Friday, March 21, 2025

Adaptasi konsep meritokrasi untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri

Alexander Michael Tjahjadi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Prabowo-Gibran, yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi, mulai bekerja sejak 20 Oktober 2024.

Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran menjalankan tugasnya.


Pascapandemi Covid, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa stabil di tren positif. Pada tahun 2023, misalnya, meski melambat dari 5,21% pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,05% meskipun pertumbuhannya masih ditopang oleh konsumsi.

Tuesday, March 18, 2025

Serba-serbi ekonomi restoratif: bersinambungan antar ekonomi dan lingkungan

Achmad Hanif Imaduddin, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

Kemajuan peradaban manusia telah mendorong eksploitasi besar-besaran terhadap bumi. United Nations Environment Programme mencatat sejak revolusi industri 1.0 pada abad ke-18, sebanyak 87% lahan basah global hilang. Padahal, lahan basah merupakan habitat alami flora dan fauna, sumber air bersih, dan sumber resapan air pencegah banjir.

Puncak akselerasi kehancuran ekosistem terjadi sejak 50 tahun terakhir. Dalam kurun waktu ini, manusia mendegradasi lebih dari 2 miliar hektare lahan.

Friday, March 7, 2025

Sweet Memory in Ramadan with My Late Father

 


I want to share a story, a sweet story, from my late father about my Ramadan experience when I was a child.

I and my father usually waited Adzan Maghrib with chit chat and watching television, and there was a habit from us when we were waiting for ifthar time and Adzan Maghrib, we usually switched the channel from Metro TV, his favorite news channel, to TVRI Jabar to hear Adzan Maghrib for Bandung Region.

Thursday, March 6, 2025

"Developing Digital Marketing Expertise for Business Growth" Webinar Organized by @karier_unpad

 



Last Friday, on February 28, I joined a webinar about "Developing Digital Marketing Expertise for Business Growth" organized by @karier_unpad with the speaker Mr. Rivani @rivaniadinegara , a Lecturer at UNPAD.

Saturday, March 1, 2025

The Goals of Ramadan

 

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"

Q.S. Al-Baqarah: 183

Marhaban ya Ramadhan..

Semoga kita termasuk golongan orang yang berbahagia saat Ramadhan tiba. Aamiin..

Tuesday, February 25, 2025

3 Days Webinar on "Career Launch: Navigating Professional World" Organized by Cetta English, Cake, and Teman Diskusi

 



Hello guys, I want to share that I was really glad and I learned so much from the 3 days-webinar organized by Cetta English @cettaenglish , Cake @cake.me.id , and Teman Diskusi @temandiskusi.official which discussed about "Career Launch: Navigating Professional World".

Saturday, February 22, 2025

edX Verified Certificate for e-Learning on Digital Agriculture Course from The World Bank Group

 

I am glad to share that I have obtained @edxonline edX Verified Certificate for e-Learning on Digital Agriculture Course from The World Bank Group @worldbank

I learned about Overview of Digital Agriculture, ICT and Digital Tools for Enhancing Productivity on the Farm, Empowering Smallholder Farmers through ICT/Digital Tools in Financial Services, Strengthening Agricultural Market Access with ICT and Digital Tools, and Using ICT for Remote Sensing, Crowdsourcing, Crowdmapping, and Big Data Analytics.

Monday, February 17, 2025

The Three Keys to Grow Any Business by Tony Robbins


The Three Keys to Grow Any Business


Tony Robbins told about the Three Keys to Grow Any Business, and here they are:

Wednesday, February 5, 2025

Three Pillars of Success by Tony Robbins

 

Three Pillars of Success by Tony Robbins @tonyrobbins 

1. Get Laser Focused

We must know specifically what we want, and more importantly why we want it. After we know the what and why, get our focus on it. Clarity is power, more the whats and whys are clear, more we can get our focus and power.

Core Nature, Core Skill Set, and Core Values to Create Our Career Path as Entrepreneur or Employee

 


I have finished watching and learning Ashley Stahl @ashleystahl course on MasterMind.com @mastermind.com_official about how to shift from an employee to become an entrepreneur. I learned about Core Nature, Core Skill Set, and Core Values that should suit with our career path at least in 70 % of what we are working and doing right now. 

Wednesday, January 29, 2025

Sunday, January 26, 2025

15 Key Qualities of Entrepreneur - Entrepreneurship Development Banaras Hindu University Online Course

 


As I said on my previous Instagram posting, I will try to share materials that I learned on  Entrepreneurship Development Banaras Hindu University Online Course. Now, I want to share about 15 Key Qualities of Entrepreneur, and I think it is important basic thing about how we as entrepreneurs should get the characteristics and ability that we must have. So, these are 15 Key Qualities of Entrepreneur and its short explaination. Enjoy!

Tuesday, January 21, 2025

Your Return to Greatness - Robin Sharma

 


As a child, your eyes sparkled with the majesty of your dazzling future.

You were connected to your power. You spoke only truths. Your heart was wide open.

The world was a safe place. Open for dreamers of every sort.

Welcoming to the possibilities that all of us represent.

Thursday, January 16, 2025

16th January 2025 - I Turned 29.

 

Today is 16th January, 2025. I turned 29.

One of the question that I try to dig is, "What is Happiness?"

Saturday, January 11, 2025

Dean Graziosi's New Year Strategy Session - 11th January 2025






Dean Graziosi's New Year Strategy Session, January 11, 23.00 Western Indonesian Time until January 12, 02.00 Western Indonesian Time.


Important Points from Dean:

Sunday, December 29, 2024

Buku "Memodernisasi Pertanian Indonesia" oleh CIPS: Rekomendasi Penghapusan Kebijakan Subsidi Pupuk oleh Pemerintah Pusat

 

Dalam buku "Memodernisasi Pertanian Indonesia" dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) @cips_id terdapat Bab khusus yang membahas mengenai perlu beralihnya kebijakan subsidi pupuk dan benih dari pemerintah pusat/Kementan @kemenkopangan.ri @kementerianpertanian menjadi kebijakan yang lebih produktif dan efisien.

Wednesday, December 18, 2024

Reflection from "Supermarket USA" Book: "What is the Most Sustainable Food System of Our Generation?"

 


Shane Hamilton's "Supermarket USA: Food and Power in the Cold War Farms Race" explores the intricate relationship between American supermarkets, agricultural policies, and Cold War dynamics. In the Introduction, Hamilton posits that supermarkets served as symbols of capitalist abundance, showcasing the superiority of American economic systems over socialist counterparts. He introduces the concept of the "Cold War Farms Race," emphasizing that agricultural productivity became a critical battleground in the ideological conflict between capitalism and communism. The author argues that while supermarkets were perceived as embodiments of free enterprise, they were fundamentally supported by significant state investment in agricultural technology and infrastructure.

Friday, November 22, 2024

Riset tunjukkan museum universitas punya peran dalam kenalkan keanekaragaman hayati Indonesia

Museum Sejarah Alam Universitas Oxford di Inggris yang menjadi tempat koleksi sekaligus sumber riset para peneliti. Waldo Miguez

Artikel ini merupakan bagian dari serial untuk memperingati Hari Keanekaragaman hayati Dunia yang jatuh pada tanggal 22 Mei.


Laporan terbaru dari IPBES (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services), sebuah forum para peneliti PBB untuk keanekaragaman hayati dan ekosistem, menyebutkan bahwa sekitar satu juta spesies hewan dan tumbuhan di seluruh dunia akan punah dalam beberapa dekade ke depan. Lebih dari 40% spesies amfibi, 30% terumbu karang, 10% spesies serangga dan lebih dari sepertiga mamalia laut berada status terancam. Pemicu utama adalah aktivitas manusia.

Biodiversitas di ambang kritis, PR besar strategi konservasi pemerintahan Prabowo-Gibran

Ardiantiono, University of Kent

Prabowo-Gibran yang pencalonannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden memantik kontroversi akan bekerja mulai 20 Oktober 2024.

Untuk mengawal pemerintahan mereka, kami menerbitkan edisi khusus #PantauPrabowo yang memuat isu-isu penting hasil pemetaan kami bersama TCID Author Network. Edisi ini turut mengevaluasi 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, sekaligus menjadi bekal Prabowo-Gibran menjalankan tugasnya.


Keanekaragaman hayati dunia menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir. Laporan terbaru Living Planet Index menunjukkan bahwa populasi satwa liar berkurang hingga 69% sepanjang rentang periode 1970 sampai 2018. Kondisi ini membuat pelaksanaan upaya-upaya konservasi semakin mendesak.

Tuesday, September 24, 2024

Selamat Hari Tani Nasional 2024

 


Dzikra Yuhasyra's eCommerce mengucapkan Selamat Hari Tani Nasional untuk seluruh Insan Pertanian Indonesia.. Sejahteralah Petani, Majulah Pertanian Indonesia!

Beberapa artikel yang bisa dibaca untuk sama-sama memperingati Hari Tani Nasional: 

Pertanian tak berkelanjutan menghambat petani beradaptasi dengan perubahan iklim

Ica Wulansari, Paramadina University

Di tengah perubahan iklim yang kian ganas, petani di berbagai negara berjibaku untuk menjaga tanamannya tetap tumbuh dan produktif. Di Afrika Selatan, Kenya, Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia, petani menggunakan varietas padi yang toleran terhadap kekeringan, melakukan diversifikasi tanaman, menggunakan kalender tanam, melakukan konservasi air dan tanah, maupun menggunakan pupuk organik. Sementara itu, di Tanzania, petani juga giat mengembangkan benih lokal yang lebih tahan terhadap kekeringan. Pengembangan ini merupakan inisiatif mereka, guna melengkapi benih-benih rekomendasi pemerintah. Sayangnya, di Indonesia, inisiatif petani untuk beradaptasi belum dilakukan dalam skala yang masif. Upaya petani beradaptasi dengan perubahan iklim secara mandiri masih terbentur oleh sistem pertanian yang tidak berkelanjutan secara lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Beberapa contoh aspek dalam sistem ini adalah ketergantungan terhadap pupuk kimia, ketiadaan asuransi petani, dan seretnya pendampingan negara. Mandeknya inisiatif petani menyebabkan lahan-lahan pertanian kita semakin rawan gagal panen. Jika dibiarkan, kegagalan berulang akan menggerus ketahanan pangan, mengerek inflasi, hingga memarginalkan sektor pertanian Indonesia.

Lestari dalam tradisi: menyelami aksi perempuan Kulon Progo merawat alam dan pangan dengan bertani

Zulfa Sakhiyya, Universitas Negeri Semarang; Agung Ginanjar anjaniputra; Girindra Putri Dewi Saraswati, Universitas Negeri Semarang; Rini Astuti, Australian National University; Sri Sumaryani, dan Zuhrul Anam, Universitas Negeri Semarang

Pengetahuan perempuan atas bahan makanan, termasuk cara mendapatkan dan mengolahnya, berkontribusi pada tercukupinya pangan keluarga. Namun, Revolusi Hijau sejak 1960-an yang mendewakan produktivitas pertanian justru mengabaikan peran penting ini, termasuk praktik pertanian oleh perempuan. Alih-alih meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan, Revolusi Hijau berdampak negatif secara ekologis, sosial, dan ekonomi. Petani laki-laki mendominasi kepemilikan, pengolahan tanah, dan pengambilan keputusan terkait sawah. Sementara itu, perempuan hanya ditempatkan menjadi pendukung aktivitas pertanian. Kini, di tengah iklim yang berubah, peran perempuan sebenarnya dapat menjadi solusi untuk menjamin ketersediaan pangan. Melalui penerapan pertanian lestari, misalnya, perempuan bisa memastikan anggota keluarga mendapatkan asupan makanan sehat tanpa mencederai alam sebagai sumber penyedianya. Kami bekerja sama dengan Solidaritas Perempuan Kinasih mempelajari aktivitas Karisma, kelompok petani perempuan yang berbasis di Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 2006. Dengan pendekatan feminist participatory action research (FPAR), kami mengidentifikasi langkah petani perempuan dalam melakukan praktik-praktik pertanian lestari sebagai bentuk kritik terhadap sistem pertanian konvensional sekaligus usaha untuk mewujudkan pertanian yang adil. Sejauh ini, kami menemukan petani Karisma menerapkan praktik pertanian lestari melalui penggunaan bibit lokal, pupuk organik, dan sistem pranata mangsa (kalender tanam tradisional masyarakat Jawa). Ketiganya merupakan praktik tradisional yang telah dilakukan secara turun-temurun dan ramah lingkungan. Penerapannya menyesuaikan dengan kondisi alam dan situasi masyarakat sekitar. Implementasi dari ketiga metode tersebut juga turut meningkatkan perekonomian dan relasi sosial para petani perempuan.

Wednesday, September 18, 2024

Etnoagrikultur: Integrasi Praktik Pertanian Berkelanjutan dan Budaya Kearifan Lokal; Studi Kasus Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat

Kampung Adat Cireundeu


Akbar Primasongko, Reza Raihandhany, dan Dzikra Yuhasyra

Pertanian berkelanjutan merupakan pendekatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Pendekatan ini berfokus pada menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan, dengan mengedepankan prinsip-prinsip konservasi tanah, air, serta keanekaragaman hayati. Seiring dengan perkembangan zaman, praktik pertanian modern seringkali mengabaikan aspek keberlanjutan, sehingga mengakibatkan degradasi ekosistem. Oleh karena itu, upaya untuk mengintegrasikan kembali nilai-nilai berkelanjutan dalam pertanian menjadi semakin penting.

Sagu bisa jadi jawaban ketahanan pangan, tapi masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara kesulitan memproduksi sagu secara ekonomis

Patta Hindi Asis, Universitas Muhammadiyah Kendari dan Sitti Rahma Ma'mun, Universitas Muhammadiyah Kendari


Jauh sebelum “hegemoni” beras, masyarakat Sulawesi Tenggara – khususnya suku Tolaki – mengenal tanaman sagu sebagai bahan pangan pokok. Sayangnya, politik pangan membuat sagu perlahan-lahan tersisihkan. Sebelum era 1980-an, sagu merupakan makanan utama masyarakat Tolaki – etnis terbesar yang mendiami Sulawesi Tenggara. Di sana, pati sagu diolah menjadi Sinonggi, makanan khas masyarakat Tolaki. Mereka kerap menyantap Sinonggi dengan campuran sayur bening dan ikan kuah kuning atau ayam kampung yang dimasak dengan daun kedondong hutan (tawaloho). Namun, keberhasilan swasembada beras di tahun 1980-an turut mengubah pola konsumsi masyarakat dari sagu menjadi penggila nasi. Sagu sebagai makanan pokok terpinggirkan dan hanya jadi sekedar pelengkap makanan setelah nasi. Secara potensi, jumlah sagu di Sulawesi Tenggara cukup besar untuk di pulau Sulawesi. Sebagai pembanding, data Kementerian Pertanian menunjukkan di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai penghasil sagu di daratan Sulawesi, volume produksi sagu mencapai 3.259 ton dengan luas lahan produksi mencapai 3.849 hektar. Sedangkan Sulawesi Tenggara dengan luas produksi 4.567 hektar, jumlah produksinya hanya mencapai 3.001 ton. Daratan Konawe masih sangat berpotensi menjadi pusat industri sagu. Menurut Kementerian Pertanian, sagu dapat diolah menjadi tepung sagu (termasuk produk makanan olahannya, seperti kue tradisional), dari bahan pembuatan obat di industri farmasi hingga sumber energi alternatif seperti bioetanol. Ampas sagu bahkan bisa diolah menjadi protein sel tunggal untuk pakan ternak. Ini tentunya bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di Sulawesi Tenggara. Terdapat potensi besar dari sagu tak hanya untuk menjaga diversifikasi dan ketahanan pangan, namun juga meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, terutama dalam dalam krisis pangan yang melanda dunia sekarang ini.

Usai bergulat dengan pandemi, petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim


Ary Widiyanto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Kopi merupakan salah satu jenis tanaman primadona di Indonesia. Sebagai negara pengekspor terbesar ke-4 di dunia–setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia–biji kopi asal Indonesia menjangkau negara-negara Eropa, negara-negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat. Minum kopi pun menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia, ditandai dengan tumbuhnya kafe-kafe baru di berbagai daerah. Bermacam fakta di atas seharusnya berdampak positif pada petani sebagai salah satu aktor utama dalam mata rantai penjualan kopi. Namun, penelitian kami di Jawa Barat nyatanya menunjukkan hasil yang miris. Usai bergulat dengan penurunan permintaan di masa pandemi, para petani langsung disambut dengan dampak perubahan iklim yang kian nyata. Produksi mereka kemudian turun drastis.

Apa untung-rugi jika sawit ditetapkan menjadi tanaman hutan?

FB Anggoro/Antara

Hero Marhaento, Universitas Gadjah Mada

Wacana sejumlah pihak untuk menjadikan kelapa sawit sebagai tanaman hutan semakin riuh. Hal ini ditandai dengan rampungnya naskah akademik yang disusun sejumlah akademikus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University bekerja sama dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo). Naskah tersebut, yang mencuat ke publik pekan lalu, menghasilkan rekomendasi peralihan status sawit dari tanaman perkebunan menjadi tanaman hutan. Berdasarkan dokumen naskah akademik yang saya terima, peralihan status sawit dari tanaman perkebunan menjadi tanaman hutan dianggap menjadi solusi pemulihan hutan yang terdegradasi. Dokumen juga diharapkan menjadi basis ilmiah untuk menyelesaikan persoalan sawit dalam kawasan hutan. Alasan tersebut sangat disayangkan. Sebab, masih ada cara-cara lain untuk memulihkan hutan yang lebih bermanfaat bagi ekosistem dan para petani sawit. Alih-alih bermanfaat, peralihan status ini justru berisiko menimbulkan lebih banyak kerugian bagi Indonesia.

Produksi beras juga bisa beradaptasi dengan perubahan iklim, syaratnya riset iklim harus diperbanyak

Feny selly/Antara

Andrianto Ansari, Universitas Gadjah Mada

Perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan curah hujan yang berdampak pada kekeringan di suatu wilayah, dan banjir di wilayah lainnya, serta peningkatan suhu yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kondisi tersebut berisiko mempengaruhi produksi sekaligus kualitas beras – makanan pokok yang dikonsumsi 90% masyarakat Indonesia. Pasalnya, padi merupakan tanaman yang sensitif terhadap perubahan suhu dan pasokan air. Padi membutuhkan debit air sebesar 450-700 milimeter (mm) selama musim tanamnya atau sekitar 1,9 - 2,25 mm/hari. Jika padi kekurangan air, terutama selama tahap tanam dan reproduksi, maka pertumbuhannya akan memburuk. Serangan hama penyakit tanaman juga berisiko lebih intens. Pertumbuhan tanaman padi pun rentan terhadap perubahan suhu. Kondisi ideal untuk tanaman padi berkisar 25 - 28 °C dan tidak lebih dari 35 °C. Jika suhu melebihi angka itu, maka kualitas maupun kuantitas produksi beras dari padi akan terganggu. Studi yang saya lakukan menganalisis dampak perubahan iklim terhadap produksi beras di Wonogiri, salah satu sentra pangan Jawa Tengah. Hasilnya, pada 2050, temperatur di kawasan tersebut akan naik 1.3 - 2.0 °C. Pada waktu yang sama, kenaikan suhu akan mengubah pola hujan secara spasial (wilayah) dan temporal (waktu). Akibatnya, produksi beras kawasan tersebut akan berkurang sekitar 2,56 - 11,77 persen pada 2050 . Penelitian yang saya lakukan menjadi asesmen pertama ihwal dampak perubahan iklim terhadap produksi tanaman di lokasi tertentu. Kita perlu lebih banyak membuat pemodelan iklim dan tanaman di masa depan berbasis suatu lokasi, terutama lumbung pangan nasional. Pemodelan diperlukan karena efek iklim regional bisa saja berbeda satu sama lain.