologi pada pertanian seperti yang dilakukan Dr. Tania membuat pertanian naik satu level menjadi lebih modern dan berharga untuk dikembangkan. 

Beberapa waktu kemudian akupun ikut pameran di Gedung Sate, yang juga pertama kalinya aku masuk ke Gedung Sate. Lalu akupun mengikuti seminar kopi di SITH ITB dan juga West Java Coffee Conference di Gedung Sate. Dari materi-materi tugas, pergi ke coffee shop keliling Bandung, sampai ikut konferensi kopi membuatku sadar bahwa pengetahuan dan ilmu tentang kopi itu sangat luas mulai dari budidaya, panen, pasca panen, roasting, grinding, dan brewing dan menjadikan kopi sebagai komoditas yang sangat berharga dan menguntungkan untuk dikembangkan. 

Memasuki bulan kedua aku diberi tugas untuk membuat perancangan indoor vertical farming dan diberikan referensi dari indoor vertical farming yang sudah sangat berkembang maju di Amerika dan Eropa, seperti boweryfarming. com, plenty. ag, dan truegarden. com.  Saat itu aku sadar bahwa ternyata pertanian bisa juga modern dan naik tingkat apabila memang didalamnya dberikan teknologi dan inovasi dan ditunjang oleh investasi dana yang memadai. Mindset ini membalikan pikiran ku saat kuliah bahwa pertanian adalah bidang yang tidak seksi dan kuno. Hal itu ditambah saat aku diberi tugas untuk mempelajari Amazon Fresh, Whole Foods Market, Happy Fresh, dan Sayurbox, dimana model bisnis dibidang pertanian sudah sangat maju saat ini dan sangat jauh dengan kata kuno. 

Dan memasuki bulan yang ketiga ini aku diberi tugas untuk menganalisis market sayuran premium. Semoga tugas dan pekerjaan ku kedepannya selalu dilancarkan. Dan satu kesimpulan bagiku di pengalaman pertama bekerja di Neurafarm ini adalah membukakan mata bahwa Pertanian adalah bidang yang berharga dan bisa juga modern, dan apabila kita berpikir sebaliknya mungkin wawasan kita lah yang belum cukup luas dan kurang melihat keluar. Semoga pekerjaan ku kedepan di Neurafarm selalu dilancarkan dan mendapat pembelajaran baru kembali. 

Semoga. :)

Sunday, August 25, 2019

Tentang Insecurity: Percaya akan Takdir-Nya




Malam ini aku sulit tidur. Bukan karena apa-apa, tapi takut akan insecurity ku. Ya, insecurity. Kegelisahan dan ketakutan ku akan hal yang tidak bisa aku tangani dalam hidup. 

Di usia ku saat ini, 23 tahun tepatnya, aku dituntut untuk menjadi seseorang yang mandiri, mulai berpenghasilan, dan tidak menyusahkan orang tua. Dan inilah yang menjadi insecurity ku saat ini, tentang karir, penghasilan, dan tanggung jawab atas diriku sendiri, yang membuat ku flashback beberapa tahun lalu mengapa aku memilih kuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB dan tidak memilih Ilmu Hubungan Internasional UNPAR. 

Sebelumnya aku pernah menulis tentang "Mensyukuri Nikmat Tersesat Sebagai Lulusan Teknik", ini link nya https://dzikra-yuhasyra.blogspot.com/2019/04/mensyukuri-nikmat-tersesat-sebagai.html Di tulisan tersebut aku menceritakan bagaimana aku sangat bersyukur bisa berkuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB dan menjadi lulusan sarjana teknik meskipun aku belum mendapatkan pekerjaan saat ini. Aku percaya bahwa itu sudah menjadi takdirku menjadi sarjana teknik dan merupakan rencana terbaik dari Allah SWT. Tapi aku sering bertanya-tanya sampai saat ini, aku lulusan ITB, tempat kuliah terbaik di negeri ini, tapi mengapa sampai saat ini sudah 1 tahun lebih aku belum mendapatkan pekerjaan tetap. Apa karena jurusan ku pertanian sehingga aku sulit mendapatkan pekerjaan atau karena kompetensi ku yang kurang? 

Lulusan Rekayasa Pertanian memang dituntut untuk langsung berkecimpung di lapangan dengan membuka wirausaha pertanian, tapi aku merasa belum cukup pengalaman dan keahlian untuk itu, karena aku merasa kebanyakan hal yang aku peroleh di bangku kuliah hanya sebatas teori bukan praktek yang mendalam. Sehingga aku memilih untuk mencari pengalaman terlebih dahulu dengan mencari pekerjaan. 

Aku pun menjadi penasaran, apakah aku salah jurusan? Apakah aku salah tidak memilih Ilmu Hubungan Internasional dulu tapi malah memilih Rekayasa Pertanian? Apakah keputusan ku berkuliah di ITB salah? Apakah kalau aku berkuliah di Ilmu Hubungan Internasional aku akan cepat mendapat pekerjaan dan bisa menghidupi diriku sendiri dengan cepat? 

Itu yang terus berputar dibenakku. Dan mungkin jawabannya adalah iya, itu mungkin. Tapi aku percaya bahwa apa yang aku alami adalah takdir yang terbaik untuk ku dari Sang Pencipta. Dan takdir tersebut tidak hanya bisa diukur hanya berdasarkan uang, penghasilan, dan pekerjaan, tapi lebih dari itu, ada keberkahan dan kebermanfaatan didalamnya. 

Seandainya aku tidak berkuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB mungkin aku tidak pernah menyumbangkan nama "Agrapana" untuk nama himpunan ku. Aku tidak akan bisa belajar mengendarai motor dan mobil, karena aku termasuk yang telat mempelajarinya di masa kuliah ku di Rekayasa Pertanian. Mungkin aku tidak akan punya relasi di ITB seperti sekarang ini dimana aku bisa berkenalan dengan banyak orang hebat, terutama teman-teman, adik, dan kakak kelas SMA ku yang masuk ke ITB. Mungkin pula apabila aku tidak berkuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB, aku tidak akan mempelajari pentingnya berinvestasi sampai-sampai aku membuka rekening saham di salah satu sekuritas. Dan mungkin yang terpenting mungkin aku tidak akan mendapatkan keberkahan dan kebermanfaatan yang aku peroleh saat ini di hidupku. 

Karena kalau kata Sudjiwo Tedjo, kamu sama saja tidak mempercayai Tuhan kalau kamu takut tidak makan besok. Karena tidak semuanya bisa diukur dengan uang, penghasilan, dan pekerjaan. Aku percaya bahwa rezeki sudah diatur dan kita tidak perlu khawatir. Sehingga aku percaya bahwa segala takdir-Nya adalah yang terbaik untukku. Semoga :)

Tuesday, April 16, 2019

Mensyukuri Nikmat "Tersesat" Sebagai Lulusan Teknik




Halo, nama saya Dzikra Yuhasyra, saya baru lulus dari jurusan Rekayasa Pertanian SITH ITB di awal April 2018 lalu dan sekarang masih menjadi fresh graduate yang mencari pekerjaan. (Ayo semangat cari kerja!). 

Tak terbayangkan sebelumnya oleh saya bisa lulus dari kampus teknik terbaik di Indonesia, ITB. Hal tersebut hanya bisa menjadi mimpi saya ketika saya masih SMA dan browsing mengenai jurusan-jurusan super keren yang ada di ITB. Sebagai seorang anak SMA berjurusan IPA saya sebenernya tidak terlalu suka eksak, satu-satunya bidang IPA yang saya senangi yaitu Biologi, yang mungkin menjadi alasan kenapa saya memilih SITH ITB di SNMPTN (dan Alhamdulillah lolos). Dulu waktu SMA saya kurang menyenangi Matematika dan Fisika apalagi Kimia, saya selalu menanggapnya sebagai momok yang menakutkan dan juga membosankan. Saya lebih suka pelajaran fleksibel dan kreatif seperti Bahasa Inggris. Sehingga tak heran saya sudah diterima di jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) sebelum SNMPTN diumumkan, dan berniat untuk terjun kuliah di bidang sosial politik apabila tidak diterima di ITB di SNMPTN atau SBMPTN. Setelah dinyatakan lolos di HI UNPAR, saya cukup senang dan lega saya sudah mendapat kampus dimana saya bisa berkuliah sesuai minat saya dan saya bisa mengejar mimpi saya untuk masuk ITB. 

Saya sempat ragu memilih antara SAPPK ITB, tepatnya Planologi atau Perencanaan Wilayah dan Kota karena saya suka pelajaran sosial, atau SITH ITB sebagai pilihan SNMPTN saya. Tapi adanya pilihan peminatan jurusan di SITH-R tepatnya di program studi Rekayasa Pertanian mengalihkan perhatian saya. Saya berpikir karena ini jurusan baru dan juga peminatan membuat peluang saya masuk lebih besar, lagi pula saya suka Biologi. Saya akhirnya memilih SITH-R menjadi satu-satunya pilihan saya di SNMPTN. Dan voila, saya lolos SITH-R ITB dengan status peminatan Rekayasa Pertanian. Saya tidak sempat berpikir saya sudah lulus bakal gimana atau bakal bekerja apa, satu-satunya pikiran dibenak saya waktu itu hanya lolos ITB, dan Alhamdulillah Allah SWT mengabulkannya. 

Tak disangka cita-cita sederhana tanpa berpikir panjang itu mengantarkan saya menjadi sarjana teknik yang 'tersesat' saat ini. Di waktu TPB saya kesulitan menghadapi Kalkulus, Fisika Dasar, ataupun Kimia Dasar. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi hasil selalu jauh dari memuaskan. Saya malah tidak bertemu Biologi di TPB. Di jurusan pun saya harus bertemu Matematika Rekayasa, Termodinamika Sistem Ekologi, Neraca Massa dan Energi Biosistem, Peristiwa Perpindahan Dalam Biosistem, Mekanika Fluida, yang kesemuanya kurang saya sukai karena lebih banyak hitung-hitungan eksak, yang tidak saya senangi sejak SMA. Sehingga saya harus berjuang untuk sekedar lulus dari mata kuliah tersebut, sehingga tak heran IPK saya hanya 2.98 sampai lulus sidang. Tidak terlalu buruk tapi masih jauh dari kata memuaskan. Saya harus bersusah payah dan jauh dari kata enjoy selama kuliah, sehingga saya selalu merasa tertekan pada saat masa kuliah. Saya lebih larut menikmati kemahasiswaan selama saya berkuliah dibanding kuliah itu sendiri. 

Lalu tibalah saat saya di wisuda. Setelah wisuda, saya sulit lagi merecall materi-materi kuliah pertanian yang terlanjur saya lupakan setelah ujian dilaksanakan. Seakan-akan semuanya menguap begitu saja. Jadilah saya menjadi sarjana teknik yang "tersesat". Lupa materi kuliah dan hanya mengingat kulit-kulitnya saja. Tapi apa yang saya syukuri sampai sekarang adalah bagaimana perjalanan menjadi sarjana teknik membentuk saya, terutama saat mengerjakan TA 1 dan TA 2. TA 2 mengajarkan saya membuat perancangan farming system secara komprehensif dari segi budidaya pertanian, engineering, dan juga bisnis yang membuka cakrawala saya tentang membuat sebuah perancangan usaha dari A sampai Z yang mungkin akan sulit saya temukan di jurusan lain. Lalu kemampuan saya melewati berbagai kesulitan kuliah pun membentuk saya bermental baja dan gigih dalam berjuang. 

Dan sekarang disinilah saya masih menjadi fresh graduate yang sibuk mencari pekerjaan. Saya percaya meskipun sudah hampir satu tahun sejak saya lulus wisuda saya belum mendapat pekerjaan, saya akan mendapatkannya di waktu yang tepat dengan kondisi yang tepat. Sama seperti saya yang dapat melewati mata kuliah-mata kuliah mengerikan ITB seperti Kalkulus atau Neraca Masa dan Energi Biosistem. 

Saya percaya dengan bekal pengalaman yang saya raih saya dapat mencapai masa depan cemerlang. Tentu dengan perjuangan dan ikhtiar yang maksimal diiringi doa dan munajat kehadirat Sang Maha Kuasa. Semoga bisa, semoga!

Monday, April 15, 2019

Pengalaman Berkesan Tugas Akhir I dan II: Penelitian Produksi Biomassa dan Perancangan Farming System.




Kalau ditanya apa mata kuliah favorit saya di Rekayasa Pertanian SITH ITB, jawabannya adalah mata kuliah 8 sks Tugas Akhir I dan II, yaitu Penelitian Produksi Biomassa dan Perancangan Farming System.  Di mata kuliah tersebut sangat melatih kesabaran, keuletan, dan ketangguhan untuk memecahkan masalah yang dihadapi karena langsung berhubungan dengan proses produksi biomassa tanaman dan perancangan farming system. Saya akan sedikit bercerita bagaimana pengalaman saya dalam mengarungi tugas akhir dalam mata kuliah Penelitian Produksi Biomassa dan Perancangan Farming System.


Perjalanan tugas akhir diawali dengan mata kuliah Metodologi Penelitian dan membentuk kelompok TA. Waktu itu saya bersepakat satu kelompok dengan Abi teman baik saya semasa kuliah. Dan karena kuota maksimal kelompok TA adalah 4 orang, kami mencari kembali 2 orang lagi untuk mengisi nya. Dan karena teman-teman yang lain sudah membentuk kelompok, saya dan Abi mencari sisa orang yang belum mendapatkan kelompok. Dan bertemu lah saya dengan Ilmi dan Lutfa karena kedua nya belum mendapat kelompok. Bersepakat lah kami berempat membentuk kelompok. 

Setelah membentuk kelompok selanjutnya adalah memilih topik TA dan proposal penelitian di mata kuliah Metodologi Penelitian. Lalu aku berdiskusi dengan Abi, komoditas pertanian apa yang bakal diambil untuk TA. Dan aku berpikir untuk mencari komoditas pertanian strategis agar TA ku bisa bermanfaat dan menjadi topik yang hangat dibicarakan. Dan waktu itu Pak Rama sebagai pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian menawarkan beberapa judul dan komoditas yang bisa dijadikan proyek di PT East West Seed Indonesia dan mengenalkan dengan salah satu manager di East West untuk dapat berkunjung ke kantor dan kebun East West di Lembang. Dan salah satu topik yang ditawarkan adalah tentang Bawang Merah yaitu True Shallot Seed (TSS). Aku dan Abi cukup tertarik dengan tema tersebut dan berencana untuk bisa bertemu dengan manager East West untuk mengobrol tentang topik TA Bawang Merah itu. Aku pun mulai mencari-cari literatur mengenai TSS dan kemungkinan perlakuan apa yang bisa diberikan untuk materi TA. Aku pun bersama dua kelompok lain pergi ke kantor dan kebun East West di Cisarua Lembang untuk kemungkinan bekerja sama dan melakukan TA disana. 

Dan setelah berkunjung ke Cisarua dan mendapatkan insight tentang TSS dan bawang merah, aku dan Abi bersepakat untuk mengambil tema TSS Bawang Merah. Tapi karena beberapa hal kami tidak bekerja sama dengan East West dan memilih untuk TA mandiri. Salah satu alasannya adalah karena jauhnya tempat East West di Cisarua Lembang dengan Jatinangor padahal kami masih harus mengambil mata kuliah di Jatinangor, sehingga tidak memungkinkan untuk saya dan Abi bolak balik kesana.  Dan karena tidak di East West kami tidak mengambil topik untuk memproduksi TSS nya, tapi memproduksi umbi benih bawang merah dari TSS, yaitu umbi mini. Dan setelah topik tersebut disepakati, saya mulai mencari perlakuan apa yang bisa diberikan ke TSS sehingga bisa meningkatkan produksi dan kualitas biomassa nya. 

Dan bertemu lah saya dengan PGPR. Ya PGPR. PGPR adalah Plant Growth Promoting Rhizobacteria yaitu bakteri yang bisa meningkatkan produksi pertumbuhan tanaman dan bisa menjadi anti patogen dan penyakit tanaman. Aku mendapat literatur bahwa PGPR berhasil diterapkan di tanaman cabai, sehingga mengapa tidak dicoba diterapkan di TSS bawang merah. Akupun kembali memperbanyak studi literatur untuk memperkuat teori dasar penelitian sebelum mendiskusikannya dengan dosen pembimbing ku. 

Dan setelah berdiskusi dengan dosbing, akhirnya ideku disetujui, dan saat nya mempersiapkan rencana untuk eksekusi. Pada awalnya aku dan kelompok ingin menanam di lahan terbuka yang dinaungi screen house buatan, kami pun sudah mengantongi izin tentang lahannya. Tapi ternyata ada regulasi bahwa di kampus ITB Jatinangor tidak boleh membuat screen house buatan sendiri karena sudah disediakan screen house dan net house dari pihak fakultas. Sehingga saya dan kelompok mengurungkan niat menanam di lahan langsung tapi beralih kepada sistem polybag di screen house yang sudah disediakan SITH. Tapi masalah baru muncul, ternyata screen house masih penuh dipakai angkatan sebelumnya dan sudah ditag oleh teman-teman yang lain. Sehingga akhirnya dimasa awal pembibitan saya dan kelompok harus menggunakan net house hitam disamping screen house. 

Dan karena tidak tahan air pada saat hujan, kami harus mendirikan sungkup dari plastik dan kawat. Oiya untuk perlakuan PGPR, pada awalnya kami ingin membandingkan antara PGPR yang kami buat sendiri dan PGPR komersial lalu mengkombinasikan nya dengan penggunaan kompos dan pupuk NPK sintetis. Sehingga bisa didapat 4 judul TA untuk saya dan kelompok. Tapi karena tidak yakin dengan kandungan PGPR yang kami buat sendiri, kami akhirnya hanya menggunakan PGPR komersial yang sudah terbukti kandungannya. Sehingga pembagian 4 judul TA untuk saya dan kelompok adalah perlakuan kompos dan berbagai dosis PGPR, perlakuan pupuk NPK dan berbagai dosis PGPR, perlakuan berbagai dosis kompos, dan perlakuan berbagai dosis NPK. Dan saya mendapatkan perlakuan kompos dan berbagai dosis PGPR. 

Setelah konsep perlakuan terbentuk saya mulai merancang eksekusi penanaman dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan mendiskusikan nya dengan dosbing. Setelah selesai berdiskusi dengan dosbing, eksekusi pun dilakukan. Saya dan kelompok membeli benih TSS, membeli polybag, membeli tanah ke Pak Abdul, membeli plastik dan kawat untuk sungkup. 

Dan saya dan kelompok membagi dua tahap penanaman yaitu pembibitan dan pindah tanam menjadi umbi mini. Dan tahap pembibitan menjadi tahap paling krusial karena kami harus menunggu benih tumbuh dengan sehat. Dan setelah tahap pindah tanam saya mulai memindahkan pemakaian polybag dari net house ke screen house karena screen house sudah mulai kosong. Di masa penelitian produksi biomassa inilah keuletan dan kesabaran diperlukan. Mulai dari rutin menyiram, memberikan pemupukan dan perlakuan PGPR, sampai mengontrol tumbuh kembang  tanaman. 

Akhirnya sampai lah di seminar TA 1 Penelitian Produksi Biomassa, aku mengambil judul "Pengaruh Penggunaan Kompos dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dalam Produksi Umbi Mini Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal Benih TSS (True Shallot Seed) Varietas Tuk Tuk" untuk TA 1 ku. Dan seminar pun berhasil dilalui dengan baik dan saatnya merancang TA 2 Perancangan Farming System. Dan karena TA 2 harus berupa sistem pertanian terpadu yang dikombinasikan dengan ternak, saya dan kelompok memutuskan untuk mengkombinasikan umbi mini bawang merah dengan domba ekor gemuk.  Terbentuklah judul TA 2 saya dan kelompok yaitu "Pra -Rancangan Sistem Produksi Umbi Mini Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal Benih TSS (True Shallot Seed) Menggunakan Pupuk Organik dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yang Terintegrasi dengan Peternakan Domba". Saya menyusun sistematika TA 2 berdasarkan contoh TA 2 dari angkatan 2012. Sehingga sedikit tips dari saya untuk menyusun TA 2, mintalah contoh dari angkatan sebelumnya agar ada pegangan dan bayangan dalam menyusunnya. Dan saya pun melaksanakan sidang dengan mempertahankan judul tersebut. 

Dan yang paling saya syukuri adalah saya mendapatkan indeks A untuk mata kuliah Penelitian Produksi Biomassa, Perancangan Farming System, dan Sidang. Itulah sedikit pengalaman saya, semoga bermanfaat.