Wednesday, June 21, 2023

Korporasi Pangan Petani, Bisakah Menjadi Solusi yang Menyejahterakan?

 

Terkadang kita selalu melihat keseluruhan petani sebagai petani gurem yang tidak berdaya, tidak memiliki modal, tidak memiliki lahan, dan juga tentu saja, miskin. Padahal tidak semua petani mengalami kondisi tersebut. Kita tentu bisa melihat juga banyak petani sukses dalam menekuni berbagai bidang pertanian dan membawa kesejahteraan untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Tapi adakah solusi yang tepat untuk mengatasi petani gurem yang tentu jumlah masih sangat banyak dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia? Tentunya ada, salah satunya adalah: membentuk Korporasi Pangan Petani secara swadaya.

Saat ini petani gurem sudah banyak yang membentuk kelompok tani  (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan). Tapi dari sekian banyak poktan dan gapoktan yang ada, masih banyak diantaranya yang tidak memiliki kelembagaan atau organisasi yang jelas dan ajeg. Sehingga keberadaannya tidak memiliki peran dan daya tawar.

Untuk mengatasi masalah itu haruslah dicarikan jalan keluar yang tentu tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satu solusi yang harus kita lirik adalah pembentukan Korporasi Pangan Petani melalui Koperasi dan BUMDES.

Tentu hal ini bukan menjadi hal yang baru dan sudah banyak dibahas di berbagai forum pertanian. Tetapi kenyataannya banyak sekali petani yang belum bisa mengakses dan membentuk koperasi dan BUMDES di tempatnya berproduksi.

Korporasi pangan petani menjadi isu menarik untuk dicermati sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang semakin sempit kepemilikan lahannya, bahkan kebanyakan dari mereka hanya sebagai pengolah lahan, karena lahan yang dimiliki biasanya telah dibagi sesama anggota waris atau bahkan dijual.

Akibatnya hasil usaha yang diperoleh semakin kecil dan ada yang harus dibagi dengan pemilik. Dengan sekelumit cerita ini mengindikasikan terjadi penurunan pendapatan para petani yang berakibat terhadap penurunan kesejahteraannya.

Dari buku berjudul "Pertanian Bantalan Resesi: Resiliensi Sektor Selama Pandemi Covid 19" karya Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc., Ekonom Pertanian ternama Indonesia, pembentukan korporasi pangan petani dalam Sistem Agribisnis di Indonesia diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat. Banyak proyek percontohan yang dilakukan pemerintah di lapangan tapi juga masih banyak petani yang tidak tersentuh oleh terobosan kelembagaan ini.

Banyak kendala yang ditemui di lapangan dalam pembentukan suatu korporasi pangan petani, baik dalam bentuk koperasi maupun BUMDES, seperti rendahnya tingkat pendidikan petani, kurangnya tenaga terampil dalam administrasi, petani yang sudah tua dan berusia lanjut, kurangnya petani melek terhadap teknologi, terkungkungnya petani dengan pengepul dan tengkulak, sampai tidak berdayanya petani dalam berproduksi sampai tidak bisa dan tidak terpikir untuk membentuk suatu kelembagaan.

Tahapan yang harus dilalui untuk membentuk suatu korporasi pangan petani adalah penguatan petani, penguatan kelembagaan, korporasi petani, dan akses pasar (lokal, nasional dan global).

Penguatan petani dilakukan melalui penggabungan petani, khususnya petani kecil dan gurem, ke dalam kelembagaan Gapoktan. Pembentukan Gapoktan dimaksudkan untuk menjaga kecukupan bahan input dengan pengelolaan kebutuhan tani, pendampingan secara intensif oleh penyuluh dengan pengelolaan tanam dan penggunaan teknologi, serta membantu akses terhadap lembaga keuangan dan asuransi.

Dengan demikian kebutuhan input akan terpenuhi sesuai rekomendasi penyuluh, karena petani mempunyai akses terhadap lembaga pembiayaan. Produksi hasil usahatani pun akan lebih efisien yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani. 

Tahapan selanjutnya adalah penguatan lembaga. Gapoktan-gapoktan tingkat Desa bergabung menjadi Gapoktan Bersama tingkat Kecamatan membentuk suatu badan hukum baik badan hukum koperasi ataupun badan hukum lainnya. Lalu Gapoktan Bersama tingkat Kecamatan bekerjasama dengan BUMDES Bersama tingkat Kecamatan membentuk PT Mitra BUMDES Bersama (MBB) dengan penyertaan modal sesuai kesepakatan.

Program Korporasi Pangan Petani melalui PT MBB memungkinkan petani dapat mengakses produk pembiayaan perbankan dari HIMBARA (Himpunan Bank Milik Negara) sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan petani dengan PT MBB sebagai penjamin.

Pencairan kredit yang diterima petani akan digunakan untuk membeli bahan input usaha tani dan pembayaran premi asuransi. Petani dapat membayar angsuran kredit setelah menerima pembayaran hasil panen. Jika gagal panen petani bisa menerima klaim asuransi.

PT Mitra BUMDES Bersama yang telah dibentuk dalam tahapan Korporasi Pertanian harus mampu memberikan manfaat bagi usaha yang dilakukan petani dan masyarakat bukan hanya sekedar untuk memperoleh keuntungan seperti tujuan korporasi pada umumnya.

PT Mitra BUMDES Bersama berperan sebagai penyerap hasil panen dan pengelola hasil pembelian dari petani sehingga tidak ada lagi saluran tata niaga yang panjang antara petani dan konsumen. PT Mitra BUMDES Bersama memiliki kemampuan daya beli yang kuat untuk membeli hasil panen, bersumber dari BUMN Mitra yang bekerja sama dengan korporasi pangan tersebut.

Hal yang menjadi pekerjaan rumah dari pelaksanaan tahapan dan proses ini adalah pendampingan lapangan kepada petani. Berbagai stakeholder harus mampu mendampingi petani untuk menciptakan suatu korporasi pangan petani yang menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat, khususnya petani itu sendiri.

Lalu pekerjaan rumah lainnya adalah apabila suatu korporasi pangan petani sudah terbentuk, dibutuhkan suatu pengawasan yang kredibel dan profesional agar keberlanjutan usaha petani dan Gapoktannya bisa berjalan dengan baik. Hal ini harus difasilitasi oleh Mitra BUMN yang bekerja sama dan pemerintah terkait seperti Dinas Pertanian dan Kementerian Pertanian.

Jadi apakah korporasi pangan petani bisa menjadi solusi yang menyejahterakan? Tentu patut kita coba dan ikhtiarkan bersama.

Monday, June 19, 2023

SEPASANG PERMATA - "Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan" karya Paulo Coelho

 

SEPASANG PERMATA - "Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan" karya Paulo Coelho

Dari biarawan Cistercian, Marcos Garria, di Burgos, Spanyol.

"Kadang-kadang Tuhan mengambil kembali suatu berkah yang telah diberikan-Nya pada seseorang, supaya orang itu bisa memahami-Nya, bahwa Dia bukan semata-mata tempat untuk memnjatkan permohonan dan permintaan. Tuhan tahu seberapa jauh Dia bisa menguji jiwa seseorang, dan tidak akan pernah melewati batas ketahanan orang itu. Pada saat-saat demikian, janganlah kita berkata, "Tuhan telah meninggalkan aku." Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita, walau kita kadang-kadang meninggalkan-Nya. Kalau Tuhan menetapkan suatu ujian berat pada kita, Dia selalu membekali kita dengan cukup -malah lebih dari cukup- kebutuhan untuk bisa lulus dari ujian tersebut."

Menyangkut hal ini, salah satu orang pembaca saya, Camila Galvao Piva, mengirimkan sebuah kisah menarik yang berjudul Sepasang Permata.

Seorang rabi yang sangat saleh hidup bahagia bersama keluarganya -seorang istri yang baik dan dua anak lelaki mereka tercinta. Suatu kali, urusan pekerjaan membuat sang rabi harus mengadakan perjalanan selama beberapa hari. Ketika dia sedang tidak di rumah, kedua anaknya tewas dalam kecelakaan mobil yang dahsyat.

Sang ibu menanggung kesedihannya seorang diri, dalam diam. Namun karena dia seorang perempuan yang tegar, ditopang oleh iman dan kepercayaannya kepada Tuhan, bencana ini ditanggungnya dengan penuh harga diir serta ketabahan. Tetapi dia akan mengabarkan peristiwa tragis ini kepada suaminya? Suaminya juga orang yang beriman kuat, tetapi dulu dia pernah masuk rumah sakit karena masalah-masalah jantung, dan istrinya khawatir sang suami akan meninggal begitu diberitahu tentang tragedi tersebut.

Maka dia hanya bisa berdoa kepada Tuhan, memohon petunjuk, bagaimana mesti bertindak. Menjelang kepulangan suaminya, sang istri berdoa dengan khusyuk dan akhirnya memperoleh jawabannya.

Keesokan harinya sang rabi tiba di rumah; dia memeluk istrinya dan menanyakan keadaan anak-anaknya. Sang istri berkata tak usahlah dia mengkhawatirkan mereka, sebaiknya mandi saja dan beristirahat.

Sejenak kemudian, mereka duduk untuk makan siang. Sang istri menanyakan tentang perjalanan suaminya, dan sang rabi menceritakan apa saja yang dialaminya; dia berbicara tentang belas kasih Tuhan, dan setelah itu dia kembali menanyakan anak-anaknya.

Dengan agak canggung istrinya menjawab, "Jangan khawatir tentang anak-anak. Kita bicarakan nanti saja. Pertama-tama, aku perlu bantuanmu untuk menyelesaikan suatu masalah yang sangat penting."

Suaminya bertanya dengan cemas, "Ada apa? Kau kelihatan begitu tertekan. Ceritakan semua yang kau susahkan, dan aku yakin, dengan pertolongan Tuhan, kita bisa menyelesaikan masalah itu bersama-sama."

"Waktu kau sedang bepergian, seorang teman kita datang berkunjung dan meninggalkan sepasang permata yang tak ternilai harganya; dia minta aku merawat sepasang permata itu. Betapa indahnya mereka! Belum pernah aku melihat permata-permata seindah itu. Tetapi kemudian dia datang lagi untuk mengambilnya, padahal aku tidak ingin memulangkannya. Aku sudah terlalu sayang pada mereka. Apa yang mesti kuperbuat?"

"Aku sungguh heran akan sikapmu! Selama ini kau bukanlah perempuan yang memetingkan harta benda duniawi!"

"Tetapi aku belum pernah melihat permata-permata seperti itu. Aku tidak tahan kalau mesti kehilangan mereka selamanya."

Dan sang rabi pun berkata dengan tegas, "Tak seorang pun bisa kehilangan sesuatu yang bukan miliknya. Menyimpan permata-permata itu sama saja artinya mencuri. Kita mesti mengembaliksnnya, dan aku akan membantumu mengatasi kehilangan itu. Kita akan lakukan ini bersama-sama, hari ini juga."

"Baiklah kalau itu yang kau katakan, kasihku. Permata-permata itu akan kita pulangkan. Bahkan sebenarnya mereka telah dikembalikan. Sepasang permata berharga itu adalah anak-anak kita. Tuhan telah memercayakan mereka pada kita, dan ketika kau sedang bepergian, Dia datang untuk mengambil mereka kembali. Mereka sudah tiada."

Maka mengertilah sang rabi. Dipeluknya istrinya dan mereka menangis sedih bersama-sama; namun mereka telah memahami pesan itu, dan mulai hari itu, mereka berjuang untuk menanggung kehilangan mereka bersama-sama.

Saturday, June 17, 2023

Ramuan Kebahagiaan - La Tahzan (Dr. 'Aidh al-Qarni)

 

Ramuan Kebahagiaan - La Tahzan (Dr. 'Aidh al-Qarni)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tarmidziy Rasulullah bersabda, "Barangsiapa tidur dengan tenang di tempat tidurnya, sehat badannya, memiliki jatah makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dia telah mendapatkan dunia dan semua kenikmatannya."

Maksud hadits di atas adalah bahwa jika seseorang telah mendapatkan makanan yang cukup dan tempat berlindung yang aman, maka dia telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan kebaikan terindah. Ini terjadi pada kebanyakan orang. Namun mereka tidak pernah menyebutnya, melihatnya, dan merasakannya sebagai kebahagiaan dan kebaikan.

Allah berfirman kepada Rasul-Nya,

"Dan, telah Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu." (Q.S. Al-Maidah: 3)

Nikmat apa yang diberikan kepada Rasulullah secara sempurna? Apakah nikmat itu berupa materi? Apakah itu makanan yang melimpah? Apakah istana-istana, emas, dan perak? Tentu tidak. Rasulullah tidak memiliki semua itu.

Kenyataannya Rasulullah yang agung ini masih tidur di sebuah kamar yang beralaskan tanah dan beratapkan pelepah kurma. Dia mengikat perutnya dengan dua buah batu untuk menahan rasa laparnya, dan hanya beralaskan tikar yang terbuat dari pelepah kurma yang membekas di belikatnya. Dia menggadaikan pakaian perangnya kepada seorang Yahudi dengan harga tiga puluh sha' gandum. Dia berkeliling selama tiga hari untuk mendapatkan kurma yang paling jelek untuk dimakan dan untuk sekadar menutup rasa lapar, namun tidak mendapatkannya.

"Kau meninggal, dan baju perangmu digadaikan dengan gandum dan barang (gadaian) mu tetap tak tertebus hingga ajal menjelang."

"Dalam dirimu ada makna keyatiman yang menghiasi, dan engkau bergelar bapak orang-orang yatim."

"Dan, sesungguhnya hari akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Rabb-mu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas." (Q.S. Adh-Dhuha: 4-5)

"Sesungguhnya, telah Kami berikan kepadamu sebuah sungai di surga." (Q.S. Al-Kautsar: 1)

Wednesday, June 14, 2023

Tips Persiapan TOEFL ITP Intensif Selama 7 Hari

 


Saya baru saja melaksanakan tes TOEFL ITP Digital/Online Remote Proctoring dan Alhamdulillah mendapat skor 543, skor yang lumayan baik dan masuk kategori B2 pada CEFR serta mendapatkan silver certificate of achievement.

Saya ingin share pengalaman saya mempersiapkan tes TOEFL ITP yang saya intensifkan selama 7 hari sebelum pelaksanaan tes, tentu setelah sebelumnya selama 6 bulan saya mengikuti English online class di Cetta English @cettaenglish

Jadi yang pertama saya lakukan adalah menyimak kembali rekaman kelas intensif TOEFL gratis yang dilaksanakan oleh IIEF @iiefjakarta berikut:

Kelas Virtual Tips Raih Skor TOEFL ITP(R) Maksimal di YouTube IIEF Channel:

Listening Section: 

Structure Section: 


Setelah punya gambaran, saya mendrill diri saya dengan course di e-learning MySkill @myskill.id dan mengerjakan mock test yang berasal dari buku "Longman Complete Course for The TOEFL TEST".

Buku Longman bisa didownload di sini:
https://drive.google.com/file/d/1adsFMP9loYk0FYntJttZRDlrM0L1fiFE/view?usp=drivesdk

Materi TOEFL ITP di e-learning MySkill cukup lengkap serta berisi tips dan trik yang jitu dan tepat sasaran. Sangat direkomendasikan untuk diikuti dan dipelajari.

Saya mencoba mengerjakan mock test dari buku Longman sebagai latihan dan simulasi tes yang sebenarnya dengan menggunakan timer HP sebagai penanda waktu.

Hal ini menjadi evaluasi atas tes ELT Unpad yang saya ikuti di Pusat Bahasa Unpad @unpadpusatbahasa Pada tes ELT Unpad saya mendapat skor 493 dengan tanpa persiapan sebelumnya.

Saya mencoba menerapkan tips-tips yang dibagikan di kelas IIEF dan e-learning MySkill selama real test dan Alhamdulillah berjalan lancar.

Semoga membantu dan mencerahkan buat teman-teman yang juga akan mengikuti tes :)

Monday, May 1, 2023

Jangan Bersedih, Semua Hal Akan Terjadi Sesuai Qadha' dan Qadar! (La Tahzan: Jangan bersedih! - Dr. 'Aidh al-Qarni)

 

Jangan Bersedih, Semua Hal Akan Terjadi Sesuai Qadha' dan Qadar!

(La Tahzan: Jangan bersedih! - Dr. 'Aidh al-Qarni)

Segala sesuatu itu ada dan akan terjadi sesuai dengan ketentuan qadha' dan qadar-nya. Ini merupakan keyakinan orang-orang Islam dan para pengikut setia Rasulullah s.a.w. Yakni, keyakinan mereka bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak akan pernah ada dan terjadi tanpa sepengetahun, izin, dan ketentuan Allah.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Q.S. Al-Hadid: 22)

"Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (Q.S. Al-Qamar: 49)

"Dan, sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Q.S. Al-Baqarah: 155)

Dalam sebuah hadits disebutkan: "Sungguh unik perkara orang mukmin itu! Semua perkaranya adalah baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur, maka itu menjadi sebuah kebaikan baginya. Dan jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu juga menjadi sebuah kebaikan baginya. Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin."

Rasulullah juga bersabda: "Jika engkau memohon, maka memohonlah kepada Allah, dan engkau minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh makhluk itu berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu berupa sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu selain berupa sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan, seandainya mereka semua berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah kering dan lembaran-lembaran telah dilipat."

Dalam sebuah hadits shahih yang lain disebutkan: "Ketahuilah bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang tidak akan menimpamu tidak akan pernah menimpamu."

Juga diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda: "Pena telah kering, wahai Abu Hurairah, berkaitan dengan apa yang akan engkau hadapi."

Beliau juga bersabda, "Kejarlah apa yang bermanfaat untukmu, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Jangan mudah menyerah dan jangan pernah berkata, 'Kalau saja aku melakukan yang begini pasti akan jadi begini.' Tapi katakanlah, 'Allah telah mentakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti akan Dia lakukan'."

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah dia bersabda, "Allah tidak menentukan sebuah qadha' bagi hamba kecuali qadha' itu baik baginya."

Pernah sebuah pertanyaan tentang kemaksiatan dilontarkan kepada Syaikhul Islam ibnu Taimiyah, "Apakah maksiat itu baik bagi seorang hamba?"

Dia menjawab, "Ya! Namun dengan syarat dia harus menyesali, bertaubat, beristighfar, dan merasa sangat bersalah."

Allah berfirman:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat Baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Dua bait syair berbunyi:

Ini adalah takdir maka celalah aku atau tinggalkan

semua takdir akan berjalan walaupun terhadap lubang jarum.

Saturday, April 29, 2023

"Memercayai yang Mustahil" dalam Buku "Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan" karya Paulo Coelho halaman 290-292

 




Membaca ulang bagian dari buku "Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan" karya Paulo Coelho. Mendalami kumpulan tulisan dan artikel sederhana yang memiliki kedalaman makna :)

 

Memercayai yang Mustahil

halaman 290-292.

William Blake berkata, "Apa yang sekarang telah terbukti, dulunya hanya imajinasi." Karena inilah kita sekarang mempunyai pesawat terbang, penerbangan ke luar angkasa, dan komputer yang saya gunakan untuk menulis tulisan ini. Dalam mahakarya Lewis Carroll, Alice Through the Looking Glass, ada percakapan berikut antara Alice dan Ratu Putih yang baru saja mengucapkan sesuatu yang sungguh tak masuk akal.

"Aku tidak percaya itu!" kata Alice.

"Masa?" sang Ratu berkata dengan penuh iba. "Cobalah lagi: tarik napas dalam-dalam, dan pejamkan matamu."

Alice tertawa. "Buat apa," katanya: "orang-orang tidak bisa percaya hal-hal yang mustahil."

"Wah, kau pasti belum banyak berlatih," kata sang Ratu. "Waktu aku seumurmu, aku selalu berlatih setengah jam sehari. Kadang-kadang, sebelum sarapan aku sudah bisa percaya sebanyak enam hal yang mustahil."

Hidup ini tak putus-putus mengatakan pada kita, "Percayalah!" Percayalah bahwa mukjizat bisa terjadi kapan saja; ini penting untuk kebahagiaan kita, juga untuk perlindungan kita, serta untuk mengesahkan eksistensi kita. Di dunia zaman sekarang, banyak orang menganggap mustahil untuk menghapuskan kemiskinan, untuk menciptakan masyarakat yang adil, dan untuk mengurangi konflik keagamaan yang marak saja setiap harinya.

Kebanyakan orang tidak mau berjuang , karena berbagai alasan: konformisme, umur, merasa konyol, merasa tidak berdaya. Kita melihat banyak sesama kita diperlakukan secara tidak adil dan kita berdiam diri saja. "Aku tidak mau terlibat dalam pertempuran-pertempuran yang tidak perlu," begitulah alasan kita.

Ini sikap seorang pengecut. Siapa pun yang menapaki jalan spiritual, membawa serta hukum kepantasan yang mesti dipatuhi. Tuhan selalu mendengar suara yang berseru melawan perbuatan yang tidak benar.

Meski demikian, kadang-kadang kita mendengar ucapan berikut ini, "Seumur hidupku aku percaya pada mimpi-mimpi, dan sudah sering aku berusaha sekuat tenaga untuk melawan ketidakadilan, tapi pada akhirnya aku selalu dikecewakan."

Tetapi ksatria cahaya mengetahui bahwa ada pertempuran-pertempuran yang layak dijalani, meski mustahil dimenangkan. Itu sebabnya dia tidak takut kecewa, sebab dia sungguh tahu kekuatan pedangnya serta keteguhan cintanya. Dengan gagah berani dia melawan mereka yang tidak mampu mengambil keputusan dan selalu berusaha mengalihkan tanggung jawab atas hal-hal buruk di dunia ini kepada orang lain.

Bilamana dia tidak berjuang melawan yang salah -meski kelihatannya ini di luar kekuatannya- dia tidak akan pernah menemukan jalan yang benar.

Arash Hejazi pernah mengirimkan pesan berikut ini kepada saya: "Hari ini aku terjebak dalam hujan lebat sewaktu sedang berjalan kaki. Untunglah aku punya payung dan jas hujan, tetapi dua-duanya ada di dalam bagasi mobilku yang diparkir agak jauh. Waktu aku lari untuk mengambilnya, aku memikirkan pertanda aneh dari Tuhan ini: kita selalu mempunyai sarana-sarana yang dibutuhkan untuk menghadapi badai-badai kehidupan, tetapi seringnya sarana-sarana itu terkunci di kedalaman-kedalaman hati kita, dan banyak waktu kita terbuang sia-sia untuk mencari-carinya. Sewaktu kita temukan, kita sudah keburu dikalahkan oleh lawan."

Karena nya, marilah kita selalu mempersiapkan diri; kalau tidak, entah kita akan kehilangan kesempatan, atau kalah dalam pertempuran.

Friday, April 28, 2023

Buku "Dunia Anna" Sebuah Novel Filsafat Semesta Karya Jostein Gaarder

 


Membaca ulang buku "Dunia Anna" karya Jostein Gaarder.

Novel Filsafat Semesta ini mengingatkan kembali mengenai apa arti keberlanjutan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan makna eksistensi manusia untuk generasi penerus di masa mendatang. Membuat saya berpikir, sudah cukup bijak kah kita menggunakan energi fosil dan berbagai pemborosan sumber daya alam termasuk perusakan alam didalam nya?

Anna, Nova, Jonas, Ester, dan Benjamin berbagi tentang hal itu di buku ini. 

Selamat membaca :)

Monday, April 17, 2023

#22HBB Day 21 and Day 22 Buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag.

 

Day 21 #22HBB Vol. 2 (11 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 90-106 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

HIERARKI WUJUD SECARA EMANASI - Pemikiran Al-Farabi (870-950 M)

Pertama, konsep metafisika Al-Farabi tidak hanya menunjuk soal wujud-wujud non-materi, sesuatu yang gaib atau sesuatu yang melampaui fisika (mâ warâ’a thabî`ah), seperti yang ada dalam teologi Islam umumnya, tetapi mencakup juga persoalan psikis, konsep-konsep yang ada dalam pikiran, bahkan epistemologis.

Kedua, dari sisi ontologis, pemikiran emanasi Al-Farabi tampak selaras dan konsisten, di mana tiap-tiap bagiannya saling terkait. Dimulai dari yang Esa, Sebab Pertama, secara hierarkis turun menuju ke sepuluh intelek yang kemudian melahirkan langit dan bumi yang merupakan wujud empiris dan plural. Artinya, di sini bisa diselesaikan perbedaan dua kutub yang saling berseberangan sehingga bisa dijelaskan keterkaitan antara Tuhan yang Esa dan wujud empiris yang plural, antara yang substantif dan aksiden, antara yang tidak bergerak dan yang berubah, yang merupakan persoalan pelik fi lsafat saat itu. Namun, harus pula disadari bahwa dengan konsep emanasi tersebut, Al-Farabi dapat jatuh pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak mengetahui sesuatu yang partikular atau teperinci seperti pernah dituduhkan Al-Ghazali.

Ketiga, konsep Al-Farabi bahwa eksistensi manusia di bumi berada di antara wujud-wujud materi yang rendah dan wujud-wujud metafi sik yang tinggi, akan bisa menggiring pada pemahaman bahwa manusia tidak akan bisa mencapai derajat paling utama di antara makhluk ciptaan. Jika asumsi ini benar, ia bisa berseberangan dengan konsep lain, khususnya soal kenabian dan konsep manusia sempurna (insân al-kâmil) yang sering diungkap oleh kaum sufi s, yakni sosok manusia unggul yang mencapai derajat tertinggi melampaui segala ciptaan sehingga eksistensi dan tindakannya merupakan ‘bayangan’ Tuhan di bumi.

Keempat, dalam konsep emanasi Al-Farabi yang hanya sampai tingkat ke-11, mengapa hanya 11? Apakah ini murni hasil renungan filosofisnya atau karena pengaruh doktrin imâmah dalam teologi Syiah? Richard Netton menduga Al-Farabi termasuk seorang pemikir dari kalangan Syiah,  karena Bani Hamdan (890–1004 M) penguasa Aleppo dan Mosul yang memberi fasilitas dan mendukung kegiatan ilmiah Al-Farabi adalah pengikut mazhab Syiah. Juga, pemikiran dan elite politik Syiah, sebenarnya, masih mengontrol secara efektif jalannya roda pemerintahan pusat di Baghdad sampai menjelang kematian Al-Farabi.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Day 22 #22HBB Vol. 2 (12 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 107-120 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

HIERARKI NILAI REALITAS - Pemikiran Al-Ghazali (1058-1111 M)

Pertama, pembagian tentang bentuk dan tingkat kualitas alam oleh Al-Ghazali menjadi dua bagian, yakni alam atas dan bawah, yang masing-masing termanifestasikan oleh alam malakût yang bersih dan mulia dan alam dunia yang kasat mata dan rendah, sesungguhnya, bukan ide baru. Para filsuf sebelumnya juga telah menyatakan hal itu, meski dengan format yang berbeda. Namun, yang berbeda dari Al-Ghazali, tingkatan ini tidak tersusun secara emanasi sebagaimana pemikiran filsafat, tetapi berdasarkan teori imkân yang biasa dikaji dalam teologi, yaitu bahwa alam dicipta dari sesuatu yang tiada (creatio ex nihilo).

Kedua, pemikiran Al-Ghazali tentang dua kutub realitas, partikular dan universal, yang keduanya sama-sama merupakan substansi yang mempunyai bangunan tersendiri tapi saling berkaitan, adalah gagasan yang genius. Dengan pemikiran ini, doktrin kaum teolog bahwa semesta diciptakan dari sesuatu yang tiada, creatio ex nihilo, bisa dijelaskan sehingga perbedaan antara doktrin teologi dan filsafat bisa diselesaikan. Namun, gagasan bukan tidak bisa dipersoalkan. Pada saatnya, konsep Al-Ghazali ini bisa dianggap syirik, ketika dihadapkan pada konsep kesatuan wujud Ibn Arabi (1165-1240 M).

Ketiga, pembagian eksistensi wujud, (1) aktual yang eksistensinya tidak hanya ada dalam mental, konsep, dan pikiran, tetapi konkret, nyata dalam wujud realitas dan (2) wujud potensial yang hanya ada dalam konsep, mental atau pikiran dan masih dalam posisi imkân, pada gilirannya akan bisa mengarah pada kesimpulan bahwa aksiden lebih penting dibanding substansi, karena aksiden itulah yang menentukan eksistensi sesuatu. Ini tidak berbeda dengan konsep Al-Farabi. Di sisi lain, dengan konsep wujud potensial-aktual tersebut berarti pula bahwa segala yang konkret telah ada ‘gambarannya’ dalam pikiran, termasuk wujud semesta telah ada gambarannya dalam benak Tuhan sebagai wujud potensial. Al-Ghazali mengakui hal ini dan menamakan dengan nasyiyah alazaliyah (kehendak azali). Ini berarti tidak berbeda dengan konsep ‘keqadiman alam’ dari filsafat Al-Farabi bahwa semesta ini telah ada wujudnya dalam pikiran Tuhan secara azali bersama keazaliaan-Nya.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

#22HBB Day 19 and Day 20 Buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag.


 

Day 19 #22HBB Vol. 2 (9 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 53-68 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

REKONSTRUKSI TEOLOGI ISLAM (ILM AL-KALAM) - Pemikiran Hassan Hanafi

Rekonstruksi teologi yang dilakukan Hassan Hanafi adalah mengubah term atau pemahaman teologi yang awalnya bersifat teosentris,berbicara tentang Tuhan dan melangit, diubah dan diturunkan menjadi teologi yang mendiskusikan tentang persoalan manusia,antroposentris,dan membumi.Berkaitan dengan gagasan rekonstruksi teologi tersebut,ada beberapa hal yang perlu disampaikan.

Pertama, dari sisi metodologis, pemikiran Hassan Hanafi tampak memiliki kesamaan–jika tidak dikatakan dipengaruhi oleh—dengan pemikiran Marx (1818–1883 M) dan Husserl (1859–1938 M). Pengaruh atau kesamaan tersebut tampak ketika Hanafi meletakkan persoalan Arab (Islam) dalam konteksnya sendiri, lepas pengaruh Barat.Pernyataannya bahwa kemajuan Islam tidak bisa dilakukan dengan cara mengadopsi Barat (westernisasi) tetapi harus didasarkan atas khazanah pemikiran Islam sendiri mirip dengan pemikiran fenomenologi Husserl.Adapun kesamaannya dengan Marxisme terlihat ketika Hanafi menempatkan persoalan sosial praktis sebagai dasar bagi pemikiran teologinya, yaitu bahwa teologi dimulai dari titik praktis pembebasan rakyat tertindas. Slogan-slogan yang dipergunakan, antara lain, pembebasan rakyat tertindas dari penindasan penguasa, persamaan derajat Muslim di hadapan Barat dan sejenisnya adalah jargon-jargon Marxisme. Kesamaannya dengan metode dialektika Marxis juga terlihat ketika Hanafi menjelaskan perkembangan pemikiran Islam dan usaha yang dilakukan ketika merekonstruksi pemikiran teologisnya dengan menghadapkan teologi dengan filsafat Barat untuk kemudian mensintetiskannya. Bedanya, jika dalam pemikiran Marxis dikatakan bahwa pergerakan dan pembebasan manusia tertindas tersebut semata-mata didorong oleh kekuatan materi dan duniawi, dalam Hanafi diberi ruh yang tidak sekadar materialistik. Ada pranata-pranata yang bersifat religius atau keruhanian yang menggerakkan sebuah perjuangan Muslim. 

Juga, jika dalam perjuangan ala Marxis bisa dengan menghalalkan segala cara, rekonstruksi teologi Hanafi memakai prinsip kesejahteraan, bahwa perjuangan mesti memerhatikan kebaikan umum, bukan brutal, hingga pemikiran Hanafi bisa disebut marxisme tetapi tidak marxis, Barat tetapi tidak sekuler. Artinya, di sini ada metode-metode orisinal yang dikembangkan oleh Hanafi sendiri.


Kedua, dari sisi gagasan. Jika ditelusuri dari kritik dan gagasan para tokoh sebelumnya, apa yang disampaikan Hanafi dari proyek rekonstruksi teologi ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru dalam makna yang sebenarnya. Pernyataannya bahwa zat dan sifat Tuhan adalah deskripsi tentang manusia ideal telah disampaikan kaum Muktazilah dan kaum sufi , konsepnya tentang tauhid yang “membumi” juga telah disampaikan Murtadha Muthahhari (1920–1979 M). Kelebihan Hanafi adalah bahwa ia mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, jelas, dan up to date sehingga terasa baru. Di sinilah orisinalitas pemikiran Hanafi dalam proyek rekonstruksi teologisnya. Ketiga, lepas apakah pemikiran besar Hanafi bisa direalisasikan atau tidak seperti diragukan Boullata, jelas gagasan Hanafi adalah langkah berani dan maju dalam upaya untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya di hadapan Barat. Hanya saja, rekonstruksi yang dilakukan dengan cara mengubah term-term teologi yang bersifat spiritual-religius menjadi sekadar material-duniawi akan bisa menggiring pada pemahaman agama menjadi hanya sebagai agenda sosial, praktis, dan fungsional, lepas dari muatan-muatan spiritual dan transenden.

Selanjutnya, mencemati gagasan Hanafi, ada ada cacatan yang perlu disampaikan. Pertama, pemikiran Hanafi masih diwarnai aroma romantisme, meski dalam kadar yang relatif kecil, yakni gagasan rekonstruksi yang berbasis pada rasionalitas Muktazilah. Keberpihakan Hanafi pada rasionalitas Muktazilah menyebabkan ia mengabaikan cacat yang ada pada Muktazilah, yaitu bahwa mereka pernah melakukan intrik politik dan ideologis (mihnah). Kedua, kritik Hanafi bahwa teologi Asy’ariyah adalah penyebab kemunduran Islam terasa terlalu menyederhakan masalah di samping tidak didasarkan investigasi historis yang memadai dan konkret. Kenyataannya, seperti ditulis Shimogaki, Asy’ariyah telah berjasa dalam menemukan keharmonisan mistik antara ukhrawi dan duniawi, meski tidak bisa dimungkiri bahwa kebanyakan masyarakat Muslim yang Asy’ariyah sangat terbelakang dibanding Barat

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Day 20 #22HBB Vol. 2 (10 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 69-89 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

AL-FALSAFAH AL-ÛLÂ - Pemikiran Al-Kindi (801 873 M)

Al-Falsafah al-Ûlâ adalah judul buku filsafat yang ditulis dan dipersembahkan Al- Kindi untuk khalifah Al-Mu`tashim (833–842 M) dari dinasti Bani Abbas (750–1258 M); sekaligus juga istilah untuk pemikiran metafi sikanya yang didasarkan atas konsep-konsep fi lsafat Aristoteles (384–322 SM).1 Pemikiran metafi ika Al-Kindi, menurut George N. Atiyeh, diinspirasikan dari gagasan Aristoteles tentang Kebenaran Pertama, tidak didasarkan atas ide-ide Plotinus (204–270 M) sebagaimana kebanyakan fi lsuf Muslim sesudahnya. Kebenaran pertama adalah penggerak pertama yang merupakan sebab dari semua kebenaran. Karena itu, Al-Kindi menggambarkan metafisika sebagai pengetahuan yang paling mulia, karena subjek kajiannya adalah sesuatu yang paling mulia dari semua realitas. Berdasarkan hal ini, Al-Kindi kemudian mendefi nisikan metafisika sebagai pengetahuan tentang hal-hal yang Ilahiah—yang dalam konsep Aristoteles disebut sebagai penggerak yang tidak bergerak. Namun, cakupan kajiannya tidak meliputi segala yang wujud sebagai wujud (being qua being) sebagaimana dalam pemikiran Aristoteles, tetapi terbatas hanya pada masalah Tuhan, perbuatan-perbuatan kreatif-Nya, dan hubungan-Nya dengan alam ciptaan. Artinya, Al- Kindi mengikuti Aristoteles tetapi tidak sama dengan gurunya, dan di sinilah orisinalitas Al-Kindi.

Bahwa Al-Kindi hidup pada masa fi lsafat belum dikenal secara baik dalam tradisi pemikiran Islam, tepatnya masa transisi pemikiran teologi pada filsafat. Dalam kondisi ini, Al-Kindi jelas menghadapi banyak kesulitan dan persoalan, baik internal gagasan maupun eksternal masyarakat, dan pikirannya banyak dicurahkan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut.

Namun, hal itu bukan berarti Al-Kindi tidak mempunyai pemikiran filsafatnya sendiri yang orisinal sehingga tidak layak disebut seorang filosof, atau bahkan hanya sebagai seorang penerjemah seperti dituduhkan beberapa pihak. Uraian di atas, meski singkat dan tidak utuh, menunjukkan bahwa Al-Kindi adalah benar-benar seorang filosof yang orisinal.

Al-Kindi (801–873 M)secara kronologis dapat dianggap sebagai tokoh pertama yang berusaha menyelaraskan agama dan filsafat lewat berbagai cara,dan upayanya tersebut ternyata kemudian diikuti oleh banyak filosof sesudahnya, seperti Al-Farabi (870–950 M),Abu Sulaiman Al-Sijistani (932–1000 M),Ibn Miskawaih (932–1030 M),Ibn Sina (980–1037 M) sampai Ibn Rusyd (1126–1198 M),tentu dengan caranya masing-masing sesuai dengan konteks dan aliran filsafat yang dianutnya.

Konsep Al-Kindi tentang proses penciptaan semesta yang tercipta dari tiada (creatio ex nihilo) dengan berdasarkan atas nalar filsafat, bukan teologis sebagaimana dalam tradisi pemikiran Islam, adalah gagasan orisinal Al-Kindi yang tidak terdapat pada para pemikir Muslim yang lain. Konsep penciptaan semesta para filosof Muslim secara umum dapat dibagi dua. Pertama, bersifat creatio ex nihilo dengan dasar nalar teologis. Kedua, bersifat creatio ex materia dengan dasar nalar filsafat, baik lewat emanasi seperti Al-Farabi atau gerakan seperti Ibn Rusyd. Al-Kindi menggabungkan kedua konsep tersebut.

Secara umum tampak Al-Kindi berusaha menjelaskan persoalan keagamaan berdasarkan logika dan perspektif filsafat, bukan dengan dasar wahyu atau naqli, bahkan kebenaran logika dan fi lsafat juga digunakan untuk membenarkan dan menjustifi kasi informasi wahyu. Di sinilah kelebihan Al-Kindi. Meski demikian,pemikiran Al-Kindi bukan tanpa masalah. Persoalan proses bagaimana Tuhan berkarya dan hubungan-Nya dengan semesta, apakah Tuhan bersifat imanen (tasybîh) atau transendens (tanzîh) atas semesta, adalah satu persoalan yang ditinggalkan oleh Al-Kindi.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

#22HBB Day 17 and Day 18 Buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag.


Untuk meneruskan buku "Dunia Sophie" yang sudah selesai dibaca di Challenge 22 Hari Baca Buku @22haribacabuku saya akan meneruskan membaca dua buku Filsafat yaitu buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. untuk memahami lebih dalam mengenai Filsafat dalam Islam setelah sebelumnya di Dunia Sophie pemikiran Eropa Barat lah yang menjadi acuan dan buku "FILSAFAT SEBAGAI ILMU KRITIS" karya Franz Magnis-Suseno, S.J. untuk mengasah lagi dan menghidupkan Filsafat sebagai ilmu kritis yang merupakan tools penting yang harus kita pelajari.

Saya akan berusaha mengupdate hasil bacaan saya di Instagram dan blog ini. Stay tuned :)

Semoga dilancarkan untuk mendalami lautan ilmu yang begitu luas. Aamiin..

Day 17 #22HBB Vol. 2 (7 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 1-23 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

Filsafat adalah alat. Sebagai alat, ia tidak saja berfungsi mengantarkan kita untuk masuk memahami kehidupan, tetapi juga menemukan kearifan di balik kehidupan itu sendiri. Kearifan adalah puncak berfilsafat. Kearifan akan muncul jika antara aktualitas teori sebagai entitas filsafat dengan realitas perilaku kita berpadu: membumi dan nyata adanya. Untuk itu, sudah seyogianya kita berterima kasih kepada para filsuf. Hidup serasa bermakna berkat amal jariah mereka berupa alat-alat berpikir, metode, dan pendekatan yang mereka ciptakan dan temukan sehingga menjadikan kehidupan kita berkualitas. Tanpa filsafat, jangan harap kita dapat mengetahui dan menjelaskan siapa kita sebenarnya. Namun demikian, buku ini tidak hanya akan mengajak untuk mengetahui ihwal teknis atau alat apa yang dipergunakan oleh filsuf-filsuf Muslim untuk berfilsafat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana mereka berpikir dan beberapa informasi epistemologis yang paling bermanfaat dan memungkinkan untuk dipahami oleh kita sebagai pembaca. Dari Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd yang peripetatik, Suhrawardi yang ilmuniasionistik, Mulla Sadra yang teosofi transenden, Ibnu Arabi dengan wahdat al-wujûd, hingga Al-Kindi dengan al-falsafah al-ula, semuanya bertujuan mengetahui hakikat realitas kehidupan dengan menggabungkan segenap sumber pengetahuan secara integratif: akal, intuisi, dan wahyu.

Benar sebagaimana kritik Amin Abdullah, Guru Besar Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, bahwa kajian-kajian fi lsafat Islam yang ada sampai saat ini, di PTAIN atau PTAIS, bahkan di tingkat Pascasarjana sekalipun, masih lebih banyak berkutat pada masalah sejarah dan metafisika. Kenyataannya, silabi dan buku-buku daras Filsafat Islam di Perguruan Tinggi tidak banyak yang keluar dari dua kajian pokok tersebut.

Bahasannya pun berkisar masalah sejarah perkembangan filsafat, aliran-aliran filsafat, dan pemikiran metafisika masing-masing tokoh. Akibatnya, kajian filsafat Islam menjadi tidak mengalami kemajuan yang berarti, apalagi memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan pemikiran Islam. Padahal, kajian filsafat sesungguhnya bukan sekadar sejarah dan metafisika, melainkan juga epistemologi, etika, dan estetika; epistemologi adalah kajian tentang metodologi dan logika penalaran sehingga filsafat berarti kajian tentang cara berpikir, yaitu berpikir kritis-analisis dan sistematis. Artinya, filsafat lebih merupakan kajian tentang proses berpikir dan bukan sekadar kajian tentang sejarah dan produk pemikiran.

Salah satu faktor utama kelesuan berpikir dan berijtihad di kalangan umat Islam sampai saat ini, menurut penulis, adalah disebabkan mereka tidak mau melihat dan memerhatikan persoalan filsafat (metodologi) ini. Sebaliknya, seperti ditulis Al-Jabiri (1936–2010 M), sejak pertengahan abad ke-12 M, pasca serangan Al-Ghazali (1058–1111 M) terhadap filsafat, hampir semua khazanah intelektual Islam justru selalu menyerang dan memojokkan filsafat, tanpa memedulikan posisinya sebagai produk, pendekatan, atau metodologi. Padahal, Al-Ghazali sendiri tidak pernah menyerang atau menyalahkan filsafat secara keseluruhan, tetapi hanya pada aspek metafisikanya yang merupakan produk pemikiran, yang dinilai dapat menyeret pada kekufuran. Namun, filsafat sebagai sebuah proses penalaran dan metodologi justru tetap dinilai penting dan harus dikuasai.

Oleh karena itu, dalam upaya pengembangan dan kajian keilmuan Islam saat ini, kita tidak bisa berpaling dan meninggalkan filsafat. Tanpa sentuhan filsafat, pemikiran dan kekuatan spiritual Islam akan sulit menjelaskan jati dirinya dalam era global. Namun, sekali lagi, apa yang dimaksud filsafat di sini bukan sekadar uraian sejarah dan metafisikanya yang notabene merupakan produk pemikiran, melainkan lebih pada sebuah metodologi atau epistemologi. Karena itulah, Fazlur Rahman (1919–1988 M) menyatakan bahwa filsafat adalah ruh atau ibu pengetahuan (mother of science) dan metode utama dalam berpikir, bukan produk pemikiran. Tanpa filsafat, seseorang tidak akan mampu mengembangkan ilmunya, bahkan tanpa filsafat ia berarti telah melakukan bunuh diri intelektual.

Berdasarkan alasan itulah, maka kajian buku ini tidak hanya menyajikan sejarah dan metafisika, tetapi juga epistemologi, etika, dan estetika. Dalam kajian metafisika, konsep-konsep metodologi atau pemikiran epistemologi masing-masing tokoh tetap disampaikan. Subbagian epistemologinya sendiri menjelaskan tiga model epistemologi yang dikenal dalam Islam: bayânî, irfânî, dan burhânî. Ketiga model tersebut, dalam sejarahnya, telah menunjukkan keberhasilannya masing-masing. Nalar bayânî telah membesarkan disiplin fiqh (yurisprudensi) dan teologi (‘ilm al-kalâm), irfânî telah menghasilkan teori-teori besar dalam sufisme di samping kelebihannya dalam wilayah praktis kehidupan, dan burhânî telah mengantarkan filsafat Islam dalam puncak pencapaiannya. Namun, hal itu bukan berarti tanpa kelemahan. 

Berdasarkan hal itu, maka masing-masing bentuk epistemologi tersebut berarti tidak memadai digunakan secara mandiri untuk pengembangan keilmuan Islam, tetapi harus digunakan secara bersama-sama dan berkaitan. Maksudnya, ketiganya harus diikat dalam jalinan kerja sama sirkuler untuk saling mendukung, mengisi, mengkritik, dan memperbaiki kekurangan yang melekat pada masing-masing. Meski demikian, ketiga-tiganya sekaligus rasanya juga belum cukup untuk memecahkan persoalan-persoalan keagamaan kontemporer yang sangat kompleks sehingga perlu ditambah dengan epistemologi tajrîbî , yaitu bentuk penalaran yang mengandalkan pada eksperimen dan pengamatan objek fisik secara langsung.

Meski demikian, jalinan keempat bentuk epistemologi di atas tidak dapat berjalan begitu saja, tetapi tetap harus didukung oleh disiplin ilmu-ilmu sosial modern, seperti hermeneutika, sosiologi, antropologi, kebudayaan, dan sejarah sehingga produk yang dihasilkannya menjadi aktual dan utuh. Karena itu pula, jalinan epistemologi tersebut juga tidak boleh bersifat final, eksklusif, dan hegemonik, tetapi harus senantiasa terbuka dan inklusif. Sebab, finalitas dan eksklusivitas hanya akan mengantarkan pada jalan buntu dan tidak memberikan kesempatan bagi munculnya kemungkinan-kemungki nan baru yang mungkin lebih baik dalam menjawab problem-problem keagamaan dan kemanusiaan kontemporer. Di samping itu, finalitas dan eksklusivitas berarti menghilangkan kenyataan bahwa keragaman adalah keniscayaan dan keberagamaan adalah proses panjang menuju kematangan (on going process), bukan hal instan yang “sekali jadi”.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Day 18 #22HBB Vol. 2 (8 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 24-52 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

SUMBER-SUMBER PEMIKIRAN RASIONAL-FILOSOFIS DALAM ISLAM

Dapat disampaikan kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pemikiran rasional-filosofis Islam tidak merupakan jiplakan atau plagiasi dari filsafat Yunani sebagaimana yang dituduhkan sebagian kalangan, meski diakui bahwa filsafat Yunani telah memberikan kontribusi sangat besar bagi perkembangan pemikiran filsafat Islam sesudahnya. Sebab, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemikiran rasional dalam hukum (fiqh) dan teologi Islam Muktazilah telah lebih dahulu mapan sebelum datangnya filsafat Yunani lewat terjemahan. Pemikiran rasional Islam inilah bahkan yang telah berjasa memberikan ruang bagi diterimanya filsafat Yunani.

Kedua, sistem pemikiran rasional Islam tersebut lahir atau muncul dari analisis dan perkembangan bahasa Arab (nahw), lewat berbagai mazhab bahasa yang ada. Berawal dari analisis dan rasionalisasi bahasa ini kemudian berkembang menjadi rasionalisasi dalam bidang hukum (fiqh) dan teologi, karena adanya kebutuhan untuk menjelaskan secara rasional-filosofis atas makna dan maksud teks suci dan menjawab problem-problem yang muncul saat itu secara rasional.

Ketiga, pemikiran dan fi lsafat Yunani masuk ke dalam khazanah pemikiran Islam pertama kali pada masa khalifah Al-Makmun (811–833 M) dari dinasti Bani Abbas (750–1258 M), lewat proyek terjemahan. Proses terjemahan atas pemikiran rasional filsafat Yunani ini sendiri dilakukan karena telah berkembang dan mapannya tradisi berpikir rasional filosofis di kalangan masyarakat Islam, terutama fiqh dan teologi Muktazilah, di samping untuk mencari tambahan referensi atau amunisi dalam menghadapi pemikiran-pemikiran heterodoks yang juga mulai berkembang saat itu.

PERGUMULAN FILSAFAT DENGAN ILMU KEAGAMAAN

Pertama, pemikiran filsafat Islam sesungguhnya tetap dan terus berkembang sampai masa modern, bahkan kontemporer ini. Hanya saja, ada perubahan bentuk dan orientasi filsafat setelah masa Ibn Rusyd (1126–1198 M). Yaitu, pemikiran filsafat yang awalnya berkembang secara mandiri dan bersifat rasional, kemudian bersinergi dengan tasawuf, sehingga melahirkan tasawuf falsafi : sebuah pemikiran yang menggabungkan antara pemikiran rasional dan intuisi. Selain itu, pemikiran rasional-intuitif ini lebih banyak berkembang di kalangan sarjana Syiah, bukan Sunni, sehingga apa yang dimaksud bahwa filsafat Islam telah mati pasca-Ibn Rusyd, sesungguhnya, hanya terjadi dalam masyarakat Sunni, bukan masyarakat Islam secara keseluruhan.

Kedua, perkembangan filsafat (Sunni), jika dihitung sejak masa Al-Kindi (806–875 M), tepatnya penulisan buku ‘Filsafat Pertama’ (al-Falsafah al-Ûla) yang dipersembahkan untuk khalifah Al-Mu`tashim (833–842 M) dan berakhir pada masa Ibn Rusyd (1126–1198 M), pemikiran filsafat Islam berarti hanya hidup selama sekitar 350 tahun; suatu masa yang tidak sebentar. Bahkan, jika dibanding dengan perjalanan Islam sendiri yang dimulai sejak turunnya wahyu pertama masa Rasul (611 M) sampai sekarang yang berarti telah berjalan selama 1400 tahun, filsafat Islam berarti telah memberi kontribusi selama seperempat kehidupan Islam sendiri, suatu masa waktu yang jelas tidak sedikit.

Ketiga, grafik perkembangan pemikiran filsafat dalam Islam ternyata tidak senantiasa naik dan mulus, tetapi juga mengalami pasang surut; pertama-tama disambut dengan baik karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi pemikiran-pemikiran ‘aneh’, tapi kemudian dicurigai karena ternyata tidak jarang justru digunakan untuk menyerang ajaran agama Islam sendiri yang dianggap telah baku, khususnya pada masa Ibn Hanbal. Setelah itu, filsafat dikembangkan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina , kemudian jatuh lagi karena serangan Al-Ghazali; bangkit lagi pada masa Ibn Rusyd tapi akhirnya tidak terdengar suaranya, sampai sekarang, kecuali dalam mazhab Syi`ah.

Keempat, kecurigaan dan penentangan yang dilakukan oleh sebagian tokoh Muslim terhadap filsafat, seperti yang dilakukan Ibn Hanbal, bukan semata-mata disebabkan bahwa ia berasal dari luar Islam, tetapi lebih didasarkan atas kenyataan bahwa saat itu gerakan filsafat dinilai mengandung dampak yang berbahaya bagi aqidah masyarakat. Misalnya, pemikiran Ibn Rawandi (827–911 M) dan Al-Razi (865–925 M) yang sampai menolak kenabian karena mengikuti filsafat, atau perilaku oknum tertentu yang meremehkan ajaran agama dengan berdasarkan atas nama filsafat pada masa Al-Ghazali. Akan tetapi, yang harus juga dicatat adalah bahwa hal itu bukan berarti menunjukkan bahwa seluruh filosof dan ajaran filsafat adalah salah. Adalah suatu keputusan yang tidak arif dan tidak tepat jika kita menjatuhkan putusan hanya karena adanya beberapa kasus yang tidak signifikan dan melupakan jasa-jasanya yang besar.

Kelima, serangan Al-Ghazali terhadap filsafat sesungguhnya lebih ditujukan pada aspek metafi sikanya dan bukan pada logika atau epistemologinya, sesuatu yang menjadi inti pemikiran filsafat. Sebab, Al-Ghazali sendiri mengakui pentingnya logika dan menggunakannya untuk membumikan gagasan-gagasannya. Artinya, dalam analogi fiqh, Al-Ghazali hanya mengkritik fiqhnya dan bukan ushûl al-fiqh-nya, menolak produk dan bukan alat atau metodenya. Berdasarkan hal itu, berarti tidak ada alasan bagi kita untuk menolak filsafat sebagai sebuah epistemologi atau metode berpikir meski kita bisa tidak sepakat pada bagian metafisika atau hasil pemikirannya.

Keenam, perselisihan antara kaum filsafat dan Al-Ghazali tampak juga disebabkan oleh adanya perbedaan dalam memahami makna dari sebuah istilah yang digunakan. Sebagaimana dikatakan Al-Hamadani ,44 setiap kelompok atau aliran pemikiran, seperti teologi, filsafat, tasawuf, fiqh, dan seterusnya mempunyai istilah-istilah teknis tersendiri, di mana istilah-istilah yang digunakan tersebut bisa jadi sama tetapi mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan yang dimaksud oleh si pembicara. Karena itu, seseorang dari golongan tertentu tidak bisa langsung mengklaim atau memberikan makna tentang sebuah istilah sebelum meminta penjelasan secara baik kepada si empunya istilah. Menjatuhkan keputusan terhadap pembicara sebelum meminta penjelasan tentang apa yang dimaksudkan berarti sama dengan menembak dalam kegelapan, suatu tindakan yang sangat tidak bijak. Ketegangan antara filsafat dan ilmu keagamaan, termasuk juga ketegangan antara tasawuf dan fiqh, mazhab fiqh yang satu dengan yang lain, dan seterusnya, rupanya disulut oleh persoalan ini, tidak adanya sikap tabayun terlebih dahulu sebelum diambil keputusan. Serangan Al-Ghazali terhadap filosof karena istilah “qadim” pada alam adalah bukti nyata akan hal itu.

Ketujuh, para tokoh filsafat Islam, mulai Al-Kindi sampai Ibn Rusyd, dengan caranya masing-masing sesungguhnya telah dan selalu berusaha untuk menyelaraskan antara wahyu dan rasio, antara agama dan filsafat, bukan memisahkannya sebagaimana yang sering dituduhkan. Karena itu, dugaan, asumsi, atau bahkan tuduhan bahwa filsafat (Islam) telah mengabaikan atau bahkan meninggalkan ajaran wahyu, kiranya patut dikaji ulang.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku